Bandros Hebab: ketika yang Biasa Menjadi Kekinian

Bandros Hebab: ketika yang Biasa Menjadi Kekinian

Senada dengan kue balok, bandros dan segelas kopi adalah sarapan tradisional warga Bandung generasi lama.

Kue manis yang sederhana ini terbuat dari adonan tepung beras yang dicampur sedikit gula, garam, daun suji, dan santan agar gurih. Semuanya diaduk pelan-pelan hingga kalis, kemudian pelan-pelan ditambahkan telur. Kemudian dengan tungku arang bercetakan khusus, panggang adonan selama 5-6 menit—menyisakan bagian luar kue yang crispy dan gurih, sementara dalam dan permukaan atasnya yang kuning tetap lembek, fluffy, dan harum.

 

Citarasanya tak lekang dimakan zaman. Tetapi, beberapa tahun ini tiba juga masanya kejayaan kue bandros mulai meredup. Satu, karena rasa manis-gurih kelapa dan daun suji terasa terlalu sederhana untuk orang zaman sekarang. Dan dua, karena rupanya tidak semua orang suka rasa manis.

Melihat celah itu, berdirilah satu kios yang berupaya mengangkat kembali kemasyhuran kue bandros sekaligus menambahkan improvisasi tersendiri. Juga untuk membaca celah pasar bagi kue-kue tradisional yang sebenarnya enak namun kurang dieskplorasi. Nama kios itu adalah Bandros Hebab.

Desain Kios Kekinian dan Topping Bermacam-Macam

Terletak di Sadang Sarang, persis di sebelah Waroeng Sambal Django, kios Bandros Hebab seolah memaksimalkan kesederhanaan yang dipunya. Gerobaknya dari kayu biasa, dan ada sejumlah kursi plastik yang bisa memuat sampai lima belas orang. Ada meja panjang di depan tempat pengunjung bisa membaca menu, menaruh tas atau mengambil tisu, menambah topping, atau sekadar mengambil tambahan alat makan seperti garpu dan sejenisnya.

Baru dekat-dekat saja bau adonan yang dipanggang sudah meruap ke mana-mana, mengundang para pejalan kaki di sekitar. Kadang bau tuna asap, kadang-kadang daging, kadang manis-gurih keju leleh yang diguyur susu.

 

 

Penasaran, pengunjung pun berhenti untuk duduk di salah satu kursi. Abang penjual di balik gerobak menyodorkan buku menu, dan seketika kita terhenyak karena meski cuma kaki lima, pilihan menu dan layanan mereka setara kafe betulan.

 

Susu kopi manis dan hangat, soda, bermacam jus, bahkan capuccino disajikan di sana. Varian kue bandros yang ditawarkan pun akan bermacam-macam; ada yang diisi kacang, pisang-cokelat, daging, kornet, tuna-keju, green tea, oreo, bahkan olahan kedelai khas Jawa Barat: Oncom.

Harganya pun relatif terjangkau—tidak ada yang sampai dua puluh ribu lebih. Ini informasi yang menyenangkan bagi para tukang jajan di tanggal tua atau mahasiswa kelaparan, tentunya.

Ada sekitar dua puluh varian kue bandros yang ditawarkan, tapi yang satu ini cukup menarik perhatian: bandros cokelat pisang. Dengan harga lima belas ribu rupiah, kue itu dihidangkan di atas piring kecil. Terdiri dari tiga potong, kue itu tampak menggiurkan; warna kuning pisang ranum yang mengilat oleh karamel tampak menonjol di sela-sela coklat adonan bandrosnya. Meses cokelat bertaburan di atasnya seolah menambah lengkap cita rasa manis hidangan itu.

 

Ketika garpu mulai menguak bagian tengah kue, aroma manis-segar pisang langsung meruap bersama uap makanan yang masih panas itu. Di adonan cokelatnya, samar-samar tampak parutan kelapa utuh. Baru melihatnya saja sudah bisa dibayangkan betapa legit dan gurihnya.

And does taste heavenly. Menyuapkannya ke dalam mulut, ada ledakan rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rasa manis pisang seolah menyatu dengan baik bersama gurih adonan bandros yang memiliki samar aroma arang. Niatnya sih mencuwil sedikit-sedikit agar tidak cepat habis, tapi saking enaknya tahu-tahu piring itu sudah kosong saja.

Untung, harganya yang murah membuat kita tidak perlu jera kalau harus memesan lagi. Apalagi ditemani segelas kopi Robusta atau bahkan tubruk yang memang disediakan di sana. Sedikit tips: karena rasa kuenya sudah kuat, memesan minuman dengan rasa yang tidak dominan sangat disarankan. Kopi pahit atau teh hijau tawar adalah kombinasi yang paling pas.

Tempat ini buka pada pukul 18:00 sampai 01.00 pagi. Lazim, karena kue yang hangat dan nyaman di mulut semacam ini memang paling afdol untuk disantap kala udara sedang dingin. Sambil duduk-duduk makan kue bandros kekinian, kita menatap kota yang mulai menggeliat dengan nyala lampu yang mulai dinyalakan satu per satu. Deru kendaraan melaju satu demi satu dengan tertib, sementara lampu lalu lintas bekerja tanpa kenal lelah.

 

Udara malam, suara malam, semuanya menyatu dengan harmonis. Seperti kue bandros Hebab yang mungkin terasa tak biasa—tapi bukan berarti buruk. Justru, sebuah warna baru dalam geliat zaman yang mulai berubah tanpa melupakan akarnya. Para pengunjung di sini pun bervariasi mulai dari bapak-bapak dan istri mereka yang membawa anak, para mahasiswa, dan juga remaja yang baru pulang berkegiatan–mungkin les. Lelah di wajah semua seolah terhapus setelah memakan jajanan lezat ini.

Mungkin bisa mencoba bandros yang gurih lain kali. Atau, barangkali sobat travel ingin mencoba sendiri? Manjakan lidah Anda dengan cita rasa tradisional yang terbaharui ini.

 

 

BANDROS HEBAB

  • Alamat: Jl. Japati No. 1 Sadang Serang, Coblong, Bandung
  • Jam buka: 18:00 sampai 01.00 WIB
  • Harga: Rp 8.000,00 – Rp 50.000,00 untuk dua orang
  • Instagram: @bandroshebab.bdg

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!