Belajar dari Milyader Muda Pemilik Brand Men’s Republic

Usianya baru 24 tahun, tepatnya lahir pada 23 April 1995. Namun berkat keberhasilannya dalam mengibarkan bendera Men’s Republic, membuat Yasa Paramita Singgih menjadi seorang miliarder lewat kiprahnya di dunia bisnis.
 
Keberhasilan yang tidak mungkin bakal dia raih andai mengikuti jejak orangtuanya yang bekerja kantoran dengan kehidupan yang sederhana. Namun demikian, pengorbanan dari orangtuanyalah yang membuat dia meraih kesuksesan sebagaimana sekarang.
 

Men’s Republic Terus Mencoba dan Pantang Menyerah

Keuntungan dari kaum muda adalah memiliki banyak waktu untuk belajar dan terus mencoba. Mencoba dan mencoba, merupakan hal wajib yang  harus dilakukan oleh kaum muda.
 
Siapapun tidak mungkin tahu apa yang disukai dan dikuasai jika tidak pernah mencoba atau karena takut gagal.  Itu sebabnya Yasa memberi saran lewat bukunya yang berjudul “Never Too Young to Become a Billioner” agar kaum muda tidak pernah berhenti untuk terus mencoba./
 
Apa yang disampaikan Yasa tersebut tidak hanya sekedar teori. Dia sudah mempraktikkannya sendiri lewat perjalanan usahanya yang dia rintis mulai dari nol dan dalam usia yang masih sangat belia.
 
 

Awal Mula Men’s Republic

 
Perjalanan karis Yasa dimulai pada saat masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Ketika itu ayahnya terkena serangan jantung dan mengalami penyumbatan empat pembuluh darah.
 
Ibunya memutuskan untuk dilakukan operasi ring. Namun ditolak oleh sang ayah, karena lebih memilih menggunakan uang mereka yang terbatas untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya.
 
Problem keuangan yang dialami orangtuanya tersebut menjadi momen titik balik bagi Yasa yang membuatnya terpacu untuk meraih sukses.
 
Dia pun mulai berusaha mencari uang sendiri. Awalnya dengan menjadi MC (master of ceremony) serta kerja paruh waktu disejumlah EO milik temannya yang menangani acara-acara perlombaan, musik, ulang tahun, talk show hingga seminar.
 
Panggilan untuk terjun di dunia bisnis dimulai saat usianya 15 tahun. Dia berjualan lampu hias yang dipasarkan secara online. Namun usaha tersebut terpaksa tutup karena pihak distributor tidak dapat mensupplay barang lagi.
 
Bisnis fashion menarik perhatian Yasa saat usianya 16 tahun. Terinspirasi dari orang tua teman karibnya yang memiliki usaha konveksi, dia pun mencoba berjualan kaos yang didesain sendiri, meskipun dia tidak memiliki bekal sama sekali untuk menjadi seorang desainer.
 
Modal awal sebesar Rp.700.000 untuk berjualan kaos pun akhirnya lenyap, karena kaos yang dia jual tidak laku. Belajar dari pengalaman tersebut, akhirnya dia mencoba mengambil barang dari Tanah Abang.
 
Barang tersebut dia jual kembali lewat toko onlinenya yang diberi nama Men’s Republic dan juga dipasarkan melalui blog dan sosial media. Ternyata usaha fashion tersebut laris manis sehingga membuatnya memiliki modal yang cukup untuk membuka usaha di bidang kuliner.
 
Pada tahun 2012 Yasa membuka usaha kedai di kawasan Kebun Jeruk yang diberi nama “Ini Teh Kopi” dengan menu utama Kopi Duren. Disusul dengan membuka cabang di Mall Ambassador, Jakarta Selatan.
 
Tidak seperti yang diharapkan, bisnis kuliner tersebut bangkrut dan Yasa menderita kerugian sekitar Rp.100 juta. Akibatnya, kafe terpaksa harus ditutup dan bisnis kaos juga dihentikan. Tapi bukan berarti dia putus asa.
 
Setelah menyelesaikan Ujian Nasional SMA atau disaat usianya 19 tahun, Yasa mencoba untuk kembali bangkit melalui bisnis fasahion. Bedanya, kali ini dia mengusung konsep bisnis yang jelas dan dengan perencanaan bisnis yang matang.
 
Market yang dia bidik adalah kalangan remaja pria dari middle class dengan harga produk yang dijual dibawah Rp.500.000. Pada saat itulah bendera Men’s Republic kembali dia kibarkan.
 
Produk awal yang dia jual adalah ssepatu casual pria. Seiring berjalannya waktu dan sejalan dengan perkembangan usahanya, produk yang ditawarkan Men’s Republic pun semakin beragam, seperti sendal pria, celana dalam, baju dan jaket.
 
Saat ini, setiap bulannya Men’s Republic mampu menjual 500 pasang sepatu dengan omzet ratusan juta rupiah meskipun tidak memiliki pabrik sepatu. Laba bersih yang bisa diperoleh dari usaha tersebut sebesar 40 persen.
 
Keberhasilannya dalam menaklukkan pasar tanah air tidak membuat anak muda yang saat ini kuliah di Bina Nusantara University jurusan Marketing Communication tersebut puas. Dia berusaha menaklukkan pasar luar negeri.
 
Hasilnya, omzet sekitar Rp.200 juta setiap bulannya berhasil dia raih dari konsumen yang ada di Hongkong, Taiwan, malaysia, Makau, Filiphina sampai dengan Nigeria. Untuk menaungi bisnis yang dijalankannya, Yasa pun mendirikan perusahaan yang diberi nama PT Paramita Singgih.
 
baca juga
1000.001 Ide Bisnis UKM Dengan Modal Mulai 100 Ribu
Bedah Tips Sukses Pemilik Elzatta Hijab
 
Kesuksesan yang diraih tersebut, tidak hanya membuat Yasa menjadi seorang miliarder diusia muda, tapi juga memperoleh sejumlah penghargaan baik skala Nasional maupun Internasional.
 
Beberapa penghargaan tersebut diantaranya: Juara I Kategori Mahasiswa Kreatif Wirausaha Muda Mandiri Nasional 2015, menjadi tokoh riil dalam film dokumenter Pemimpin Muda Bisnis yang diproduksi Kemenpora tahun 2015 serta penghargaan Marketeers Youth of The Year in 2016 dari Mark Plus.
 
Forbes pada tahun 2017 juga memasukkan nama Yasa Paramita Singgih ke dalam 30 Under 30 Young Leaders & Entrepreneurs in Asia. (*)

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!