Belanja di E-commerce

www.undercover.co.id Populix, perusahaan riset berbasis online mengeluarkan hasil penelitian terbarunya terkait dengan perilaku berbelanja produk elektronik di e-commerce. Dari hasil penelitian, sebanyak 82% hanya membeli produk elektronik di e-commerce. Kemudian, sebanyak 13% responden memanfaatkan media sosial untuk membeli produk elektronik dan hanya 6% yang datang ke toko secara langsung atau membeli secara offline. 

Adapun penelitian ini melibatkan sebanyak 1.005 responden berusia 18 tahun hingga 44 tahun dengan kriteria merupakan pengguna internet aktif, konsumen e-commerce, dan membeli produk elektronik dalam satu bulan terakhir. Survei dilakukan selama periode 10 hingga 26 Juli 2023. 

Indah Tanip, Head of Research Populix mengatakan, tren belanja online yang didorong saat merebaknya pandemi COVID-19 masih akan terus berlanjut di masa depan. Perilaku ini cenderung bersifat permanen lantaran kemudahan akses untuk mendapatkan barang serta pengalaman baru dalam berbelanja yang ditawarkan kepada pelanggan. Inovasi-inovasi baru diperkirakan akan terus ada lantaran tuntutan pasar serta perkembangan teknologi.

“Kami sudah mengobservasi fenomenanya setelah pandemi tidak ada pergeseran perilaku belanja yang signifikan dari online kembali ke offline. Justru saat ini semakin banyak pilihan belanja online bisa melalui perpaduan online dan offline atau belanja melalui chatting,” ujar Indah.

Pengeluaran belanja kategori elektronik di e-commerce telah menjadi tren yang signifikan dalam belanja online di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia makin tertarik untuk membeli produk elektronik, seperti smartphone, laptop, kamera, dan perangkat rumah pintar secara daring. Untuk anggarannya, belanja di e-commerce cenderung lebih tinggi dibandingkan media sosial, dan secara indikasi anggaran lebih besar ketika mereka belanja langsung ke toko.

Berbagai faktor telah mendorong peningkatan pengeluaran dalam kategori ini. Salah satu faktor utama yang mendukung pertumbuhan pengeluaran belanja elektronik adalah perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi telah membuat produk-produk elektronik makin canggih dan memiliki fitur yang menggiurkan. 

Hal tersebut menciptakan dorongan kuat bagi konsumen untuk meng-upgrade perangkat mereka atau mencoba produk-produk baru yang inovatif. Selain itu, e-commerce telah membuat pengalaman berbelanja menjadi lebih mudah dan nyaman. Konsumen dapat dengan cepat mencari produk yang mereka inginkan, membandingkan harga, dan membaca ulasan pelanggan sebelum membuat keputusan pembelian

“Berdasarkan riset, rata-rata pengeluaran untuk kategori elektronik di e-commerce adalah Rp 1,7 juta dengan kisaran angka belanja terbanyak pada rentang harga Rp 50.000 sampai Rp 500 ribu,” kata dia.

Hasil lain dari penelitian ini yakni terkait dengan e-commerce yang menjadi favorit responden. Ada tiga platform e-commerce yang menjadi top of mind dari responden, di antaranya yakni Tokopedia, Shopee, dan Lazada. Mayoritas responden memilih menggunakan Tokopedia dalam membeli produk elektronik dengan persentase 55% dan diikuti Shopee 51%, serta Lazada 32%.

Sementara itu, dari sisi tingkat konversi retensi pembelian produk elektronik, Shopee yang paling tinggi dengan skor 99. Kemudian, diikuti oleh Tokopedia dan Lazada masing-masing memiliki skor 97 dan 91. Grafik 3.

“Tokopedia memiliki tingkat konversi tertinggi dalam hal retensi atau konversi dari penggunaan satu bulan terakhir menjadi pengguna utama dibandingkan e-commerce lainnya. Di sisi lain, Shopee memiliki performa baik dalam hal membuat konsumen mencoba platformnya,” kata Indah.

Sementara itu, Snapcart Indonesia menilai untuk memenangkan persaingan di industri e-commerce, pemasar perlu memanfaatkan program affiliate marketing. Ini merupakan program pemasaran berbasis komisi yang secara tidak langsung menghubungkan calon pembeli dengan produk melalui link refferal khusus. Program ini digadang-gadang memegang peran penting dalam peta persaingan e-commerce di Indonesia.

“Kehadiran program afiliasi dapat dikatakan sebagai salah satu strategi ampuh para pemain e-commerce, karena secara tidak langsung membantu trafik kunjungan ke platform e-commerce itu sendiri. Sebab itu, gencarnya pertarungan para pemain e-commerce membawa popularitas program afiliasi semakin naik daun,” ujar Astrid Williadry, Director Snapcart Indonesia.

Dampaknya pun tidak hanya membantu para pelaku bisnis meningkatkan penjualan dan jangkauan pasar yang lebih luas, tapi juga turut melahirkan tren dan profesi-profesi baru yang memonetisasi platform digital. Tren affiliate marketing kini dimanfaatkan sebagai medium untuk menghasilkan pendapatan tambahan yang minim risiko, ditambah faktor fleksibilitas waktu dan tempat untuk bekerja. 

Meskipun dulu pemasaran afiliasi hanya menjadi peluang eksklusif bagi para selebritis dan influencer berskala besar, tapi kini semua orang bisa memiliki tautan afiliasi cukup bermodalkan akun sosial media. Apalagi berkat e-commerce, setiap orang dibebaskan berkreasi menciptakan konten dari beragam kategori produk mulai dari fashion dan beauty, gaya hidup, rumah tangga, makanan dan minuman, hingga elektronik tanpa batas.

“Mengerucut pada tren ini, sepertinya persaingan e-commerce dalam menghadirkan program afiliasi semakin menarik. Kian meliriknya ketertarikan masyarakat terhadap tren affiliate marketing, menjadikan tren ini sebagai masa depan yang menjanjikan,” ungkap Astrid.

Berdasarkan riset, rata-rata pengeluaran untuk kategori elektronik di e-commerce adalah Rp 1,7 juta dengan kisaran angka belanja terbanyak pada rentang harga Rp 50.000 sampai Rp 500 ribu.

Indah Tanip, Head of Research Populix.