Jasa

undercover.co.id/ Seiring dengan trend gaya hidup modern, minat masyarakat terhadap makanan cepat saji atau fast food pun  juga meningkat. Tidak dipungkiri, hal tersebut dapat dilihat dari menjamurnya restoran cepat saji di berbagai tempat (meskipun reputasi fast food yang kaya lemak dan bahan pengawet masih melekat).

Tak pelak, peluang itu coba dimanfaatkan oleh banyak orang. Tak sedikit orang yang mencoba menggali profitabilitas melalui bisnis ini. Contoh saja McDonald’s, banyaknya gerai McDonald’s dapat dijadikan ukuran besarnya minat orang-orang dalam bisnis jenis ini. Tapi apakah sebenarnya bisnis makanan cepat saji seprofit itu?

Bisnis Franchise Restoran Cepat Saji

Terkadang franchise restoran makanan cepat saji justru menjadi nightmare tersendiri bagi orang-orang yang ingin menjadi franchisee nya. Bagaimana tidak, selain biaya start up yang tinggi, biaya real estate juga membutuhkan banyak uang, disamping biaya pengaturan, peralatan, persediaan, transportasi, dan tenaga kerja. Berikut contoh  rincian biaya pengeluaran utama:

  1. Restoran cepat saji membutuhkan lokasi yang menjadi ‘main point’ seperti di jalan-jalan utama, persimpangan utama, dan tempat-tempat wisata terkemuka. Disisi lain, ruang yang dimiliki juga harus cukup (cukup untuk makan, jalan masuk, tempat parkir, dll). Dan hal itu tentu memakan biaaya real estate yang cukup tinggi.
  2. Franchisor menginginkan temapat yang dimiliki sendiri oleh franchisee untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti relokasi. Jika sewa, biasanya memerlukan jaminan perjanjian sewa jangka panjang. Itu juga berarti bahwa anda harus memiliki dana khusus untuk kepemilikan tempat.
  3. Bahan baku wajib disuplay oleh franchisor dengan alasan menjaga kualitas produk. Tak jarang, bahan baku yang sama dengan tempat lain memiliki harga 5% lebih tinggi di franchisor.
  4. Untuk menghindari kebusukan bahan baku, maka dibutuhkan pengiriman yang cepat dan tepat, dan biaya sepenuhnya dibebankan kepada franchisee.

Potensi Profit Franchise Makanan Cepat Saji

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari forum diskusi franchise, margin keuntungan yang didapat oleh restoran makanan cepat saji sekitar 6-9 % (itupun untuk makanan cepat saji dengan brand yang sudah mapan, ex: McDonald’s, Subway, dll).

Margin sebesar itu kedengarannya mungkin kecil, tapi bayangkan saja misalkan pendapatan kotor yang diperoleh sekitar $1 juta (bagi restoran cepat saji ternama pendapatan sebesar ini sangat mungki), maka laba bersih yang dipeorleh sebesar $60.000, dan itu angka yang cukup fantastis.

Tapi sebenarnya, besar kecilnya margin profit tergantung pada struktur pembagian margin masing-masing pemilik franchise, dan disisi lain lokasi restoran juga sangat berdampak pada perputarannya.

Keberlanjutan

Rasanya tidak ada bisnis yang berjalan selalu mulus, meskipun anda memilih berbisnis franchise (seperti yang kita ketahui, franchise biasanya minim risiko) dengan merek dagang paling top sekalipun.

 

baca juga

10 Franchise Terbaik Dunia Vs 6 Franchise Lokal Prestasi International

Sebagai contoh, beberapa tahun lalu franchisor menutup  700 gerainya di AS, China, dan Jepang (meskipun itu hanya jumlah kecil dari lebih dari 32.500 franchise  yang dimilikinya) dengan alasan penurunan profit. Ini berarti franchise tidak bisa memenuhi target penjualan yang diharapkan, dan konsekuensi ketika tidak bisa memenuhi target adalah penutupan gerai.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.