Published On: Thu, Sep 11th, 2014

BI Rate Jangan Naik

BI Rate Jangan Naik |

Sejumlah  ekonom berpendapat suku bunga acuan Bank Indonesia tidak perlu naik kalaupun pemerintahan Joko Widodo- Jusuf Kalla menyesuaikan harga BBM subsidi November tahun ini, dengan asumsi kenaikan hanya Rp1.000 per liter
Ekonom BII Juniman mengata- kan  setiap  kenaikan harga  BBM
10%,    akan    menambah  inflasi 0,8%. Dengan  kenaikan Rp1.000 atau 15%, maka tambahan inflasi yang muncul 1,23%.
Dengan  asumsi inflasi tahunan November 4,5%—inflasi tahunan Agustus  3,99%—maka dengan kenaikan harga BBM, inflasi pada bulan  itu menjadi 5,73%.

BI Rate Jangan Naik

BI Rate Jangan Naik

“Kalau   inflasi   5,7%,  BI  Rate tidak   perlu   naik   karena  suku bunga   7,5%   sudah lebih   tinggi dari  inflasi.  BI Rate pada  tingkat sekarang sudah cukup baik mengelola ekspektasi inflasi,”  ka- tanya, Rabu (10/9).
Meskipun lebih  tinggi  dari  target inflasi  BI 4,5%  plus  minus 1, Juni- man  melihat efek  kenaikan harga BBM hanya sementara sehingga langkah kebijakan moneter lebih lanjut justru tidak efektif.

Dalam pengamatannya pula, real  interest  rate  (RIR)  saat  ini masih   positif   karena  relatif   ti- dak terjadi arus modal keluar BI Rate Jangan Naik . Namun, lanjutnya hal yang penting adalah pemerintah harus menjamin kelancaran pasokan barang dan jasa untuk mengelola ekspektasi inflasi.
Pendapat yang  sama   juga  di- kemukakan ekonom Bank Mandiri  Destry  Damayanti yang memproyeksi dampak ke  inflasi karena kenaikan harga  BBM hanya  1,2%.  “Sepanjang inflasi masih  jauh  di bawah BI Rate, apalagi   kalau   naik   cuma   15%, saya rasa BI belum  menaikkan BI rate tahun ini,” tuturnya.
Namun, lanjutnya, jika  terjadi kenaikan lagi tahun depan, BI Rate  perlu   naik   25  basis   poin (bps)  agar  tidak  terjadi  negative real interest  rate.
Sementara  itu,  konsensus pasar  menyebutkan BI rate  akan dipertahankan pada tingkat 7,5%,
level yang telah dipertahankan dalam   10  bulan terakhir, berda- sarkanproyeksi median menurut survei  Bloomberg.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI akan  digelar,  Kamis  (11/9), untuk menetapkan BI Rate  berdasarkan perkembangan ekonomi terkini.
Sebagai  contoh, pertumbuhan ekonomi China  sedikit  teraksele- rasi  7,5%   pada   kuartal  II/2014 setelah    kuartal    sebelumnya hanya  7,4%.  Produk  domestik bruto   (PDB)   Uni   Eropa   hanya tumbuh   0,7%     pada    kuartal II/2014  setelah  tumbuh  0,9% kuartal sebelumnya. PDB Jepang malah  terkontraksi 0,1%  setelah tumbuh 3% kuartal sebelumnya. Dari  sisi  domestik, lanjutnya, pertumbuhan   ekonomi  masih moderat   dengan    laju     kuar- tal   III/2014  diprediksi  5,26%, sedikit   lebih   baik   dari   kuartal sebelumnya yang  hanya 5,12%. Akselerasi   itu    didorong   oleh konsumsi  rumah   tangga    dan pemerintah serta  ekspor  menyu- sul  penurunan  bea  keluar  bagi
beberapa eksportir mineral. Sementara  itu,   transaksi  ber-
jalan  kuartal  III/2014 diprediksi defisit US$8 miliar  atau 3,8%  ter- hadap PDB. Inflasi masih  stabil di kisaran 4%.  Rupiah  tetap  dalam
tren melemah Rp11.700  per dolar AS. “Kalau  kita  melihat kondisi ekonomi global dan domestik, BI tidak  perlu  mengubah kebijakan moneter,” kata  Juniman.
Ekonom DBS Gundy  Cahyadi melihat  risiko   inflasi   naik   tetap ada seiring wacana kenaikan harga BBM akhir tahun. Pada sisi pertum- buhan PDB, pertumbuhan kon- sumsi   akan   tetap  bertahan  tau apakah BI akan mulai memberi kesempatan pada  momentum per- tumbuhan,” ujarnya, merujuk pada pertumbuhan kuartal sebelumnya yang di bawah proyeksi BI.

NAIK RP3.000

Sementara  itu,   para    pelaku usaha   mendesak   pemerintah baru  untuk sesegera  mungkin menaikkan harga  bahan bakar minyak (BBM) paling  tidak  sebe- sar  Rp3.000  per  liter  dari  harga saat ini sekitar  Rp6.500.
Ketua   Umum   Asosiasi   Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan pada akhirnya kenaikan tersebut menguntungkan bagi pengusaha, terutama dengan pengalihan ang- garan  subsidi BBM ke sektor  pe- ngembangan infrastruktur.
“Pemerintah baru begitu di- lantik  langsung naikkan saja. Siapkan   BLT (bantuan langsung tunai) sudah itu  langsung naik- kan.

saat  ditemui seusai   mengisi   se- buah  seminar, Rabu (10/9).
Dia menambahkan, sebena- rnya pengusaha juga sudah mulai mengkalkulasi ongkos  produksi yang dikeluarkan dengan skenar- io kenaikan BBM hingga  Rp3.000 per liter.
Sofjan berharap dengan adanya ruang  fiskal yang  lebih  besar  bagi pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla, dana bisa dimaksimalkan untuk menggenjot infrastruktur yang  paling  dibutuhkan misalnya saja, sambung Sofjan, infrastruktur di sektor  transportasi dan logistik.
Dengan   sarana dan  prasarana translog yang lebih memadai oto- matis   hal   itu   bisa   memangkas biaya produksi dan distribusi. “Sekarang ini  yang  paling  besar sekali  ongkos   logistik.   Cost kita bisa 27% dari biaya produksi padahal di negara  yang  biasa  aja
15%-20% itu  sudah yang  paling mahal,” ungkapnya , jadi intinya BI Rate Jangan Naik

jasa seo dan internet marketing

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>