Bisnis Angkringan : Modal Ringan , Untung Menggiurkan , Mau ?

https://www.zowhy.com- Jika ingin bisnis angkringan, pertama; bikin kemasan yang berbeda dan bisa dari sisi manapun (bentuk atau cara penyajian). Berikutnya, intensitas komunikasi antara pembeli dan penjual sehingga terjadi chemistry. Dengan demikian pelanggan akan sulit melupakannya dan selalu ingin kembali.

 

Sore sehabis hujan di Kediri, Jawa Timur.

Memasuki kota ini, tidak berbeda dengan kota-kota lain. Tetapi ada kekhasan yang membuat saya penasaran. Jika di kota-kota lain, terutama pusat kota, ramai dengan coffeeshop yang elegan dan cenderung ‘kelas atas’. Namun tidak di Kediri, sebuah kota kecil di tengah Propinsi Jawa Timur ini. Yang disebut ‘coffeshop’ di kota ini adalah sebuah gerobak kecil yang berada di hampir setiap sudut kota. Mereka menyebutnya angkringan.

Bukankah di Jogyakarta atau kota lain seperti Bandung dan Surabaya ada angkringan? Ternyata angkringan ala Kediri ini berbeda! Kalau dari sisi menu, mungkin tidak jauh berbeda, tetapi cara pengemasannya (packaging) yang berbeda.

Hal ini menunjukkan, membuka angkringan di kota ini tidak sekedar menyajikan kopi beserta varian lainnya serta makanan ringan. Mereka benar-benar ‘menjual’ suasana. Yang menarik perhatian saya adalah pengunjungnya sangat heterogen, mulai masyarakat awam, mahasiswa, hingga para pegawai kantoran. Inilah yang membedakan dengan angkringan Jogyakarta yang rata-rata dikerubuti oleh mahasiswa.

Saya pun akhirnya mampir di salah satu angkringan yang terletak di dekat alun-alun Kediri. Ramai. Damai. Dan meski hanya menikmati secangkir kopi, mereka betah berlama-lama. Budianto, lelaki jebolan perguruan tinggi setempat telah membuka angkringan sejak tahun 2014 silam. Awalnya iseng, tetapi akhirnya kebablasan hingga saat ini.

Ada meja kecil kosong di sudut dekat lelaki gondrong itu meracik kopi. Saya pun leluasa membuka pembicaraan dengan Budianto.

“Laris manis, Mas..kopinya,” kataku membuka pembicaraan.

“Lumayan, Mas,” jawab Budianto sambil meladeni pelanggannya. Tangannya yang lincah mengaduk gelas-gelas kopi tanpa canggung sedikitpun.

“Semalam bisa berapa gelas?” tanyaku penasaran.

“Wah, bisa seratus lebih, kalau ramai. Malam minggu misalnya,” jawabnya enteng.

Tentu saya kaget. Bayangkan saja, segelas kopi dibanderol Rp 3000,-…bisa dibayangkan totalnya. Belum lagi ditambah makanan kecil seperti gorengan dan lain-lain.

“Kalau sepi?” tanyaku lagi.

“Namanya orang jualan, Mas…tidak tentu. Tetapi paling sepi, kisaran 50 gelas per malam,” imbuh Budianto.

“Wah, menguntungkan sekali ya..jualan angkringan kayak begini,” kataku menegaskan. Budianto hanya tersenyum.

Sejenak pembicaraan terhenti karena dia harus mengantarkan kopi pesanan.

“Bikin angkringan itu, lumayan, Mas. Modalnya paling Cuma gerobak kecil ini saja ditambah peralatan memasak, cangkir dan piring. Sementara bubuk kopi kita bisa beli sachet partai besar, sudah aneka rasa. Sederhana,” jelas Budianto.

“Boleh dikalkulasi, Mas…berapa modalnya?” tanyaku sangat penasaran.

“Mas-nya tertarik buka angkringan?” dia balik nanya.

Saya hanya tersenyum.

“Selain modalnya ringan, agar dapat untung besar, ada tips yang harus kita lakukan, Mas..” jawab lelaki sangat namun ternyata ramah itu.

“Apa itu?”

“Saya butuh waktu lama agar angkringan saya ini digemari pembeli. Sebab dimana-mana orang buka angkringan. Jika saya membuka angkringan dan sama seperti mereka, ibarat bunuh diri aliaa kalah saingan,” selorohnya.

“Resepnya bagaimana?”

Setelah membiarkan, dia menyelesaikan pekerjaannnya, barulah Budianto duduk tepat di depan saya. Sambil nyruput kopinya, dia bercerita.

“Jika semua orang jualan kopi, maka cara menjual kopimu harus beda. Jika semua orang buka angkringan, maka angkringanmu harus beda,” jelasnya berteori.

“Kongkritnya, Mas?”

“Buat angkringanmu mudah diingat orang. Pertama dari tampilan, bisa warna, lampu, atau musik jika menggunakan sound system, berkekuatan kecil tentunya,” ujarnya. Saya lihat memang angkringan Budianto nampak warna-warni dengan warna berani.

“Terus?”

“Ini penting bagi pebismis angkringan,” katanya sambil tersenyum. “Biasanya, penjual angkringan ‘berjarak’ dengan pembeli,” lanjutnya.

“Maksud berjarak?”

“Begini mas. Angkringan itu adalah tempat orang berlama-lama nongkrong dengan suasana santai dan harga murah meriah. Karena itu, tentu sangat tidak nyaman jika pembeli dan penjual tidak berinteraksi secara bagus. Jadi, mengajak pembeli ngobrol, menemani di sela-sela kesibukan meladeni pembeli lainnya, itu sangat penting,” ujarnya lagi.

“Itu cara meraih pembeli?”

“Betul! Apabila ingin untung besar membuka angkringan adalah jalin komunikasi secara empatik dengan pembeli. Ingat! Angkringan bukan coffee kelas atas. Angkringan adalah tempat nongkrong sederhana. Siapapun dari loatar be;akang manapun bisa nyambung di angkringan,” jawabnya lagi.

Baca Juga

  1. Cara Etis Sales Marketing Meningkatkan Penjualan Asuransi Dan Tiket Pesawat
  2. 12 Cara Jitu Meningkatkan Penjualan Toko Anda
  3. Usaha Yang Paling Pasti Laris Dimusim Lebaran

Dari obrolan singkat dengan Budianto tersebut, ada pelajaran menarik jika ingin bisnis angkringan. Pertama; bikin kemasan yang berbeda dan bisa dari sisi manapun (bentuk atau cara penyajian). Berikutnya, intensitas komunikasi antara pembeli dan penjual sehingga terjadi chemistry. Dengan demikian pelanggan akan sulit melupakannya dan selalu ingin kembali setiap sore.

Nah! Anda tertarik bisnis angkringan?***

Leave a Reply

14 − 14 =

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!