jasa seo dan internet marketing
jasa seo dan internet marketing
Published On: Thu, Feb 2nd, 2017

Bisnis Ini Tak Tumbang Berkat Filosofi dan Latar Belakang yang Solid!

 

Magno, merek radio kayu asli Temanggung ini mungkin tak begitu terdengar gaungnya di pasar lokal. Tapi, di luar negeri produk radio kayu milik Singgih Kartono ini populer dan diburu oleh para kolektor.

Awalnya, desain radio kayu Magno adalah bagian dari Tugas Akhirnya saat berkuliah di ITB pada tahun 1992. Sejak lulus hingga 2003 Singgih mendirikan dan mengelola industri kerajinan kayu untuk pasar ekspor dengan produk wooden toys.

Desain radio kayu Magno baru bisa diproduksi pada tahun 2005. Kendala terbesar yang dihadapinya saat itu adalah kit radio yang mengenakan minimal order yang tinggi sedangkan ia tak memiliki modal yang memadai.

Hingga akhirnya prototipe Magno sampai di tangan Rahmat Gobel yang kini menjabat sebagai Chairman Panasonic Gobel Group. Ketertarikannya dengan prototipe tersebut menjadi jalan bagi Singgih untuk bisa membeli kit dari running production Panasonic.

Magno hingga kini telah mendapatkan berbagai penghargaan tingkat internasional beberapa di antaranya yaitu Good Design – Japan 2008 dan Asia Design Award Hong Kong-DFA Grand Award.

Diakui oleh Singgih Magno sebenarnya hanya tools, ide besar dibalik Magno adalah revitalisasi desa. Magno membuktikan bahwa di desa bisa dihasilkan produk kelas dunia. Produk magno laris di pasar mancanegara. Kejayaan yang diperolehnya bukan tanpa tantangan.

 

Baca Juga: KIVITZ, Bisnis Fashion Muslim yang Cerminkan Kemandirian Wanita Muslim

 

Produk unik butuh jalur pemasaran khusus

Memiliki keunikan tersendiri justru membuat Magno kesulitan diterima pasar mainstream pada awalnya. Magno melejit di ranah pasar global setelah seorang profesor di bidang sustainable design dari Tokyo mempublikasikannya di setiap presentasi.

Dengan bantuan profesor itu pula produk Magno mendapatkan saluran pemasaran yang tepat melalui online shop. Tak hanya laku di Jepang, produk Magno sudah merambah ke benua Eropa dan Amerika.

“Penyebaran via internet tersebut juga disebabkan karena desain Radio Kayu Magno sangat eye-catching, publikasi Magno seperti tidak terbendung. Sampai saat ini jika googling “wooden-radio” maka yg muncul paling atas adalah Magno Radio,” ungkapnya.

Tantangan terbesar yang dirasakan Singgih dalam menjalankan bisnis ini adalah memenuhi ekspektasi kualitas pasar ekspor. “tantangan terbesar muncul karena saya ingin membuat produk untuk pasar ekspor, dengan kualitas desain dan pengerjaan yg tinggi,” ungkapnya.

“Sementara di desa saya tidak tersedia perajin kayu dan ketersediaan material kayu yg telah diolah dengan baik, serta masalah pengadaan komponen elektronik dan material lain yang tidak tersedia di desa,” imbuhnya.

Namun semangatnya untuk menjadikan Magno sebagai produk ikon desain dunia membuatnya menemukan saja cara dalam mengatasi masalah terbesarnya itu. “Saya sendiri bisa mengerjakan semua pekerjaan dari desain, perencanaan produksi, pembuatan peralatan produksi dan membuat produknya sendiri,” katanya.

Soal kualitas tak bisa ditawar, beruntung ia mendapatkan perusahaan elektronik ternama di Jakarta yang bersedia menyediakan elektronik kit-nya dengan volume order yang tidak besar.

 

Filosofi dan latar belakang jadi daya tarik utama

Menurut Singgih Magno bisa diterima oleh pasar mancanegara karena story background, filosofi desain, kegiatan usaha yg kuat, desain yang tergarap dengan baik, dikerjakan dengan craftmanship yg tinggi.

“Semua itu harus dikenalkan ke publik dalam wujud berita bukan iklan. Magno merupakan produk yang eye-catching dengan konsep desain dan background story yg sangat kuat, Magno seperti menjual sendiri. Sangat terbantu oleh kemajuan teknologi internet”, paparnya.

Saking kuatnya filosofi desain dan story background-nya, membuat penjualan Magno tak terpengaruh oleh era digital. “Magno masuk ke celah pasar yg sempit. Kemajuan teknologi digital tidak berpengaruh, karena Magno sesungguhnya justru mengkritik kemajuan teknologi yang terlalu cepat. Kekuatan Magno bukan pada aspek teknologi, namun pada desain dan philosophy desain yang mencoba meng-counter kecenderungan mainstream.

Bagi Singgih saat ini Magno adalah sebuah trial untuk menunjukkan bahwa kita bisa menghasilkan produk kelas dunia dari sebuah desa. “motivasi terbesar saya ketika memutuskan pulang kampung adalah mengembangkan desa atau dalam istilah saya sekarang ini melakukan upaya revitalisasi desa,” ungkapnya.

“Magno dampaknya masih sangat kecil, saya selalu memikirkan aktivitas yang berdampak langsung dan meluas. Spedagi, sebuah gerakan untuk melakukan revitalisasi desa menggunakan sepeda bambu sebagai ikonnya,” tutupnya.

Baca juga: Little Gardenia, Gali Peluang Bisnis Tanaman Hias Dengan Konsep Unik dan Tematik

 

jasa seo dan internet marketing

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

jasa seo dan internet marketing
Protected by Copyscape
Pin It