Bisnis Kulit Buaya Ratusan Juta

undercover.co.id – “Ya lantaran motif buaya itu kan kulitnya senantiasa menonjol atau muncul jadi orang suka sama motifnya. Kan beberapa macam motifnya, ada motif punggung, kepala, ekor serta kaki, hingga tampak unik. Itu argumen mengapa banyak yang berminat, ”

Kulit sapi masihlah jadi bahan baku andalan beberapa pengrajin kulit untuk di proses jadi barang kerajinan tangan seperti tas sampai sepatu. Lantas bagaimana jadinya apabila tas serta sepatu di buat berbahan baku kulit buaya?

Langkah tersebut dikerjakan Pardianto (51). Pria kelahiran 10 Februari 1965 serta sudah lama tinggal di Papua itu yaitu satu diantara entrepreneur berhasil dengan hasil product kerajinan tangan memiliki bahan basic kulit buaya.

Bisnis Langka dan Kontroversial – Kulit Buaya Bernilai Ratusan Juta


Pardianto bercerita apabila ia mulai suka pada beragam product dari kulit, seperti sepatu, ikat pinggang, serta dompet, mulai sejak th. 1991.

Berselang delapan th. lalu, ia mengambil keputusan terjun sebagai entrepreneur kerajinan kulit buaya itu. Ia beralasan memakai kulit buaya sebagai bahan baku pembuatan product kerajinan tangan yaitu suatu hal yang unik serta langka.

“Saya melakukan bisnis beberapa barang ini dari th. 2000-an. Ya lantaran ini kan termasuk juga beberapa barang langka, beberapa barang unik, serta adalah ciri khas souvenir dari Papua. Jadi banyak disukai sama customer, ” ungkap Pardianto

Bisnis Langka dan Kontroversial – Dengan berbekal modal seadanya, Pardianto lalu membulatkan tekad untuk buka usaha handmade taraf tidak besar atau industri rumahan di Timika, Papua. Pegawai yang membantunya juga waktu itu cuma sejumlah 5 orang.

“Setelah saya terjun dalam usaha ini kita memperoleh pasar bagus lantaran ini yaitu product unggulan. Di Papua souvenir unggulannya ya beberapa barang yang terbuat dari kulit buaya ini, ” imbuhnya.

Kulit Buaya Bernilai Ratusan Juta – Beragam product kerajinan tangan berbasiskan kulit buaya telah ia hasilkan. Sebut saja tas golf, tas wanita, sabuk, trolley bag, dompet sampai tas komando untuk kepentingan militer tentara. Sedang ia juga memberi design spesial yang bikin produknya tidak sama dari product lain yang semacam.

“Ya lantaran motif buaya itu kan kulitnya senantiasa menonjol atau muncul jadi orang suka sama motifnya. Kan beberapa macam motifnya, ada motif punggung, kepala, ekor serta kaki, hingga tampak unik. Itu argumen mengapa banyak yang berminat, ” tuturnya.

Dipicu Melimpahnya Bahan Baku Kulit Buaya di Papua

Aspek pendorong Pardianto buka usaha ini yaitu melimpahnya bahan baku kulit buaya di Papua. Ia menyampaikan, populasi buaya di Papua termasuk banyak.

Bisnis Kulit Buaya dari papua

Ini bikin keberadaannya cukup membahayakan untuk orang-orang, terlebih anak-anak di sekitaran rawa, sungai, serta pantai. Hingga hewan ini juga pada akhirnya jadi satu diantara sumber kehidupan untuk orang-orang sekitarnya.

Warga memakai buaya dari mulai kulit, daging, gigi, telur, sampai empedunya. Terkecuali hasil penangkapan, ada pula yang ditangkarkan di satu tempat sampai membuahkan keturunan.

“Karena Papua mempunyai potensi tidak kecil kulit buaya. Di sana kulit buaya begitu melimpah, ” imbuhnya.

Kulit buaya yang didapat Pardianto datang dari orang-orang sekitaran. Ia memberi harga kulit buaya sebesar Rp 30. 000 per inci.

Seekor buaya ukuran tidak kecil dapat meraih 20 inci kulit serta dalam 1-3 hari dapat memperoleh supply sekitaran 200 inci.

Kulit mentah itu berupa kasar, bersisik hitam, serta ada banyak daging yang melekat.

“Yang pertama ini kan menyangkut Papua. Kita memperoleh kulit buaya ini hasil dari tangkapan buaya liar oleh putra Papua. Bisa disebut beberapa barang ini di jual juga membatu sumber pencaharian orang-orang, ” tuturnya.

Lewat industri rumahan yang dipunya, kulit itu disamak atau dihaluskan lewat cara manual tanpa ada pertolongan mesin moderen.

Saat di rasa telah halus serta layak gunakan atau sesuai sama standard jadikan sebagai bahan basic kain.


“Kulit buaya sendiri kita tampung dari orang-orang yang asli tinggal di pedalaman seperti ssli Suku Kamoro, Suku Amungme.

Bila bahan baku di Papua melimpah tak kekurangan, ” tuturnya.

Walau memperoleh kulit buaya dari orang-orang, Pardianto tetaplah bekerjasama dengan Balai Kelestarian Sumber Daya Alam (BKSDA) di Papua. Hingga ia menanggung product yang dihasilkan yaitu legal.

Baca juga : bisnis-coklat-monggo-coklat-belgia-yang-kental-nuansa-jawa/

“Tapi bagaimanapun kita tak terlepas dari perijinan BKSDA serta izin kita juga komplit berarti kita berbadan hukum. Terlebih dibarengi hologram serta monogram, ” tukasnya.

baca juga

Unik, Langka serta Murah Jadi Senjata Penjualan

Mempunyai jenis yang unik, memiliki bahan basic kulit buaya yang langka dengan harga yang di tawarkan cukup murah jadi senjata penjualan Pardianto.

Pardianto yang memiliki usaha kerajinan tangan memiliki bahan basic kulit buaya mengakui mempunyai pendapatan sampai Rp 400 juta per bln..

“Per bln. kita memperoleh omzet kotor Rp 400 jutaan, ” tekannya.

Penjualan product Pardianto dikerjakan lewat Toko Argo Boyo yang berlokasi di Timika tepatnya di Jalan Apel No. 4 SP 2, Papua.

Harga yang di tawarkan juga cukup murah dibanding product kulit buaya yang mempunyai brand serta di jual di toko yang lain.

Product Pardianto di bandrol mulai beberapa ratus ribu sampai beberapa puluh jutaan rupiah.

Seperti dompet serta ikat pinggang kisaran Rp 300. 000, sepatu Rp 1, 8 juta-Rp 2 juta, serta tas wanita Rp 2 juta-Rp 2, 5 juta. Dari ketiga barang itu Pardianto mengaku, tas wanita serta dompetlah yang paling laris di market.

“Harga beragam dari harga Rp 300 ribu sampai belasan juta. (kwalitas) Sesuai sama barangnya. Sepatu itu dari Rp 3 jutaan hingga Rp 16 jutaan. Yang paling mahal itu sepatu boots. Umum yang pesan orang luar negeri, ” imbuhnya.

Disamping itu, konsumen product Pardianto bukan sekedar terbatas di Papua saja. Konsumen datang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan sampai Sulawesi.

baca juga


    “Kita jual ke Semua Indonesia. Jawa, Medan, Bali, Palembang. Paling banyak dari daerah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi. Yang berminat dari kelompok menengah ke atas lantaran barangnya yang di jual bagus serta mahal, ” katanya.

    Dengan besarnya pasar Indonesia, Pardianto mengakui belum memikirkan untuk mengekspor produknya ke negara lain. Namun ia mengungkap apabila peluang itu ada, jadi ia tak sangsi untuk jual produknya diluar negeri.

    “Saya tak pernah terpikirkan untuk ekspor ke luar negeri lantaran di Indonesia saja beberapa barang ini telah laris terjual serta sangat banyak yang berminat walau dengan harga yang mahal. Namun warga asing banyak juga yang beli.

    Terlebih kan kami tinggal di daerah Timika areal Freeport, daerah tambang yang banyak turis asing, ” katanya.

    “Peminat turis asing banyak dari Jerman, Norwegia, Jepang serta Australia. Namun lantaran ini terbuat dari kulit binatang yang dilindungi, jadi ada yang sukai ada pula yang fanatik.

    Diluar itu perijinan untuk ekspor ke luar negeri untuk barang sejenis ini cukup susah serta rumit, ” tutup Pardianto.

    Leave a Reply

    two + 7 =

    Ad Blocker Detected

    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

    Refresh
    error: Content is protected !!