Bisnis Wong Solo Menguasai Nusantara

Bisnis Wong Solo Menguasai Nusantara | Ngomong-ngomong soal bisnis kuliner nih, kita tentu tidak asing lagi dengan yang namanya ayam bakar. Sesuai namanya, ayam bakar merupakan masakan dengan bahan utama ayam yang cara memasaknya dengan dibakar. Di Indonesia, banyak sekali kuliner-kuliner yang menawarkan menu utama ayam bakar.

Dari warung kaki lima hingga restoran-restoran ternama. Bahkan banyak nama restoran yang dibalut dengan kata ‘ayam bakar’ untuk menekankan bahwa restoran tersebut restorang dengan menu utama ayam bakar.
Kalau bicara soal ayam bakar, buat para pecinta kuliner maupun para pengusaha di bidang makanan pasti pernah mendengar Ayam Bakar Wong Solo milik Puspo Wardoyo? Pasti pernah dong, secara restoran ayam bakar ini sangat ngehits. Eh tapi akhir-akhir ini kok gak pernah terdengar? Apa benar kalau bangkrut? Simak ulasan tentang Puspo Wardoyo dan juga kabar restoran Ayam Bakar Wong Solo berikut.

Tentang Puspo Wardoyo

Puspo Wardoyo. Nama yang dikenal banyak pecinta kuliner. Seorang bapak kelahiran Kota Solo, 30 November 1967 ini memang sudah berkutat dengan ayam sejak masih sekolah.

Puspo Wardoyo lahir di keluarga yang sangat sederhana, membantu pekerjaan orangtua yaitu menjual daging ayam dan membuka warung kecil-kecilan dilakoninya setiap saat. Saat pagi, Puspo bertugas menyembelih ayam untuk dijual di pasar.

Lalu waktu siang, Puspo membantu menjual berbagai menu makanan siap saji dari olahan ayam seperti ayam goreng dan ayam bakar di warung sederhana yang lokasinya berada di area kampus UNS Solo. Sekarang siapa yang menyangka, Puspo Wardoyo sudah mengembangkan Ayam Bakar Wong Solo menjadi 105 outlet lebih di sejumlah kota-kota besar di Indonesia.

Bisnis Wong Solo Menguasai Nusantara , Bahkan tahun lalu Puspo Wardoyo juga membuka tujuh outlet di negara tetangga, Malaysia. Bisnis ini kemudian dikenal dengan Grup Wong Solo yang telah mengekspansi banyak bidang kuliner sebagai lahan bisnisnya.

 
Puspo Wardoyo yang memiliki 7 orang saudara kandung itu sebalum melakoni bisnis restoran ayam bakar ini sempat menjadi guru bidang seni di di SMA Negeri 1 Muntilan karena memang ia berkuliah di kampus Universitas Negeri Surakarta juga karena permintaan orang tua yang menginginkan anak lelakinya itu menjadi pegawai negeri sipil. Lalu kenapa bisa menjadi pengusaha restoran ayam bakar? Profesinya sebagai guru tidak membuat hatinya puas. Kemudian ia mengundurkan diri karena sedari awal cita-citanya adalah menjadi seorang pembisnis.

owner wong solo

Walau pada awal ia berbisnis makanan menjdapat cibiran dari orang sekitarnya, ia tetap bersemangat menjalankan bisnisnya. Terlebih ia mendapat suntikan semangat dari seorang sahabat yang juga menjadi penjual Bakso di Kota Medan. Temannya mengabarkan bahwa berbisnis kuliner di Kota Medan sangat menjanjikan. Dan dari sanalah keinginan untuk merantau ke Medan timbul.

Puspo sangat tekun berbisnis kala itu dan akhirnya merantau ke Kota Medan. Sebagai modal, Puspo kembali menjadi seorang guru di salah satu SMU di Bagan Siapi Api, Riau. Hanya dengan uang senilai 2,4 juta rupiah saat itu, Puspo membeli motor juga menyewa rumah kontrakan. Dari transaksi itu, ia masih mendapatkan sisa uang 700 ribu rupiah, uang itu digunakan sebagai modal berjualan ayam bakar. Warung ayam bakar pertamanya itu berlokasi di kawasan Poloni Medan.

 
Selain terkenal dengan restoran ayam bakar yang dimilikinya, Puspo Wardoyo juga terkenal dengan julukkan Poligami Award. Kenapa? Karena Puspo mempunyai 4 istri. Istri pertama, Ibu Rini Purwanti dan juga Ibu Supiyanti yang keduanya tinggal di Medan.

Ketiga adalah Ibu Anisa Nasution yang tinggal di Tangerang dan terakhir adalah Intan Ratih yang berada di Kota Semarang. Dari seluruh pernikahannya tersebut Puspo Wardoyo memiliki 15 orang anak. Bahkan Puspo Wardoyo juga memasukkan nama poligami ke dalam nama nama menu makanan di restorannya.

Sempat dikira Bangkrut, Nyatanya?

Benar, banyak yang menggunjingkan bahwa Ayam Bakar Wong Solo bangkrut. Ini dipicu dari keberadaan outlet di Jakarta yang dalam kurun waktu 3 tahun terakhir menyusut. Sempat sangat beken saat awal-awal berbisnis di Jakarta dengan memiliki sekitar 13 outlet, kini banyak outlet yang tutup dan hanya menyisakan beberapa outlet.

Sebut saja RM Wong Solo Ramawangun, Kalimalang ataupun Depok semuanya tutup. Kini tinggal tiga outlet di Jakarta, seperti di daerah Casablanca, jalan Lapangan Rose dan di dalam foodcourt  Mal Ambasador. Wah kalau sudah banyak yang tuutp berarti Ayam Bakar Wong Solo bangkrut ya?
Ini adalah anggapan yang salah, karena di luar Kota Jakarta Grup Wong Solo (GWS) masih tetap eksis. Bahkan kini bisnisnya tak hanya memakai nama Ayam Bakar Wong Solo sebagai brandnya, tetapi ada nama lain yang bisa kita kunjungi seperti resto Ayam Penyet Surabaya, Mie Jogja Pak Karso, Iga Bakar Mas Giri dan Mi Ayam Jamur Medan.
Sejalan dengan perkembangan bisnis kuliner  GWS memang menemukan sejumlah strategi dan manajemen yang baru, salah satunya dengan mengekspansi bisnisnya dengan nama brand baru.

Menurut salah satu manager di GWS, mereka sempat terpukul ketika ada kasus flu burung tahun 2002. Keberadaan kasus tersebut berpengaruh besar dan memangkas keuntungan kami. Sedangkan penutupan gerai di Kota Jakarta, lebih dikarenakan mahalnya biaya operasional atau biaya sewa properti restoran.

Sebagai contoh, salah satu resto ABWS di Jakarta Timur biaya sewanya mengalami peningkatan yang luar biasa dalam tiga tahun. Saat awal nilai sewannya sudah mencapai Rp 75 juta/bulan, tiga hingga 4 tahun berikutnya, naik sebesar Rp 300 juta/bulan. Sedangkan untuk kasus di Depok adalah karena adanya pembebasan tol.

Bisnis Wong Solo Menguasai Nusantara

Dengan pengalaman yang matang dari jaman dulu, Puspo Wardoyo dan manajemennya terus berusaha mengembangkan bisnis kulinernya ini. Hingga kini,  Grup Wong Solo memiliki delapan nama restoran. Selain Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo, ada RM Ayam Penyet Surabaya, Mie Jogja Pak Karso, RM Iga Bakar Mas Giri, Mie Kocok Mang Uci, Mi Ayam Jamur Medan, Mi Ayam KQ 5, serta Steak KQ5.

Dari kedelapan merek tersebut banyak yang meruapakan restoran besar. Pengunjungnya pun juga banyak, segmen pasarnya bukan lagi hanya keluarga tetapi juga anak muda. Dari kesemua outlet yang ada ada kurang lebih 2.000 orang karyawan yang membantu operasinal.

Salah satu strategi yang dikatakan sangat diperhatikan adalah pemilihan lokasi outlet. Kota Jakarta tak terlalu dibidik mengingat mahalnya biaya operasional. Ayam Bakar Wong Solo lebih terus berupaya mengembangkan ke pasar luar negeri. Malaysia, salah satunya.

Dari 7 buah gerai yang ada, satu merupaka milik sendiri dan sisanya milik franchisee. Bermula dari tahun 2005 dan hanya butuh waktu tiga tahun untuk bisa dikenal luas.

Baca Juga :

  1. Lela Makan Gratis Di Pecel Lele Lela
  2. Pinjaman Bank Kredit Usaha Rakyat Bunga 9 %
  3. Pasang Iklan

Dalam manajemen pertumbuhanyang dilakukan Grup Wong Solo, satu hal yang menarik. Ada target setiap bulan harus membuka satu buah gerai. Dalam pasar Indonesia, pertumbuhan yang kini sedang degencarkan adalah di wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Ya mereka terus membidik kawasan di luar pulau Jawa. Bagaimana dengan Jakarta? Untuk sekarang memang dihindari, tapi mereka memastikan akan membuka lagi gerai di Jakarta bila waktunya telah tepat, Bisnis Wong Solo Menguasai Nusantara.

Leave a Reply

2 − one =

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!