Brand Jim Thompson, Raja Sutera dari Thailand

undercovercoid 69

Siapa yang tidak mengenal brand Jim Thompson.

Merupakan perusahaan sutra yang berasal dari Thailand.

Merek nomor satu di Asia dan potensial untuk pasar internasional.

Terutama untuk gaya hidup berkelas yang kuat.

Jim Thompson lebih dikenal karena bahan kain sutera.

Pada pembuatan busana, aksesoris, sampai perabotan rumah.

Brand ini mendapat pujian dari Thai Royalty, Selebriti dan masyarakat.

Pendirian Pertama Jim Thompson

 

Awal berdiri brand ini pada tahun 1951.

Didirikan oleh seorang tentara Amerika yan memilih menetap di Thailand.

Ia adalah Jim Thompson.

Pada lima tahun awal perusahaan membuka 24 toko ritel lokal.

Tahun selanjutnya baru membuka dua toko ritel di Singapura.

Jim Thompson dikenal memiliki pamor yang bagus di seluruh dunia.

Diantaranya adalah Amerika Serikat, Eropa, dan Kanada.

Untuk kawasan Eropa termasuk Munich, Paris, Italia, Rusia dan London.

Kawasan Asia yakni Cina, Korea Selatan, Malaysia, Jepang.

Tidak ketinggalan juga di negara Indonesia, Hong Kong, dan Taiwan.

Masih banyak negara lainnya yang sukses dijadikan target pasar.

Brand ini juga dipercaya penduduk lokal.

Serta dianggap memiliki pengaruh yang kuat.

Pada tingkat lokal, regional, sampai global.

Sampai sekarang tercatat telah melakukan penjualan lebih dari 100 juta USD.

Penjualan ini mencakup seluruh ritel di semua negara.

Perusahaan telah mempekerjakan 3.000 orang lebih.

Bahkan Jim Thompson telah hadir pada lebih dari 40 negara.


Evolusi Brand Jim Thompson

Awalnya Jim Thompson memutuskan untuk mengundurkan diri.

Saat ia bekerja sebagai salah satu angkatan bersenjata Amerika.

Setelah itu baru memutuskan menetap di Thailand.

Semasa hidup ia menghabiskan waktu untuk berkeliling.

Terutama di kawasan timur laut Asia Tenggara.

Kemudian Jim Thompson terpesona dengan industri rumah sutera.

Rumah kerajinan tersebut ditemukan di daerah pedesaan Thailand.

Penduduk lokal membuat sendiri dan hasilnya sangat indah.

Hal ini memunculkan ketertarikan Jim Thompson.

Ia sadar akan potensi kain sutera dari pedesaan ini.

Untuk membawa karya tradisional ini dan memperkenalkan kepada dunia.

Inisiatif Pertama Jim Thompson

Kali pertama Jim Thompson mengambil inisiatif go international.

Sebab standarisasi kain tenunan dari sutra sangat alami tanpa bahan kimia.

Gaya kain tenun ini sangat mendetail dan tajam.

Sangat kental dengan desain tradisional asli Thailand.

Skema warnanya juga kental dengan nuansa internasional.

Kemudian, ia memulai operasi kain tenun sutera secara komersial.

Usaha pertama dioperasikan di sebuah desa yakni Muslim Ban Krua.

Jim Thompson juga menjalin hubungan baik dengan para penenun.

Produk yang dihasilkan berupa sutra berkelas dunia.

Kain ini mampu memikat hati masyarakat internasional.

Karena memiliki nuansa dan pesona paling unggul.

Sangat berbeda dengan sutra buatan Cina.

Sutra dari Thailand lebih diminati karena detailnya.

Menampilkan nuansa gundukan dan dipadukan dengan warna cerah.

Kain sutera Thailand ini juga ideal untuk bahan perabotan rumah.

Jim Thompson telah menghasilkan model produksi secara vertikal.

Tahun 1967 ia memutuskan memproduksi 100% sutra tenunan buatan tangan.

Berbeda saat ini hanya 50% berbahan sutra dengan tenunan tangan.

Sisanya 50% lainnya dipadukan dengan bahan lainnya.

Sutera Mendapat Pengakuan Secara Internasional

Jim Thompson berhasil mengangkat sutera Thailand secara global.

Ia memanfaatkan jaringan di Amerika Serikat dan negara lain.

Akhirnya, untuk pertama kali sutera Thailand dimuat di majalah Vogue.

Tepatnya di tahun 1951, kain ini ditampilkan oleh majalah Broadway.

Berselang beberapa waktu di majalah The King and I.

Selanjutnya tahun 1959, Jim Thompson membuat gebrakan besar.

Waktu itu Ratu Thailand yang mengenakan kain sutera Jim Thompson.

Sepanjang beliau melakukan tour kerajaan di Amerika. Serikat.

Akhirnya Jim Thomson menjadikan kain sutera menjadi konsentrasinya.

Kehilangan Misterius Jim Thompson

Di tahun 1967, Jim Thompson menghilang secara misterius.

Tempat terakhir yang ia pijak di negara Malaysia.

Setelah itu tidak ada yang pernah melihat sosoknya lagi.

Tidak ada satupun bukti yang mengarah sebagai petunjuk.

Hal ini memunculkan banyak spekulasi kepergian misteriusnya.

Kepergiannya menjadi misteri dan melegenda pada brand ini.

Setelah melalui  70 tahun sejak pendirian awal perusahaan.

Brand ini semakin bertumbuh pesat.

Walau bermula dari kain sutera asal Thailand.

Kini berinovasi menjadi produk gaya hidup lain.

Seperti menjadi bahan perabotan rumahh dan alat dapur.

Tahun 2001, perusahaan bekerjasama dengan desainer terkenal asal Thailand.

Desainer ini memiliki buti di London berna,a Ou Baholyodin.

Desainnya terkenal kental dengan budaya Asia.

Dalam kesempatan tersebut melakukan kolaborasi perabotan rumah.

Serta didukung dengan Tim Desain In House.

Ou Baholyodhin mendapat kepercayaan memberi masukan ke perusahaan.

Tidak terlepas bantuan merancang desain produk terbaru.

Strategi Perusahaan Jim Thompson

Fokus utama perusahaan ini pada perabotan rumah tangga.

Yang mana membidik ritel tingkat Asia.

Jim Thompson mempunyai ekuitas brang yang kuat.

Sebab sangat kental dengan budaya dan diminati turis.

Membeli perabotan Jim Thompson seperti sebuah filosofi.

Membawa sepenggal budaya Thailand.

Dari sini terlihat pelanggan brand ini didominasi wisatawan asing.

Wisatawan tersebut membelinya sebagai cinderamata maupun koleksi.

Berbeda dengan strategi bisnis perusahaan cabang di Eropa dan Amerika.

Pada kedua negara ini lebih fokus membangun brand.

Tanpa disangkut pautkan dengan budaya Thailand.

Sebab, lebih sulit memasukkan unsur Thailand di negara tersebut.

Perusahaan lebih berkonsentrasi terhadap perabot rumah jadi.

Setelah itu baru didistribusikan pada orang lokal.

Untuk meningkatkan branding nama Jim Thompson berkolaborasi.

Dengan seorang desainer Amerika bernama Ed Tuttle.

Dalam rangka menyukseskan proyek arsitektur dan desain.

Desain merupakan hal penting untuk kesuksesan perusahaan.

Selain itu kolaborasi juga membuka pikiran perusahaan Jim Thompson.

Terhadap segala tren yang akan datang secara global.

Filosofi Brand Jim Thompson

Brand perusahaan ini dibangun atas 3 pilar.

Pertama, legenda pendiri Jim Thompson yang menghilang misterius.

Kedua, kolaborasi unik antara tradisi dengan warisan timur Thailand.

Desain produknya lebih kontemporer barat.

Menggunakan simbol dan pola budaya tradisional Thailand.

Ketiga, peningkatan branding produk industri rumah terkonsep mode.

Perusahaan ini telah berhasil membangun kisah pendirinya sendiri.

Hingga menunjukkan perjalanan kain sutera Thailand go internasional.

Tentunya melibatkan sejumlah komunitas tenun lokal.

Yang dipercayakan sebagai mitra bisnis strategis.

Hubungan yang dekat dengan warga lokal memperlancar perusahaan.

Terutama berbau pada tatanan pemerintahan dan kerajaan.

Jim Thompson akhirnya dapat menciptakan gaya hidup sendiri.

Sebuah konsep terpusat kain sutera berdesai kontemporer.

Kini ekspansi perusahaan berhasil merambat ke sektor lain.

Yakni perabot rumah dan restoran.

Inovasi brand ini menciptakan tingkat premium terkonsep gaya hidup.

Pengembangan tiga pilar perusahaan mempertahankan perbedaannya.

Serta memperkuat brand di mata Internasional dan Lokal.

Brand ini dinilai paling otentik.

Kental dengan warisan budaya Thailand dan berkualitas tinggi.

Strategi branding global Jim Thompson melalui inspirasi.

Contohnya brand Hermes dari Prancis.

Sukses menunjukkan keontetikannya dan karakter kuat.

baca juga

uniqlo

bisnis-kenzo-dari-jepang

strategi-bisnis-miniso

Kini Jim Thompson dikenal oleh industri perhotelan.

Terlihat jelas sejak 1951, perabotan hotel berbintang di Thailand.

Berasal dari produk keluaran Jim Thompson.

Hotel tersebut diantaranya The Four Seasons, Oriental, Amanpuri.

Jim Thompson lebih menggali pengembangan budaya dan sosial.

Perusahaan akhirnya meluncurkan pusat seni.

Terkhusus untu Jim Thompson di Bangkok

Serta Museum dan Rumah Produksi Kreatif Jim Thompson.

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!