Cedea , Belum Ada Kerja Sama Eksklusif dengan Influencer

Cedea – Belum Ada Kerja Sama Eksklusif dengan Influencer , Cedea menggunakan empat indikator
dalam menilai keberhasilan influencer yang mencakup traffic, follower, reach, dan
engagement. Apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan influencer?

Anda sedang kurang nafsu makan, cobalah
iseng-iseng kunjungi salah satu media
sosial, Youtube misalnya. Lalu, ketik
kata “makan enak”, dijamin Anda akan
menemukan deretan konten video
seputar makanan atau orang sedang makan.

Cobalah
klik salah satunya, niscaya Anda akan disuguhi adegan
content creator yang dengan lahapnya menyantap
hidangan disertai penjelasan mengenai menu yang
disantapnya.


Tema makanan adalah salah satu jenis konten
yang banyak diunggah di media sosial. Figur atau
pesohor yang menggeluti profesi content creator,
baik itu selebgram, Youtuber, maupun influencer
di bidang santap menyantap makanan pun bejibun
jumlahnya.

Jumlah pengikut (follower) mereka tidak
sedikit, bahkan ada yang mencapai jutaan. Mau tidak
mau produsen atau brand makanan (food) ikut melirik
mereka.


PT CitraDimensi Arthali, perusahaan yang bergelut
di industri perikanan, juga ikut memanfaatkan jasa
influencer.

Perusahaan yang mengusung merek
Cedea ini tercatat sejak Oktober 2020 menggunakan
jasa influencer. Menurut pengakuan Christ Iwan
Arsianto, Managing Director PT CitraDimensi Arthali,
ada beberapa pertimbangan mengapa Cedea
menggunakan influencer.

image size-full">Cedea
Cedea


Pertimbangan tersebut yakni membantu
meningkatkan brand awareness dan agar dapat
berinteraksi langsung dengan target konsumen dari
Belum Ada

Kerja Sama Eksklusif dengan Influencer

Cedea menggunakan empat indikator
dalam menilai keberhasilan influencer yang
mencakup traffic, follower, reach, dan
engagement. Apa saja yang boleh dan
tidak boleh dilakukan influencer?

kalangan follower sang influencer. Selain itu,
Cedea juga ingin menampilkan cara penyajian
berbagai produk Cedea. “Influencer merupakan
sosok yang reliable dan memiliki image yang
positif di mata konsumen,” tandas Christ ketika
ditanya apa yang diperhatikan saat memilih
influencer.


Beberapa macro influencer yang pernah
mempromosikan brand Cedea yakni The Sungkars,
Tasyi, Genki, Nex Carlos, dan Separuh Aku Lemak.
Sebelum influencer menjalankan tugasnya,
tim Cedea akan memberikan brief seputar
produk, seperti keunggulan produk yang akan
dipromosikan dan menjelaskan rambu-rambu
yang boleh dan tidak boleh saat membuat video
atau foto promosi produk Cedea.


Kode Etika bagi Influencer


Lebih rinci Christ menjelaskan berbagai hal
yang boleh dan tidak boleh dilakukan influencer
yang akan bekerja sama dengan Cedea. Yang
boleh dilakukan tentu saja menyebutkan nama
brand, produk, dan keunggulan produk Cedea,
serta menjelaskan pengaplikasian produk dengan
kreativitas dari influencer.


Sementara yang tidak boleh dilakukan antara
lain menyebutkan nama brand lain saat endorse
produk Cedea dan menampilkan produk dari brand
lain di dalam video atau foto saat endorse produk
Cedea. Konten juga tidak boleh mengandung
SARA, mengarah ke pornografi, dan menggunakan
kata-kata kasar.

Selain itu, influencer juga tidak
diperbolehkan menggunakan video atau foto hasil
karya orang lain dan tindakan yang mengarah
pada kerusakan lingkungan.


Christ mengungkapkan, sampai saat ini Cedea
belum menggunakan sistem kontrak terhadap
influencer.

“Cedea belum pada tahap mengontrak
influencer secara eksklusif dengan periode
tertentu. Saat ini, Cedea menggunakan jasa
influencer sesuai dengan kebutuhan,” ungkapnya.


Karena belum menggunakan sistem kontrak, maka
pembayaran influencer dilakukan sebelum konten
dibuat. Adapun jumlah yang harus dibayar sesuai
dengan biaya atau rate card yang disepakati kedua
belah pihak.

Cedea menggunakan empat indikator dalam
menilai keberhasilan influencer.

Pertama, traffic
di halaman media sosial Cedea dan influencer.
“Traffic di sini adalah seberapa banyak orang
yang mengakses dan melihat social media Cedea
setelah influencer menampilkan video/foto di
halaman social media mereka,” ujarnya.


Kedua, followers, yakni berapa banyak follower
baru yang mengikuti akun media sosial Cedea
setelah melihat konten influencer. ”Semakin
banyak jumlah follower yang bertambah, maka
akan semakin berhasil,” katanya.


Ketiga, reach yang mengacu pada jumlah
orang yang telah melihat materi promosi yang
telah dibuat influencer. “Semakin tinggi jumlah
reach tentu akan semakin baik,” lanjut dia.

baca juga


    Terakhir, engagement yang dilihat dari berapa
    banyak like, comment, dan berapa banyak orang
    yang melihat atau berinteraksi di halaman
    influencer, setelah mereka mengunggah video
    atau foto saat endorse produk Cedea. “Semakin
    banyak yang melihat produk Cedea, semakin
    bagus engagement rate dari konten tersebut,”
    kata Christ.


    Dia juga menambahkan keunggulan
    influencer dibandingkan bintang iklan atau
    brand ambassador , yakni mampu menciptakan
    interaksi langsung dua arah antara influencer
    dan follower melalui comment di halaman media
    sosial influencer.

    Selanjutnya, berbagai comment
    tersebut akan menjadi masukan bagi Cedea.
    Christ mengatakan, ke depan perusahaan
    berniat menggunakan brand ambassador
    dan influencer untuk meningkatkan kinerja
    perusahaan dan merek. Alasannya, karena ada
    dua target konsumen yang ingin dijangkau,
    yaitu Gen X dan Gen Alpha.

    “Kedua target konsumen tersebut memiliki cara berinteraksi
    yang cukup berbeda. Supaya perusahaan dan
    brand dapat berkomunikasi dengan kedua
    target konsumen tersebut, maka ke depannya,
    Cedea mempertimbangkan akan adanya brand
    ambassador dan influencer,” pungkasnya.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *