Published On: Fri, Oct 14th, 2016

Cerita Dbalik Gelaran Pameran Tenun, Craft, dan Batik Nusantara 2016 di Surabaya

undercover.co.id  – Lestarikan Budaya, Siti Kembangkan Tenun Ikat  

Tenun yang indah dihasilkan dari alat yang sederhana. Siti Ruqoyah menyebutnya keajaiban tenun. Perajin tenun asal Kota Kediri itu pun terpikat dengan tenun dan memilih untuk mengembangkannya. Ia juga menjadi satu-satunya perajin tenun di Kota Kediri yang menerima penghargaan OVOP (one village one product) kategori bintang 4 dari Kemenperin RI. Bagaimana geliatnya?

Gelaran pameran Tenun, Craft, dan Batik Nusantara 2016 di Surabaya dimanfaatkan Siti Ruqoyah dengan baik. Tak hanya memamerkan produk tenun hasil karyanya, ia juga memboyong alat tenun (ATBM) untuk dipamerkan pada event tersebut.

Kepada para pengunjung, Siti menjelaskan dengan rinci cara pembuatan tenun. Salah satu pegawainya juga menunjukkan cara menggunakan ATBM tersebut. Bahkan, ia juga mempersilahkan para pengunjung untuk menjajal alat pembuatan tenun tersebut.

“Awalnya cuma ada dua alat, terus berkembang dan sampai sekarang ada 55 alat tenun. Saat ini kami memiliki 95 karyawan yang dalam sehari memproduksi 60 potong kain tenun. Per potongnya 2,5 meter,” jelas Siti panjang lebar.

Siti mengisahkan awal perjalanannya mendirikan usaha tenun bersama suami. Dulu, perempuan yang menyandang titel sarjana pendidikan itu mengalami kesulitan saat mencari pekerjaan di lembaga pendidikan. Lantas, ia memilih untuk menekuni pembuatan tenun, mengikuti sang suami, Munawar yang terlebih dulu menekuni tenun. Hingga pada tahun 1989, mereka pun mendirikan ‘Medali Mas’.

Dirinya mengatakan sama sekali tak mempunyai dasar membuat tenun. Ia juga tidak berasal dari keluarga pengusaha tenun. Keterampilan membuat tenun dia dapatkan dari belajar. Saat ditanya alasannya menekuni tenun, Siti mengaku terpikat dengan keajaiban di balik tenun. Karena itulah, ia sangat bersemangat mempelajari cara pembuatan tenun.

“Produk yang indah seperti tenun dapat dihasilkan dari alat yang sangat sederhana. Itu keajaiban,” terangnya.

Cerita Dbalik Gelaran Pameran Tenun, Craft, dan Batik Nusantara 2016 di Surabaya

Setelah ia berhasil membuat tenun, permasalahan baru menghampiri. Saat itu, Bandar Kidul telah dikenal sebagai sentra sarung tenun goyor. Sebagai inovasi, ia tak hanya memproduksi sarung, melainkan juga mulai merambah kain tenun. Untuk mengenalkan produknya, Siti harus memasarkannya dari pintu ke pintu. Hampir empat tahun ia menjalani model pemasaran seperti ini. Ketekunan dan kesabaran Siti beserta suami berbuah hasil. Di tahun ke-26 sejak berdiri, tenun ‘Medali Mas’ menjadi salah satu ikon di kampung tenun Bandar Kidul, Kota Kediri.

baca lagi tiara-handycraft-berdayakan-difabel-tembus-pasar-amerika/

Optimis Tenun Berkembang

Saat krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998, Medali Mas sempat vakum selama dua tahun. Harga bahan baku yang melonjak membuat Siti kesulitan menyesuaikan harga. Lambat laun, usahanya mulai bangkit dan terus berkembang. Kini, usaha tenun yang berpusat di Jl. KH Agus Salim Gang 8 No. 54 C Bandar Kidul ini beromset hampir Rp 300 juta per bulan.

Diakui Siti, salah satu penyebab berkembangnya usaha tenun miliknya adalah adanya dukungan dari pemerintah. Walikota Kediri mengeluarkan SK tentang kewajiban penggunaan tenun ikat khas Kota Kediri setiap hari Kamis untuk PNS dan swasta. Dukungan Pemkot Kediri tersebut sangat membantu eksistensi usaha tenun.

Selain dipasarkan di Kota Kediri dan sekitarnya, produk tenun ‘Medali Mas’ yang dihargai sekitar Rp 100 ribuan hingga Rp 300 ribuan ini telah merambah berbagai kota di Indonesia. Karena itulah, Siti dianugerahi piagam penghargaan OVOP dari Kementerian Perindustrian RI untuk kategori bintang 4. Siti menjadi satu-satunya perajin tenun di Kota Kediri yang menerima penghargaan tersebut.

“Perajin yang lain masih bintang 3. Nanti kalau bisa ekspor bisa mendapat bintang 5. Kami akan berusaha mendapatkannya (bintang 5, red),” tutur ibu dua anak ini.

Ia berharap, pemerintah dapat terus mendukung dan memihak para perajin tenun. Mengingat proses pembuatan tenun yang membutuhkan 14 alur kerja, Siti mengandaikan bila pemasaran tenun meningkat, maka akan lebih banyak tenaga kerja yang terserap dan akhirnya UKM akan semakin berjaya.

Perempuan kelahiran Nganjuk 1 April 1969 ini yakin, bila tenun terus dikembangkan dan dipromosikan, tenun akan lebih dikenal luas dan memiliki penggemar tersendiri. Terlebih saat ini berbagai daerah di Jawa Timur sedang merintis tenun khas daerah masing-masing. Ia mencontohkan Kabupaten Nganjuk dan Bojonegoro yang saat ini sedang serius menggarap potensi tenun di daerahnya. Dia juga sempat diundang menjadi narasumber di Bojonegoro. “Biar tenun bisa lebih hidup lagi,” katanya.

Baca Juga bisnis-online-dengan-sepatu-rajut-handmade-asal-ketintang/

Regenerasi melalui Anak

Banyak dari usaha yang mengalami kendala dalam regenerasi. Namun, Siti telah menyiapkannya sejak jauh-jauh hari. Itu bermula ketika Yusna, putri pertamanya meminta izin kuliah di luar kota. Ia pun tidak mengizinkan karena khawatir putrinya terpengaruh dengan lingkungan dan akhirnya tidak mau meneruskan usaha keluarga.

Siti meminta agar putrinya berkuliah di dalam kota dan mengambil jurusan yang sesuai dengan kebutuhan usaha. Gayung bersambut, akhirnya Yusna mengamini permintaan ibunya. Sejak berkuliah, Siti melibatkan Yusna dalam pembuatan tenun. Sebagai motivasi, ia juga menggaji putrinya sendiri. Ia diberi gaji sebagai karyawan, namun juga mendapat jatah uang belanja dan jajan sebagaimana anak-anak lainnya. Dengan demikian, putrinya pun sangat bersemangat terlibat dalam semua proses pembuatan tenun dari awal hingga akhir.

“Saya suruh apapun dia nurut, karena dia merasa menjadi karyawan saya. Sambil bekerja dia nggak tahu kalau saya kasih ilmu. Ibaratnya sambil menyelam minum air,” tutur Siti.

Proses tersebut telah berjalan sekitar empat tahun. Kini Yusna sedang mengerjakan skripsi terkait usaha tenun ‘Medali Mas’. Melihat kemampuan dan kesiapan putrinya, Siti berencana membangun ruang pamer (showroom) yang pengelolaannya diserahkan kepada Yusna.

“Sekarang kami sedang persiapan membangun showroom yang di sana juga ada edukasi pembuatan tenun,” ungkap Siti. Ia menambahkan, pembangunan showroom tersebut sebagai respon atas banyaknya rombongan bus yang ingin berkunjung ke tempatnya. Namun, letak tokonya saat ini berada di gang dan tidak memungkinkan dilewati bus.

“Saya carikan tempat yang strategis dan luas. InsyaAllah 1,5 sampai 2 tahun lagi siap dipakai,” kata Siti.

 

Biodata                :

Nama                    : Siti Ruqoyah

TTL                         : Nganjuk, 1 April 1969

Suami                   : Munawar

Anak                      : –  Yusna Qurrota A’yuni

  • Ahmad Zuhri

Pendidikan         : SG PLB Negeri Surabaya (S1)

Usaha                    : Kerajinan Tenun Ikat (ATBM) “Medali Mas”

Alamat                 : Jl. KH. Agus Salim Gg. 8 No. 54 C Bandar Kidul, Kec. Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur

Prestasi                                :

  • Penghargaan OVOP (One Village One Product) kategori Bintang 4 dari Kementerian Perindustrian RI (2015)
  • Juara 1 Pro Poor Award Provinsi Jawa Timur tahun 2012
  • Nominasi Upakarti Nasional (2010)
jasa seo dan internet marketing

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>