Daftar Bisnis Produk Pemanfaatan Limbah

Undercovercoid 77

https://www.undercover.co.id – Ide mendirikan bisnis bisa berupa produk apa saja dan berasal dari mana saja.

Seorang pengusaha yang kreatif akan dengan mudah memanfaatkan hal-hal yang sering ia temui guna menjadi peluang baru.

Dari berbagai bahan baku yang disediakan oleh alam, limbah juga dapat menjadi ide bisnis yang dapat menghasilkan.

Tidak hanya berkaitan dengan keuntungan semata, bisnis berbasis bahan baku limbah juga dapat menjadi inspirasi untuk melestarikan lingkungan.

Berikut merupakan daftar pelaku bisnis yang memanfaatkan limbah sebagai sumber bahan bakunya.

Table of Contents

1.   Limbahagia

Limbahagia dimulai dari ide seorang Indra Noviansyah yang berinisiatif membuat gerakan yang mengajak orang untuk mulai peduli terhadap kegiatan daur ulang sampah.

Dari gerakan yang ia lakukan, ia dapat mempelopori konsep ekonomi sirkular yang melibatkan pihak produsen, konsumen, dan agen secara bersiklus.

Kini Limbahagia dikenal sebagai salah satu perusahaan pengolahan sampah yang paling terkemuka di Indonesia.

Awal Mula Mendirikan Limbahagia

Indra Noviansyah yang lahir di Pontianak 7 November tahun 1989 ini sudah berurusan dengan kegiatan daur-mendaur sejak kecil ketika ia bersama dengan temannya senang mengumpulkan beraneka macam sampah untuk dijual ke pengepul.

Karena terbiasa berhubungan dengan sampah di masa kecilnya, memimpin gerakan yang berhubungan dengan pengolahan sampah bukan hal yang sulit baginya.

Ia kerap mengajak masyarakat untuk mengembangkan kebiasaan mendaur ulang sampah yang sudah ditemukan.

Berbagai cara telah ia lakukan untuk mengumpulkan sampah dari lingkungan terdekatnya.

Mulai dari berinisiatif menaruh tong sampah sukarela, mendirikan bank sampah, hingga merangkul para OSIS untuk bersama-sama mengumpulkan sampah.

Ia kerap kali mengumpulkan beberapa macam sampah yang dapat didaur seperti botol kaca, plastik, yang kemudian bisa disulap menjadi sebuah produk berbeda.

Beranjak dari sebuah gerakan sosial, Indra kemudian mengendus peluang bisnis yang bisa dihasilkan dari kegiatan pendauran sampah domestik yang kerap kali menimbulkan masalah lingkungan.

Sewaktu duduk di semester lima, kebetulan Indra mendapat pelajaran mengenai bagaimana nilai ekonomi yang bisa dihasilkan dari kegiatan daur ulang sampah dan limbah.

Meski menjadikan pengolahan limbah sebagai bisnis merupakan gagasan yang belum pernah ada, namun Indra bukanlah orang yang sama sekali tidak mempunyai pengalaman berbisnis.

Sebelum serius menekuni bisnis pendauran limbah, Indra juga sempat berbisnis tokek, membuka kafe, hingga membuka usaha lapangan futsal dan cuci mobil.

Setelah berhasil merengkuh keuntungan sedikt demi sedikit dari usahanya itu, Indra berinisiatif untuk mengembangkannya menjadi sebuah perusahaan yang diberi nama Limbahagia.

Limbahagia adalah perusahaan pengolahan sampah yang berfokus pada model bisnis lisensi berupa penawaran pelatihan kepada para warga yang berminat.

Melalui model ini, Limbahagia akan menawarkan paket pelatihan daur ulang beserta dengan alat operasional bagi calon mitra yang berniat mengolah sampah.

Nantinya hasil daur ulang sampah dari warga berupa produk jadi akan dibeli oleh Limbahagia untuk kemudian di jual kembali.

Setiap investor yang berminat mendaftar kemitraan dengan Limbahagia diminta untuk menyiapkan uang lisensi sebesar 85 juta Rupiah yang terdiri dari paket pelatihan, alat operasional, hingga bantuan tenaga audit.

Beberapa produk yang bisa dihasilkan dari proses daur ulang ini antara lain bijih plastik yang bisa digunakan dan dijual ke pelaku industri.

Tidak hanya digunakan pelaku industri domestik, bahkan bijih plastik hasil produksi dari Limbahagia juga sudah berhasil mendapat permintaan dari pelaku industri di China.

Dalam satu kesempatan, Indra bisa mengirim setidaknya 1 hingga 3 ton bijih plastik tergantung permintaan.

Hingga kini Indra telah berhasil mengembangkan Limbahagia hingga memilki 35 pabrik alias lokasi kemitraan yang tersebar di seluruh Indonesia dengan sistem pengolahan limbah yang berbeda-beda.

Selain pabrik di dalam negeri, Limbahagia juga mendapat contract request untuk mendirikan cabang Limbahagia di kota Bandar Sri Begawan yang merupakan hasil kerjasama dengan pemerintah Brunei.

Bentuk kerjasama ini menggunakan skema bagi untung, dimana Limbahagia mendapat proporsi keuntungan sebesar 40% dan sisanya untuk pemerintah Brunei sebagai pemodal utama.

Kendala Bisnis di Lapangan

Meski kegiatan mengumpulkan sampah kedengarannya merupakan hal yang sepele, namun kenyataan di lapangan sangat jauh berbeda untuk Indra.

Ia terkadang harus menghadapi para pemulung hingga mafia yang berebut sampah untuk keperluan masing-masing.

Tak jarang ia harus berjibaku hanya untuk mendapatkan sampah yang masih berpotensi memiliki nilai ekonomis.

Tidak hanya harus berebut “rejeki” dengan para pemulung hingga makelar yang ada, usaha Indra juga sempat mendapat penolakan dari warga.

Karena olahan gas metan yang berasal dari tempat pengolahannya mengganggu warga, ia kerap bermasalah hingga harus rela diusir.

Namun semua itu dianggap Indra sebagai bagian dari resiko bisnis terutama untuk jenis usaha yang belum terlalu dikenal oleh masyarakat.

Di tengah-tengah banyak kendala yang ia hadapi dalam menjalankan bisnis, Indra kemudian mendapat suntikan investasi dari Dina Rimandra.

Dari investasi ini, Limbahagia akan mendapatkan suntikan dana sebesar 3 juta Dolar Amerika Serikat yang rencananya akan digunakan untuk ekspansi teknologi.

Melalui investasi ini, Dina Rimandra dan perusahaannya akan memegang kendali untuk operasional salah satu pabrik limbahagia yang berada di kota Pontianak.

Indra pun menyambut baik investasi ini sambil mengatakan bahwa ketertarikan Dina Rimandra sebagai kalangan perempuan terhadap bisnis sampah merupakan hal yang amat jarang.

baca juga

    Memanfaatkan Teknologi Online

    Indra menyadari bahwa masih banyak warga yang enggan berurusan dengan sampah apalagi untuk melakukan tindakan pemilahan.

    Salah satu alasannya adalah karena hal ini belum menjadi kebiasaan bagi kebanyakan orang Indonesia yang lebih sering membuang sampah secara langsung.

    Meski begitu, Indra bertekad untuk terus mengedukasi masyarakat mengenai potensi yang bisa digali dari sampah yang mereka hasilkan.

    Untuk memudahkan warga untuk menyalurkan sampah mereka, Indra menyempatkan diri untuk membangun aplikasi bank sampah online yang bisa diunduh oleh warga.

    Dengan adanya aplikasi ini, para warga yang memiliki sampah yang ingin di daur ulang tinggal melapor ke aplikasi.

    Setelah aplikasi ditanggapi, sampah dari warga pemohon akan diangkut oleh tenaga dari mitra yang paling dekat.

    Untuk merangsang minat para warga agar melaporkan sampahnya, Indra berencana akan membuat program apresiasi bagi warga.

    Melalui program apresiasi ini, Indra akan memberikan insentif uang kepada warga yang rutin menyumbangkan sampahnya dalam kurun waktu tertentu.

    Indra berharap upayanya menciptakan aplikasi online  yang sedang digandrungi dapat menumbuhkan budaya untuk mengolah sampah bagi orang-orang Indonesia.

    Merambah ke Bungkil Sawit

    Setelah sukses memajukan industri daur ulang untuk barang bekas yang berasal dari plastik dan gelas, Indra alias Novint menetapkan target baru untuk diversifikasi bisnisnya.

    Rencananya, Indra akan mencoba menghasilkan produk bernilai ekonomis dari limbah bungkil sawit.

    Bungkil sawit memang diyakini lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan penggunaan batu bara yang beresiko mencemari lingkungan.

    Untuk memuluskan rencana ini, Indra pertama-mana mencoba mengajak banyak pelaku industri sawit untuk memberikan bungkil sawit yang sudah tidak dipakai lagi

    Dari bungkil sawit ini, Limbahagia berpotensi menghasilkan produk seperti briket hingga peralatan makan.

    Untuk mendukung rencana bisnis ini, Indra sudah menyiapkan beberapa pabrik pengolahan yang memiliki fasilitas pengolahan bungkil kelapa sawit yang ada di Bogor, Lampung, Bali, dan Banjarmasin.

    Hingga hari ini Limbahagia telah mencatatkan omzet sebesar 200 juta Rupiah perbulan dari hasil mendaur ulang sampah.

    2.   John Peter Peka Group

    John Peter termasuk salah satu pengusaha pengolahan sampah yang sukses merangkak dari bawah

    Ia nekat menjadi pebisnis limbah karena yakin bisnis ini tidak akan pernah mati selama orang-orang masih terus menghasilkan sampah.

    Telah mendirikan usaha pendaur ulangan sampah sejak tahun 1987, John Peter telah berhasil mendapatkan keuntungan hingga milyaran Rupiah.

    Bahkan ia juga dianggap sebagai pemberdaya para pemulung yang selama ini hanya bergerak sebagai pengumpul sampah belaka.

    Mengenal Bisnis Sampah di Bangku Kuliah

    Meski telah merengkuh sukses, jalan yang ditempuh John hingga berhasil mendirikan usaha pendaur ulangan sampah di bawah bendera Peka Group tidaklah mudah.

    Ia sempat harus merasakan hidup terlunta karena diusir kedua orangtuanya akibat kebiasaan berjudi.

    Beruntung ia kemudian diterima oleh Hok Kwe Sin, seorang penjaja gorengan yang mengangkatnya menjadi anak.

    Bersama dengan orangtua angkatnya, John perlahan tapi pasti dapat meninggalkan kebiasaan buruknya berkat didikan orangtua angkatnya yang keras.

    Kedua orangtua angkat John-lah yang memperkenalkan ia dengan dunia berbisnis.

    Menginjak usia Sekolah Menengah Pertama, John memberanikan diri untuk hidup mandiri dengan berpindah ke kota Bandung untuk melanjutkan sekolah dan mencari nafkah sendiri.

    Di Bandung, John menghidupi dirinya dengan menjadi seorang tukang tambal ban selepas pulang sekolah.

    Ia seringkali melayani teman-temannya yang berniat membetulkan sepeda di hari libur sekolah.

    Meski harus menjadi tukang tambal ban, John tidak merasa malu kepada teman-temannya karena ia sudah bertekad untuk kuliah dengan biayanya sendiri.

    Tekad itu akhirnya terwujud dengan berhasil melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung jurusan teknik kimia.

    Di bangku kuliah , John berkenalan dengan bisnis daur ulang sampah ketika ia melihat banyak tumpukan sampah tidak terurus dekat tempat tinggalnya.

    Pada waktu itu, John sudah memahami bahwa olahan sampah memiliki selisih harga jauh di atas sampah mentah di tempat pengepul.

    Untuk mendirikan bisnis ini, John memberanikan diri meminjam uang sebesar 4 juta Rupiah dari temannya untuk membeli satu mesin pengolah sampah.

    Sambil menjalani kuliahnya, John secara konsisten menjalani bisnisnya mulai dari mengeruk sampah sendiri hingga memilah dan memberikannya kepada para pengepul.

    Berkat usaha pengolahan sampahnya, John sempat mendapat kehormatan diberitakan di surat kabar nasional dan mendapat perhatian dari Bank Mandiri yang tertarik membantunya.

    Berkembang setelah Dibantu oleh Bank Mandiri

    Salah satu alasan Bank Mandiri memilih untuk membantu John karena bisnis pengolahan sampah tergolong bisnis yang cenderung stabil dan bahkan terus meningkat.

    Setelah diberi kucuran kredit oleh bank mandiri, John dapat mengembangkan bisnisnya yang bernama Peka Group menjadi lebih besar.

    Pada waktu itu kucuran kredit sebesar 50 juta Rupiah dimanfaatkan oleh John untuk membeli beberapa mesin pengolah serta beberapa peralatan pencacah biji plastik.

    Setelah dilengkapi oleh mesin-mesin berteknologi tinggi, John mampu menghasilkan bijih plastik yang berkualitas tinggi.

    Bijih plastik itu kemudian dijual kepada pelaku industri manufaktur di bidang pembuatan helm, boneka, hingga botol plastik.

    Setelah menjalani bisnis pengolahan limbah setelah lebih dari 20 tahun, John telah berhasil memperluas usaha pengolahan sampahnya hingga memiliki cabang di tiga kota berbeda, masing-masing di Makassar, Medan, dan Banjarmasin.

    Bahkan di bawah bendera Peka Group, John telah memiliki pabrik besar pengolahan biji plastik yang terintegrasi dengan tempat pembuangan sampah akhir di Bantargebang.

    Untuk pabrik Bantargebang, John sudah bisa mendelegasikan kepada asistennya untuk merangkul pemulung setempat agar mau bekerja sama.

    Dari hasil usahanya mengolah sampah, John sudah berhasil meraup omzet hingga 800 juta hingga 1 millyar Rupiah per bulan.

    Mengadakan Pelatihan Wirausaha

    Meski telah berhasil meraih keberhasilan dari upaya dan kerja kerasnya untuk membesarkan usaha pengolahan sampah, John masih memiliki target lain yang ingin dicapai.

    Target pertama adalah memiliki pendapatan pasif yang ia wujudkan dengan memborong tanah.

    Rencananya, tanah borongan tersebut akan dijadikan perumahan pribadi dengan nama Perumahan Santosa yang terletak di Cianjur.

    Target kedua adalah ingin membantu para pemulung sampah untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

    Untuk mewujudkan hal ini, John membangun sebuah koperasi penyaluran kredit mikro khusus untuk para pemulung yang dibinannya.

    Tidak hanya dalam bentuk koperasi, John bersama dengan sang istri memutuskan turun sendiri ke lapangan untuk mengajarkan skill berwirausaha kepada para pemulung binaannya.

    Belajar dari kegagalan

    Sukses membesarkan usaha pengolahan sampahnya hingga menjadi sebuah perusahaan yang besar, John justru mengaku banyak belajar mengelola bisnis dari berbagai kegagalannya.

    John dketahui mendapatkan sejumlah hambatan dalam berbagai upayanya membesarkan bisnis.

    Ia pernah harus merasakan ditipu oleh para pemulung yang dibantunya ketika merintis bisnis pengolahan limbah.

    Salah satu pemulung yang dibantunya pada waktu itu lari membawa modal yang sedianya akan digunakan untuk mengembangkan bisnis pengolahan sampah ini.

    Tidak hanya ditipu, pilihannya berbisnis pengolahan limbah juga mendapat penolakan habis-habisan dari kedua orangtua kandungnya.

    Orangtua John mengetahui pilihan anaknya setelah datang ke Bandung untuk berkunjung.

    Bahkan kedua orangtuanya sempat menangis karena tidak pernah membayangkan anaknya akan menjadi seorang pengepul sampah.

    John juga pernah harus merasakan menanggung rugi dari berbisnis ketika ia mencoba berbisnis pemasaran mobil dan bisnis ekspor bawang hingga mencapai 2 milyar Rupiah.

    Namun berbagai hambatan tersebut akhirnya menjadikan John lebih bijaksana dalam berbisnis.

    Salah satu keputusan bijak yang pernah diambil oleh bapak dua anak ini yaitu menunda membeli rumah pribadi demi dapat mengembangkan bisnisnya.

    Bagi John, ia tidak pernah peduli pendapat orang mengenai pilihannya sedari awal untuk berbisnis sampah karena ia yakin ia bisa tetap hidup berkecukupan meskipun dengan jalan yang halal.

    baca juga

      3.   Mohammad Baedowy

      Lain lagi dengan pengusaha pengolahan limbah sampah yang lain, Mohammad Baedowy justru beralih menjadi pengusaha limbah dari pekerjaannya sebagai auditor.

      Menjalani karir yang cukup mapan sebagai seorang auditor di Royal Bank of Scotland, Baedowy justru memutuskan resign karena ia melihat peluang di bisnis pengolahan limbah lebih besar.

      Hanya dalam waktu dua tahun, usahanya dapat berkembang pesat dan ia sudah berhasil mengekspor bijih plastik sebanyak 20 ton hingga ke China dengan keuntungan hingga 500 ribu Rupiah perkilogramnya.

      Selain memproduksi bahan baku, Baedowy juga mulai merambah bisnis lain dengan memproduksi sapu ijuk yang seluruhnya terbuat dari plastik.

      Merintis usaha mulai dari tahun 2000, Baedowy kini telah memiliki 19 mitra pengolah sampah yang tersebar di seluruh Indonesia.

      Berubah Haluan Karena Krisis Moneter

      Mohammad Baedowy awalnya menjalani karir yang cukup cemerlang seusai lulus dari almamaternya di Universitas Merdeka Malang.

      Ia berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai auditor dari Royal Bank of Scotland dan mendapat gaji yang lumayan besar pada waktu itu.

      Tidak hanya memiliki karir yang stabil, ia juga terhitung merupakan salah satu karyawan yang digadang-gadang bakal melesat di usianya yang cukup muda yaitu 24 tahun.

      Memiliki karir yang cemerlang tidak membuat Baedowy puas karena kecemerlangan karirnya tidak berbanding lurus dengan kompensasi alias gaji yang ia terima.

      Meski begitu pada akhir tahun 1999, Baedowy mengalami momentum yang membuatnya meninggalkan karirnya.

      Dampak krisis moneter yang masih cukup terasa bagi perekonomian nasional membuat bank tempatnya bekerja sempat kolaps.

      Karena keadaan yang tidak menentu, Baedowy tanpa pikir panjang memutuskan untuk resign dari kantornya.

      Meski perusahaan dalam keadaan goyah, Baedowy dianggap menyia-nyiakan kesempatan karir yang ia pegang karena posisi yang ia tempati tergolong amat sulit untuk dicapai kebanyakan orang

      Karena hal itu, manajer yang membawahi Baedowy di tempat kerja mencibir keputusannya resign alih-alih mendukung.

      Sang atasan mengatakan bahwa ia justru tidak akan pernah sukses lantaran keputusannya resign dianggap emosi belaka.

      Setelah resign dari kantor, Baedowy kebingungan untuk mencari pekerjaan lain yang bisa memberinya penghasilan.

      Baedowy sempat menjajal usaha peternakan jangkrik yang berakhir rugi karena jangkrik ternakannya saling memakan satu sama lain.

      Setelah kegagalan di bisnis jangkrik, Baedowy memutuskan untuk pindah ke pekalongan karena mendapat pekerjaan sebagai manajer di perusahaan batik.

      Di Pekalongan-lah Baedowy mendapati ide berbisnis sampah setelah bertemu dengan kenalannya yang merupakan pimpinan bank daerah.

      Ia memutuskan mencoba bisnis pemilahan sampah yang dinilainya tidak ada resiko.

      Dengan bermodalkan uang sebesar 50 juta Rupiah dari tabungannya, ia membeli beberapa mesin pengolahan sampah dan untuk menyewa lahan.

      Sementara itu bahan baku sampah ia dapatkan dengan berkeliling di tempat-tempat pembuangan sampah setiap sore selepas bekerja.

      Butuh waktu setahun hingga bisnisnya benar-benar memiliki pijakan yang mantap.

      Selama setahun, Baedowy bersama dengan beberapa karyawan yang membantunya mengerjakan pengolahan mulai dari proses pencacahan hingga menjadi biji plastik.

      Untuk keperluan operasional, Baedowy memusatkan segala kegiatan bisnisnya di Desa Cimuning, Kabupaten Bekasi yang

      Mengembangkan Usaha Menjadi Pembuat Mesin

      Tidak puas hanya menjalani usaha pengolahan sampah saja, Baedowy mulai mencoba berekspansi ke bidang bisnis lainnya.

      Setelah berhasil mengembangkan bisnisnya hingga berbentuk CV, Baedowy mencoba untuk membuat sendiri mesin pengolahan sampah yang digunakannya.

      Meski memiliki latar belakang sarjana akuntansi, namun tidak mengherankan apabila Baedowy sanggup memproduksi mesin pengolah sampah secara mandiri.

      Ia pernah berpengalaman mencoba memperbaiki mesin pengolah sampah secara otodidak meski berakhir gagal.

      Bahkan bukan hanya gagal memperbaiki mesin, bisnis pengolahan plastiknya pun ikut terganggu dengan kejadian ini

      Berangkat dari kegagalannya tersebut, Baedowy secara disiplin mempelajari cara membuat mesin dan berbagai komponennya.

      Diproduksi dengan berbagai tipe, Baedowy membanderol mesin-mesin buatannya mulai dari harga 30 juta hingga 40 juta Rupiah.

      Untuk memasarkan mesin-mesin ini, Baedowy menawarkan pelatihan berbisnis pengolahan sampah kepada setiap pembeli mesin-mesinnya.

      Nantinya Baedowy akan menadahi produk hasil bijih plastik yang dihasilkan oleh para wirausahawan pengolahaan sampah yang telah dididiknya.

      Mesin produksi Baedowy ini pernah digunakan di Departemen Kelautan dan Perikanan serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

      Pada tahun 2020 nanti, rencananya Baedowy akan mengajukan sertifikasi ISO untuk produk agar mesinnya dapat memiliki standar Eropa.

       Pengalaman Tidak Mengenakkan

      Meski tergolong bukan bisnis yang memakan modal yang banyak, namun Baedowy harus merasakan pengalaman tak mengenakkan dalam menjalankan bisnis

      Baedowy harus merasakan pengalaman dipalak hingga dibacok oleh preman yang menghadangnya di tempat pembuangan sampah akhir.

      Ia juga pernah ditipu oleh penjual mesin yang justru memberikan mesin yang sudah rusak kepadanya dengan alasan tidak tahu menahu.

      Selain itu ia juga pernah ditolak oleh sesama pengepul ketika mencoba meminta bantuan terkait dengan teknis pengolahan sampah.

      Namun dari semua pengalaman tidak enak tersebut, pengalaman yang paling memberatkan adalah ketika pabrik pengolahan sampah yang ia rintis sempat merugi hingga bangkrut.

      Ketika itu ia merasakan berada di titik terendah di hidupnya dimana ia hanya tinggal memiliki sebuah rumah kontrakan dan hanya menyisakan kipas angin dan televisi.

      Ia juga diminta oleh orangtua dan mertuanya untuk merelakan pabrik pengolahan sampahnya dan kembai bekerja sebagai pegawai.

      Bahkan ia juga terpaksa harus “mengembalikan” istrinya kepada sang mertua karena tidak lagi sanggup membiayai istrinya.

      Menjalani hidup dengan penuh kesulitan selepas berwirausaha bukannya menyurutkan tekadnya berbisnis, sebaiknya hal tersebut justru mendorong Baedowy untuk semakin kreatif.

      Untuk menambah ilmu dalam hal pengolahan bisnis pengolahan sampahnya, ia sampai rela menghabiskan waktu untuk berdiskusi baik dengan para pemulung maupun dengan pebisnis yang lebih berpengalaman.

      Mendapat Penghargaan

      Usaha Muhammad Baedowy untuk mendirikan usaha pengolahan sampah sekaligus menjadi pelopor pelestarian lingkungan mengantarnya mendapat berbagai penghargaan dari sejumlah instansi.

      Sejumlah penghargaan yang telah ia sabet meliputi juara 1 pemuda pelopor tingkat nasional 2006, tokoh majalah Tempo dan piagam penghargaan Kalpataru pada tahun 2010, dan penghargaan spesial country winner dari Malaysia China Chamber tahun 2013.

      Selang lima tahun kemudian, Baedowy kembali mendapat penghargaan dari Dji Sam Soe Awards untuk kategori wirausahawan terbaik.

      Sebagai bentuk syukuran atas penghargaan tersebut, ia berjanji untuk membagikan 90% keuntungan bisnisnya dalam satu tahun kepada para karyawan yang telah bekerja di atas lima tahun.

      Baedowy mencanangkan target pribadi pada usia 40 tahun nanti ia dapat pensiun dini dan membagi-bagikan saham perusahaannya kepada adik maupun karyawan yang ia percaya.

      bac ajuga

      4.   Wilda Yanti

      Lain lagi dengan Baedowy yang meninggalkan posisi auditor, Wilda Yanti justru merintis usaha pengolahan sampah setelah mundur dari posisinya sebagai direktur di sebuah perusahaan internasional.

      Meski telah menjabat posisi direktur, Ibu Wilda tidak sungkan untuk menyempatkan diri turun memilah sampah bersama dengan lembaga swadaya untuk dijadikan kompos.

      Ia juga mencoba memilah sampah secara mandiri di rumahnya untuk dijual kepada pengepul.

      Karena sering melihat tumpukan sampah yang tidak diurus oleh tetangga-tetangganya, ia mendapat inspirasi untuk mendirikan bisnis pengolahan sampah

      Bisnis pengolahan sampah dengan nama PT. Xaviera Global Synergy ini didirikan oleh Ibu Willda tercatat merupakan perusahaan bank sampah pertama yang ada di Indonesia.

      Hobi Memilah Sampah

      Ibu Wilda memang sangat gemar dengan hal-hal yang berhubungan dengan pendaur ulangan sampah.

      Ia banyak mengikuti gerakan-gerakan lingkungan yang berfokus pada pemilahan dan pengolahan sampah.

      Setiap pekan, ia terjun bersama dengan anggota pecinta lingkungan untuk mengumpulkan sampah di rukun-rukun tetangga dan gang-gang sempit untuk mengumpulkan sampah sekaligus untuk mengedukasi masyarakat mengenai pengolahan sampah.

      Terkadang ia juga sering membawa sampah yang ia pilah untuk diolah sendiri di rumahnya.

      Dari hasil temuannya ketika terjun ke lapangan, ia menyadari bahwa potensi pengolahan sampah di Indonesia sangat besar namun belum serius dilirik sebagai sebuah gerakan massal.

      Sebagai seorang direktur teknologi informasi di sebuah perusahaan, banyaknya perjalanan yang ia lakukan ke luar negeri termasuk Eropa telah memberinya perspektif baru mengenai pengolahan sampah rumah tangga di Indonesia.

      Ia membandingkan pengolahan sampah di Eropa telah mengambil konsep reproduksi dimana sampah sebisa mungkin harus dijadikan sebagai produk baru,  berbeda dengan Indonesia yang kebanyakan masih membuang sampah langsung di Tempat Pembuangan Sampah akhir.

      Berangkat dari pengalaman tersebut, Wilda terpikir untuk membangun gerakan massal pengelolaan sampah mandiri untuk menggerakan potensi ekonomi dai bisnis ini.

      Niat Wilda juga terdorong fakta bahwa inisiatif-inisiatif pelestarian lingkungan seperti bank sampah tidak begitu berjalan dengan baik di Indonesia.

      Wilda menjalankan rencana ini secara bertahap mulai dari mengampanyekan pengolahan sampah kembali hingga membentuk bank sampah dengan sistem yang lebih baik di kantung-kantung pemukiman masyarakat.

      Telah berjalan sejak tahun 2007, Wilda akhirnya mantap untuk fokus menjadikan pengolahan sampah ini sebagai bisnis dan mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja.

      Salah satu alasannya ia memilih fokus adalah pertimbangan keluarga, dimana ia ingin menyediakan waktu lebih banyak bagi keluarganya.

      Ia mendirikan PT. Xavier Global Synergy yang berfokus pada bisnis pengelolaan bank-bank sampah di pemukiman masyarakat.

      Melalui bank sampah yang dibentuk, Wilda mengajak masyarakat untuk dapat menyodorkan sampah yang mereka miliki untuk “ditabung”.

      Menghadapi  Kesulitan

      Mantap menjalani profesi barunya sebagai perusahaan pengolah sampah, ia mulai bergerilya kelliling di berbagai RT, dimulai dari RT-nya menawarkan untuk konsep bank sampahnya.

      Namun usaha pertamanya tidak berjalan mulus karena konsepnya tersebut ditolak oleh masyarakat setempat karena keengganan warga untuk berpartisipasi.

      Gagal di lingkungan perumahan, Wilda mulai mencoba memulai gerakan ini di tempat-tempat penampungan sampah yang banyak dikunjungi oleh pemulung.

      Bermaksud baik untuk mengajak para pemulung tersebut hidup mandiri dengan mengolah sampah, ia justru dihalangi oleh penguasa setempat yang memegang kendali terhadap aktivitas pemulungan.

      Dari tempat penampungan sampah, Wilda kembai beranjak menawarkan konsepnya ke perusahaan, terutama untuk perusahaan yang belum memiliki prosedur pengolahan sampah secara terpadu.

      Untuk kesekian kalinya, Wilda kembali mendapat penolakan karena perusahaan tersebut menolak untuk bekerja sama.

      Konsep pengolahan sampah ala Wilda akhirnya mendapat tempat di pemukiman padat di Yogyakarta dengan iming-iming mendapat bantuan secara penuh untuk menjadikan sampah menjadi keuntungan.

      Setelah berhasil mendirikan badan hukum perusahaan, Wilda kembali menemui tantangan untuk bisnisnya.

      Pada tahun-tahun pertama selepas berdirinya perusahaan, Wilda kesulitan untuk menemukan mitra kerja pengolahan sampah.

      Proposalnya banyak ditolak oleh pemerintah sebagai pemangku kepentingan utama dalam masalah sampah.

      Untungnya ia masih bisa menjalin kerjasama dengan berbagai hotel dan pusat perbelanjaan sehingga perusahaannya tidak begitu merugi di tahun pertama.

      Itupun Wilda tidak bisa membicarakan mengenai prakiraan profit karena takut mitra akan membatalkan perjanjian kerjasama pengolahan sampah.

      Memberdayakan Petani

      Konsep Bank Sampah yang ditawarkan oleh Wilda mengusung konsep Social Enteprise yang memfokuskan pada pembinaan sebelum menarik keuntungan.

      Dari sebuah pemukiman padat di Yogyakarta, Wilda berhasil memperluas gerakan bank sampah ini hingga sampai ke pemukiman petani yang ada di Jombang.

      Khusus di daerah Jombang, Wilda telah berhasil mengajak hingga 300 orang petani untuk ikut terlibat dalam program bank sampah ini.

      Sembari menjalani fokus mereka sebagai petani, mereka juga tergerak mengumpulkan beberapa sampah untuk ditampung ke dalam bank sampah mulai dari botol plastik hingga kemasan bekas pupuk dan limbah kayu yang bisa dijadikan kompos.

      Sebagai kompensasi, Wilda menukarkan sampah yang berhasil diraih didapatkan oleh petani tersebut dengan bantuan pupuk organik dan bibit unggul.

      Sementara itu sampah yang ia kelola dari petani dikonversi menjadi minyak dan palet plastik yang bisa dilepas ke pelaku industri.

      Wilda juga terbuka untuk melatih para petani yang tertarik mengembangkan bisnis pengolahan sampah di wilayah mereka.

      Bagi Wilda, keuntungan perusahaan dan mengembangkan gerakan ekonomi ramah lingkungan sama pentingnya baginya.

      Mengembangkan Bisnis ke Arah Agrobisnis

      Selama 8 tahun mendirikan bisnis bank sampah, Wilda telah berhasil mengumpulkan berbagai mitra yang datang dari kalangan petani hingga industri perhotelan.

      Dari sampah yang dikumpulkan dari mitranya, perusahaan Wilda telah menghasilkan berbagai produk mulai dari kompos, pakan, pupuk cacing, energi biogas, hingga penjernih air dengan omzet hingga lebih dari 10 milyar Rupiah setiap bulannya.

      Jika berhasil mengembangkan jaringan bisnis di petani, rencananya Wilda akan mengembangkan PT. Xavier Global Energy miliknya masuk ke dalam agrobisnis.

      Untuk rencana agrobisnis, Wilda akan mengembangkan perkebunan buah-buahan tanpa menggunakan zat kimia pupuk alias organik

      Selain itu, Wilda juga akan membangun pertanian organik dan peternakan untuk menciptakan siklus pemanfaatan produk di sana

      Nantinya buah dan sayur yang diproduksi oleh agrobisnis ini akan didistribusikan melalui kanal pusat perbelanjaan swalayan dan pasar –pasar tradisional.

      Bisnis ini sendiri direncanakan akan dibantu kelola oleh para stafnya yang sudah mencapai ratusan orang.

      Hingga saat ini, PT. Xavier Global Synergy telah memiliki kemitraan tetap dengan petani dan peternak di berbagai daerah seperti Bogor, Majalengka, hingga Lombok.

      5.   Boy Candra

      Boy Candra berhasil memutar nasibnya dari kebangkrutan menjadi pengusaha sukses berkat ketekunannya berbisnis pengolahan sampah dan limbah.

      Dirinya mendapat ide untuk mengolah pipa PVC bekas menjadi biji vinyl yang bisa digunakan sebagai pipa baru kala pindah ke Bantul dan bergaul dengan banyak pemulung di sana.

      Kini dia telah memiliki pabrik pengolahan pipa bekas yang memproduksi lebih dari 2.000 buah pipa setiap hari dengan omzet mencapai 100 juta perbulan.

      Tidak Sengaja Berbisnis Limbah Pipa

      Boy Candra tadinya adalah seorang pengusaha otomotif yang memilki omzet lumayan.

      Hanya saja buntut dari krisis moneter Indonesia pada tahun 1998, usaha otomotifnya langsung jatuh seketika.

      Karena ketidaksanggupan dirinya untuk menghidupi keluarga, ia ditinggalkan oleh istri beserta anaknya untuk pulang ke daerah asal.

      Untuk menghemat biaya hidup, Boy memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan pindah ke Sleman.

      Sebetulnya di Sleman, ia sempat diajak untuk kembali membuka usaha otomotif, namun urung ia lakukan karena ketiadaan dana.

      Tidak mempunyai banyak pilihan membuat Boy mencoba nekat untuk menjual sampah kepada pengepul untuk bertahan hidup.

      Berkat pembicaraannya dengan seorang pemulung, Boy memutuskan untuk beralih menjadi pengolah sampah plastik karena harganya yang amat murah.

      Menjalani bisnis pengolahan plastik, Boy sempat diprotes oleh para pemulung lantaran ia kerap membeli dengan harga yang lebih tinggi untuk material plastik.

      Merasa bahwa cara berbisnisnya merusak keuntungan dari para pemulung, Ia dilarang untuk mengambil plastik oleh penguasa di sana.

      Ia hanya diperbolehkan untuk mengambil pipa bekas yang tidak diminati oleh para pemulung.

      Karena ia harus tetap mencari nafkah, Boy mencoba untuk menyanggupi berbisnis pipa bekas.

      Sejak tahun 2005, Boy secara rutin mencari limbah pipa sejak pagi hingga sore hari, mengolah dan menjadikannya serpih untuk memenuhi pesanan dari pabrik-pabrik.

      Dua tahun hanya mengolah pipa bekas, Boy akhirnya resmi memulai bisnis daur ulang pipa dari bahan pipa bekas.

      Untuk mewujudkan bisnisnya tersebut, ia menyewa sebuah lahan di desa Bungsing, Sleman sebagai pabrik pembuatan.

      Untuk suplai pipa PVC bekas, ia dapatkan dari Yogyakarta, Magelang, Solo, hingga Salatiga atas rekomendasi dari para pemulung yang bergaul dengannya.

      Belajar memproduksi pipa setelah menjalani banyak trial and error, Boy akhirnya mampu menciptakan bentu pipa yang sempurna setelah hampir 6 bulan

      Pabrik Boy bahkan sudah bisa memenuhi permintaan untuk memproduksi pipa dengan ukuran 5/8 inch hingga yang terbesar dengan 4 inch.

      Kebanyakan pipa yang ia jual bisa memiliki 60% di bawah harga pabrik yang dipasarkan di kota terdekat seperti di Tawangmangu dan Karanganyar.

      Memberdayakan Warga

      Sebagai pemilik usaha pengolahan pipa satu-satunya di Desa Bungsing, Boy tidak terlalu pelit dalam membagi ilmunya untuk mendirikan bisnis pipa.

      Ia tidak mengkhawatirkan keuntungan bisnisnya bisa berkurang apalagi mendapat saingan baru.

      Salah satu warga yang juga merupakan salah satu karyawan dari Boy yaitu Jumadi telah merasakan secara langsung pelatihan dari sang bos.

      Jumadi yang hanya merupakan seorang lulusan sekolah dasar dan sempat bekerja sebagai pemanggul kayu diajari secara telaten mengenai proses produksi pipa dari PVC bekas.

      Meski pekerjaannya jauh lebih sulit dibandingkan dengan pekerjaan lamanya yang hanya memanggul kayu, Jumadi merasa kerasan bekerja bersama Boy.

      Salah satu faktor yang membuat kerasan Jumadi adalah sang bos tidak segan-segan mau membantu apabila ia menemui kesulitan di lapangan.

      Selain mengenai teknis suasana kerja, Jumadi juga mendapat upah yang lebih layak dibandingkan dengan yang ia terima di tempat kerja sebelumnya.

      Boy pun diakuinya pandai memperlakukan karyawan terutama dalam hal penempatan jabatan.

      Sebagai salah satu orang kepercayaan Boy, Jumadi mendapat amanah untuk menjadi kepala pengawas produksi.

      Lain lagi dengan Sarjiman yang mengaku diselamatkan oleh Boy setelah diberhentikan dari pekerjaan sebelumnya menjadi tukang fotokopi.

      Ia adalah seorang petugas pemilah pipa pertama sebelum kemudian disortir ulang di pabrik.

      Meski pada awalnya terheran-heran dengan langkah Boy mengolah limbah pipa bekas, ia akhirnya memahami potensi dari bisnis ini.

      Sarjiman pun bertekad untuk bisa menjadi pengusaha pipa bekas sukses seperti Boy.

      Setiap tahunnya, Boy mengadakan pekan refleksi yang ia gunakan untuk mengevaluasi kinerja pabrik, karyawan, sembari melakukan penyegaran agar karyawannya tidak jenuh.

      Target di Tahun 2020

      Telah membawa bisnisnya ke tingkat yang lebih tinggi lagi, Boy pun mematok beberapa target bagi bisnis pengolahan pipa bekasnya di masa mendatang.

      Pada tahun 2020, Boy menargetkan bahwa ia sudah bisa memproduksi papan dan balok untuk material rumah yang terbuat dari material pipa bekas.

      Papan dan balok ini rencananya sudah diproduksi dengan menggunakan teknologi casting terbaru mengadopsi pabrik-pabrik pipa modern lainnya.

      Pipa dan balok pipa ini diklaim nantinya tidak bisa terbakar habis oleh api sehingga dapat menjadi bahan alternatif untuk material rumah.

      Selain itu pembuatan papan dan balok dari pipa ini juga dapat mengurangi penggunaan bahan kayu yang identik dengan penebangan hutan agar lebih ramah lingkungan.

      Target ini tidak disimpan oleh Boy sendiri, ia sudah memberitahukan rencananya kepada pemerintah setempat agar dapat membantu mensosialisasikan penggunaan papan dan balok dari pipa plastik ini kepada masyarakat.

      Boy bahkan bersedia untuk memberikan pelatihan gratis kepada warga untuk mengolah pipa pvc bekas menjadi papan jika dipromosikan oleh pemerintah.

      Pemerintah Bantul sendiri sudah menjanjikan akan banyak menggunakan produk papan dan balok yang dihasilkan oleh Boy untuk keperluan berbagai proyek

      Tidak hanya target bisnis saja, Boy juga berniat untuk menambah lapangan pekerjaan di daerah dekat tempat tinggalnya.

      Saat ini Boy sudah mempekerjakan sekitar 50 orang dekat desanya, dimana desa tempat Boy mendirikan usaha mengalami peningkatan ekonomi yang cukup signifikan.

      Ia berharap dengan semakin majunya usaha pipa yang ia kelola sekarang, ia dapat berkontribusi kepada kemajuan ekonomi di desa tempatnya bermukim dan berusaha.

      6.   Sumpah sampah

      Kekesalan Aziz Pusantarakan dan Angga Nurdiansyah melihat banyak orang membuang sampah seenaknya di sungai mendorong mereka untuk mendirikan bisnis pengolahan sampah.

      Melakukan percobaan dan riset selama tujuh bulan, mereka berhasil menciptakan sebuah konblok yang terbuat dari material kantong plastik.

      Setelah berhasil memenangkan kompetisi kewirausahaan, mereka berhasil mematenkan produk buatan mereka dengan nama Eco Paving Block yang memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan dengan konblok biasa.

      Tidak hanya menciptakan Eco Paving Block, Aziz dan Angga bahkan sudah bisa memproduksi mesin pencetak Paving Block secara massal.

      Meningkatkan Nilai Jual Kresek

      Baik Angga maupun Aziz memiliki latar belakang yang saling melengkapi dalam upayanya mendirikan bisnis pengolahan limbah plastik.

      Aziz Pusantaraka merupakan seorang lulusan Master di bidang rekayasa lingkungan Institut Teknologi Bandung pada tahun 2012.

      Sementara Angga Nurdiansyah merupakan tamatan diploma tiga teknik pengecoran logam dari Politeknik Negeri Bandung pada tahun 2010.

      Kedua sekawan ini banyak menyelami isu lingkungan yang berkembang di tempat tinggal mereka di desa Cibage, Citeureup, Jawa Barat.

      Di sana mereka menyaksikan sendiri bagaimana banyak warga yang msaih belum sensitif terkait dengan kebersihan lingkungan.

      Setiap hari, sampah kolektif yang dihasilkan oleh penduduk desa ditaruh ke dalam bak yang kemudian dihanyutkan begitu saja

      Padahal seringkali tindakan ini membuat sungai menjadi berwarna keruh bahkan menyebabkan banjir di desa.

      Sadar akan ketidakberdayaan mereka untuk merangkul warga, akhirnya mereka memutuskan untuk membuat rekayasa produk dari sampah-sampah plastik yang mereka angkut sendiri.

      Selama 10 bulan lamanya, mereka melakukan serangkaian uji coba hingga menemukan solusi untuk membuat paving block dari sampah plastik.

      Pada percobaan awal, Aziz dan Angga sempat berhasil membuat paving block dengan spesifikasi yang memadai namun dengan peralatan yang sederhana.

      Namun paving block buatannya tersebut tidak rupanya kerap hancur ketika musim hujan.

      Mereka sempat harus berurusan dengan kepala desa lantaran produksi paving block mereka sering mengeluarkan asap hitam pekat yang dianggap membahayakan kesehatan.

      Akibatnya mereka berdua harus berurusan dengan kepala desa setempat karena pengaduan warga.

      Karena tidak didukung, Aziz dan Angga memutuskan untuk memindahkan lokasi produksi mereka ke Citeureup dari Cianjur.

      Mendorong Warga Mengolah Sampah

      Di Citeureup, nasib baik menyambut mereka lantaran warga di sana sangat mendukung.

      Setiap hari Aziz dan Angga tidak pernah kekurangan bahan baku sampah plastik yang disuplai oleh pemulung setempat.

      Untuk mendorong masyarakat memberikan sampah plastik mereka, Angga dan Aziz membentuk program pertukaran dimana para warga akan mendapat Rp 1.500 per 1 kg plastik yang mereka sumbangkan.

      Terbukti inovasi paving block dengan material ini berhasil membawa perubahan terhadap perilaku warga dalam cara mereka mengolah sampah plastik

      Warga sekitar yang biasanya hanya membuang sampah plastik secara sembarangan, kini bisa menjualnya kepada Aziz dan Angga sebagai bahan baku pembuatan paving block.

      Oleh Aziz dan Angga, kantong kresek ini diubah menjadi sebuah konblok yang berharga 150 ribu Rupiah permeternya, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan harga konblok konvensional.

      Salah satu alasan kantong plastik kresek dapat digunakan menjadi bahan dasar konblok adalah dapat dipanaskan hingga suhu 160 derajat celcius tanpa hancur dengan tingkat dekomposisi yang mencapai usia puluhan tahun.

      Aziz dan Angga juga sudah membuktikan bahwa Eco Paving Block mereka bisa digunakan untuk kepentingan publik karena sudah berhasil melewati tiga parameter uji coba yaitu daya tahan, daya tekan, dan resistensi terhadap abrasi.

      Juara dua di Kompetisi Kewirausahaan

      Meski telah sukses menciptakan purwarupa paving block plastik, Aziz dan Angga membutuhkan dana besar untuk mengembangkan produk dan melakukan produksi massal.

      Untuk bisa mendapatkan sumber dana tambahan, mereka mencoba peruntungan mereka dengan mengikuti kontes kewirausahaan dengan menggandeng salah satu rekan mereka yaitu Daman Sutaman.

      Untungnya upaya mereka mengikuti kompetisi berjalan mulus, proposal mereka berhasil masuk tahap pertama dengan menyisihkan lebih dari 5.000 peserta.

      Perjalanan mereka di kompetisi juga berlanjut hingga babak penyisihan karena konsep mereka dianggap unik dan memiliki nilai sosial tinggi.

      Dengan mengusung nama “Sumpah Sampah” selama proses kompetisi, produk Eco Paving Block mereka berhasil masuk final pada bulan April 2019 kemarin.

      Meski harus mengakui kompetitornya dan hanya mampu meraih juara kedua, namun mereka mendapatkan hadiah uang yang lebih dari cukup untuk melanjutkan pengembangan bisnis mereka.

      Total mereka berhasil memenangkan hadiah sebesar  100 juta Rupiah yang dialokasikan untuk membayar hutang dan membeli mesin produksi baru.

      Perkembangan Pesat

      Dari sebuah ide sederhana untuk mengurangi volume sampah yang seringkali berakhir di sungai, sumpah sampah telah berhasil berkembang menjadi sebuah bisnis ramah lingkungan yang sangat menjanjikan.

      Karena menyedot perhatian yang luar biasa, Aziz dan Angga memutuskan meninggalkan pekerjaan mereka untuk fokus dengan perkembangan riset mengenai produk yang mereka buat.

      Selain fokus kepada riset, mereka juga mengembangkan mesin pembuat konblok yang rencananya akan dijual secara massal.

      Keahlian membuat mesin ini sendiri lahir dari hasil penelitian mereka bertiga manakala mesin pertama yang mereka beli dirasa belum memenuhi ekspektasi mereka.

      Mesin-mesin pembuat konblok yang dibuat mereka rencananya akan dibuat lengkap mulai dari mesin pencacah, mesin injection, hingga mesin extruder yang merupakan mesin tahap akhir pembuatan produk.

      Untuk membuat mesin ini, ketiga handai taulan ini sedang mengusahakan dana dari pihak ketiga karena memakan pengeluaran riset yang teramat besar.

      Pengeluaran riset yang dibutuhkan untuk menyempurnakan mesin berasal dari pembelian suku cadang yang memakan biaya hingga 25 juta Rupiah.

      Selain itu mereka bertiga juga membutuhkan rotor mesin yang didatangkan dari Jerman seharga 100 juta Rupiah.

      Belum lagi kebutuhan untuk merapikan desain yang memakan waktu selama lima bulan dan evaluasi rutin setiap empat bulan sekali.

      Dari mesin versi kedua ini tidak hanya dapat menghasilkan produk konblok belaka namun juga sejumlah barang lain seperti jam dinding, tutup lampu, hingga wadah serbaguna.

      Mesin-mesin pembuatan konblok ini memang dalam tahap penyempurnaan karena baru bisa memproduksi sekitar 50 hingga 60 konblok dari ketentuan minimum sebesar 250 unit.

      7.   Brianne Novianti Syukmita

      Brianne Novianti Syukmita atau yang akrab disapa dengan panggilan Novi merupakan salah satu pebisnis limbah yang memfokuskan pada bahan dasar kertas bekas

      Novi mengolah kertas-kertas koran bekas menjadi bahan baku produk kerajinannya dari berbagai koran-koran bekas yang menumpuk di rumahnya.

      Dari koran-koran bekas tersebut, Novi sanggup menghasilkan berbagai macam produk seperti miniatur monumen Yogyakarta atau menara Eiffel hingga miniatur barang-barang seperti sepeda onthel dan vespa.

      Untuk membantunya menyelesaikan pesanan, Novi sering mengajak tetangga-tetangganya yang ada di desa baik dalam urusan pembuatan hingga pengemasan.

      Hingga kini, berkat bantuan sosial media bisnis Novi dapat berkembang pesat dengan rata-rata pesanan dapat mencapai angka 240 buah setiap bulannya.

      Awal mula berbisnis limbah kertas

      Dawulang merupakan teknik pembuatan kertas dari bahan serat tanaman yang memiliki tekstur kasar.

      Pada masa dahulu kala, dawulang banyak digunakan sebagai media tulis pada zaman kerajaan untuk menyampaikan pesan ataupun menulis sebuah kitab dan babad.

      Dawulang sendiri merupakan salah satu penanda sejarah masa-masa penyebaran Agama Islam di Indonesia.

      Karena memiliki hubungan dengan sejarah kertas di Indonesia, maka Novi memutuskan menggunakan Dawulang sebagai nama bisnisnya pada tahun 2012.

      Novi sendiri memulai berbisnis kertas sejak tahun 2009 ketika ia masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah.

      Pada saat itu Novi yang memiliki jiwa seni ini mulai tertarik untuk membuat kerajinan yang dibuat dengan menggunakan koran bekas.

      Novi mencoba dengan banyak macam kertas, namun kertas koran bekas yang dirasakannyalah lebih cocok karena mudah dihancurkan dan dilusuhkan.

      Setelah melakukan berbagai percobaan untuk menyempurnakan teknik menciptakan kerajinan dari koran bekas, Novi akhirnya berhasil.

      Barang-barang hasil kerajinan Novi pada waktu itu pertama kali coba ditawarkan kepada teman-temannya di sekolah.

      Karena respons teman-temannya pada waktu itu cukup baik, Novi memutuskan untuk menseriusi berbisnis kerajinan limbah.

      Meski memiliki latar belakang sebagai sarjana filsafat yang jauh dari bisnis yang ia tekuni, Novi berhasil mendorong bisnisnya untuk terus berkembang.

      Menemukan formula produksi

      Meskipun mudah untuk dilebur dan dibentuk menjadi sebuah barang, Novi harus menjalani berbagai kesulitan sebelum dapat menghasilkan sebuah produk yang bernilai.

      Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh Novi adalah karena bahan kertas merupakan bahan yang mudah dibentuk sehingga mudah hancur juga.

      Novi pun tidak tanggung-tanggun harus seringkali melakukan percobaan agar kertas yang diolah bisa dipakai hingga larut malam.

      Novi bahkan masih melakukan kegiatan ini ketika menghadapi ujian sekolah.

      Setelah berbulan-bulan lamanya, Novi akhirnya menemukan formula yang pas untuk bisa menciptakan bubur kertas yang siap pakai.

      Bubur kertas yang sudah diolah dengan cara dibajak dicampur dengan bubur kanji yang diaduk dan didiamkan selama 12 jam

      Setelah bubur kertas sudah mengeras, tahap selanjutnya adalah proses pengguntingan yang dilakukan dengan mengikuti pola serat kertas agar tidak hancur.

      Usai digunting, kertas kemudian dilinting dengan menggunakan lidi sesuai dengan ukuran produk yang akan digunakan.

      Proses terakhir adalah penenunan dimana kertas yang sudah diberi lem di bagian luarnya ditenun dengan alat tenun bukan mesin dan dipipihkan mengikuti pola yang sudah disiapkan.

      Dengan cara ini, setelah mengeras kertas tidak akan berpori-pori lagi dan siap untuk dibentuk menjadi suatu barang.

      Selanjutnya kertas yang sudah dipolakan akan diberi vernis dan pewarna tekstil yang diulang hingga tiga kali agar dapat bertahan lama.

      Berbagai barang yang bisa diciptakan dengan metode ini selain pajangan atau miniatur adalah dompet, tas, sandal, hingga bingkai kaca.

      Produk-produk ini pun laris dikalangan pelanggan berusia muda berkat keunikan dan keotentikannya.

      Produk buatan Novi memiliki harga yang berkisar mulai dari Rp 2.500 hingga Rp 250.000

      Selalu Mengikuti Perkembangan Pasar 

      .Untuk membuat bisnisnya selalu relevan dengan perkembangan pasar, Novi tidak segan-segan untuk memperbaharui model-model produknya.

      Ia selalu mencari referensi terkini untuk model produknya dari berbagai katalog-katalog baik cetak maupun online.

      Ia juga sering menghadiri berbagai pameran-pameran produk untuk mencari tren-tren yang bisa diaplikasikan kepada produknya.

      Tidak berhenti di situ, Novi juga menggandeng lulusan-lulusan jurusan desainer produk untuk membantunya menentukan model produk untuk periode pembaharuan berikutnya.

      Tak pelak, bisnis pengolahan limbah kertas yang dimiliki oleh Novi ini mendapat perhatian dari dinas UKM setempat.

      Oleh karena kepandaiannya melihat peluang bisnis, Novi dijadikan sebagai proyek percontohan oleh dinas tersebut.

      Mengedepankan Aspek Pemberdayaan Masyarakat

      Novi menyadari bahwa wirausaha menjadi kunci untuk pemberdayaan masyarakat dan menjadi penggerak dari penciptaan lapangan kerja.

      Oleh karena itu, Novi sengaja tidak memindahkan bisnisnya ke kota demi bisa memberdayakan orang-orang yang ada di desanya.

      Dia mengaku memang sudah memprioritaskan untuk bisa menopang perekonomian para warga di desanya, terutama untuk para perajin.

      Untuk mendapatkan pekerja yang cakap, Novi membuat sebuah pelatihan pengolahan limbah kertas bagi para warga desanya terlebih dahulu.

      Dari proses pelatihan, Novi kemudian melakukan penyaringan untuk mencari warga yang cakap dalam melakukan pengolahan limbah tersebut

      Sebagai permulaan, Novi mengambil tujuh orang yang kemudian dijadikan asistennya untuk memproduksi kerajinan.

      Novi banyak memfokuskan pemberdayaan di desa Sayegan yang rata-rata hanya memilliki pekerjaan sebagai petani.

      Dengan mengajak mereka untuk membantu pembuatan produk-produk dari Dawulang, mereka bisa mendapatkan pendapatan tambahan.

      Novi juga turut serta menggandeng para lembaga swadaya masyarakat hingga pemerintah untuk mengadakan pelatihan pengolahan limbah kertas ini kepada para calon pendiri UKM.

      Novi pernah berkeliling dari kota Indragiri, Riau hingga kota Jayapura dan bekerjasama dengan Dinas UKM setempat untuk menumbuhkan semangat berwirausaha warga setempat.

      Bagi warga yang tidak memiliki kemampuan memproduksi barang, Novi mengarahkan mereka untuk membantu memasarkan.

      Dengan perkembangan teknologi online yang semakin pesat, Novi mencoba untuk memberi edukasi kepada warga mengenai cara memasarkan barang secara online.

      Selain dengan cara online, warga juga diajak untuk membantu memasarkan secara langsung produk-produk dari Novi.

      Para warga ini dilatih menjadi agen untuk memperkenalkan produk-produk Novi di ajang-ajang pameran produk yang bertemakan ramah lingkungan.

      8.   Muhammad Khusaini

      Karang Taruna Karya Muda Sejahtera adalah wadah perkumpulan para taruna-taruna atau pemuda dari Desa Brumbung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

      Wadah karang taruna ini banyak bergerak di bidang kekaryaan di desa mereka.

      Salah satu bidang kekaryaan yang mereka lakukan adalah pemecahan solusi daur ulang dari sampah di desa mereka.

      Bagi Desa Brumbung, banyaknya sampah menjadi sumber masalah lingkungan yang sulit ditangani karena kurangnya perhatian pemerintah setempat.

      Oleh karang taruna ini, sampah-sampah tersebut diolah menjad paving block yang bernilai ekonomis tinggi.

      Tidak hanya mengurangi masalah sampah, paving block ini juga dapat menjelma menjadi sumber kapita baru bagi desa yang mengandalkan pertanian bawang sehari-harinya.

      Masalah Sampah Desa

      Ide penciptaan paving block dari karang taruna karya muda sejahtera ini bermula dari keluhan sang kepala desa mereka, Akhib Musabab mengenai manajemen sampah.

      Desa Brumbung yang terletak di Kabupaten Demak ini seringkali luput dari perhatian dinas kebersihan kabupaten karena jaraknya yang agak tidak terjangkau dari pusat pemerintahan.

      Akibatnya para penduduk desa di sini seringkali menghadapi problem kesehatan mulai dari kolera hingga tifus.

      Seringkali sampah-sampah yang tidak tertangani juga menyebabkan sungai yang dekat dengan desa tidak dapat dimanfaatkan oleh warga setempat.

      Akibat hal-hal tersebut, para pemuda dari karang taruna merasa tertantang untuk menghadirkan solusi bagi hal ini.

      Ketua dari karang taruna, Muhammad Khusaeini kemudian menggagas ide pembuatan paving block menggunakan material sampah plastik yang menggunung.

      Sebelum memantapkan ide ini, Khusaeini terus melakukan upaya percobaan hingga dapat merumuskan cara pembuatan paving block ini kepda para pemuda setempat.

      Perjuangan Khusaieni untuk mengajak para warga agar terlibat tidaklah mudah karena masih banyak warga desa yang merasa jijk untuk bersentuhan dengan sampah.

      Begitu pula dari karang taruna, awalnya Khusaini hanya mampu meyakinkan tiga orang dari 30 orang anggota untuk terlibat langsung dalam proyek ini.

      Dukungan dari perangkat desa pun tak ia dapatkan meski tujuannya untuk mengurangi volume sampah di desa.

      Meski begitu Khusaini bersama dengan kedua rekannya dari karang taruna yang bernama Darul Mustakim dan Anas Hidayat tetap melanjutkan ide ini.

      Setiap hari mereka mendatangi lokasi kerja di belakang kantor Kepala Desa Brumbung.

      Setiap hari mereka memanaskan sampah plastik dengan wajan yang dibakar dengan api bersuhu 500 derajat celcius.

      Hebatnya, api tersebut tidak dinyalakan di bawah wajan melainkan di tengah-tengah wajan yang membuat ruang kerja seketika menjadi panas.

      Dari jumlah sampah yang mereka dapatkan setiap harinya, mereka bisa menciptakan hingga 15 paving block.

      Dibantu oleh Politeknik Negeri Semarang

      Untuk membantu penyempurnaan paving block mereka, Khusaini dan teman-teman tidak sungkan untuk meminta bantuan hingga ke Ibukota Provinsi.

      Upaya mereka berhasil ketika ide mereka mendapat tanggapan dari kepala prodi teknik industri dari Politeknik Negeri Semarang.

      Kepala Prodi Teknik Industri, Hamid Syam berpendapat ide penciptaan paving block yang dilakukan oleh karang taruna desa Brumbung ini merupakan ide brilian.

      Iapun menugaskan mahasiswa di bawah prodinya untuk membantu dalam hal penelitian dan pengembangan produk langsung di Desa Brumbung.

      Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh tim mahasiswa Politeknik Negeri Semarang ditemukan bahwa paving block buatan karang taruna desa Brumbung sudah memiliki kualitas yang mumpuni.

      Namun karena produk paving block yang dihasilkan dirasa belum memenuhi berat jenis yang disarankan. tim peneliti menyarankan untuk menambah campuran aci dan pasir gunung untuk memperberat paving block tersebut.

      Berat jenis tersebut untuk menghindari paving block tidak dapat menahan beban kendaraan berat seperti truk dan kendaraan bertonase besar lainnya.

      Dari saran tersebut, Khusaini kemudian mengubah campuran paving block menjadi 40% plastik dan 60% pasir gunung dan aci.

      Paving Block yang sudah mendapat polesan dari tim bantuan politeknik ini pun berhasil mencapai tahap siap produksi.

      Setiap paving block yang dihasilkan dibanderol dengan harga 100 ribu Rupiah per meter persegi.

      Mulai Mendapat Dukungan

      Dari awalnya mendapat banyak tentangan dan penolakan, warga Desa Brumbung akhirnya mulai mengapresiasi ide pembuatan paving block dari plastik yang digagas oleh Khusaini.

      Beberapa warga pun mulai turut berpartisipasi langsung membantu Khusaini dalam proses produksi hingga finishing,

      Bahkan para warga juga turut membantu menyediakan bahan baku plastik yang dibutuhkan baik berasal dari sampah yang didapatkan masyarakat ataupun yang berasal dari tempat penampungan sampah desa.

      Tidak hanya warga, kepala desa pun turut memberi bantuan dengan mensponsori kegiatan Khusaini untuk dapat ikut pameran tingkat kabupaten.

      Khusaini sendiri mengaku bantuan yang diberikan oleh desa sudah melebihi ekspektasi, tapi perlu mendapat uluran tangan dari pemerintah kecamatan hingga tingkat kabupaten untuk bisa menjadi proyek daerah.

      Untuk kebutuhan ke depan, Khusaini tidak terlalu berharap muluk muluk, ia hanya berharap didatangkan teknologi pengolahan paving block terbaru hingga pasokan sampah.

      Hal ini tidak hanya dimaksudkan untuk mendorong profit semata namun juga untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya di Kabupaten Demak.

      Pemerintah Demak sendiri telah merespons dengan mendatangkan Tim Percepatan Pembangunan dan Tim Inkubasi Teknologi Kabupaten Demak.

      Kedatangan kedua tim ini bermaksud untuk melakukan pendataan kebutuhan hingga identifikasi masalah untuk melakukan gebrakan untuk menjadikan bisnis paving block ini menjadi bisnis yang berkelanjutan.

      Mengejar Sertifikasi

      Menyadari bahwa pembuatan paving block dari plastik ini memerlukan proses pembakaran yang dapat dianggap merusak lingkungan, pemerintah desa tengah mengupayakan sertifikasi kesehatan untuk produk ini.

      Kepala Desa Brumbung, Musadad sedang mencoba melobi dinas kesehatan Provinsi Jawa Tengah untuk proses pensertifikasian produk paving block kreasi Khusaini agar lulus uji kesehatan.

      Proses uji kesehatan ini terbilang tidak mudah karena sebuah produk harus mendapat lulus uji bebas substansi berbahaya dan bebas uji cemar lingkup manusia.

      Menurut Musadad, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dinas dari Kabupaten, proses produksi paving block ala Khusaini sudah memenuhi uji kelayakan.

      Uji kelayakan itu terbukti dari proses pembakaran dimana tingkat residu hanya mencapai 30% dari total plastik yang digunakan dalam satu kesempatan.

      Musaddad berharap bahwa sertifikasi uji kesehatan akan semakin menegaskan kualitas dari paving block hasil karya anak Desa Brumbung.

      9.   Made Sutamaya

      Made Sutamaya adalah seorang pengrajin dan pebisnis yang terinspirasi oleh menumpuknya sampah-sampah kayu yang sering ditemukannya di pinggir pantai Kuta.

      Dari tangan Made, limbah-limbah kayu yang diangkut dari pantai tersebut disulap menjadi produk-produk desain interior dengan nilai artistik tinggi.

      Menjadi sebuah kebanggaan bagi pak Made manakala hasil-hasil karyanya disejajarkan dengan hasil rancangan desain interior para desainer-desainer terkemuka di Indonesia dan dunia internasional.

      Meski tidak bermodalkan pendidikan formal kerajinan dan hanya tamat sekolah dasar, Pak Made Sutamaya berhasil mengantar produknya menembus pasar internasional mulai dari Perancis hingga benua Afrika.

      Mengolah Limbah Kayu yang Berserakan di Pantai

      Pak Made sudah berpengalaman lebih dari 23 tahun dalam urusan membuat kerajinan yang terbuat dari rotan berkat pekerjaannya menjadi pegawai galeri di Denpasar, Bali.

      Namun karena peristiwa naas bom bali pada tahun 2002 silam, usaha galeri-galeri kesenian di Bali, termasuk yang mempekerjakan Pak Made melorot hingga gulung tikar.

      Menganggur akibat kehilangan pekerjaan dari galeri, Pak Made kemudian banyak menghabiskan waktunya di pantai Kuta pada sore hari.

      Sering mampir ke Pantai Kuta, Pak Made menemukan hal menarik berupa banyaknya sampah-sampah ranting kayu yang tidak terurus.

      Berbekal pengalamannya di bidang kerajinan, Pak Made tanpa ragu mencoba ingin memanfaatkan tumpukan kayu tersebut untuk dijadikan usaha.

      Sebelum mengambil tumpukan ranting kayu tersebut, pak Made tidak lupa untuk meminta izin kepada petugas adat di Pantai Kuta sebagai bentuk kesopanan.

      Meski memiliki keahlian di bidang kerajinan dan perakitan, Pak Made sempat kebingungan untuk menentukan produk yang akan dibuat.

      Masalah pertama datang dari bahan baku kayu ranting yang ternyata tidak bisa diolah layaknya rotan karena memilliki tekstur yang lebih ringan.

      Setelah melihat ada peluang untuk memasarkan produk desain interior ke hotel setempat, Pak Made nekat untuk menjadikan kayu-kayu tersebut menjadi produk kerajinan desain interior.

      Di rumahnya, Pak Made melakukan proses pembuatan furnitur mulai dari merancang, memahat, hingga melakukan proses pemasangan sendiri.

      Setiap hari, Pak Made rutin bulak balik dari pantai menuju rumahnya untuk mengambil bahan baku ranting kayu untuk melakukan uji coba.

      Salah satu produk yang berhasil dibuat oleh Pak Made adalah tatakan kaca untuk kamar mandi dan pinggiran dari kaca rias.

      Bermula dari iseng, Pak Made pun mencoba menjualnya kepda turis yang datang dengan membuka lapak di pinggir pantai.

      Karena dianggap eksotis oleh para turis yang datang, produk Pak Made tersebut bisa laku dengan harga Rp 200.000.

      Dimulai dari produk tersebut, kerajinan ala Pak Made Sutamaya akhirnya mulai tersohor di kalangan turis yang datang.

      Membuat Galeri Sendiri

      Perlahan tapi pasti, produk kerajinan milik Pak Made mulai dibanjiri oleh pesanan para turis yang bertandang ke Bali.

      Untuk memenuhi selera para turis asing yang tergolong tinggi, Pak Made terobsesi untuk meningkatkan variasi model yang dimiliki oleh produknya.

      Setiap hari pak Made menghabiskan waktu selama 10 jam untuk membuat produk seperti meja rias, kursi goyang , dan lain-lain.

      Dari pengerjaan produk tersebut, Pak Made bisa meraup untung hingga puluhan juta rupiah dari pesanan yang datang setiap hari.

      Keberhasilan tersebut akhirnya mendorong pak Made untuk membuka galeri sendiri dengan nama Kiosk Gallery pada tahun 2003.

      Untuk membuka galeri pertamanya, pak Made masih mengontrak sebuah kios sederhana dekat jalan raya Denpasar- Ubud.

      Dari kontrakan sederhana tersebut pak Made menjalankan bisnisnya untuk mengerjakan pesanan hingga menawarkan produknya ke pasar-pasar seni setempat.

      Awal perjuangan pak Made untuk membesarkan Kiosk Gallery terasa sangat sulit karena ia juga harus menghadapi ketatnya persaingan di pasar kerajinan ini.

      Oleh karena itu pak Made banyak menginvestasikan waktunya untuk menyempurnakan teknik rancang bangun disamping merakit produk.

      Beruntung pak Made sudah memiliki pengalaman selama 23 tahun lamanya dalam bidang perakitan barang sehingga beliau dapat mengaplikasikan berbagai teknik dengan cepat.

      Hingga enam tahun pertama mendirikan Kiosk Gallery, pak Made belum mengandalkan tenaga pegawai untuk mengerjakan produknya.

      Meski tidak begitu merepotkan untuk Pak Made, namun ia membutuhkan usaha keras untuk mencari bahan baku kayu limbah di musim panas.

      Karena pada musim panas, sungai cenderung surut sehingga tidak banyak membawa persediaan limbah kayu.

      Selama enam tahun Kiosk Gallery berdiri, pak Made sanggup menghasilkan omzet sebesar 30-jutaan Rupiah dalam waktu satu bulan.

      Mengaplikasikan Teknik Rahasia

      Limbah kayu yang sudah terendam air laut lama sejatinya dapat lapuk dengan mudah jika tidak diolah dengan benar.

      Karena banyak menjalani proses pengamplasan dan pemakuan yang bisa dengan mudah merusak tekstur kayu, dibutuhkan teknik tambahan agar kayu dapat dimanfaatkan dengan mudah.

      Hidup berdekatan dengan pantai membuat pak Made banyak berinteraksi dengan penduduk di sekitar pantai dengan segala kearifan lokalnya.

      Salah satu bentuk kearifan lokal tersebut adalah pemanfaatan garam yang dipanen dari air laut untuk mengawetkan makanan.

      Terinspirasi dari kearifan lokal tersebut, pak Made juga menyiapkan banyak stok garam untuk mengawetkan kayu-kayunya.

      Kayu yang masih basah setelah diambil dari pantai akan dikeringkan terlebih dahulu.

      Setelah mengering, kayu-kayu tersebut akan disimpan dalam tumpukan garam selama 3 hari agar kandungan garam dapat meresap ke dalam kayu.

      Dengan cara ini maka kayu bisa tahan bahkan hingga 20 tahun kedepan dan lebih kokoh.

      Merambah Hingga Eropa

      Banyaknya turis yang mendatangi galerinya tidak hanya membuat produknya laris di pasar domestik belaka saja, namun juga menembus Eropa.

      Selain itu untuk meningkatkan jangkauan bisnisnya, pak Made juga sering mengikutkan produknya ke dalam berbagai macam pameran.

      Dari pameran pertamanya yang diadakan di pusat seni Tegallalang, Pak Made kemudian dapat sampai melenggang hingga pameran internasional yang diadakan di Jakarta.

      Pameran yang diikutinya tidak hanya mendatangkan pembeli namun juga menghadiirkan apresiasi dari Presiden Joko Widodo.

      Oleh Presiden Joko Widodo, Pak Made dianugerahi penghargaan berupa Prama Karya Award atas dedikasinya dalam mendorong bisnis kerajinan berorientasi ramah lingkungan.

      Pada tahun 2015 ini pula bisnis kerajinan milik pak Made berkembang sangat pesat dimana ia berhasil membuka cabang hingga ke Pulau Sumbawa dengan omzet hingga mencapai angka 300 juta Rupiah perbulannya.

      Total pak Made sudah berhasil menjain kerjasama dengan 250 mitra bisnis yang tersebar dari gugus Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.

      Pak Made berharap bahwa perluasan mitra bisnis ini dapat menciptakan generasi penerus perajin-perajin yang memanfaatkan limbah kayu.

      10.               Nur Handiyah Taguba

      Banyaknya limbah kerang yang tidak dapat mengalami proses penguraian membuat Ibu Nur Handiyah Taguba memutuskan untuk mengolahnya.

      Meski menyandang status sebagai pegawai negeri sipil dengan segala kesibukkannya, Ibu Nur Handiyah bersama sang suami tetap menyempatkan diri menjalankan bisnis pemasok kerang.

      Karena terjepit dengan krisis moneter yang mengharuskan sang suami untuk pensiun dini, Ibu Nur Handiyah memberanikan diri untuk menekuni bisnis kerajinan kulit kerang untuk menambah nilai jual dari limbah kulit kerang yang biasa ia pasok.

      Ketelatenannya untuk selalu mengikuti perkembangan zaman membuat usaha kulit kerang ini dapat berjalan walaupun sempat tidak dilirik oleh konsumen domestik.

      Hingga kini, keuletannya berbisnis limbah kulit kerang telah mengantarnya menjadi salah satu pengekspor kerajinan terkemuka dan menjadi salah satu pahlawan devisa Indonesia.

      Memanfaatkan Limbah Kerang

      Tidak banyak orang yang memanfaatkan bagian dari kulit atau cangkang dari kerang yang diperuntukkan untuk dikonsumsi.

      Biasanya kulit kerang ini diperlakukan laiknya sampah lain yang langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir.

      Berkat pengalamannya sebagai pemasok kulit kerang, Ibu Nur Handiyah menyadari betul bahwa kulit kerang masih memiliki potensi ekonomi tinggi apabila diolah dengan tepat.

      Ibu Nur Handiyah pada awalnya merupakan seorang pegawai negeri sipil yang menjalankan usaha pemasok kerang bersama dengan suaminya, Jamie Taguba yang merupakan seorang kontraktor.

      Usaha pemasokan kerang ini banyak menarik minat pembeli dari negara-negara terdekat seperti Filipina dan Thailand.

      Selepas bekerja, Ibu Nur Handiyah bersama dengan sang suami menyempatkan diri untuk bertemu dengan klien untuk melihat-lihat kualitas kerang yang dipasok.

      Lama bersinggungan dengan usaha kulit kerang, Ibu Nur Handiyah terpikir untuk memberi nilai tambah kepada kulit kerang sebagai peluang bisnis baru.

      Cukup lama mencari-cari informasi, akhirnya Ibu Nur Handiyah mendapati bahwa bisnis kulit kerang sedang cukup bagus pada waktu itu.

      Ibu Nur Handiyah akhirnya memutuskan memberanikan diri untuk membuka bisnis kerajinan kulit kerang meskipun tidak mempunyai kemampuan dalam hal kreasi kerajinan.

      Bermodalan belajar secara otodidak, Ibu Nur Handiyah akhirnya berhasil membuat produk pertamanya yaitu vas bunga yang seluruhnya dibuat dari kulit kerang.

      Untuk mendapatkan suplai kulit kerang bekas, tak jarang Ibu Nur Handiyah “berburu” dari Ujung Kulon hingga ke Aceh karena kerangnya masih alami dan belum begitu tercemar polutan.

      Setiap hari Sabtu, Ibu Nur menyambangi pantai-pantai di daerah tersebut untuk mengumpulkan baik kulit kerang yang berserakkan ataupun membeli dari nelayan setempat.

      Dari usaha kecil-kecilan, Ibu Nur Handiyah dan suaminya menaikkan tingkat bisnis mereka dengan merintis rumah produksi Multi Dimensi Shell Craft di tahun 2000 silam.

      Berhenti Menjadi Pegawai Negeri

      Kemampuan menyulap tumpukan kulit kerang menjadi berbagai barang kerajinan bernilai tinggi tidak didapatkan hanya dalam semalam.

      Untuk bisa mendalami ilmu membuat kerajinan kulit kerang, Ibu Nur Handiyah harus pandai-pandai mengatur waktunya untuk bekerja dan belajar merangkai kerajinan.

      Tidak sia-sia ketekunan Ibu Nur Handiyah untuk mempelajari cara merangkai kerajinan dari kulit kerang, berbagai barang seperti lampu gantung yang ia ciptakan menarik minat para turis.

      Hampir setiap hari selalu ditemukan para turis asing yang datang berkunjung ke workshop Multi Dimensi Shell Craft yang berada di Cirebon, lebih tepatnya berada di Jalan Astapada.

      Dengan semakin ramainya workshop dan pesanan kerajinan kulit kerang yang harus dikerjakan, baik Ibu Nur Handiyah maupun sang suami akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kedua pekerjaan mereka.

      Hal tersebut sebetulnya bukan pilihan yang mudah karena kondisi ekonomi sebetulnya sedang tidak stabil pada waktu itu.

      Berbekal keyakinan bahwa bisnis mereka akan terus berkembang pesat, Ibu Nur dan suaminya, Jamie memantapkan pilihan untuk fokus membesarkan Multi Dimensi.

      Hampir setiap hari Ibu Nur Handiyah mengurus operasional dari workshop, sementara sang suami mencari pembeli yang meminati kerajinan kerang tersebut dengan networking yang ia miliki.

      Masa-Masa Sulit

      Dari ruangan pameran utama Multi Dimensi, Ibu Nur banyak memamerkan hasil karyanya berupa lampu ruang keluarga yang memiliki kesan mewah.

      Lampu-lampu yang seluruhnya dibuat dengan material kulit kerang tersebut dapat mencapai banderol hingga 100 juta Rupiah.

      Produk tersebut merupakan salah satu dari koleksi Multi Dimensi yang banyak dicari oleh kolektor.

      Adakalanya nasib bisnis ibu Nur Hadiyah tidak selalu seterang lampu-lampu yang dipajangnya di galeri.

      Kondisi ekonomi global seringkali menjadi kambing hitam manakala bisnis kerajinan kerang ini sedang merosot.

      Pada tahun 2000 bisnis kerajinan kerang yang baru seumur jagung ini hampir tutup karena dampak dari krisis ekonomi yang belum pulih memukul nilai tukar dollar.

      Seiring dengan pulihnya keuangan nasional, beban hutang yang menjadi duri utama dari usaha Ibu Nur Handiyah pada waktu itu juga turut terangkat.

      Setelah tahun 2010 dan 2011, Multi Dimensi juga harus merasakan pahitnya penurunan angka penjualan, kali ini karena krisis keuangan global yang memukul daya beli importir.

      Tidak berlarut-larut meratapi kemerosotan bisnis kala itu, Nur Handiyah dan suami memiih untuk meningkatkan kualitas produk demi keberlangsungan bisnis untuk jangka panjang.

      Merambah Pasar Internasional

      Berkat jejaring yang dimiliki oleh suaminya, Multi Dimensi dapat berkembang dengan pesat meskipun kurang dilirik oleh pasar domestik.

      Dari hasil jejaring yang dimiliki suaminya, ibu Nur Hindayah kedatangan para pembeli yang berasal dari Perancis dan Italia.

      Karena ekspektasi  tinggi dari pembeli-pembeli asal Eropa ini terhadap produk yang mereka beli, mereka seringkali banyak memberi masukkan terhadap kerajinan buatan Ibu Nur Hindayah dan karyawannya.

      Kedatangan banyak pembeli dari luar negeri membawa nilai positif bagi usaha kerajinan Ibu Nur Hindayah di mana produknya mulai dilirik oleh pemerintah daerah setempat.

      Berbagai bentuk dukungan pun mulai diberikan kepada Ibu Nur Hindayah dan suaminya, diantaranya dengan mempromosikan produk mereka di berbagai pameran.

      Selain bantuan promosional, Pemerintah Daerah juga memberikan bantuan teknis seperti pembinaan bisnis dan asistensi lainnya.

      Kini, Multi Dimensi Shell Craft telah rutin mengirim produk kerajinan kerang ke berbagai negara.

      Setiap bulannya, mereka bisa mengirimkan hingga 4 kontainer kerajinan kerang menuju negara-negara pembeli seperti Jerman, Perancis, hingga ke Uni Emirat Arab.

      Selain itu produk kerajinan kerang milik Ibu Nur Handiyah juga telah merambah hingga pasar Afrika dan Jepang.

      11.               Achmad Iskandar

      Achmad Iskandar mulai jatuh cinta dengan usaha pengolahan sampah plastik kala berkunjung ke pameran hari lingkungan hidup di Balikpapan pada tahun 2008.

      Pada waktu itu ketidakpuasannya melihat nihilnya inovasi pada produk yang dijajakan di pameran menggelitiknya untuk membuat produk sendiri.

      Melabuhkan pilihannya untuk memproduksi vas bunga yang terbuat dari sampah plastik, ia berhasil membesarkan usahanya dari sekedar tempat pengolahan kecil hingga menjadi sebuah perusahaan berbahan hukum.

      Melakukan Berbagai Eksperimen

      Achmad Iskandar sebetulnya tidak mempunyai latar belakang dan pengetahuan yang cakap mengenai pengolahan plastik karena ia sebelumnya hanya seorang pedagang tanaman hias.

      Namun karena sudah kepincut untuk membuat produk hasil mengolah plastik, ia pun rela untuk belajar mengenai seluk-beluk tentang plastik dari nol.

      Mulai dari sifat-sifat plastik, cara pengolahan, hingga teknis pemanfaatan plastik sebagai bahan campuran dalam membuat produk dipelajari oleh Achmad dalam waktu 10 bulan.

      Pernah dalam satu percobaannya membuat produk plastik, Achmad harus terkena luka bakar karena tersambar api pemrosesan waktu itu.

      Pengalaman tersebut tidak membuatnya kapok, malahan semakin membuatnya semangat untuk membuat produk berbasis sampah plastik pertamanya.

      Ia pun akhirnya berhasil mengolah plastik menjadi bahan siap cetak dengan cara memasak plastik-plastik tersebut hingga mengeras layaknya pasta.

      Hanya bermodalkan wajan dan kompor masak sederhana, Achmad akhirnya bisa menghasilkan plastik siap pakai yang tidak hanya murah namun berdaya tahan tinggi.

      Granit Sintetis

      Dari sebuah rumah sederhana di Sungai Ampal, Achmad menghasilkan berbagai produk vas bunganya yang terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari vas berukuran diameter 12 cm hingga vas bunga berukuran diameter 45 cm.

      Achmad juga memproduksi marmo atau batu granit sintetis yang bisa dimanfaatkan sebagai hiasan tembok rumah.

      Berbagai produk tersebut dijual dengan rentang harga mulai dari 46 ribu hingga 175 ribu Rupiah per meter perseginya.

      Untuk pembeli, Achmad mengaku sudah berhasil menjual produk hingga kota-kota terdekat mulai dari Samarinda, Bontang, hingga Sangatta.

      Produk granit sintetis ini banyak dicari seiring maraknya pembangunan pemukiman yang dilakukan di daerah-daerah tersebut.

      Setiap bulannya, Achmad mengaku bisa menjual hingga 900 unit setiap bulannya dengan omzet mencapai 100 juta Rupiah.

      Kendala di Bahan Baku dan Peralatan

      Terbalik dengan kenyataan umum bahwa sampah plastik mudah ditemukan di mana-mana, Achmad justru harus merasakan kesulitan untuk mendapatkan bahan baku sampah plastik.

      Penyebab utamanya adalah jumlah penduduk kota Balikpapan yang masih sedikit kala itu membuat jumlah sampah plastik yang dibuang tidak sebanyak kota yang lebih padat.

      Oleh karena itulah, Achmad rela untuk berkeliling dari pintu ke pintu untuk meminta sampah plastik langsung dari warga sekitar.

      Tidak hanya itu, ia juga rela melakukan sosialisasi besar-besaran di kampungnya di Sumberrejo untuk mengajak warga menyumbangkan sampahnya.

      Selain warga yang tinggal di daratan, Achmad juga menyambangi para nelayan dan para pemukim di wilayah pinggiran laut untuk menjual sampah mereka alih-alih membuangnya langsung ke laut.

      Untuk mendorong minat warga menjual sampahnya ia, memberikan imbalan sekitar 1.000 rupiah per kilogram kantong plastik yang diberikan oleh warga.

      12.               FX Harso Susanto

      Tidak hanya sampah plastik yang bisa dimanfaatkan untuk diolah menjadi produk jadi, koran bekaspun memiliki potensi ekonomi yang tidak main-main

      Adalah FX Harso Susanto yang mempelopori pengolahan koran bekas menjadi produk furnitur dan berbagai produk aksesoris.

      Menggunakan 100% bahan koran bekas, Harso dapat menciptakan furnitur koran yang memiliki bentuk dan daya tahan layaknya furnitur sungguhan.

      Hasil karyanya bahkan sempat dicoba oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika mengunjungi pamerannya dii Jakarta.

      Dari pengolahan koran bekas ini, Harso dapat mengantongi omzet minimal sebesar 20 juta Rupiah setiap bulannya.

      Berkenalan Dengan Koran Bekas

      Awal mula perkenalan Harso dengan dunia pengolahan koran bekas terjadi ketika ia pernah menyambangi sebuah rumah prakarya yang menampung beberapa anak jalanan yang sedang dibina.

      Dari kunjungannya ke rumah singgah itu, Harso mendapati bahwa koran bekas yang biasanya tidak dihiraukan orang dapat diolah kembali menjadi barang bernilai ekonomis.

      Sejak saat itu Harso mencoba  membuat sendiri barang yang berasal dari material bubur kertas.

      Di rumahnya yang berada di Kabupaten Bantul, ia mencoba membuat produk pertamanya berupa tatakan piring yang sepenuhnya terbuat dari koran bekas.

      Meski terdengar sederhana, Harso mengatakan bahwa untuk dapat mengolah koran bekas sangat membutuhkan keuletan dan kegigihan.

      Proses tersulit dari pengolahan kertas koran ini adalah bagaimana menghasilkan bubur kertas yang halus hingga bisa dibentuk menjadi produk yang diinginkan.

      Tanpa pikir panjang Harso langsung mematenkan bisnis pengolahan koran bekas ini dengan nama Paperfurniture.

      Pada awal-awal berdiri, Harso baru membuat sebuah meja makan yang terbuat dari kertas koran yang disangga dengan kayu pinus.

      Meskipun begitu, produk buatannya langsung menarik perhatian turis lokal dan turis asing yang berbondong-bondong datang ke rumah sekaligus workshop-nya.

      Turut Melestarikan Lingkungan

      Harso boleh merasa bangga bahwa usaha pengolahan koran bekasnya diapresiasi warga maupun institusi yang menganggap hal ini sebagai terobosan baru.

      Harso mengakui bahwa koran bekas merupakan salah satu sampah domestik rumah tangga yang masih minim pengolahannya.

      Apalagi sebelum membuka usahanya sekarang, ia sering mendapati bahwa koran-koran bekas seringkali hanya teronggok tidak terpakai di pinggiran jalan.

      Dengan menyulap koran bekas menjadi berbagai produk yang bisa dipakai, Harso mengaku turut berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan.

      Bangkit Dari Suramnya Dunia Usaha

      Layaknya bisnis kebanyakan, Harso juga merasakan bahwa usahanya sempat memasuki masa-masa surut.

      Pada tahun 2006 hingga 2010, Harso masih banyak memfokuskan usahanya untuk membuat produk aksesoris yang permintaannya cenderung fluktuaktif.

      Selepas 2010 ketika usahanya mengalami penurunan, Harso malahan terpacu mencari produk yang tepat yang bisa membangkitkan usahanya.

      Bersama dengan keempat temannya, Harso akhirnya dapat membuat meja dan kursi meski dengan metode yang amat sederhana yaitu hanya dengan metode pilinan.

      Meski metodenya sederhana, meja dan kursi tersebut telah berhasil melewati uji beban sebesar 90 kg serta mendapat predikat layak untuk diproduksi.

      Hingga kini meja dan kursi tersebut telah menjelma menjadi trademark dari usaha pengolahan koran bekas milik Harso.

      Harso juga beruntung produknya bisa menembus pasar internasional yang diawali dengan kunjungan seorang turis dari Inggris ke kampung koran milik Harso.

      Karena ketertarikan sang turis dengan produk asal koran bekas, sang turis lantas memborong berbagai produk seperti kotak sampah, kotak serbaguna, dan rak buku mini.

      Dari situlah workshop Harso masuk menjadi destinasi favorit di forum-forum dunia maya para pelancong.

      Ad Blocker Detected

      Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

      Refresh
      error: Content is protected !!