Definisi Cantik Bergeser

undercover.co.id – Definisi Cantik Bergeser , Mitos dan stigma seputar dunia kecantikan masih banyak beredar di masyarakat. Padahal definisi kecantikan sendiri mulai berubah. Oleh sebab itu, merek harus bisa menyesuaikan strategi pemasaran produk kepada perempuan.


Sebagian besar orang mendefinisikan kecantikan perempuan dengan atribut, seperti kulit putih, punya best badan ideal, memik rambut lurus hitam, hidung mancung, dan sebagainya Inilah mitos den stigma
yang beredar yang kemudian dijadikan oleh merek-merak kecantikan sebagai bahan untuk memasarkan produknys.

Misalnya mengklaim produknya dapat memutihkan kulit atau meluruskan rambut Setiap budaya memiliki defines kecantikan masing-masing. Di Indonesia, persepsi masyarakat tentang kecantikan kurang lebih sama dengan yang sudah tersebut. Namun demikian, sekarang ini terjadi redefines
kecantikan.


Hal ini didukung oleh pernyataan dari Melania Masriel Chief Corporate Affairs, Engagement, & Sustainability Officer L’Oréal Indonesia yang melihat bahwa di Indonesia, perempuan-
perempuan mulai menyadari bahwa tidak ada tipe kecantikan yang fits for all. Mereka sudah menyadari bahwa cantik itu tidak selalu harus memiliki rambut lurus atau berkulit putih saja.

Pergeseran definisi kecantikan ini selaras dengan prinsip L’Oréal yakni create beauty that moves the world. L’Oréal percaya bahwa kecantikan tu harus bertanggung jawab dan Inklusif. Sehingga merek ini merangkulemus tipe-tipe kecantikan


“Hal ini dibuktikan dengan berbagai inovasi produk yang kami tawarkan ke konsumen. Contohnya, kami memiliki produk make up dengan berbagai pilihan warna yang cukup las. Kami juga menggunakan influencer yang memiliki berbagai tipe warna kulit. Sehingga cara kami mengomunikasikan produk juga sudah beragam,” kata Melanie Aswaina Seroja, Chief Consumer Officer
L’Oréal Indonesia menambahkan,

semua perempuan itu berbeda-beda, mulai dari tipe badan hingga skin tone Menurutnya, perempuan tidak harus selalu mengikuti definisi cantik yang beredar di masyarakat.


“Sekarang, perempuan Indonesia sudah mula mampu melihat memahami cara agar mereka bisa menjadi versi terbaik dari dirinya. Mereka tidak merisaukan kondes tubuhmys Namun yang paling penting sehat dan bahagia. itu semua sudah cukup. Saya melihat banyak perempuan, terutama generasi muda, yang sudah mulai menyuarakan hal tersebut,” kata Aswaina


Adanya pergeseran tersebut, model komunikasi merek kecantikan kepada perempuan juga harus disesuakan, Mereka tidak bisa lagi memanfaatkan standar kecantikan yang beredar atau memasarkan produk dengan iming-iming agar perempuan terlihat cantik di mata laki-laki.

Sebab, perempuan menggunakan skincare atau make up bukan hanya ingin terlihat cantik di depan laki-laki saja. Ini stigma yang harus didobrak. Memahami hal tersebut, L’Oréal Indonesia memiliki brand purpose untuk setiap merek mereknya. Contohnya, merek L’Oréal Paris memiliki program stand up against sual harassment karena marak tersebut bahwa perempuan tu berharga dan harus diaga dan segala pelecehan

Menariknya program ini dilatarbelakangi oleh pemikiran copywriter L’Oréal 53 tahun lalu, seorang copywriter L’Oréal menyadari bahwa kampanye merak kecantikan sangat berorientasi pada laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai objeknya.

Misalnya, belilah produk ini agar kamu disukai atau that cantik oleh laki-laki. la targalik dan berpikir mengapa perempuan tidak bisa membeli produk yang memang untuk dirinys sendiri karena mereka pantas dan produk tersebut berkualitas. Bukan untuk terlihat cantik di mata laki-laki Indah yang melatarbelakang program tersebut,” ungkap Malaria


Contoh lainnya, merek Maybelline yang memiliki program yang mengusung mental health. Melalui program tersebut, marak ini ingin meningkatkan kesadaran masyarakat
mengenal pentingnya isu mental health dan memberikan konsultasi gratis terkait su tersebut untuk konsumen, bahkan publik.


“Ini yang membedakan kami dengan yang lainnya. Selain menjaga kualitas, kami juga membawa suatu tujuan. Kami percaya, L’Oréal memiliki kekuatan untuk memengaruhi pelanggan. Kami tidak hanya menjual produk saja, tapi juga ingin menjadi merek yang menggerakkan dunia,” tambah Melanie.

Bisa dikatakan, perempuan sangat peduli dengan penampilan. Itu bukan mitos, namun lebih dari itu, perempuan juga peduli dengan hal penting lainnya, Sama halnya dalam pembelian produk kecantikan Mereka membel bukan hanya karena kualitas saja. Saat ini, para perempuan yang mulai peduli dengan produk kecantikan mengusung sustainability.


Hal ini dibuktikan dengan survei dari The Benchmarking Company pada tahun 2022 mengenal Sustainability Beauty Attitudes 2019 vs 2022. Tahun 2019, 58% konsumen menyatakan bahwa penting sekal produk beauty dan personal care yang mereka bell peduli pada sustainability.

Tahun 2022, 74% mengatakan bahwa sustainability sangat penting saat ingin membeli produk kecantikan.
Sebanyak 25% mencari produk dengan kemasan dan bahan yang sustainable. Lalu 38% mencari produk dengan formula yang bersih atau bebas dari bahan kimia yang berbahaya. Selain itu, saat ditanya mengenal keterkaitan keberlanjutan dengan produk kecantikan, sebagian responden merujuk pada produk yang dibuat dengan bahan-bahan yang reusable, ditanam kembali, dan sustainable.


Menariknya, atribut terpenting untuk produk kecantikan yang sustainable tidak banyak berubah dari survel yang dilakukan pada tahun 2019 dengan survei tahun 2022. Menurut responden, atribut terpenting untuk merek sustainable adalah tidak membahayakan hewan atau tidak menggunakan animal testing (86%).


Oleh sebab itu, pemasaran yang hanya menitikberatkan pada diversifikasi produk, desain yang unik dan cantik itu tidak lagi efektit Saat ini, masyarakat, termasuk perempuan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap produk yang ramah lingkungan, reusable, dan tidak animal testing. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh merek.


Melanie mengungkap bahwa berdasarkan perilaku konsumen, pembelian produk sustainable di Indonesia masih sangat kecil. Namun demikian, kepedulian mereka sudah sangat tinggi sekali. Oleh sebab itu, peran para merek kecantikan saat ini adalah mempengaruhi mereka untuk membeli produk
sustainable tersebut

baca juga


    Dobrak Stigma dengan Edukasi

    Senada dengan L’Oréal, Dove turut menggeser persepsi bahwa cantik itu tidak harus berambut lurus, panjang, atau hitam saja. Melalui format lagu dan video musik bertajuk Rambutku Mahkotaku, marak ini mengajak konsumen untuk lebih percaya diri, apa pun gaya rambut mereka. “Kami secara inklusif berkomitmen untuk mendukung semua perempuan Indonesia agar bebas berekspre termasuk dalam hal gaya rambut,” kata Putri Paramita, Beauty & Wellbeing Marketing Lead Unilever Indonesia.


    Kehadiran Rambutku Mahkotaku dilatarbelakangi oleh riset Dove yang menunjukkan bahwa temyata, masih ada perempuan Indonesia yang seringkal mendapatkan perundungan dikarenakan kondisi rambut mereka. Selain itu, sebanyak 88% perempuan merasa kehidupan sosialnya terganggu oleh standar kecanskan rambut. 75% perempuan kehilangan rasa percaya diri, dan 60% perempuan tidak merasa percaya diri untuk keluar rumah


    “Kami percaya, setiap perempuan memiliki kecantikan versi mereka sendiri, termasuk dengan jenis dan pahan gaya rambutnya. Maka dari itu. Dove berupaya untuk membangun kepercayaan diri perempuan Indonesia agar bangkit bersama melawan har-bullying,” ujar Putri.


    Dalam video musik Rambutku Mahkotaku, Dove berupaya menunjukkan bahwa stigma cantik itu harus berambut panjang, lurus, dan hitam harus didobrak. Hal ini terlihat dari para talents di video musik yang menunjukkan representasi keragaman rambut perempuan Indonesia. Berbagai macam gaya rambut, mulai dan keriting, rambut pendek, rambut berwama, hingga berhijab mendukung konten merek tersebut yang inklusit.


    “Dove selalu berupaya untuk menghidupkan purpose di setiap konten kreatifnya, termasuk Rambutku Mahkotaku ini. Hal ini selaras dengan visi “positive beauty” yang diusung Unilever, yakni untuk menciptakan standar baru bagi kecantikan yang setara, inklusit, serta berkelanjutan melalu inovasi dan teknologi yang kami milk,” tambah Putr


    Tidak hanya Dove saja, Make Over juga turut berupaya untuk mendobrak mitos dan stigma yang beredar seputar dunia kecantikan, salah satunya adalah cantik itu harus puth. Sejak lahir pada tahun 2010, merek ini sudah menghadirkan makeup dengan berbagai macam wama, mulai dari terang hingga gelap. Selain itu, dalam kampanye-kampanye yang dibuat,

    Make Over juga selalu menghadirkan sosok yang berbeda, mulai dari yang oriental tan skin, berhijab, berambut pendek, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan untuk mengedukasi Stephanie Lie, Senior Group Head Make Over bahwa semus perempuan Indonesia bisa cantik dengan caranya masing-masing.

    “Sejak awal kami berdiri kami berupaya untuk mendobrak stigma-stigma seputar dunis kecantikan. Kami mengeluarkan makeup dengan shades yang sangat banyak dan saat ini kami sudah punya 20 shades. Kami juga terus mengangkat sosok yang berbeda-beda di setiap kampanye kami. Harapannya, stigma tersebut bisa hilang seiring dengan edukasi yang terus kami jalankan,” kata Stephanie.

    Leave a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×

     

    Hello!

    SEO Manager Kami Membantu Anda

    × SEO Consultation