Entrepreneurial Marketing & Marketing 6.0

Entrepreneurial Marketing & Marketing 6.0

https://www.undercover.co.id – Entrepreneurial Marketing & Marketing 6.0 Kian Mendunia , Memasuki era yang tidak pasti, pengelolaan bisnis tak lagi sama seperti dulu. Perusahaan tak bisa lagi menunggu perubahan kemudian beradaptasi. Kini, merek harus menjemput bola dengan bekal prinsip yang paten.

Kemajuan teknologi, pandemi COVID-19, ancaman resesi ekonomi global, telah mengukuhkan era kini menjadi era ketidakpastian. Konflik geopolitik yang tak bisa diprediksi dan kecemasan terhadap kemajuan teknologi menjadi salah satu pemicu terbesar. Bisnis kini semakin harus mawas dan jeli melihat peluang.

Bapak Pemasaran Indonesia Hermawan Kartajaya membagikan resep yang diperlukan untuk pengelolaan bisnis terutama di era yang penuh dengan ketidakpastian. Di era sekarang ini, perlu panduan bagaimana harus mengembangkan bisnis dan menyikapi perkembangan teknologi yang semakin cepat. Begawan pemasaran berusia 76 tahun tersebut membredel konsep-konsep apa saja yang perlu dimiliki dalam pengelolaan bisnis.

Konsep-konsep tersebut ia analogikan menggunakan tokoh dalam kisah Punakawan dan Pandawa Lima. Representasi Creativity, Innovation, Entrepreneurship, Leadership (CI-EL) terdapat dalam Punakawan. Punakawan terdiri dari empat karakter yakni Bagong, Gareng, Semar, dan Petruk. Masing-masing tokoh mencirikan konsep yang dibawakan.

Creativity merupakan representasi dari tokoh Bagong, dikenal sebagai pribadi yang memiliki kreativitas tinggi dan mampu memberikan ide-ide baru. Lalu, Innovation merupakan representasi dari tokoh Petruk. Tokoh ini dikenal sebagai pribadi yang cepat tanggap dan memiliki kemampuan untuk berani berinovasi di berbagai situasi.

Entrepreneurship merupakan representasi dari tokoh Gareng yang dikenal sebagai pribadi yang dapat membuka kesempatan untuk masuk dalam dunia kewirausahaan. Leadership merupakan representasi dari tokoh Semar, pribadi yang memiliki kebijaksanaan untuk memberikan nasihat sebagaimana sosok pemimpin bertindak dalam suatu kelompok.

“Di dalam dunia yang tidak pasti ini Anda perlu menjadi Punakawan. Kreatif, tidak hanya produktif. Inovatif, tidak hanya mampu berkembang. Memiliki kewirausahaan, tak hanya profesional. Dan bisa memimpin, tidak hanya bisa mengatur,” ujar Hermawan dalam acara Book Discussion “Entrepreneurial Marketing & Marketing 6.0: Indonesia to The World by Us” yang diselenggarakan di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York, Sabtu (6/1/2024) Waktu Indonesia Barat.

Karakter Punakawan menggambarkan karakter manusia. Kebutuhan manusia akan teknologi menciptakan konsep Productivity, Improvement, Professionalism, Management (PI-PM).

Konsep PI-PM dianalogikan Hermawan dengan karakter Pandawa Lima. Karakter Pandawa Lima mewakili mesin yang membantu manusia. Productivity merupakan representasi dari tokoh Nakula dan Sadewa yang dikenal sebagai dua pribadi dengan wawasan pengetahuan yang tinggi.

Improvement merupakan representasi dari tokoh Arjuna yang dikenal sebagai pribadi yang konsisten dalam mengembangkan keterampilannya. Professionalism merupakan representasi dari tokoh Bhima yang dikenal sebagai pribadi dengan tekad besar untuk menyelesaikan tugas-tugasnya sekaligus memimpin kelompoknya saat bertarung.

Management merupakan representasi dari tokoh Yudhistira yang jujur, adil, dan memiliki toleransi tinggi. Hal ini menjadikan pribadi Yudhistira sebagai pribadi yang selalu fokus ke depan dalam memberikan arahan dengan konsep manajemen agar tepat sasaran.

Founder dan Chairman MCorp ini juga menyadari bisnis di era kini tak bisa lepas dari peran teknologi. Namun peran teknologi tak serta merta mampu menggantikan manusia sepenuhnya, mau bagaimanapun canggihnya.

“Dalam buku Entrepreneurial Marketing, saya berpendapat bahwa mesin tidak akan lengkap tanpa manusia. Mesin bisa kreatif, tapi manusia yang membuat mesin itu menjadi kreatif,” ungkapnya.

Hermawan juga mengingatkan bahwa kini era pemasaran tak lagi berada di era 5.0, namun telah bergeser ke era 6.0. Era marketing 6.0 kini tidak hanya menuntut pelaku bisnis untuk masuk ke omnichannel marketing, namun menuntut pelaku untuk menciptakan pengalaman yang imersif.

Membeberkan sedikit isi buku Marketing 6.0, Hermawan menjelaskan bahwa imersif yang dituntut adalah membawa pengalaman online ke dalam pengalaman offline, dan begitu pula sebaliknya. Salah satu contoh pengalaman imersif yang dipaparkannya adalah The Sphere, bangunan berbentuk setengah bola yang ada di Las Vegas.

“Pengalaman online dan offline menjadi satu. Imersif lebih dari sekadar engagement,” katanya.

Konsep CI-EL dan PI-PM tertuang dalam buku Entrepreneurial Marketing: Beyond Professionalism to Creativity, Leadership, and Sustainability yang ditulis Hermawan Kartajaya bersama Philip Kotler, Hooi Den Huan, dan Jacky Mussry. Sementara konsep imersif yang dipaparkan Hermawan beserta elemen-elemen penyusunnya tertuang dalam buku Marketing 6.0: The Future is Immersive yang ditulisnya bersama Philip Kotler dan Iwan Setiawan.

Belajar dari Amerika Serikat dan Cina

Hermawan mengingatkan kembali pentingnya melakukan branding dan membangun operational excellenceBranding menjadi salah satu elemen marketing untuk memenangkan pasar. Salah satu negara yang memiliki banyak produk yang jago melakukan branding adalah Amerika Serikat. Sementara soal operational excellence, dunia harus mengakui keunggulan Cina.

Dalam acara yang sama untuk memperingati hubungan diplomatik Indonesia-Amerika Serikat ke-75, Hermawan menerangkan bahwa promosi menjadi elemen yang penting dalam pemasaran. Namun, pemasaran tak melulu promosi, terdapat juga branding dan pelaku juga harus memahami konsumennya.

Penulis tetralogi Marketing 3.0, 4.0, 5.0, dan 6.0 ini mencontohkan kesuksesan branding produk-produk Amerika Serikat. “Kenapa orang mau membeli produk yang sama dari berbagai merek asal Amerika Serikat? Karena Amerika mengajarkan dunia bagaimana menjadi brand besar, salah satunya McDonald’s,” kata Hermawan.

baca juga

Begawan pemasaran asal Surabaya ini mencontohkan popularitas iPhone di Indonesia. iPhone memiliki branding yang kuat sehingga mampu memikat banyak pembeli. Di sisi lain, Wayne Forrest, Presiden American Indonesian Chamber of Commerce (AICC) menyoroti permasalahan yang ada dalam perdagangan antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Dia bilang, Amerika memiliki permintaan yang tinggi akan komoditas dari Indonesia, namun brand dan identitas Indonesia tak melekat dalam komoditas tersebut, contohnya kopi.

“Perantara, dan penjual kopi atau produk lain tahu tentang Indonesia. Tapi konsumen (ritel), mereka tidak akan tahu apa dan di mana itu Indonesia kecuali ada yang memberi tahunya,” ujar Forrest.

Dia menambahkan karena produk yang diekspor ke Amerika adalah komoditas, produk tersebut tidak membutuhkan branding. Akhirnya, konsumen Amerika tidak tahu dari mana produk tersebut berasal. Karena kurang dalam branding identitas, hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat yang membuka pasar ekspor ke Negeri Paman Sam jadi kurang maksimal. Belum lagi hubungan bilateral antara Indonesia dan Cina.

Hermawan mengakui, Cina tak sebagus Amerika dalam hal branding. Namun, dalam operational excellence, Cina diakuinya menjadi negara yang unggul dalam produksi. Kita pun bisa lihat, tak sedikit produk Amerika yang diproduksi di Cina.

Keterikatan hubungan antara kedua negara tentunya menguntungkan Indonesia, namun tanpa positioning dan branding yang jelas, Indonesia tak lebih dari sekadar konsumen. “Amerika kuat dalam hal branding. Cina kuat dalam hal produksi. Sayangnya, Indonesia ‘kuat’ sebagai konsumen. Karena Indonesia memiliki 270 juta konsumen,” pungkas Hermawan.

2024013116401165ba157bc61bb

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×

 

Hello!

SEO Manager Kami Membantu Anda

× SEO Consultation