INPACA Utamakan Customer Journey

undercover.co.id Kebutuhan alas kaki menjadi alasan mengapa produk ini jamak hadir dengan berbagai model. Selain melindungi, kenyamanan dan estetika alas kaki menjadi hal yang dipertimbangkan pembeli. Persaingan antar merek dimulai dari kedua aspek tersebut.

Meski model alas kaki yang dijual sudah jamak, masih ada saja konsumen yang merasa alas kaki yang beredar di pasaran tidak cocok. Hal inilah yang dirasakan oleh dua bersaudara, Fransisca Cika dan Mel Yohana. Merasa pilihan alas kaki terbatas, keduanya memilih merintis usaha sepatu bersama.

Merek INPACA mulai dirintis keduanya pada tahun 2019. Menurut mereka begitu banyak sepatu perempuan dengan desain yang anggun namun menyiksa ketika dikenakan, atau nyaman namun memiliki tampilan yang lawas. Dari sinilah, inspirasi mereka berawal. Tanpa pengetahuan perihal pembuatan dan bisnis sepatu, keduanya mantap mendirikan merek ini.

INPACA adalah merek fesyen dengan konsep klasik-kontemporer yang muncul dari pemikiran kedua saudari ini. Setiap koleksi mencerminkan kepribadian kedua perempuan ini dan terinspirasi dari lemari pakaian pribadi mereka, yakni gaya klasik-minimalis yang digabungkan dengan gaya kontemporer.

Figur hewan alpaka sebagai logo merek, menurut Fransisca mencerminkan komitmen untuk mencari keseimbangan antara gaya yang selalu berinovasi dan tren musim ini. Namun,  selalu mempertahankan fokus pada kenyamanan dan kemudahan pemakaian. Prinsip desain merek adalah untuk memikat dan membuat orang berpaling seperti yang dilakukan oleh alpaka.

INPACA menjual alas kaki perempuan yang terdiri dari empat kategori. Mulai dari flat shoes, high heels, mules, dan sandals. Merek asal Bandung ini juga memiliki tiga koleksi yakni Festive, Resort, dan The Obsession. Variasi harga merek dibanderol mulai dari Rp 259.900 hingga Rp 549.000.

Empat tahun beroperasi, Fransisca bilang, pertumbuhan merek ini mampu melampaui perkiraannya. Tanpa detail yang rinci, Fransisca mengatakan bahwa omzet merek di tahun ini mampu mencapai double digit per bulannya. Hal ini mampu terjadi karena merek memperhatikan customer journey yang terjadi.

Proses yang terjadi hingga produk sampai ke tangan konsumen menjadi hal yang wajib diperhatikan. Terlebih posisi INPACA yang masih baru pada waktu itu membuat merek harus lebih perhatian terhadap konsumen. 

“Selain produk yang dibuat harus bagus, penting untuk memperhatikan bagaimana pelanggan puas dengan pelayanan dan produk kami. Hal ini yang membuat pelanggan merasa nyaman dan cocok,” katanya.

Merek juga gencar menjual produk secara daring. INPACA melakukan penjualan di beragam platform niaga digital dan juga melalui laman daring milik merek. Selain menambah saluran penjualan, metode ini juga efektif kala merek berjuang bertahan di tengah pandemi COVID-19.

Selain menjual secara online, merek juga melakukan penjualan secara luring. INPACA memiliki jaringan penjualan offline pertamanya di Jakarta. Bahkan, produk ini juga dijajakan di SEIBU Department Store di mal Grand Indonesia dan SOGO Department Store di mal Kelapa Gading.

Dalam prosesnya, perjalanan yang dilalui INPACA tak selalu mulus. Ketika merek didirikan belum banyak pemain sepatu lokal pada saat itu. Tentunya hal ini menjadi keunggulan merek, namun, bak pisau bermata dua, peminatnya pun tak sebanyak kini.

Popularitas sepatu lokal yang masih rendah waktu itu menjadi kendala berkembangnya merek. Mereka pun putar otak untuk menggaet lebih banyak konsumen pada saat itu. Beragam metode pemasaran pun dilakukan, salah satunya dengan menggaet influencer.

Hal ini diakui menjadi salah satu pendorong popularitas merek hingga kini. Dalam menerapkan strategi ini, kedua pendiri merek mengkurasi dulu influencer yang dipilih. Baik key opinion leader atau influencer, keduanya memiliki pengaruh tinggi dalam meningkatkan popularitas merek.

“Tentunya dikurasi terlebih dahulu influencer yang cocok dengan gaya merek kami. Itu yang membuat kami gain market,” kata Fransisca.

Selaku merek fesyen, gonjang-ganjing tren juga menjadi salah satu cobaan. Mengikuti tren tentu menjadi salah satu hal yang perlu dilakukan pelaku usaha guna meraup pundi-pundi lebih banyak. Namun menurut Fransisca, INPACA perlu konsisten dalam mempertahankan desain yang timeless.

“Merek perlu memperhatikan desain produk agar lebih relevan tiap masa. Tidak hanya membuat desain produk yang mengikuti tren sesaat,” katanya.

Selain pandemi COVID-19, Fransisca menceritakan bahwa mencari pengrajin yang mampu mengikuti pola desain yang sesuai dengan tuntutan merek menjadi salah satu tantangan. Diakuinya, bisnis ini membuat mereka harus merogoh kocek hingga ratusan juta untuk modal. Meski demikian, uang tersebut tak lantas memuluskan proses yang dilalui INPACA.

Setahun awal merek beroperasi, Fransisca mengungkapkan bahwa ada trial and error yang harus dilalui merek. Kesalahan produksi, salah satunya seperti jahitan sepatu yang kurang rapi kerap ditemui pada fase merintis merek. Inilah yang menuntut merek untuk mencari pengrajin yang mampu mengikuti desain yang diajukan.

Minimnya pengetahuan bisnis sepatu kedua pendiri merek juga menjadi tantangan. Selain mencari pengrajin lokal yang andal, membuat desain sepatu yang mampu memberikan kenyamanan ekstra tanpa mengurangi nilai estetikanya menambah kesulitan yang harus dilalui merek. Namun berkat kegigihan keduanya, INPACA akhirnya menemukan pengrajin yang mampu menangani desain yang ditentukan.

Popularitas merek sendiri tak sekadar merambah kaum hawa di Indonesia. Kegigihan keduanya dalam meramu desain sepatu dan mencari pengrajin yang andal, membuat negara tetangga ikut melirik. Malaysia, Singapura, dan Filipina menjadi negara yang turut berkontribusi untuk penjualan produk INPACA.

“Selain produk yang dibuat harus bagus, penting untuk memperhatikan bagaimana pelanggan puas dengan pelayanan dan produk kami. Hal ini yang membuat pelanggan merasa nyaman dan cocok.”

Fransiska Cika
Founder INPACA

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×

 

Hello!

SEO Manager Kami Membantu Anda

× SEO Consultation