Published On: Fri, Oct 3rd, 2014

Karakteristik Wirausaha

Karakteristik Wirausaha |

Karakteristik Wirausaha

Karakteristik Wirausaha

 

Sepanjang kita terasa belum familiar serta takut mengawali usaha, umumnya yang muncul di pikiran kita yaitu : “belajar! ”. Pilihannya mungkin saja dengan jalan mengambil program S2 serta jadi seseorang MBA, atau turut sebanyak mungkin seminar serta kursus untuk melihat Karakteristik Wirausaha.

Atau dapat pula dengan berguru serta mengabdi pada seseorang begawan usaha dengan Karakteristik Wirausaha. Kurang lebih, telah selaraskah alur pemikiran yang sedemikian dengan apa yang berlangsung sebenarnya? Mari kita pelajari.

Umumnya dari kita melakukan bisnis lantaran mau berhasil, lantas jadi kaya raya. Kita memikirkan, begitu enak serta hebatnya apabila kita bisa sesukses serta sekaya Bill Gates atau Donald Trump. Menurut pandangan orang-orang biasanya, mereka tersebut beberapa orang berhasil yang sebenar-benarnya. Merekalah sosok-sosok pelaku bisnis yang prestasinya bikin beberapa orang terobsesi.

Jadi tak heran bila beberapa ahli juga berupaya menyadap serta pelajari semuanya yang ada pada beberapa orang berhasil itu, dengan harapan bisa mentransfer nilai-nilai kesuksesannya pada beberapa orang lain yang juga mau jadi profil berhasil. Mereka memiliki pendapat bahwa : “Leaders are made, not born”.

Dari beragam catatan yang ada, nampaknya tak sekian. Banyak sepak-terjang yang dikerjakan oleh beberapa pemimpin usaha dunia tak mencerminkan bahwa keberhasilan mereka dikarenakan evaluasi yang sungguh-sungguh dalam pengetahuan usaha, profesionalisme serta teori kepemimpinan. Tak juga pengetahuan ekonomi, teori-teori perihal kebebasan finansial, pengetahuan marketing serta lain sebagainya. Juga, tak lantaran mereka rajin ikuti seminar keberhasilan atau lokakarya perihal kiat usaha.

Di lain pihak, banyak pemimpin usaha nyatanya adalah beberapa orang yang malah tak sukai belajar, malas sekolah, serta cuma mau bermain-main saja. Boro-boro turut seminar atau lokakarya. Lho kok dapat?

Terdapat banyak misal masalah. Yang pertama, Thomas Alva Edison. Nama ini telah kita ketahui mulai sejak di bangku SD bukan? Tetapi, tentu kita kenal Edison lebih juga sebagai tokoh ilmu dan pengetahuan, lantaran sekolah fokus ajaran cuma pada penemuan atas lampu pijar serta beragam temuan tehnis lain yang dikerjakannya.

Jadi tidak sering kita memerhatikan bahwa sebenarnya Thomas Alva Edison yaitu juga seseorang entrepreneur besar yang berhasil. Ia yaitu yang memiliki serta pendiri beragam perusahaan dengan beberapa nama seperti Lansden Co. (mobil/otomotif) , Batterai Supplies Co. (baterai) , Edison Manufacturing Co. (baterai dsb) , Edison Portland Cement Co. (semen serta beton) , North Jersey Paint Co. (cat) , Edison General Electric Co. (alat listrik dan lain-lain) , serta banyak yang lain. Satu diantara yang masih tetap berjaya hingga saat ini yaitu General Electric.

Apakah untuk meraih itu seluruhnya Edison mesti bersusah-payah ikuti beragam sekolah serta pendidikan tinggi? Atau ikuti seminar kelas dunia yang diadakan oleh beberapa ahli keberhasilan, ahli usaha atau ahli financial freedom? Nyatanya tak. Profil Edison yaitu profil pemalas yang cuma tahan 3 minggu bersekolah. Ia lebih sukai bermain-main dengan perkakas, dengan kawat serta dengan listrik. Itu kesenangannya serta dengan itu ia berhasil.

Saksikan juga Kim Woo Chong, pendiri imperium Daewoo. Saat seluruhnya entrepreneur (dengan juga teori-teori yang ada) berkonsentrasi masuk pasar negara-negara kaya sejenis Amerika serta Eropa, ia jadi dengan santainya masuk ke pasar-pasar “keras” seperti Iran, Sudan serta Rusia dan negara-negara blok timur.

“Kesia-siaan” pelajari serta berupaya ikuti sepak terjang beberapa pemimpin usaha dapat dirasa dengan cara segera di lapangan. Waktu pertama kali Harvard Business Review mempublikasikan rencana pemasaran yang beken dengan “Marketing Mix” 4P (product, price, place serta promotion) , hampir seluruhnya entrepreneur dan ahli usaha berpedoman rencana ini dengan cara fanatik. Demikian dengan juga perguruan-perguruan tinggi serta sekolah manajemen.

Namun, tak terlampau lama, juga sebagai disebabkan “ulah” beberapa pemimpin usaha yang suka bermain-main, pergantian trend perekonomian serta industri memaksa beberapa ahli serta pembelajar mengubah lagi rencananya dengan 6P, 8P bahkan juga yang paling akhir dijelaskan juga sebagai 12P.

Selalu bagaimanakah? Bila kita mesti bersiaga setiap waktu untuk belajar serta tak ketinggalan zaman dengan pengetahuan marketing, kapan kita melakukan bisnis?

Saya sendiri meyakini bahwa usaha serta keberhasilan itu yaitu sejenis permainan saja. Seperti apa yang disebutkan oleh William Cohen dalam tulisannya “The Art Of The Leader” : “Success is acquired by playing hard, not by working hard. . ”.

Merujuk pada obsesi beberapa orang perihal Bill Gates serta Donald Trump seperti dimaksud diatas, butuh di ketahui bahwa ke-2 orang tokoh ini juga meraih berhasil dari kesenangannya bermain-main.

Bill Gates mulai sejak masih tetap berumur 13 th. telah bermain-main dengan piranti lunak computer, serta dengan itu ia jadi satu diantara orang paling kaya didunia. Donald Trump juga mulai sejak kecil senantiasa bermain-main ke kantor ayahnya, Fred Trump. Dia sukai sekali melihat-lihat maket gedung serta pencakar langit, saat sebelum tertarik dengan bagian usaha sang bapak, yakni property. Serta jadilah Donald Trump seseorang Raja Property.

Paling akhir yang mau saya berikan yaitu, orang yang pelajari pengetahuan kepemimpinan akan tidak jadi pemimpin. Namun, orang yang coba jadi pemimpin, bakal jadi pemimpin. Demikian pula, orang yang pelajari pengetahuan usaha, akan tidak jadi pelaku bisnis. Namun, orang yang coba jadi pelaku bisnis, bakal jadi pelaku bisnis dengan Karakteristik Wirausaha.

jasa seo dan internet marketing

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>