Keuangan dan Pasar Syariah di Indonesia

Keuangan Islam telah memainkan peran penting baru-baru ini dalam perkembangan ekonomi Indonesia.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berupaya untuk menyediakan pasar yang setara bagi industri keuangan konvensional dan syariah.
Kemenkeu, bank sentral Indonesia (Bank Indonesia) dan OJK memiliki divisi yang didedikasikan untuk keuangan Islam dalam struktur organisasi masing-masing.
Bank Indonesia mengeluarkan Cetak Biru tentang Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia pada tahun 2002.
Sementara OJK menerbitkan Roadmap untuk Pasar Modal Syariah (2015-2019).
Disusul dengan Perbankan Syariah (2015-2019), Industri Keuangan Non-Bank Syariah (2015-2019) dan Perkembangan Pembiayaan Syariah Indonesia (2017-2019).

Keuangan Islam

Sebelum 2008, keuangan Islam sebagian besar diatur oleh undang-undang yang berlaku untuk keuangan konvensional.
Pada tahun 2008, pemerintah menyediakan platform untuk keuangan Islam dengan mengeluarkan Undang-Undang 19 tahun 2008 tentang Sukuk Berdaulat.
Selain itu ada UU 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah dan Peraturan Pemerintah 56 tahun 2008 tentang Perusahaan Penerbit Sukuk Berdaulat.
Peraturan tersebut telah diubah dengan Peraturan Pemerintah 73 tahun 2012.
Pendahulu OJK, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam – LK) mengikuti jejak pemerintah.
Lembaga ini memperkenalkan berbagai peraturan pelaksanaan khusus untuk keuangan Islam.

Industri Keuangan

Pada saat yang sama, berbagai peraturan pelaksanaan yang berlaku untuk industri keuangan konvensional juga dikeluarkan.
Peraturan terakhir ditujukan untuk meningkatkan kepatuhan dan tata kelola perusahaan.
Kemenkeu juga mengumumkan berbagai peraturan pelaksanaan mengenai penerbitan sukuk berdaulat.
Sementara Bank Indonesia juga mengeluarkan berbagai peraturan untuk mendukung transaksi syariah.

Pengembangan pasar

Meskipun bank Islam Indonesia pertama didirikan 26 tahun yang lalu, keuangan Islam di Indonesia masih dalam tahap pengembangan.
Penggabungan bank syariah Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1992 menandai awal dari keuangan Islam di Indonesia.
Pada tahun 1994, bank yang sama mendirikan PT Asuransi Takaful Keluarga dan PT Asuransi Takaful Umum, yang merupakan operator takaful pertama di Indonesia.
Pada tahun 1998, pemerintah mengamandemen UU 7 tahun 1992 tentang Perbankan (Banking Law) untuk memungkinkan bank konvensional menyediakan layanan perbankan syariah.
Di sektor pasar modal, sukuk korporasi pertama terdaftar pada tahun 2002.
 
 
 

Legalitas Keuangan Syariah dalam Industri Keuangan

Karena Indonesia adalah negara yang mengakui beberapa agama, investasi dalam bisnis yang berhubungan dengan alkohol atau babi diperbolehkan.
Namun, investasi dalam bisnis yang berurusan dengan perjudian atau pornografi dilarang.
Undang-undang utama yang relevan dengan perbankan Islam adalah UU 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
Pasar modal syariah diatur berdasarkan Undang-Undang 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.
UU ini umumnya mengatur semua kegiatan pasar modal.
Namun, sukuk berdaulat secara khusus diatur dalam UU 19 tahun 2008 tentang Sukuk Berdaulat.
Peraturan utama yang relevan dengan sukuk perusahaan adalah Peraturan OJK 18 / POJK.04 / 2015.
Isinya tentang Penerbitan dan Persyaratan Sukuk, yang diberlakukan pada 10 November 2015.
Peraturan ini diubah dengan Peraturan OJK 3 / POJK.04 / 2018, yang diberlakukan pada 26 Maret 2018.

Asuransi Syariah

Asuransi syariah diatur berdasarkan Undang-Undang 40 Tahun 2014 tentang Asuransi (UU Asuransi).
Undang-undang Asuransi mengatur asuransi konvensional dan Islam.
Di bawah undang-undang ini, perusahaan asuransi dan reasuransi konvensional yang memiliki jendela syariah diharuskan untuk memutus jendela syariah mereka.
Perusahaan harus mengubahnya menjadi perusahaan asuransi syariah dalam waktu 10 tahun sejak undang-undang diberlakukan.
Lalu, OJK adalah otoritas tunggal yang bertanggung jawab untuk mengawasi perbankan, pasar modal, asuransi dan lembaga keuangan non-perbankan lainnya.
Demikian sekilas tentang keuangan dan pasar Syariah di Indonesia.
Semoga dapat dipahami.
 

Kebijakan Moneter Indonesia, Neraca Rekening Bank Indonesia

Apakah setiap hari anda mengamati perkembangan kebijakan terkait keuangan di Indonesia?
Mungkin tidak jika anda tidak merasa memiliki hubungan atau keperluan langsung dengan hal tersebut.
Akan tetapi, tak masalah untuk mengetahuinya meski anda tidak memiliki hubungan langsung.
Informasi kebijakan moter sebetulnya berkaitan juga dengan kestabilan ekonomi indonesia.
Dengan mengetahuinya kita menjadi tidak mudah gegabah untuk menyalahkan orang lain atas kebangkrutan suatu perusahaan.

Kebijakan Bank Sentral Indonesia

Dikutip dari Jakarta Post, sejalan dengan harapan, bank sentral Indonesia atau Bank Indonesia  mempertahankan patokan BI 7-Day Reverse Repo Rate pada 6,00 persen.
Keberhasilan tersebut terekam  pada pertemuan kebijakan Februari yang diadakan pada 20-21 Februari 2019.
Di samping itu juga fasilitas deposit dan suku bunga pinjaman fasilitas berada pada rate di 5,25 persen dan 6,75 persen, masing-masing.
Semua itu terjadi selama empat bulan berturut-turut, yang menandakan bahwa Bank Indonesia berhasil menyesuaikan suku bunga tingkat internasional.
Hal itu merupakan tanda lain bahwa siklus pengetatan moneter di antara ekonomi pasar berkembang jauh di belakang kita.
Siklus ini dibiarkan berakhir pada akhir tahun 2018 karena Federal Reserve AS mulai menekankan bahwa kebijakan moneter harus makin bersabar dalam waktu dekat.

Pengetatan Moneter di AS

Pengetatan moneter di AS tahun lalu dengan Federal Reserve menaikkan suku bunganya empat kali pada 2018 membuat Bank Indonesia dalam posisi tegang.
Kondisi itu merupakan alasan utama mengapa Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga acuan pada enam kesempatan tahun lalu.
Kenaikan itu mulai dari 4,25 persen menjadi 6,00 persen, .
Tujuan dari upaya penaikan suku bunga acuan itu adalah untuk mengurangi tekanan besar pada aset negara.
Jika tidak dilakukan maka aset negara seperti nilai mata uang, saham, dan obligasi akan semakin melemah.
Oleh karena itu, ‘Fed dovish’ membawa gelombang udara segar ke pasar negara berkembang.

Aliran Masuk Modal ke Indonesia

Sejak gelombang ekonomi mengalir ke negara berkembang, Indonesia pun mendapatkan dampaknya.
Dari kebijakan meningkatkan suku bunga tersebut, aliran masuk modal kembali ke Indonesia sejauh ini.
Aliran dana masuk dengan sangat pesat pada tahun 2019.
Di sisi lain suku bunga acuan Bank Indonesia pada posisi 6,00 persen yang menarik berkontribusi pada sentimen positif.
Semua itu memicu kepercayaan investor bahwa kondisi ekonomi Indonesia cukup aman untuk dijadikan ladang investasi.

Investasi Lokal dan Kestabilan Ekonomi Indonesia

Guna mendorong kestabilan ekonomi negara, Bank Indonesia sudah lama menghimbau masyarakat untuk terlibat aktif dalam investasi lokal.
Ada banyak bentuk investasi, seperti saham, peer to peer landing, obligasi, sukuk, atau membuka usaha waralaba dan lain sebagainya.
Peningkatan peran masyarakat sebagai investor menambah nilai mata uang.
Di samping itu, di tengah berkembangnya unicorn indonesia, bank Indonesia juga menghimbau untuk menggunakan mata uang rupiah dalam bertransaksi online.
Semua itu akan membantu menyelamatkan nilai tukar rupiah di mata uang asing.
Dengan adanya kenaikan usaha lokal dan harapan profit yang tinggi, ini juga bisa mendatangkan kepercayaan investor luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia.
Strategi ini diharapkan oleh pemerintah lokal dapat mendorong kekuatan ekonomi lokal.

Tujuan Kebijakan Moneter Indonesia

Semua itu agar sesuai dengan tujuan kebijakan moneter Indonesia berupa memelihara kestabilan nilai tukar rupiah.
Tujuan ini sesuai dengan yang tercantum dalam UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang sebagaimana diubah melalui UU No. 3 Tahun 2004 dan UU No. 6 Tahun 2009 pada pasal 7.
Isinya kestabilan rupiah dapat dicapai dalam dua dimensi.
Dimensi pertama kestabilan nilai dari segi nilai rupiah di mata harga-harga barang dan jasa yang tercermin dalam laju inflasi.
Dimensi kedua, terkait dengan nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang asing.
Demikian harap untuk dipahami dan dipelajari lebih lanjut.

Robocash Group Meluncurkan Fasilitas Pendanaan Sesuai Syariah

Sebagai negara yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia, syariah Islam menjadi perhatian dunia.
Terutama ketika hal tersebut mulai diperbincangkan dan diterapkan di zona ekonomi negara atau pun politiknya.
Pada zona ekonomi, persoalan pengaturan keuangan ini telah menarik perhatian Robocash Gorup.

Meluncurkan Layanan Berbasis Syariah

Perusahaan Robocash Group mengumumkan peluncuran layanan Penyaluran Dana Syariah (PDS), yang merupakan fasilitas pendanaan yang berbasish pada nilai-nilai syariah.
Layanan ini telah dikembangkan dari bawah ke atas dalam kemitraan dengan perusahaan pembiayaan Reliance Finance dan konsultasi erat dengan Dewan Pengawas Syariah.
Layanan ini dioperasikan oleh badan hukum PT Usaha Pembiayaan Reliance Indonesia (REFI).
Sementara produk berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dewan Nasional Syariah di Indonesia.
Layanan yang diluncurkan PDS akan menyediakan akses ke produk fintech untuk jutaan orang Indonesia mengikuti prinsip Syariah, atau hukum syariah Islam.
Fundamental termasuk pembagian risiko, untung rugi, dan larangan bunga (riba).

Industri Keuangan Islam Global

Langkah ini dilakukan untuk menjadi bagian dari industri keuangan islam global.
Berdasarkan Laporan Pengembangan Keuangan Islam, pada tahun 2023, industri keuangan Islam global diproyeksikan akan tumbuh menjadi USD 3,8 triliun dari hanya USD 2,4 triliun pada 2017.
Mengingat Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, sayangnya negara ini hanya di tempat ke-6 dalam Islamic Country Country Index 2018.
Oleh karena itu Robocash Group mengambil peran untuk meningkatkan pendapatan keuangan syariah ini.

Rencana Operasional PDS

Dalam pengumuman ekspansi ke Indonesia, Sergey Sedov, Kepala Eksekutif Robocash Group percaya masa depan pasar fintech Indonesia sangat positif.
Menurutnya dari Keseluruhan adopsi digital dan inisiatif yang mendukung industri pasti akan memungkinkan negara untuk mencapai pertumbuhan volume pasar yang dinamis.
Selain itu, pertumbuhan digital dan inisiatif ini juga dapat menarik investasi baik dari pemain lokal maupun luar negeri.
Akan tetapi, perwakilan dari Robocash Group ini mengatakan fokus utamanya ketika beroperasi di indonesia ialah mitra dalam negeri.
Mereka mengaku memiliki teknologi Robocash Group yang disesuaikan untuk pasar sehingga memberikan pengalaman pengguna yang terbaik.

Keunggulan Layanan PDS

Layanan PDS telah menggabungkan proses aplikasi yang didukung teknologi.
Sistemnya hanya membutuhkan penambahan kartu identitas (KTP) dan selfie.
Sistem juga dilengkapi dengan kecerdasan buatan yang diterapkan dalam filter penilaian dan deteksi penipuan untuk menawarkan uang muka hingga USD 715 (Rp 10.000.000) dalam beberapa menit.
Uang muka dapat dibayarkan langsung ke rekening bank atau e-wallet, atau ditarik sebagai uang tunai di salah satu outlet yang menjadi mitra kerjasama.

Investor PDS

Dikutip dari retailnews.asia, terdapat informasi yang menyatakan bahwa program PDS ini didukung penuh oleh Reliance Capital Management (RCM).
Perusahaan tersebut berperan sebagai perusahaan induk, yang mencakup beberapa perusahaan jasa keuangan.
Di dalamnya termasuk PT Usaha Pembiayaan Reliance Indonesia (Reliance Finance).
Pada tahun 2014, PT Reliance Capital Management telah menerima investasi dari Leapfrog Investment.
Perusahaan ini adalah perusahaan investor global yang telah banyak berinvestasi di perusahaanperusahaan di Asia dan Afrika.
Alternatif Sumbe Keuangan Rakyat
Dengan adanya pemain baru dibidang fintech, rakyat indonesia menjadi memiliki banyak sumber pendanaan.
Mereka bisa mengambil hutang dari sumber dana tersebut dan kemudian mengembangkan inovasi usahanya sesuai dengan rencananya masing-masing.
Akan tetapi, jika masyarakat belum siap dengan kemunculan teknologi baru ini, ini pun bisa jadi masalah.
Kehadiran fintech Robocash di Indonesia dipengaruhi oleh sambutan masyarakat.
Akankah anda percaya bahwa fasilitas ini menguntungkan dan bermanfaat?
Anda tidak akan tahu jika tidak mencoba.
 
 

Perkembangan Sukuk Sesuai Syariah di Indonesia

Pemerintah berharap bahwa populasi Muslim Indonesia yang sangat besar di Indonesia akan mendorong permintaan untuk surat utang yang sesuai syariah.
Instrumen keuangan yang juga dikenal sebagai sukuk ini diharapkan dapat membantu mengembangkan pasar keuangan.

Penerbitan Sukuk Syariah

Baru-baru ini pemerintah menerbitkan sukuk ritel terbarunya yang disebut SR-011, yang menawarkan hasil 8,05 persen per tahun.
Sayangnya, hasil penjualan ini sedikit lebih rendah dari 8,15 persen yang ditawarkan dalam penerbitan sukuk sebelumnya, ST-003.
Pemerintah memutuskan untuk menetapkan imbal hasil yang lebih rendah karena pasar keuangan bullish meskipun Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya.
BI mempertahankan sampai sebesar 6 persen dan Federal Reserve Amerika Serikat mengadopsi sikap dovish tahun ini.

Sebab Akibat Imbal Hasil Penerbitan Sukuk

“Pasar bullish mendorong imbal hasil obligasi turun, yang mengakibatkan pengembalian sukuk ritel turun juga,” kata Luky Alfirman, direktur jenderal keuangan dan manajemen risiko di Kementerian Keuangan, seperti dikutip dari The Jakarta Post.
Pengembalian yang lebih rendah, katanya, akan meringankan beban pada anggaran negara.
Selain menurunkan imbal hasil, pemerintah menetapkan target yang lebih rendah untuk penerbitan karena menarget bisa mendapatkan setidaknya Rp 10 triliun (US $ 698,5 juta).
Target ini hanya setengah dari target Rp 20 triliun pada 2017, ketika mengeluarkan SR- Seri 009.

Menutup Defisit Anggaran Negara

Luky mengatakan diharapkan penerbitan seri sukuk terbaru dapat melebihi targetnya untuk membantu menutupi defisit anggaran negara.
Analis kuantitatif Bank Mandiri Reny Eka Putri mengatakan kepada The Jakarta Post bahwa optimisme Luky kemungkinan besar akan terbukti.
Sebab hal itu beralasan karena penerbitan obligasi ritel sebelumnya berhasil meraup lebih banyak uang daripada target indikatif pemerintah.
Misalnya, obligasi simpanan ritel konvensional SBR005 berhasil membukukan Rp4 triliun dari investor ritel.
Sementara ST-003 yang patuh pada nilai-nilai syariah berhasil membukukan total Rp3,13 triliun.
Kedua not tersebut melampaui target indikatif masing-masing sebesar Rp 2 triliun.

Pengaruh dari Kondisi Pasar

Keberhasilan tersebut dipengaruhi oleh kondisi pasar yang saat ini cukup menguntungkan bagi sukuk karena kondisi ekonomi makro jauh lebih baik dari tahun lalu.
Tahun ini, katanya, pasar bergerak menuju keadaan bullish di mana rupiah menjadi lebih kuat.
berdasarkan Jakarta Composite Index (JCI) pasar obligasi jauh lebih kuat daripada tahun lalu karena imbas dari kondisi global yang stabil.
Selain memasukkan defisit, Luky mengatakan penerbitan sukuk ritel diharapkan dapat membantu memperluas basis investor ritel Indonesia.
Di samping itu diharapkan juga dapat mengurangi ketergantungan pada dana asing untuk membiayai anggaran negara.
Tidak hanya berhenti di situ saja, penerbitan sukuk juga diharapkan dapat meningkatkan aktivitas di pasar keuangan Indonesia, khususnya sektor yang sesuai syariah.

Popularitas Sukuk

Meningkatnya popularitas sukuk membuat pasar sukuk telah berkembang pesat ditambah dengan pemerintah menerbitkan sukuk berdaulat, sukuk ritel reguler, dan sukuk berbasis proyek.
Baru-baru ini, Indonesia mendaftarkan total $ 2 miliar sukuk global reguler dan hijau di Bursa Efek Singapura dan NASDAQ Dubai di Uni Emirat Arab.
Perusahaan juga menerbitkan sukuk untuk mendanai ekspansi mereka atau membiayai kembali utangnya, seperti perusahaan telekomunikasi XL Axiata dan Indosat.
Di mana keduanya telah mendaftarkan sukuk mereka di BEI.
Meskipun demikian, Reny dari Bank Mandiri mengatakan, pasar sukuk di Indonesia tidak tumbuh secepat rekan konvensionalnya.
Hal itu disebabkan karena perusahaan dan sebagian besar investor Indonesia masih asing dengan instrumen tersebut.
Demikian tentang perkembangan sukuk berdasarkan nilai syariah di Indonesia.
 

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!