Kisah Founder Startup Indonesia

How to start writing every day even if youre already

Pada pertengahan 2008, Garret Camp baru saja menjual perusahaan berbasis digital-nya StumbleUpon kepada eBay.
Untuk mengisi waktu luangnya, ia pergi ke bioskop untuk menonton film James Bond: Casino Royale. Dalam film tersebut, ada sebuah adegan dimana James Bond mengejar musuhnya dengan mengendarai mobil Ford Mondeo sambil melihat layar ponsel Sony Ericsson-nya, di layar tersebut terlihat posisi mobil yang dia kendarai tengah mendekati lokasi target.
Siapa sangka jika adegan tersebut akhirnya menjadi ide bernilai miliaran dolar setelah Camp membuat suatu layanan dimana kita bisa mendapatkan mobil sewaan yang bisa dipantau langsung lokasinya melalui perangkat mobile. Ide tersebut kini dikenal sebagai Uber, aplikasi pemesanan transportasi daring terbesar di dunia.
Kisah Garret Camp dengan Uber hanyalah satu dari sekian banyak kisah-kisah menarik dibalik proses mendirikan perusahaan, bahkan di Indonesia pun kita bisa menemukan kisah-kisah yang tak kalah menarik. Langsung saja kita simak ulasan kisah menarik para founder startup mendirikan perusahaannya berikut ini:

Aulia Halimatussaidah dan NulisBuku

Perempuan yang akrab disapa Ollie ini sudah lama memiliki ketertarikan dengan dunia teknologi. Ollie sempat berharap mempunyai website-nya sendiri sejak masih duduk di bangku SMA, maka dari itu ia meneruskan studinya dengan mengambil jurusan IT di perguruan tinggi. Ollie juga diketahui memiliki minat tinggi dalam bidang sastra, tapi sayangnya ia sempat kesulitan untuk menerbitkan bukunya.
Pengalaman tersebut akhirnya menjadi inspirasi bagi Ollie untuk mendirikan platform self-publishing online bernama NulisBuku, dimana para penulis bisa dengan mudah mencetak dan menerbitkan sendiri karya-karya mereka. NulisBuku juga merupakan platform self-publishing pertama di Indonesia.

Ryan Gondokusumo dan Sribu

Ryan Gondokusumo masih berusia 26 tahun ketika mendirikan Sribu, sebuah platform online penyedia jasa desain grafis berkualitas yang bisa diakses selama 24 jam.
Tahun 2011 Ryan adalah seorang profesional yang ditugaskan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dari dua anak perusahaan yang dikelola sebuah holding company besar. Selama bekerja disana Ryan sering membicarakan mengenai bisnis crowdsourcing di luar negeri dengan seorang rekan kerja.
Suatu ketika Ryan mendapat tugas untuk membuat desain kalender, dimana tugas tersebut ia berikan kepada para desainer lepas melalui forum KasKus dalam bentuk kontes.
Hasil yang dia dapatkan ternyata cukup mengesankan, hanya dalam satu minggu dia mendapatkan lebih dari 300 karya desain.
Melihat hal itu, Ryan semakin yakin bahwa crowdsourcing bisa menjadi model bisnis yang menjanjikan di Indonesia. Tak lama setelah itu, Ryan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan fokus mendirikan Sribu.
 
 
 

Cynthia Tenggara dan Berrykitchen

Kisah Cynthia Tenggara mendirikan Berrykitchen kembali membuktikan untuk yang kesekian kalinya bahwa ide sederhana bisa berkembang menjadi sebuah perusahaan bernilai tinggi. Cynthia Tenggara mengawali karirnya sebagai tim kreatif di salah satu stasiun televisi lokal, Cynthia juga sempat menjadi seorang public relations (PR), marketing, dan account manager di sejumlah perusahaan swasta.
Selama bekerja sebagai karyawan, Cynthia kerap kesulitan mencari makan siang dengan harga terjangkau namun memiliki menu yang lengkap.
Tapi siapa sangka jika masalah sederhana seperti itu pada akhirnya berubah menjadi ide bisnis yang cukup menjanjikan.
Cynthia pun berhenti dari pekerjaannya dan memulai bisnis E-Commerce di bidang food/beverages yang diberi nama Berrykitchen. Melalui platform Berrykitchen, orang-orang bisa memesan berbagai menu makanan, mulai dari makanan siap saji atau dimasak sendiri, dan semua pesanan akan langsung diantar ke tempat.

Melieyana Tjioe dan Gogonesia

Melieyana Tjioe sempat berkuliah di Australia hingga mendapatkan gelar Master dari jurusan strategi perdagangan dan bisnis di University of New South Wales. Setelah menyelesaikan studinya, Melieyana memulai karirnya sebagai salah satu karyawan di perusahaan manajemen investasi BlavkRock, lalu berpindah ke perusahaan kantor virtual Servcorp.
Selama tinggal di Australia, Melieyana diketahui senang melakukan aktivitas outdoor bersama teman-temannya seperti bungee jumping, skydiving, canyoning, dll.
Beberapa teman sempat menanyakan apakah ada situs pemesanan paket tour di Indonesia yang mirip Booking.com, dan Melieyana pun mengatakan bahwa ia berkeinginan untuk mendirikan website dengan layanan seperti itu di Indonesia. Akhirnya, setelah dia kembali ke Indonesia, pada Januari 2013 Gogonesia resmi diluncurkan.

Ferry Unardi dan Traveloka

Sebelum Traveloka, Ferry Unardi sebenarnya belum pernah memiliki pengalaman yang cukup sebagai seorang pengusaha, bahkan tidak pernah terpikirkan untuk menjadi seorang pengusaha seperti sekarang. Setelah lulus dari Purdue University di Indiana, Amerika Serikat, Ferry mengawali karirnya sebagai insinyur perangkat lunak di Microsoft.
Ide untuk mendirikan Traveloka muncul ketika Ferry sedang berencana traveling ke Cina. Tapi saat itu ia masih belum cukup percaya diri untuk membangun startup-nya sendiri.
Hingga suatu ketika Ferry merasa kesulitan memesan tiket saat akan pulang ke Indonesia, terutama untuk memperkirakan rute yang akan dilalui pesawat. Berangkat dari permasalahan tersebut, akhirnya Ferry memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan lamanya dan terjun ke dunia bisnis, tepat di usianya yang baru menginjak 23 tahun, kemudian pada tahun 2012, Traveloka resmi diluncurkan.

Nadiem Makarim dan Go-Jek

Nama Nadiem Makarim mungkin sudah cukup populer di kalangan startup Indonesia, pria lulusan Harvard Business School yang juga sempat bekerja sebagai Managing Director untuk Zalora Indonesia ini sudah mengawali usahanya sejak tahun 2010.
Nadiem yang saat itu sering menggunakan jasa ojek di Jakarta sering berbincang dengan tukang ojek langganannya tentang keseharian mereka.
Dari perbincangan-perbincangan santai tersebut Nadiem bisa menyimpulkan bahwa para tukang ojek menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk mangkal atau menunggu pelanggan. Sejak saat itu Nadiem mulai berpikir untuk membuat semacam layanan penyedia jasa ojek panggilan.
Sebelum Go-Jek menggunakan konsep aplikasi mobile seperti sekarang, awalnya Go-Jek menggunakan telepon dan SMS untuk melakukan pemesanan, baru lah pada awal tahun 2015 aplikasi Go-Jek diluncurkan.
 
baca juga
Franchise Raja Motor
20 Inovasi Startup IoT di Indonesia
4 Startup Kesehatan Terbaik di Indonesia
Panduan Bisnis Online Terlengkap
 
 

Achmad Zacky dan Bukalapak.com

Salah satu startup E-Commerce terbesar di Indonesia ini didirikan oleh Achmad Zacky, pria kelahiran Sragen yang sudah memiliki ketertarikan dengan teknologi sejak kecil.
Suatu ketika, saat Zaki masih berusia 11 tahun dia pernah diberikan hadiah berupa satu unit komputer oleh pamannya, lengkap dengan buku tentang computer programing. Hadiah ulang tahun tersebut akhirnya membuat minat dan bakat Zaki semakin terasah. Hal ini terus berlanjut sampai Zaki meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi di ITB Bandung, disana Zaki memilih jurusan Teknik Informatika.
Selama berkuliah di ITB Zaki sempat menjalankan bisnis mie ayam, tapi sayangnya usaha itu hanya sanggup bertahan selama 6 bulan.
Tidak hanya sampai disitu, bahkan ketika Bukalapak baru didirikan, Zaki sempat mengalami jatuh-bangun muali dari ditolak investor, UKM, dll. Sampai akhirnya Zaki berhasil menarik perhatian pemodal dan pengusaha UMKM setelah mengikuti ajang Batavia Incubator dan kini Bukalapak telah menduduki peringkat teratas sebagai startup terbaik di Indonesia.

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!