Kisah Sukses Pak Muslim Nagata Tuna

https://www.undercover.co.id – Tsunami yang terjadi diProvinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun 2004 silam merupakan salah satu bencana yang paling diingat oleh masyarakat Indonesia.

Selain meluluhlantakan beberapa kota besar di Aceh, tsunami juga merenggut lebih dari 100.000 nyawa seketika.

Beberapa yang selamat pun juga harus berjuang keras untuk menata kembali hidupnya.

Namun menjadi korban tsunami dan harus kembali memulai dari nol tak membuat pak Muslim, seorang nelayan tuna menyerah dengan keadaan.

Bahkan pak Muslim kini menjadi pemilik dari Usaha Dagang bernama Nagata Tuna yang bergerak di bidang penangkapan dan ekspor hasil laut seperti ikan tuna dan lobster.

Dalam satu bulan pak Muslim bisa mengekspor ikan tuna hingga mencapai 6 ton ke Jepang dan mengumpulkan omzet hingga 400 juta Rupiah perbulannya.

Bangkit Seusai Tsunami

Tsunami di Aceh tidak dapat disangsikan membawa dampak besar bagi sektor perikanan tangkap yang menjadi salah satu andalan Aceh sejak dulu.

Menurut data yang dikumpulkan oleh peneliti Bank Dunia, tsunami aceh telah mengakibatkan hilangnya seperlima dari potensi perikanan Aceh.

Pak Muslim adalah  salah satu dari banyak korban tsunami yang harus kembali berjuang menata hidup.

Lama bermukim di pantai menjadikan profesi nelayan sudah mendarah daging dengan dirinya.

Sebagai nelayan dan putra asli daerah Aceh, Muslim banyak menggarap hasil laut macam ikan tuna sirip kuning dan ikan layang.

Setelah sektor perikanan Aceh luluh lantak setelah terkena tsunami, pak Muslim bersama dengan sang ayah mencoba bangkit dengan mendirikan Usaha Dagang perikanan laut.

Pada tahun 2010, Pak Muslim bersama dengan ayahnya akhirnya mendirikan sebuah Usaha Dagang yang diberi nama Nagata Tuna yang berada di Punge Blang Cut.

Pada awalnya Nagata Tuna hanya melayani pesanan hasil laut untuk wilayah terdekat seperti Medan dan Pematang Siantar.

Nagata Tuna belum bergerak di bidang ekspor ikan karena pada waktu itu ekspor perikanan belum diperbolehkan di kirim dari Aceh..

Segala urusan ekspor perikanan pada waktu itu harus melewati Pulau Batam.

Namun seiring perkembangan pasar ikan Tuna dan diberikannya izin mengekspor langsung dari Aceh,Muslim pun mencoba untuk merambah pasar ekspor bagi tuna hasil tangkapannya.

Salah satu negara yang coba disasar oleh Muslim adalah Singapura yang merupakan negara dengan tingkat permintaan ikan Tuna terbesar untuk kawasan Asia Tenggara.

Mengembangkan Usaha dengan Dana Bergulir

Meskipun telah menemukan pasar yang tepat untuk produk Tunanya, Muslim tidak serta merta bisa menjalankan rencana bisnisnya karena terkendala biaya.

Sebagai bisnis yang sangat mengandalkan faktor tak tetap seperti hasil tangkapan dan iklim, industri ini urung ditawari kredit oleh Bank karena dikhawatirkan akan menjadi kredit macet.

Di tengah- tengah kebingungan mencari sumber dana, Muslim mendapat tawaran untuk mencoba fasilitas dana bergullir dari tim penyuluh kementerian UKM dan Koperasi yang datang kala itu.

Muslim akhirnya memutuskan nekat untuk mengirimkan proposal bisnisnya ke Jakarta untuk mendapat pinjaman.

Setelah proposalnya diterima, Muslim diwajibkan untuk mengikuti pembinaan dari tim lembaga pengelola dana bergulir untuk bisa tertib administrasi.

Dari pembinaan, Muslim diberi tugas untuk meremajakan sistem administrasi dan pembukuan yang dikelola oleh usahanya.

Setelah memenuhi syarat pembinaan dan peremajaan, Muslim akhirnya dapat memanfaatkan pinjaman dana bergulir untuk mendukung ekspornya.

baca juga

Kisah Pak Muslim yang Sukses Membangkitkan Industri Perikanan Aceh melalui Nagata Tuna

Dana tersebut digunakan untuk mendatangkan alat penunjang operasi bisnis seperti mesin pembeku berukuran 4 ton dan tempat penyimpanan ikan sebesar 50 ton.

Kecerdikan Muslim untuk memanfaatkan pinjaman dana bergullir tersebut berbuah manis setelah ia bisa menampung hasil laut hingga 40 ton.

Selain itu seiring dengan makin berkembangnya usaha yang ia jalani, ia juga dapat membuka lahan pekerjaan bagi orang lain.

Kini Nagata Tuna yang dikelola oleh Muslim telah berhasil merambah hingga pasar Jepang, Hongkong, Taiwan dan Singapura.

Mengutamakan pelayanan dan produk dengan kualitas terbaik, Muslim terus berupaya membenahi sistem operasional dari Nagata Tuna seperti mengubah status Usaha Dagang menjadi PT resmi.

Untuk pasar luar negeri, Muslim menargetkan dapat melakukan peningkatan kualitas dari segi pengemasan dan pengolahan ikan.

baca juga

    Menganggap nelayan sebagai keluarga

    Hidup akrab dengan kehidupan nelayan sejak kecil membuat Muslim memahami suka duka yang dihadapi oleh para nelayannya.

    Selain itu Muslim juga beranggapan bahwa ia tidak bisa membesarkan usaha ini tanpa adanya pengertian yang terjalin antara ia dan para nelayan.

    Oleh karena itu, Muslim berpatokan pada prinsip bahwa ia harus memperlakukan nelayan yang menyuplai untuknya sebagai keluarga.

    Karena prinsip itu, Muslim rela untuk turun ke pantai untuk banyak bercakap-cakap dan menjalin komunikasi dengan para nelayan.

    Tidak hanya banyak berjalan di pantai, kadangkala beliau juga turut menyambangi rumah para nelayan baik untuk bertamu ataupun menjenguk yang sedang sakit.

    bac juga

      Sering Mengadakan Pelatihan

      Tidak hanya membangun komunikasi, bentuk kepedulian lain dari pak Muslim juga ditunjukkan  dengan upaya meningkatkan taraf hidup para nelayan.

      Para nelayan tersebut banyak diberi edukasi mengenai tata industri perikanan untuk membangkitkan semangant berwirausaha mereka

      Tepat pada tanggal 17 Agustus 2018, Nagata Tuna bersama-sama dengan Perkumpulan Peduli Nelayan Tuna Aceh memberi pelatihan intensif kepada para nelayan.

      baca juga

      Untuk mengakomodasi kegiatan ini, Pak Muslim sampai mendatangkan instruktur perikanan langsung dari Jepang yaitu Kiyoshi Igarashi.

      Melalui hasil latihan intensif ini, Pak Muslim berharap agar tidak hanya perusahaan miliknya saja namun mayortas pelaku perikanan juga dapat bangkit. 

      Selain Nagata Tuna, lembaga bantuan seperti Japan Fund for Recovery juga turut memberi pelatihan tentang seluk beluk industri perikanan kepada para nelayan terdampak tsunami.

      Ad Blocker Detected

      Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

      Refresh
      error: Content is protected !!