Lahir Tanpa Konsep Bisnis, Dagadu Kini Jadi Ikon Jogjakarta

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Jogjakarta, rasanya masih belum lengkap jika pulang tidak  membawa oleh-olah khas daerah ini, yaitu: basik, kerajinan perak, pathuk, bakpiah dan Dagadu Djokdja!
 
Ya, Dagadu sudah menjadi salah satu ikon pariwisata Jogja lewat produk kaosnya yang berdesain khas berhias gambar dan kata-kata lucu sekaligus cerdas yang dijiwai 3 unsur yaitu Smile, Smart dan Jogja.
 
Bukan hal yang mudah untuk menciptakan sebuah brand yang menjadi ikon sebuah industri pariwisata sebesar Jogjakarta. Butuh proses panjang dan perjuangan yang tidak ringan. Apalagi sejakawal berdiri, Dagadu tidak didasari dengan niatan untuk berbisnis, melainkan untuk menyalurkan kreatifitas.
 
Kini, setelah berjalan lebih  dari 25 tahun, brand dengan logo bergambar mata ini tidak bisa dipisahkan dari Jogja. Di bawah bendera PT Aseli Dagadu Djokdja, sebanyak 5 gerai telah ditebar di beberapa sudut Kota Jogja.
 
Beberapa brand baru juga diluncurkan seperti “Dagadu Bocah”, “Hiruk Pikuk” untuk segmen low end dan DGD untuk pasar premium. Dagadu juga sudah membuka toko onlinedi www.dagadu.co.id, toko flagship Dagadu, Kolega Cafe dan Creative Space.
 
Satu hal yang tidak dilakukan oleh Dagadu yaitu membuka cabang di luar Kota Jogjakarta. Alasannya karena brand ini cinderamata ikonik yang tidak bisa dipisahkan dengan Jogja dan konsep produk Dagadu adalah bercerita tentang apa saja yang ada kaitannya dengan Jogja.
 

Bisnis Tanpa Konsep dan Perencanaan

Lahirnya Dagadu Djokdja bisa diibaratkan mengikuti aliran air yang bergerak begitu saja tanpa konsep dan perencanaan. Karena awalnya gagasan untuk membuat cinderamata khas Jogja tersebut memang berangkat dari  kumpul-kumpul bersama dari 25 mahasiswa Arsitektur UGM (Universitas Gajah Mada).
 
Alasan yang membuat mereka sering kumpul bersama karena memiliki minat dan perhatian yang sama terhadap tata kota dan pariwisata. Berangkat dari seringnya kumpul bersama itulah tercetus ide untuk membuat cinderamata khas Jogja yang bernuansa anak muda. Sebab sebelumnya belum ada cinderamata Jogja yang identik dengan anak muda.
 
Karena hampir semua dari ke-25 mahasiswa tersebut menyukai desain, akhirnya sepakat untuk membuat produk kaos yang didesain khas dengan bernuansakan Jogja. Maka lahirlah Dagadu Djokdja pada 4 Januari 1994.
 
Produk mereka awalnya hanya dipasarkan di kalangan mahasiswa dan komunitas-komunitas anak muda. Tapi ternyata mendapat sambutan yang baik sehingga muncul pemikiran untuk melakukan penetrasi pasar.
 
 
 
Pada saat itulah ada salah seorang dosen yang menawari mereka untuk masuk ke Malioboro Mall. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan dan dengan bermodal Rp.4 Juta mereka membuka counter di Lower Ground Malioboro Mall.
 
Saat memasuki pasar umum, bisnis mereka ternyata juga dapat diterima, baik oleh masyarakat utamanya para wisatawan. Sehingga Dagadu pun terus berkembang.
 
Persoalan muncul saat mereka lulus kuliah. Ketika itu sempat terpikir untuk membubarkan bisnis yang mulai merangkak besar. Namun pemikiran tersebut kemudian disingkirkan dan mereka sepakat untuk mendirikan perusahaan yang berbadan hukum dengan nama PT Aseli Dagadu Djokdja pada tahun 1997.
 
Melalui perusahaan itulah aktifitas bisnis semakin berwarna dan terus tumbuh dengan membuka unit usaha dan brandbrand baru. Namun demikian, sebagaimana umumnya bisnisbisnis yang sedang booming, pemalsuan marak dilakukan.
 
Produk-produk kaos dan merchaindes dengan desain dan logo Dagadu dijual di pinggir-pinggir jalan di sepanjang Malioboro dan di sejumlah objek wisata yang lain dengan harga yang jauh lebih rendah.
 
Awalnya pemalsuan merek tersebut dibiarkan begitu saja, karena dalam pemikiran pengelola Dagadu, mereka yang memalsukan merek tersebut sama-sama mencari rejeki. Namun pembiaran tersebut rupanya membuat aksi pemalsu semakin menjadi-jadi dengan memproduksi beribu-ribu kaos dan merchaindes.
 
 
 
baca juga
Kunci Sukses Menjadi Franchisor Leadership
5 Cara Memilih Bisnis Waralaba Terbaru
350 Daftar Waralaba Dan Franchise Mulai Dari 1 Juta sd 1 Milyar
1000.001 Ide Bisnis UKM Dengan Modal Mulai 100 Ribu
 
 
Itu sebabnya sejak tahun 2011, Dagadu menempuh langkah hukum bagi para produsen pemalsu berskala besar dengan menggunakan pasal pemalsuan merek.
 
Dalam perjalanan bisnis, sudah barang tentu bukan hanya pemalsuan merek saja yang harus dihadapi Dagadu. Masih banyak persoalan lain yang menjadi kendala. Namun, semua dapat diatasi dengan baik, bahkan menjadi bahan pelajaran untuk menjadikan Dagadu Djokdja semakin identik dengan pariwisata Jogjakarta.(*)

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!