Lokalitas Dalam Karya Cucuk Espe Di Tanah Indonesia

Categories: Branding
jasa seo

undercover.co.id – menilai karya seni indonesia dan pelaku seni yang membanggakannya adalah tugas kita , dengan sastra dan kata kita berkarya.

Lokalitas dalam Karya Cucuk Espe  (Menuju Sastra ‘Marketable’)

 

Jika ingin bertahan dalam jagad sastra Indonesia, haruslah berani membuat sastra yang marketable. Tanpa harus ‘merendahkan’ substansi sastra sebagai permenungan nilai-nilai kemanusiaan, mencipta teks sastra (hari ini) harus melihat pangsa pasar.

———————————————————-

Sastra harus mampu menembus pasar! Begitu seringkali ungkapan Cucuk Espe dilontarkan dalam sebuah perhelatan sastra. Terakhir, disampaikan secara panjang-lebar dalam sebuah sarasehan sastra di selasar Taman Budaya, Surabaya. Agak unik memang memahami jalan pemikiran seniman kelahiran Jombang, Jawa Timur ini. Sastra (puisi, prosa, drama) telah dianggap publik sebagai ‘barang’ yang susah dijual. Tetapi, bagi Cucuk Espe realitas sastra yang demikian harus didobrak.

Memahami karya-karya pimpinan Teater Kopi Hitam Indonesia ini, memang tersirat makna memecah kebekuan karya seni, khususnya sastra, ketika berhadapan dengan pasar (market). Cermati saja sejak kemunculan karya drama-nya berjudul ’13 Pagi’, Inong: Dongeng Rumah Jalang, Manivesto Orgil’, dan beberapa buku antara lain ‘Jentir’ tersirat kekuatan membongkar keterasingan sastra di mata publik awam.

budayawan cucuk espe

Rupanya, apa yang digagas Cucuk Espe bersama kelompok teaternya ini memiliki alasan cukup kuat. Memasuki era 2000an, dimana teks sastra mulai tergeser oleh ‘dunia digital’, sastra semakin ditinggalkan penikmatnya. Publik telah memiliki banyak pilihan untuk melampiaskan hasrat estetiknya. Sastra pun menjadi pilihan terakhir atau malah tidak dipilih sama sekali. Kenyataan pahit inilah yang harus dihadapi teks-teks sastra hingga saat ini.

Oleh karena itu, jika ingin bertahan dalam jagad sastra Indonesia, haruslah berani membuat sastra yang marketable. Tanpa harus ‘merendahkan’ substansi sastra sebagai permenungan nilai-nilai kemanusiaan, mencipta teks sastra (hari ini) harus melihat pangsa pasar. Ya! Sastra yang mampu menembus pasar publik pembacanya yang akan bertahan. Pertanyaan selanjutnya, apa yang membuat sastra layak masuk pasar dan diterima oleh publik?

Dengan tegas, Cucuk Espe melontarkan gagasan lokalitas sebagai modal utama meng-create karya yang marketable. Rupanya, dia telah mengawali sejak tahun 2010 dengan mementaskan lakon ’13 Pagi’. Dalam lakon tersebut persoalan korupsi dianggap sesuatu yang menjadi trending di Indonesia. Potret kekinian bangsa ini adalah tumbuh suburnya budaya korup. Realitas ini begitu mudah dipahami oleh awam apalagi pilihan bentuk lakon yang realis.

Berikutnya, dalam cerpen ‘Jentir’ yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama. Jentir merupakan nama sebuah wilayah di Nganjuk, Jawa Timur yang hingga kini menjadi sangat keramat karena tidak ada pejabat satu pun yang berani masuk desa tersebut. Mitos yang berkembang, siapapun yang berani masuk Desa Jentir akan mendapat celaka di kemudian hari. Terbukti, beberapa kali peristiwa mobil petinggi dari kabupaten setempat celaka dalam perjalanan, setelah berani masuk Jentir.

Menariknya, ketika cerita yang dibingkai mitos ini, menemukan titik konfliknya yakni banyak perempuan Jentir yang sulit menemukan jodohnya. Siapa berani menyunting perempuan Jentir?

Sastra harus realis, logis, dan mengusung problem yang dekat dengan penikmatnya. Inilah yang dinamakan lokalitas. Dimana lokalitas inilah kekuatan untuk mendekatkan sastra dengan penikmatnya. Sehingga pasar sastra tidak hanya terhenti pada mahasiswa sastra dan komunitas-komunitas kecil saja. Dan di masa depan, sastra Indonesia akan mampu menjadi identitas bangsa di belantara percaturan global.

 

Idealisme Cucuk Espe

            Berkarya membutuhkan idealisme karena idelisme adalah gambaran visi creator terhadap dunianya. Idealisme Cucuk Espe adalah menciptakan sastra yang marketable. Oleh karena itu, tidak tabu manakala diskusi sastra membincang ‘seni menjual’ sebuah karya. Menjual bukan berarti melacurkan sebuah karya yang sarat nilai kehidupan. Seni menjual menjadi bagian tak terpisahkan karena teks sastra merupakan bagian dari masyarakat. Seni menjual juga menjadi setrategi pegiat sastra untuk mendekatkan diri dengan publik.

Terdapat anggapan keliru –bahkan dikalangan pegiat sastra sendiri—bahwa ketika sastra harus dijual maka dianggap sastra picisan, sastra koran, sastra stensil, dan lain sebagainya. Anggapan tersebut, menurut Cucuk Espe, yang membuat teks sastra teralienasi dari masyarakat. Publik men-cap teks sastra adalah bacaan rumit dan susah dimengerti. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka sastra Indonesia akan kehilangan penikmatnya.

Aktivitas Cucuk Espe mengadakan pentas keliling ke sejumlah kota besar di Indonesia dengan mengusung lakon-lakon realis, merupakan wujud mendekatkan diri seni drama (termasuk teks lakonya) kepada publik. Dimana drama sebagai bagian dari sastra adalah bentuk aktivitas yang mudah dipahami. Hasilnya, sejumlah lakon karya Cucuk laris manis dipentaskan sejumlah komunitas teater di Tanah Air.

Seni menjual dalam sastra adalah usaha untuk membumikan karya sastra. Lokalitas menjadi aspek paling manjur untuk menarik empati publik. Seniman yang pernah menjadi cerpenis terbaik II FolkFest di Bangkok, Thaliland (2010) ini telah mencoba mengkolaborasi idealisme bersastra dan pasar sastra yang masik sengkarut. Pasar sastra harus dibentuk melalui beragam kegiatan yang mudah dicerap oleh publik. Dengan demikian sastra tidak berdiri di menara gading namun akhirnya mati karena kesepian.

Seniman yang menjad kolomnis di sejumlah media massa nasional ini telah mengawali dan membuat gerakan ‘sastra marketable’. Era digital telah mengubah seluruh aktivitas manusia, termasuk dunia sastra. Kehadiran karya sastra non teks (cyber) juga memberi kontribusi memasarkan teks-teks sastra. Sayangnya, menurut Cucuk Espe, jika diamati kemunculan cyber sastra, masih menggunakan spirit lama. Yakni mengusung realitas yang jauh dari publiknya sehingga pembacanya pun sangat terbatas. Padahal meruahnya ruang-ruang digital menjadi sarana paling jitu untuk menembus pembaca litas generasi, status  sosial, hingga batas geografis.

Kembali kepada pokok persoalan, dengan mengusung lokalitas dalam karya-karyanya, Cucuk Espe telah memiliki posisi penting di jagad sastra Indonesia. Potret masyarakat hypermodern dengan perilaku ‘primitif’ menjadi realitas paradoks yang kita alami saat ini. Realitas lokal masyarakat kita adalah realitas yang paradoks. Dan sastra sebagai bagian dari kebudayaan memiliki tanggung jawab untuk menyadarkan publik agar memahami dirinya secara utuh; menjadi Indonesia dengan segala kekayaan lokalitasnya.

Kini, seniman yang terus giat melakukan pentas keliling ini, terus mewacanakan menciptakan sastra marketable. Publik sastra adalah market sastra yang harus dibina dan dibentuk. Dalam dunia bisnis, menurut Cucuk Espe, brand menjadi penting. Dan dalam dunia sastra, brand tersebut adalah karya itu sendiri dan jati diri senimannya. Berkaca dari tokoh-tokoh sastra Indonesia di masa lalu, dimana karya dan eksistensi penulisnya seolah menyatu maka saat ini, integrasi keduanya harus semakin direkatnya dalam bingkai nilai-nilai lokal.

Baca Juga

  1. Apakah Anda Tahu Perbedaan BRAND dengan BRANDING ?
  2. Jadi Brand Ambassador Merek Terkenal? Bisa! Lakukan 5 Tips Ini!

Sebagai seniman kelahiran Jombang, Jawa Timur, kepekaan menangkap pluralisme lokal terasa dalam setiap geraknya. Jombang sebagai wilayah plural (apalagi bervisi: City of Tolerance) semakin menguatkan idealismenya dalam berkarya. Bahwa lokalitas menjadi keluatan besar untuk menembus pasar sastra nasional bahkan internasional. Dalam banyak kesempatan di kegiatan skala nasional, Cucuk Espe juga seringkali mengungkapkan celetukan yang menarik. Bahwa ‘saya ini orang Indonesia tetapi saya orang Indonesia yang bergaya nJombangan’.

Cukup menggelitik dan itulah Cucuk Espe!***

penulis adalah cucuk espe sendiri dengan hak menulis bekerjasama dengan undercover.co.id , sebagaimana cerita cucuk espe di wikipedia

foto dari berbagai sumber : puisi cucuk espe blogger

jasa seo

Your Thoughts