Makan Asyik di De Tuik

Makan Asyik di De Tuik

Membicarakan tempat makan di Bandung rasanya memang tak ada habisnya. Aneka jenis hingga suasana makan tersedia di sini. Kali ini saya menemukan salah satu tempat makan di daerah Bandung Atas, tepatnya di kawasan Cikutra.

Namanya De Tuik café & resto. Untuk menuju tempat makan ini, kita bisa masuk dari jalan Cikutra melalui Bojong Koneng Atas. Meski kadang-kadang lalu lintas di sekitar jalanan tersebut cukup padat, De Tuik café & resto bisa menjadi pilihan jika ingin mencoba suasana baru yang jauh dari keramaian kota.

Nama ‘De Tuik’ ternyata merupakan singkatan dari kalimat dalam bahasa Sunda, Deudeuieun Tuang Ieu Katuangan. Dalam bahasa Indonesia, kalimat itu bisa diartikan menjadi ‘Terus makan ini makanan’. Sang pemilik, Ina Wiyandini, memang berharap makanan yang disajikan bisa membuat pengunjung ingin kembali lagi ke tempat itu dan makan lagi.

Soal menu, De Tuik café & resto mengusung aneka menu tradisional Sunda. Nasi tutug oncom dan timbel komplit adalah beberapa menu andalan mereka. Ada juga nasi liwet castrol yang bisa dimakan untuk empat orang.

Favorit saya sendiri adalah nasi cikur (kencur). Nasinya wangi, tetapi tidak terlalu menyengat. Rasanya juga pas dan lauknya disajikan dalam porsi yang cukup. Untuk paket nasi cikur ini, kita sudah mendapatkan sepotong ayam goreng atau bakar, tahu dan tempe goreng, serta sambal lalap. Adapun kalau nasi timbel, kita akan mendapatkan tambahan karedok dan sayur asem.

Masih belum kenyang? Kafe yang masih bernuansa tradisional ini juga menyediakan aneka cemilan di antaranya french fries, tempe mendoan, pisang goreng, batagor, dan bala-bala.

Yang unik adalah penyajian bala-bala raksasanya. Berbeda dengan bala-bala pada umumnya yang disajikan untuk sekali makan, bala-bala De Tuik ini berukuran cukup besar dan disajikan seperti pizza. Saat saya mencoba, rasanya sedikit asin sehingga menurut saya lebih enak dicocol saus atau dimakan dengan cabe rawit.

Soal harga, De Tuik cafe & resto menawarkan harga yang masih bersahabat, Aneka menu tradisionalnya dipatok dengan harga Rp 8.000,00 – Rp 25.000,00 untuk satu porsi. Paket nasi seperti nasi tutug oncom, nasi timbel komplit, dan nasi cikur adalah Rp 25.000,00.

Adapun untuk  nasi liwet castrol yang memang dikhususkan untuk menu keluarga, harganya adalah Rp 120.000,00. Minumannya sendiri cukup beragam dan harganya masih terjangkau, Rp 5.000,00 – Rp15.000,00.

Yang asyik dari De Tuik ini adalah tempat dan suasana yang ditawarkan. Terletak di Kampung Haur Manggung, nuansa pedesaan yang asri masih terasa di sini. Bila makan di area luar kafe pada siang hari, kita akan disuguhkan pemandangan gunung yang tenang plus angin yang sejuk.

Sambil menunggu pesanan makanan datang, kita juga bisa berjalan-jalan sejenak ke area restoran dan melihat beberapa hewan peliharaan seperti kelinci dan burung. Kerimbunan pohon yang menyambut di jalan masuk juga seakan memperkuat kesan alami dari tempat makan ini.

 

 

Tak hanya orang Bandung, tempat makan ini sering menjadi tujuan kuliner beberapa wisatawan luar kota. De Tuik memang sering digunakan sebagai tempat meeting, gathering, maupun resepsi pernikahan.

Saat saya berkunjung ke sana, ada rombongan wisatawan dari Jawa Timur yang sedang mengadakan gathering dan dijamu langsung oleh Ibu Ina. Sang pemilik ini berbagi kiat-kiat dalam berwirausaha dan sedikit banyak saya bisa ikut mendengarkan tipsnya. Lumayan, menambah ilmu. He-he.

Makan enak, suasana asyik, mendapat ilmu berbisnis pula. Penasaran? Langsung coba ke De Tuik cafe & resto ya!

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!