Mesin Waktu itu Bernama Komunitas Hong

Mesin Waktu itu Bernama Komunitas Hong

Pasti ada masanya kita kangen pada mainan masa kecil. Jauh sebelum kata “main” berarti log-in Mobile Legends atau permainan-permainan sejenis, cara kita bersenang-senang adalah dengan cara berkumpul dengan kawan-kawan dan memainkan permainan yang kreatif alias kita bikin sendiri.

Timbul juga perasaan pilu ketika melihat Si Kecil, baik anak kita maupun sanak saudara, yang karena mainnya di gadget atau komputer badannya jadi gendut, atau perangainya jadi sangat malas.

Soalnya susah dipungkiri, menggerakkan badan itu sehat. Walaupun permainan teknologi itu menyenangkan dan mencerdaskan, memiliki tubuh yang fit juga merupakan prasyarat untuk hidup yang baik. Makanya ada pepatah men sana in corpore sano—di dalam tubuh yang sehat pasti ada jiwa yang kuat.

Karena itulah, komunitas Hong berdiri. Tempat ini adalah alternatif yang sangat menggoda buat sobat travel yang sudah pada punya anak, atau bagi kamu-kamu yang sudah bosan menjelajahi Bandung untuk belanja, mengagumi alam, atau foto-foto cantik. Di sini, kita bakal dibawa kembali ke zaman 1980-1990an yang permai dan hijau.

 

Berlokasi di Jalan Bukit Pakar utara No. 35, Pakarangan Ulin Dago Pakar, perjalanan menuju ke sana—baik menggunakan angkot, ojek, maupun kendaraan pribadi—saja sudah bisa menjadi rekreasi tersendiri. Pasalnya, pemandangan Taman Hutan Raya Djuanda yang menenangkan sangat memanjakan mata. Bau udara di sini juga sudah relatif bersih, sehingga luangkan waktu untuk buka jendela dan menghirup dalam-dalam.

 

 

Sudah Berdiri Sejak 2005

Komunitas yang akan kita tuju ini rupanya sudah berdiri sejak tahun 2005. Penggagasnya, Moammad Zaini Alif, sejak tahun itu sudah melibatkan anak-anak di sekitar untuk usaha melestarikan permainan tradisional. Bukan cuma memainkan, dia juga melestarikan keberlangsungan mainan tradisional yang ternyata sudah sangat banyak. Sebut saja, dari Sunda sendiri ada 250 jenis permainan. Dari Jawa Timur dan Jawa Tengah ada 231 mainan, sedangkan Lampung sendiri 50. Whoa!

 

Usaha yang giat ini berawal dari keprihatinan Mas Zaini Alif. Selain itu, dia juga merasa sayang kalau mainan tradisional yang semuanya mengandung nilai filosofis ini bakal jadi langka, atau bahkan hilang dan tak terlupakan. Mainan petak umpet misalnya, akan mengasah daya konsentrasi dan kemampuan kita mengenali sekitar. Menyusun batu untuk boy-boyan berarti mengutamakan kecermatan dan mengaplikasikan fisika sederhana.

Di depan gerbang masuk, nanti kita akan ditarik harga tiket Rp 50.000, 00. Mahal? Enggak juga kalau dibandingkan dengan kesenangan yang bakal kita dapat nanti.

Pertama-tama, suasananya masih etnis dan asli sekali. Rasanya kayak teknologi enggak pernah ada di tempat ini. Rumah-rumahnya sebagian besar terbuat dari kayu, bambu, dan jerami padi. Di mana-mana terdengar suara tawa anak-anak yang merasa seru bermain ucing-ucingan (petak umpet), gobak sodor, boy-boyan, dan sebagainya.

Anak-anak, dan para orang tua mereka yang rupanya kangen dengan mainan jenis ini. Kalau tidak suka berlari-larian, kalian bisa juga kok duduk di sanggar tersendiri tempat kita bisa bikin pedang-pedangan atau keris-kerisan dari daun janur (kelapa).

 

Tidak kalah spektakuler, di sana ada kantin yang cuma menyediakan hidangan tradisional yang menyehatkan. Jangan harap bisa menemukan ayam goreng tepung di sini, haha! Tapi, rasanya tidak kalah kok.

Sebagai ilustrasi, yang kami pesan waktu itu adalah pelecing kangkung yang dihidangkan bersama urapan kelapa, dan ikan saluang. Sebagai pelengkap, kami pesan juga kacang rebus, ubi rebus, lodeh kembang honje dan jantung pisang. Minumnya bir bandrek. Rasanya top! Mungkin karena bahannya segar, jadi rasa setiap tanaman dan bahan yang digunakan teraksentuasi sempurna padahal bumbunya hanya sedikit.

Bir bandrek yang hangat itu juga seperti penutup yang manis bagi perut kami, menentramkan. Ups, jadi serdawa.

Yang bikn seru, hidangan-hidangan ini tidak pakai piring, melainkan mangkok batok kelapa dan piring tanah liat dialas daun pisang. Minumannya juga sama, memakai batok kelapa yang sempat dihangatkan sebentar. Hmm, kebayang ‘kan rasa manis-hangat kelapa yang sudah dimasak seperti ini? Pantesan beberapa pengunjung yang kami temui mengaku ke sini bukan buat main, tapi untuk merasakan makanan kantinnya yang memang endes!

 

 

Jadi, ayo dong! Buruan ke sini. Letakkan dulu gadgetmu demi melepaskan penat dan kembali ke masa lalu yang tenang serta menyehatkan. Jangan lupa bawa si kecil kesayangan. Kayak kata Bung Karno, jangan sesekali merupakan  sejarah—akar kita, masa kecil kita, bangsa kita.

 

 

KOMUNITAS HONG

  • Jam Buka: 08.00 – 19.00
  • Alamat: Jalan Bukit Pakar Utara 35 Dago, Bandung, 40198
  • Harga Tiket Masuk: Rp 50.000, 00
  • Telepon:+62 22 2515775

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!