MORRIS Perfume Bangun Citra, Dongkrak Penjualan

undercover.co.id – MORRIS Perfume , Parfum telah lama dikenal sebagai pelengkap berbusana sejak lama. Ini menjadi alasan Olivia Regina memutuskan mendirikan bisnis ini sejak tahun 2009. Berbekal dengan pengalamannya mengimpor parfum dan kemudian menjualnya, Olivia memutuskan mengelola bisnis parfum dengan merek sendiri. Bersama rekan-rekannya, ia merilis bisnis parfum dengan merek Morris. Meski terbilang sukses, ia mengaku perjalanan bisnisnya tidak mulus seperti jalan tol. 

Pada awal berdirinya, Olivia mengaku kesulitan saat memasarkan Morris. Namun, ia tidak patah arang. “Toko tidak mau menjual barang kami karena mereka belum mengenal merek Morris. Saat itu, kami belum beriklan di televisi sehingga tidak banyak orang mengenal. Bahkan, untuk masuk minimart saja kami mengalami sejumlah penolakan dan baru bertahun-tahun kemudian, kami diizinkan masuk,” kenang Olivia. 

Dari situ, perempuan ini menyadari pentingnya menguasai ilmu pemasaran. Karena didirikan di era sebelum media sosial semasif sekarang, Morris melakukan aktivasi secara below the line maupun above the line dengan mulai beriklan di televisi, billboard, hingga radio. Dengan ini, brand image Morris mulai dikenal dan mendapat tempat di hati para pelanggannya. 

Morris secara harga cukup ramah di kantong. Parfum Morris dijual di rentang harga mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 40.000. Dua hal ini membantu Morris lebih dikenal dan merambah pasar lebih besar.

“Karena kami merasa dulu orang pakai parfum itu harus orang berada. Apalagi kalau zaman ratusan tahun yang lalu, mungkin hanya bangsawan yang bisa pakai parfum. Tapi, kami ingin sekarang parfum ini menjadi produk yang wajib digunakan kalau mau keluar rumah. Bukan cuma orang harus mandi dan gosok gigi, parfum itu harus menjadi keseharian orang-orang. Makanya, kami membuat parfum ini harus affordable,” kata Olivia. 

Untuk mempertahankan citranya sebagai parfum yang ramah di kantong, perubahan pemasaran pun dilakukan. Bila dulu pemasaran dilakukan secara below the line dan menggunakan media konvensional, kini pemasaran lebih banyak digarap secara digital. Terlebih di area kota-kota besar seperti di Jakarta. Namun, untuk beberapa kota, pemasaran menggunakan media konvensional masih dilakukan.

Morris hingga kini tidak mempunyai toko fisik. Penjualan lebih banyak dilakukan melalui jalur ritel karena titik distribusinya yang lebih luas dan mampu menjamah pasar yang lebih luas. Di luar ritel, penjualan offline usaha ini juga dilakukan secara musiman seperti acara Pekan Raya Jakarta, dan ekspo lainnya. Morris juga gencar melakukan penjualan secara daring melalui e-commerce dan media daring lainnya.

MORRIS Perfume
MORRIS Perfume

Brand image menjadi kunci bagaimana Morris melebarkan jalur bisnisnya. Semakin dikenal merek di mata publik, semakin banyak pula jalur distribusi yang bisa dikembangkan. Contohnya melalui ritel-ritel, bahkan hingga ekspor ke luar negeri. Morris bekerja sama dengan salah satu ritel terbesar di Indonesia. Dari kerja sama ini, setidaknya ada 40.000 titik distribusi lebih yang dioperasikan. Usaha ini kini juga memiliki titik distribusi dari Sabang hingga Merauke. Urusan omzet, usaha ini mampu menjual jutaan botol per bulannya menurut Olivia.

Go International

Selain itu, di sisi ekspor, Morris sudah merambah ke 20 negara tujuan. Negara yang paling banyak memesan antara lain Malaysia, Brunei, Darussalam, Sri Lanka, Fiji, dan Hong Kong. Berbekal pengalaman menjual parfum impor sebelum memulai usaha ini, dengan mudah masuk ke pasar negara tujuan. 

Selain itu, Morris mampu berkolaborasi dengan merek besar seperti Disney. Teranyar, Morris menjalin kerja sama untuk edisi parfum Disney100 untuk ulang tahun Disney yang ke-100. 

Selain Disney, merek besar lainnya yang sudah mengikat kerja sama dengan usaha ini adalah Warner Bros. Olivia mengatakan bahwa usaha ini akan merilis parfum dengan tema karakter superhero, seperti Flash dan Aquaman. Menurutnya, parfum kolaborasi ini akan dirilis sekitar Oktober dan Desember.

Meski kini sudah memiliki nama besar, perjuangan Morris tak selalu mulus. Selain ditolak sejumlah ritel pada tahun-tahun pertama bisnis berjalan, usaha ini juga harus mengalami sejumlah kegagalan untuk pengembangan produk. Selain itu, sulitnya perizinan untuk ekspor juga dialami oleh usaha ini.

Setelah memiliki nama besar, usaha ini menurut Olivia akan berfokus ke lini produk skincare. Olivia menyebut usaha ini sudah melakukan pengembangan produk skincare ini sejak empat hingga lima tahun silam. Selain itu, pabrik produksi untuk parfum Morris sendiri mampu dan sudah sesuai standar pabrik untuk produksi produk kosmetik.

baca juga

    Diberi nama Ginza, produk ini dibuat karena permintaan akan produk perawatan diri yang mulai meningkat, terlebih sejak pandemi. Selain itu, permintaan terhadap skincare lokal yang tinggi juga menjadi alasan mengapa ini menjadi fokus usaha. 

    “Toko tidak mau menjual barang kami karena mereka belum mengenal merek Morris. Bahkan, untuk masuk minimart saja kami mengalami sejumlah penolakan.”

    Olivia Regina
    Pemilik Morris Perfume

    Leave a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×

     

    Hello!

    SEO Manager Kami Membantu Anda

    × SEO Consultation