Museum Konferensi Asia Afrika – Destinasi Wisata Edukasi di Jantung Kota Bandung

Museum Konferensi Asia Afrika – Destinasi Wisata Edukasi di Jantung Kota Bandung

Museum Konferensi Asia Afrika atau dikenal dengan Museum KAA menjadi salah satu destinasi wisata di kota Bandung. Wisata bertema edukasi sejarah ini bisa ditemukan dengan mudah di pusat kota.

Tak hanya menyajikan dokumen atau artefak sebagaimana museum lainnya, Museum Konferensi Asia Afrika juga menyiapkan beragam fasilitas yang siap memanjakan pengalaman para pengunjungnya.

Sebelum mengulas lebih jelas tentang beragam fasilitas yang ada di Museum Konferensi Asia Afrika, mari simak dulu beberapa ulasan terkait dengan latar belakang serta tujuan adanya museum KAA.

 

Latar Belakang Museum Konferensi Asia Afrika

Museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1980 tepatnya pada tanggal 24 April ini menjadi salah satu tempat bersejarah di Indonesia. Semenjak kemerdekaan dan perang dunia II di tahun 1945, situasi pergolakan antar bangsa tak kunjung mereda.

Banyaknya penjajahan serta perang antara blok timur dan barat juga sangat mengkhawatirkan. Belum lagi senjata nuklir yang dikhawatirkan bakal jadi salah satu pemicu perang dunia lanjutan.

Dalam situasi yang masih belum menentu itulah dilangsungkan sebuah rapat antar negara Asia dan Afrika pada tanggal 18 – 24 April 1955. Pertemuan tersebut kemudian disebut dengan Konferensi Asia Afrika.

Konferensi Asia Afrika pertama kali diadakan di Gedung Merdeka dan diikuti 29 negara. Hasil kesepakatan dari KAA terkenal dengan Dasasila Bandung. Hasil dari konferensi inilah yang kemudian menjadi pedoman bagi bangsa-bangsa yang ada di kawasan Asia Afrika untuk saling menggalang kerjasama dan juga solidaritas.

 

Sejarah Gedung Merdeka

Gedung Merdeka adalah saksi dari sejarah. Gedung yang telah berdiri sejak tahun 1895 ini awal mulanya adalah tempat berkumpulnya orang-orang Eropa dan Societeit Concordia.

Pembangunan gedung memiliki gaya art deco yang sangat khas. Ditahun 1940, Gedung Merdeka kemudian diberikan sentuhan arsitektur internasional oleh AF. Aalbers dengan tujuan agar anggota dari Societeit Concordia semakin banyak.

Ketika masa penjajahan Jepang, gedung Merdeka digunakan sebagai pusat kebudayaan dan mengalami perubahan nama yakni Dai Toa Kaikan. Barulah menjelang Konferensi Asia Afrika, Presiden Soekarno mengubah nama gedung ini menjadi nama yang kita kenal saat ini, Gedung Merdeka.

 

Tujuan adanya Museum Konferensi Asia Afrika

  1. Menyajikan beragam informasi dan peninggalan sejarah yang berkaitan erat dengan kejadian Konferensi Asia Afrika mulai dari latar belakang sampai peranan Indonesia dalam kancah politik.
  2. Mengolah dan menyajikan buku atau majalah atau naskah atua dokumen yang isinya berupa uraian terkait dengan epranan negara-negara di Asia Afrika dalam kehidupan sosial budaya dan politik pada khususnya.
  3. Museum Konferensi Asia Afrika bisa turut menunjang peningkatan pariwisata, pendidikan, serta pengembangan kebudayaan nasional.
  4. Meningkatkan kerjasama antara negara-negara yang termasuk anggota Konferensi Asia Afrika, serta anggota lain diluarnya.

 

Fasilitas Museum Konferensi Asia Afrika (KAA)

  1. Ruang Pameran Tetap
    Museum Konferensi Asia Afrika menyajikan ruang pameran tetap yang berisikan foto dokumenter terjadinya KAA , ada pula beragam benda 3D, serta profil dari negara-negara yang mengikuti KAA.
  2. Perpustakaan
    Bagi Anda yang suka mempelajari sejarah, disini ada sebuah perpustakaan dimana didalamnya berisikan buku-buku seputaran sosial, politik, dan sejarah negara-negara di Asia dan Afrika. Tak hanya itu, adapula dokumen terkait dengan konferensi pendahulu dari KAA, surat kabar, majalah hingga “Braille Corner” yang disediakan untuk tunanetra.
    Perpustakaan KAA ini diprakarsai pada tahun 1985 oleh Abdullah Kamil yang kala itu menjabar sebagai Kepala Perwakilan KBRI di London.
  3. Wifi
    Koneksi internet dan sarana multimedia khususnya komputer tersedia untuk memfasilitasi para pengunjung.
  4. Ruangan audiovisual
    Ruangan audiovisual ini juga diprakarsai bersamaan dengan dibukanya perpustakaan. Selain dokumen dan foto, Museum Konferensi Asia Afrika juga menyiapkan film-film dokumenter yang berkaitan dengan KAA serta berbagai kondisi dunia di masa 1950an. Ada pula pemutaran film tematik serta diskusi yang diadakan secara berkala untuk mengenal lebih dekat kehidupan dari bangsa-bangsa yang ada di Asia Afrika.
  5. Riset
    Selain menjadi tempat pameran sejarah, museum KAA juga menjadi tempat riset berbagai mahasiswa baik dalam maupun luar negeri. Tak hanya dalam rangka meningkatkan studi yang berada di lingkup Asia dan Afrika, disini juga menyuediakan fasilitas-fasilitas bagi mereka yang hendak melakukan penelitan-penelitian.

 

Aktivitas di Lingkup Museum Konferensi Asia Afrika

  1. Kegiatan komunitas
    Museum KAA memiliki beberapa program publik berkonsep Participatory Museum. Hal ini terwujud atas jalinan kerjasama dengan berbagai komunitas
  2. Pemandu
    Museum KAA menyediakan pemandu untuk empat bahasa yakni bahasa Perancis, Inggris, Indonesia dan Sunda. Nah, jika memerlukan pemandu, khususnya bahasa Asing, Anda bisa melakuka reservasi dahulu sebelumnya.
  3. Pameran temporer tematik
    Sekarang ini secara berkala Museum Konferensi Asia Afrika mengadakan pameran temporer tematik. Pameran ini erat kaitannya dengan Kerjasama Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika juga Semangat Bandung.
    Berbagai komnitas saling bekerjasama untuk mengembangkan wawasan terkait politik internasional, sejarah, diplomasi antar warga, diplomasi publik serta politik luar negeri di masa mendatang.
    Kegiatan yang diadakan antara lain pameran, klab budaya, diskusi film atau buku, hingga menyelenggarakan festival.
    Informasi lebih lengkap terkait dengan pameran ini bisa dicek di www.mkaa.or.id.

 

Peraturan untuk pengunjung

Sama halnya ditempat lain, Museum KAA ini juga menerapkan beberapa  peraturan untuk pengujungnya. Contohnya seperti larangan untuk berlarian, berbicara dengan intonasi yang keras, makan atau minum, membawa senjata tajam, membawa hewan peliharaan, berfoto dengan tripod atau kilat, menyentuh artefak, dan beberapa peraturan lainnya.

Salah satu tujuan ketatnya aturan ini antara lain untuk menjaga agar artefak yang ada di museum bisa terjaga dengan baik

 

Museum Konferensi Asia Afrika (KAA)

Alamat                                 : Jl. Asia-Afrika no. 65, Bandung

Jam buka                            : 08.00 – 15.00 WIB (Senin – Jumat)

Harga tiket                         : –

Keterangan lain                : Kunjungan berkelompok (lebih dari 25) dan berkebutuhan khusus harap melakukan reservasi sebelumnya

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!