Pertanian Merambah Startup? Ini 3 Startup AgTech yang Lagi ‘Hot’ di Asia Tenggara

jasa seo

undercover.co.id – Pertanian tak melulu konvensional. Asia Tenggara sebagai produsen seperempat dari kebutuhan beras dunia dan 90% minyak kelapa, agricultural tech atau Ag Tech adalah peluang terbesar bagi inovasi startup di wilayah tersebut. Bisa berupa teknologi drone untuk tanah dan tanaman, wilayah Asia Tenggara punya banyak keuntungan untuk memanen tanaman yang lebih baik. Nah, ini tiga tren ter’hot’ di Asia Tenggara terkait dengan ruang lingkup AgTech.

aplikasi pertnian

Baca juga: Bangun Startup? Minimkan Potensi Gagal Dengan 5 Strategi Penting Ini!

 

[signinlocker id=”7304″]

i-Grow

Perusahaan asal Indonesia ini hadir dengar berbagai cara memanfaatkan lahan nganggur sehingga bisa dimanfaatkan untuk bertani. Enggak secara harfiah mencangkul, tapi dengan berinvestasi pada beih. Premis dasarnya yaitu kita membeli benih, ikuti perkembangan tanaman melalui aplikasi dan ketika saatnya panen, saat itu pula kita mendapat keuntungan. Satu kali investasi pada alpukat senilai Rp 2,5 juta bisa memberikan keuntungan per tahun 15%. I-Grow yang telah menanam sekitar 10,000,000 pohon menargetkan para warga perkotaan untuk hidup lebih dekat dengan alam.  Bersama dengan restoran farm-to-table dan penanaman vertikal, i-Grow sedang menciptakan tren sekaligus menawarkan finansial pascapanen yang menguntungkan.

CI Agriculture

Teknologi bisa menurunkan biaya terdengar seperti counter-intuitive. Walaupun begitu, teknologi bisa jadi mahal. Tapi CI Agricultre yang berbasis di Indonesia ini berharap data mereka bisa mengurangi biaya bagi petani. Satu keunikan tentang pertanian Asia Tenggara adalah tanahnya kerap terbagi untuk banyak petani kecil. Petani yang enggak bisa membeli lahan dikenakan bunga yang tinggi untuk pinjaman, seringkali terlalu tinggi hingga 40%. CI Agriculture menggunakan semacam ‘credit scoring’ untuk melihat potensi output penanaman. Perusahaan menggunakan satelit, drone, dan data sensor untuk memahami potensi lahan – dari aspek tanah, cuaca dan faktor lainnya. Pada salah satu pilot programnya, CI sudah mampu meningkatkan panen dari pertanian jagung hingga 60% dan mengurangi biaya pertanian, termasuk mengurangi sisa bahan-bahan kimiawi hingga 25%.

Garuda Robotics

Drone bisa jadi alat yang menyenangkan untuk iseng atau mengambil foto dari udara. Mesin bertenaga ini ternyata juga punya banyak fungsi praktis loh terutama untuk pertanian. Menurut Mark Yong, CEO Garuda Robotics yang berbasis di Singapura, permasalah pertanian ada dua yaitu biaya yang tinggi dan hasil yang enggak mencukupi permintaan pangan global. Untuk mengatasi masalah tersebut, perusahaan Yong menggunakan teknologi drone dan sistem data untuk menghasilkan solusi yang sesuai dan telah bekerjasama dengan 25 perusahaan berbeda dalam kurun waktu 18 bulan ini.

Menanam kelapa sawit misalnya, biaya perawatan bisa sebesar 40-55% yang dialokasikan untuk pupuk kimia sintetik. Atau petani bisa saja menyemprot pestisida di seluruh lahan untuk mencegah penyakit sebelum menyebar. Di sinilah Garuda Robotics memanfaatkan drone sebagai ‘mata’ untuk melihat di lapangan dan mengambil data, misalnya mana lahan yang subur atau mana lahan yang terinfestasi penyakit.

Pertanian di Amerika Utara dan Eropa sangat bergantung pada softaware, di Australia prosesnya lebih bergantung pada peralatan. Tapi di Asia Tenggara masih bergantung pada tenaga manusia.

Dengan kekhawatiran populasi penduduk dunia yang kian bertambah, sedangkan tak cukup tersedia pangan yang dibutuhkan, wilayah Asia Tenggara membutuhkan peningkatan efisiensi yang cepat dan AgTech mungkin saja menjadi pertaruhan terbaik saat ini. Apa kamu punya ide untuk menyelesaikan masalah pertanian kita seperti mereka?

[/signinlocker]

 

Baca juga: Bisnis Kuliner Merambah Dunia Startup, Binis Pizza Ini Sukses Besar Dengan Mempekerjakan Robot

 

aplikasi pertanian

jasa seo

Your Thoughts