Published On: Thu, Sep 11th, 2014

Prioritas pada Nilai Tambah

RI Harus Prioritas pada Nilai Tambah |

Pemerintahan Presi- den terpilih Joko Widodo  disaran- kan  untuk memprioritaskan nilai tambah barang dan jasa agar Indonesia mampu bertahan lebih kuat  dalam  orde perdagangan bebas  yang baru.
Hal itu disampaikan oleh man- tan Dirjen Organisasi Perdagangan Dunia  (WTO) Pascal Lamy yang berpendapat tidak  ada jalan  bagi Indonesia selain  memacu nilai tambah untuk dapat  mengatasi hambatan nontarif yang banyak dicuatkan oleh negara-negara maju.
“Itu satu-satunya solusi.  Ham- batan  nontarif tidak  mungkin direlaksasi. Jadi,  satu-satunya jalan  adalah meningkatkan kapasitas untuk mengejar pasar global,  perbaiki supply  side-nya. Peningkatan kapasitas untuk menyesuaikan standar global
sangat  krusial, dan itu seharusnya menjadi prioritas jika Anda ingin Indonesia mengambil manfaat
dari ‘free trade’ ini,” kata  Pascal, Rabu (10/9).
Perbaikan juga harus dilakukan terhadap para  negosiator perdagangan di WTO. Menurutnya, sebagian besar  negosiator dagang, khususnya dari ekonomi berkem- bang,  masih  terjebak dengan pola pikir merkantilisme.
Dia menegaskan negara  seperti Indonesia akan  tergilas  dalam orbit perdagangan bebas  apabila pola pikir merkantilisme bahwa
‘mengimpor buruk, mengekspor baik’ masih  tetap  dipertahankan. “Terus  terang, itu pemikiran yang kolot.”
Dia menjelaskan sistem  perda- gangan dunia sedang  bertransisi dari orde perdagangan lama  yang secara  skema  berbasis pada pro- duksi  nasional, dan secara  kebi- jakan  menggunakan hambatan tarif untuk melindungi produsen.
Pada era itu, katanya, perda- gangan terjadi  utamanya antarne- gara.  Akibat  jarak  yang jauh  dan membuat biaya membengkak, negara-negara bertendensi untuk memproduksi barang secara  lokal. Sementara itu, pemerintahnya me- lindungi produsen dari pesaing asing.

Prioritas pada Nilai Tambah “Daya saing perusahaan lokal terhadap pesaing asing disesuaikan dengan cara menaikkan tarif,
subsidi, dan sebagainya. 60 Tahun lalu,  tarif rata-rata internasional masih  sekitar  40%,  sekarang ham- pir semua sudah maksimal 5%.”
Adapun, orde perdagangan baru mengedepankan kebijakan yang melindungi konsumen, bukan produsen. Pasalnya, hambat-
an-hambatan biaya produksi
akibat  jarak  antarnegara perlahan- lahan menghilang.
Karena  pergeseran kebijakan perdagangan yang berorientasi pada perlindungan konsumen, negara yang lebih  kaya semakin meningkatkan tuntutan dan stan- dar produk yang dikonsumsi warganya. Hal itu disebut Pascal sebagai  kebijakan ‘precaution’  bu- kan  ‘protection’.
“Sama seperti  Anda,  semakin Anda kaya,  permintaan akan standar hidup  meningkat. Secara alamiah standar ini terus  naik  dan tidak  mungkin suatu  negara  akan menurunkan standarnya atau memberi pengecualian terhadap negara-negara yang dianggap be- lum mampu bersaing.”
Wakil  Menteri  Luar Negeri Dino

Prioritas pada Nilai Tambah

Prioritas pada Nilai Tambah

Patti Djalal mengatakan Indonesia berkesempatan untuk menjadi pedagang yang unggul. Namun demikian, langkah ini masih  ter- hambat oleh beberapa hal.
“Masyarakat tidak  menyukai perdagangan bebas.  Mereka  juga menganggap hal ini sebagai konsep neoliberalisme yang hanya memberikan dampak buruk bagi perdagangan dalam  negeri. Kita harus membuang stigma  negatif ini,” katanya.
Menteri  Pariwisata dan Eko- nomi  Kreatif Mari Elka Pangestu berpendapat bahwa Indonesia harus memahami posisi penting- nya di dalam  perdagangan dunia.
Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice  (IGJ) Riza Damanik mengatakan yang menjadi titik berat  dalam  perdagangan bebas bukanlah masalah tertinggal atau tidak.
“Yang harus disikapi adalah bagaimana pembukaan pasar yang diatur dalam  perjanjian WTO menghilangkan peran negara untuk melindungi pereko-nomian nasional. dan fokus pada Prioritas pada Nilai Tambah (Feni Freycinetia/ Wike  D. Herlinda)

jasa seo dan internet marketing

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>