PRODUKTIVITAS Teknologi Harus Mendukung Kemanusiaan

undercover.co.id Teknologi dalam dunia bisnis selalu berkembang. Penemuan-penemuan baru semakin memanjakan pengusaha dan pencari kerja. Perusahaan riset berbasis digital, Populix meluncurkan hasil riset terbaru bertajuk Unveiling the Tech Revolution: How Technology Reshapes the Future of Work. Menurut penelitian itu, mayoritas perusahaan telah memanfaatkan platform online untuk menunjang aktivitasnya. Termasuk di dalamnya kegiatan pengembangan diri yang dilakukan pekerja.

Penelitian tersebut dilakukan pada April 2023 dengan melibatkan sebanyak 1.014 responden laki-laki dan perempuan berusia 17 hingga 55 tahun di Indonesia. Survei dilakukan secara online dengan durasi 15 menit. Adapun pertanyaan dikemas dalam bentuk kuesioner dengan format pilihan ganda tunggal, pilihan ganda kompleks, dan isian singkat.

Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa mayoritas perusahaan dan pribadi menggunakan Zoom untuk menunjang produktivitas dengan persentase 77%. Kemudian, platform favorit lainnya yang menjadi pilihan adalah Google Workspace, Microsoft Teams, dan Skype. Masing-masing platform dengan persentase 54%, 30%, serta 24%. 

Temuan lain dari penelitian ini adalah sebanyak 45% masyarakat saat ini juga menggunakan platform berbasis AI untuk menunjang efektivitas pekerjaan. Tercatat, layanan ChatGPT menjadi platform paling banyak digunakan dengan persentase 52%, dan Copy.ai 29%. Platform tersebut banyak digunakan oleh masyarakat karena terdapat tools untuk bekerja 75%, banyak template untuk pekerjaan lainnya 53%, dan membantu mencari ide 44%.

Selain itu, dalam rangka meningkatkan kemampuan pekerja, teknologi menjadi solusi yang dipilih. Sebanyak 78% pekerja memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan keterampilan. Lalu, sebanyak 72% untuk mencari peluang pekerjaan baru dan 67% menambah penghasilan. Di Indonesia, layanan platform Ruangguru menjadi yang paling banyak digunakan dengan persentase 42%. 

Timothy Astandu, Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Populix mengatakan, mayoritas masyarakat Indonesia saat ini bekerja dengan menggunakan bantuan platform yang dapat membantu karyawan untuk saling terhubung satu sama lain dan membantu produktivitas mereka. Cukup terhubung dengan internet masyarakat bisa bekerja dari mana saja dengan mudah. Kehadiran platform kecerdasan buatan juga membantu karyawan dalam meningkatkan kreativitas.

Riset tersebut mengungkapkan sebanyak 73% masyarakat saat ini bekerja sesuai dengan passion mereka. Walaupun demikian, masyarakat terus ingin meningkatkan kemampuan mereka di berbagai bidang lainnya agar dapat bersaing dengan kondisi kerja masa depan. 

“Sebanyak delapan dari sepuluh masyarakat tertarik untuk mengikuti kegiatan yang dapat mendukung pengembangan keahlian seperti public speaking dengan persentase 46%, entrepreneurship 45%, digital marketing 44%, data analysis 42%, dan communication skill 40%,” ujar Timothy.

Secara terperinci, Gen Z lebih tertarik untuk meningkatkan kemampuan mereka di bidang public speaking. Sedangkan milenial dan generasi tua lebih tertarik untuk meningkatkan kemampuan di bidang entrepreneurship. Untuk mengembangkan kemampuannya masyarakat tidak ragu untuk mencari dan mengikuti pelatihan secara pribadi seperti pelatihan online 76%, pelatihan offline 54%, dan pelatihan yang dilakukan oleh komunitas 48%. 

“Ruangguru merupakan aplikasi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat untuk mengikuti berbagai pelatihan 42%. Diikuti oleh Brainly 32%, Canva Design School 30%, dan Coursera 22%. Dengan bujet yang dikeluarkan berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu untuk setiap sesinya,” ujarnya.

Sementara itu, pakar pemasaran sekaligus Chairman dan Founder MCorp, Hermawan Kartajaya menilai, di era disrupsi, adopsi teknologi percuma dilakukan kalau tidak bisa menciptakan diferensiasi. Hal tersebut dikarenakan saat ini merupakan era marketing 5.0, yang mana penggunaan teknologi adalah hal yang biasa.

“Saya takut teknologi itu jadi no ethics. Semua tergantung dengan humanity. Makanya, humanity harus ada di samping teknologi,” kata Hermawan.

Menurutnya, technomarketing sangat penting dilakukan oleh perusahaan. Pasalnya, saat ini teknologi sudah semakin maju. Semua hal sudah digerakkan dengan teknologi. Jika tidak dilakukan adopsi, maka konsekuensinya bisnis tidak akan kalah saing.

“Kemajuan teknologi memacu semuanya, mulai dari bidang science dan tech, politic legal, economy dan business, social culture, hingga industry market. Itu semua dipengaruhi teknologi hingga bisa semaju ini,” ujarnya.

Di sisi lain, Hermawan menyebut, marketing bukan sekadar memenuhi tuntutan pelanggan saja, melainkan juga menciptakan value. Untuk mendapatkan value, memerlukan teknologi. Sehingga sebenarnya kedua hal tersebut saling bergantung satu sama lain, yang mana teknologi membutuhkan marketing untuk memajukan humanity, dan marketing membutuhkan teknologi untuk menciptakan value.

Dia mengatakan di era ini, untuk bisa menciptakan value yang lebih maksimal dari yang lain, perlu mendekati diri ke semua sektor, termasuk aktor politik, ahli teknologi, bahkan kompetitor. Agar bisa mencapai hal itu, dengan memadukan aspek marketing dan teknologi.

“Kita harus bisa dekati itu semua, misalnya investasi ke sektor tertentu, atau membuat partnership dengan sektor tertentu. Dengan begitu, kita bisa lebih unggul dari yang lain. Caranya, dengan aspek marketing dibantu dengan teknologi,” pungkasnya.

Saya takut teknologi itu jadi tanpa etika. Semua tergantung pada humanity. Makanya, humanity harus ada di samping teknologi.

Hermawan Kartajaya
Chairman dan Founder MCorp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×

 

Hello!

SEO Manager Kami Membantu Anda

× SEO Consultation