Riset Gen Z Tolak Memasak

undercover.co.id – Gen Z Tolak Memasak ,Setiap tahun perubahan gaya hidup masyarakat, khususnya Gen Z dapat memengaruhi tren industri yang sedang berkembang. Sebagai negara dengan populasi muda yang cukup besar, Gen Z merupakan pasar yang potensial. Bahkan, di sektor F&B, besarnya potensi pasar turut diperebutkan pemain luar negeri.

Populix, perusahaan riset berbasis digital melaporkan hasil survei terbarunya terkait dengan tren makanan dan minuman di kalangan Gen Z dan Milenial. Dari laporan tersebut, nampak mayoritas orang muda lebih memilih membeli makanan di luar dibandingkan memasak sendiri. Mereka biasanya membeli makanan secara onlinetakeaway, ataupun dine-in.

Timothy Astandu, Co-Founder dan CEO Populix menuturkan, dalam seminggu, Gen Z dan Milenial dapat membeli makanan satu hingga tiga kali (63%) secara offline, dan dapat memesan makanan secara online minimal dua sampai tiga kali dalam sebulan (21%) hingga  dua sampai tiga kali dalam seminggu (25%). Mereka juga selalu tak ketinggalan informasi promo atau makanan viral melalui media sosial.

Survei ini dilakukan pada Desember 2022 secara online melalui aplikasi Populix terhadap total 3.138 responden laki-laki dan perempuan muslim berusia 16-41 tahun di Indonesia. Durasi pengerjaan survei sekitar 15 menit dengan pertanyaan yang dikemas dalam bentuk kuesioner melalui format pilihan ganda tunggal, pilihan ganda kompleks, dan isian singkat.

Sebanyak 57% responden mengatakan membeli makanan secara online, membeli makanan secara offlinetakeaway (57%), memasak makanan sendiri (49%), membeli makanan secara offline-dine in (46%), dan memakan makanan yang sudah tersedia di rumah (41%).  Faktor-faktor pertimbangan mereka dalam memilih tempat kuliner, antara lain harga (85%), menu (78%), jenis makanan (71%), dan kualitas layanan (58%). 

Faktor yang menentukan dalam membuat keputusan untuk memilih tempat kuliner adalah promo diskon harga (65%), tempat terdekat (61%), rating tertinggi (terenak/terpopuler) (57%), tempat termurah (52%), dan tempat terlaris (47%).

“Tren-tren inilah yang perlu diperhatikan oleh pelaku bisnis kuliner dalam memasarkan produk mereka,” ujar Timoty.

Berdasarkan jenisnya, makanan tradisional Indonesia merupakan makanan yang paling disukai (44%). Disusul fusion Indonesia dengan citarasa Asia (17%), dan fusion Indonesia dengan citarasa Barat (16%). Sedangkan dari produk minuman, kopi menjadi minuman yang paling sering dibeli oleh Gen Z dan Milenial (39%). Disusul oleh boba drink/minuman kekinian (24%) dan teh (20%).

Gen Z Tolak Memasak
Gen Z Tolak Memasak

Timoty menyebut, Gen Z dan Milenial saat ini juga lebih memperhatikan makanan sehat. Terbukti 38% responden mengatakan makanan dengan kadar gula rendah paling disukai. Tidak hanya itu, kudapan sehat juga menjadi pilihan terbanyak (19%), dan makanan penurun berat badan merupakan pilihan mereka (11%). Lalu, sebanyak 44% responden juga mengatakan bahwa proses pembuatan produk kuliner merupakan hal yang penting.

Di sisi lain, berdasarkan sumber informasi kulinernya, YouTube masih menjadi referensi Gen Z dan Milenial. Sebanyak 73% responden menggunakan YouTube untuk mendapatkan informasi terbaru. Kemudian, diikuti media sosial seperti akun khusus yang memberikan update kuliner (58%) dan influencer (50%), dan akun media sosial resmi merek kuliner (33%) untuk mencari informasi seputar kuliner. Diikuti informasi dari televisi (25%), aplikasi ulasan restoran (14%), website (13%) dan portal berita online (9%).

Konten-konten yang banyak disukai adalah konten ulasan (44%), dan promo (33%). Selanjutnya, kuliner viral atau tren di media sosial (26%) merupakan aspek yang paling berpengaruh pada daya beli Gen Z dan Milenial. Diikuti dengan promo (19%), rekomendasi teman (19%), dan harga (13%).

“Mayoritas responden menyukai promo buy 1 get 1 sebanyak 49% responden. Lalu, diikuti diskon harga coret 14%, voucher diskon harga penuh 10%, dan beli banyak lebih hemat 10%,” ujar Timoty.

Tumbuh 7% pada Tahun 2023

Tren tersebut diperkirakan turut mendorong pertumbuhan industri makanan dan minuman dalam negeri. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkirakan hingga akhir tahun 2023 industri makanan akan tumbuh di angka 5% hingga 7%. Namun demikian, perkiraan tersebut harus diimbangi dengan ketersediaan bahan baku.

Putu Juli Ardika, Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin menuturkan, perkiraan pertumbuhan industri bisnis hampir sama dengan merebaknya pandemi COVID-19. Dengan kata lain, konsumsi dalam negeri masih cukup tinggi dan bisa menjadi penopang pertumbuhan ekonomi secara makro.

“Kami percaya industri makanan dan minuman bisa tumbuh antara 5% hingga 7% pada tahun 2023. Berdasarkan indeks kepercayaan industri (IKI), para pelaku usaha makanan dan minuman optimistis berada dalam tren ekspansif,” ujarnya.

Putu menambahkan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk terus mendorong daya saing industri makanan dan minuman di Tanah Air. Di antaranya dengan memacu penerapan industri 4.0 pada subsektor manufaktur tersebut. 

baca juga

    Dalam upaya untuk terus mendorong daya saing industri makanan dan minuman, Kemenperin memastikan ketersediaan bahan baku industri untuk mendukung roda produksi. Terkait dengan jaminan ketersediaan bahan baku ini, telah diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perindustrian yang memastikan industri bisa memperoleh bahan baku melalui neraca komoditas.

    “Kemenperin akan terus berusaha menjamin bahwa rekan-rekan industri memiliki kecukupan bahan baku, dan komitmen dari Kemenperin, kami ingin terus memfasilitasi sehingga tidak ada subsektor manufaktur tertinggal di belakang,” ujarnya.

    “Gen Z dan Milenial saat ini lebih memperhatikan makanan sehat. Mereka menyukai makanan dengan kadar gula rendah dan kudapan sehat.”

    Timothy Astandu
    Co-Founder dan CEO Populix

    Leave a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×

     

    Hello!

    SEO Manager Kami Membantu Anda

    × SEO Consultation