Rustono, Bawa Tempe Sampai ke Negeri Jepang

Menjual produk asing bukan hal yang mudah untuk dilakukan di Jepang, terlebih produk makanan. Selain harus menjebol tebalnya tembok perijinan juga harus berjuang melawan ketatnya budaya Jepang.
 
Namun, perjuangan yang tidak pernah mengenal lelah membuat Rustono, laki-laki kelahiran Grobogan Jawa Tengah, 3 Oktober 1968 berhasil melewati semuanya. Bersama sang istri, Tsuruko Kuzumoto yang berkewarganegaraan Jepang, dia berhasil mempopulerkan tempe.
 
Makanan khas Indonesia tersebut kini diproduksi di Jepang dengan merek Rusto’s Tempe dalam kemasan 200 gram dibungkus plastik bergambar suasana pedesaan di Jawa. Sekitar 3.000 bungkus diproduksi setiap harinya dan dipasarkan di 490 tempat yang ada di Jepang.
 
Bukan hanya masyarakat umum saja yang menjadi konsumen, Rusto’s Tempe juga didistribusikan ke sejumlah supermarket, rumah sakit, hotel dan restoran. Tidak heran jika tempe kini bersanding dengan menu-menu masakan Jepang dan diolah dengan berbagai resep yang sesuai dengan lidah orang Jepang.
 
Tidak hanya masyarakat Jepang, Rusto’s Tempe juga menjadi menu utama pada maskapai Garuda Indonesia untuk rute internasional.
Selain itu,  tekadnya untuk “Menduniakan Tempe” membuatnya melebarkan sayap bisnis dengan menjual produk ke Korea Selatan serta memberikan pelatihan membuat tempe kepada para pengrajin yang berasal dari Perancis, Hungaria, Meksiko dan dari sejumlah negara di Eropa dan Amerika Latin.
 

Gunakan Hati dalam Berbisnis dan Pegang Teguh Impian

Perjuangan Rustono dalam menaklukkan Jepang diawali saat dia menikahi istrinya dan harus tinggal di Negeri Jepang. Awalnya dia bekerja di berbagai perusahaan, termasuk perusahaan makanan untuk bisa belajar mengurus ijin dalam memproduksi makanan.
 
Disaat itu terbersit ide untuk membangun bisnis dengan membuat tempat, karena makanan ini belum ada di Jepang sementara bahan bakunya berupa kedelai tersedia dengan sangat melimpah.
 
Eksperimen demi eksperimen untuk bisa membuat tempe pun dia lakukan. Namun selalu menemui kegagalan, karena membuat tempe di negeri empat musim ternyata berbeda dengan di Indonesia.
Hal itulah yang membuatnya pulang ke Indonesia selama 3 bulan, khusus untuk belajar membuat tempe.
 
Saat kembali ke Jepang, ilmu yang dia pelajaripun diterapkan dan akhirnya berhasil. Sejak saat itulah bisnis membuat tempe mulai dia jalankan. Konsumen pertamanya adalah orang-orang Indonesia yang tinggal di Jepang terutama para pelajar Indonesia di Jepang.
 
Setelah terkumpul cukup modal Rustono mulai membangun pabrik dan mengurus perijinan. Begitu ijin keluar barulah dia berani menawarkan tempe kepada orang-orang Jepang. Tempat pertama yang dituju adalah rumah sakit dan pengusaha katering.
 
Saat itu Rustono menawarkan tempe tidak untuk dijual melainkan meminta mereka untuk mencobanya. Tapi begitu melihat wajahnya yang bukan wajah Jepang, mereka langsung mengatakan, “No, no, thank you.”
 
Kegagalan tersebut tidak membuatnya putus asa. Rustono tetap melanjutkan proyeknya untuk mendirikan pabrik tempe. Kala itu musim dingin dan pembuatan pabrik dia lakukan sendiri bersama sang istri.
 
Pada suatu hari di musim dingin tahun 2000, ada seorang wartawan yang melihat Tsuruko memindahkan kayu untuk pembuatan pabrik dengan menggunakan gerobak. Wartawan tersebut terkejut dan mengingatkan kalau mendirikan bangunan pada musim dingin berbahaya.
 
Namun peringatan tersebut tidak diindahkan, dan proses pembangunan pabrik terus berjalan. Wartawan yang setiap hari lewat di depan pabrik tempe Rustono itu merasa simpati melihat kegigihan sepasang suami istri tersebut, sehingga menyempatkan diri untuk singgah dan melakukan wawancara.
 
Hasil dari wawancara keesukan harinya dimuat di media dan sejak itulah orang-orang Jepang tahu tentang tempe serta tidak ragu untuk membelinya. Malahan ada salah satu tetangga yang menawarkan pabriknya yang tidak terpakai untuk dijual dengan harga murah kepada Rustono. Pihak perbankan juga tidak ragu untuk memberikan pinjaman meski akhirnya ditolak.
 
baca juga
1000.001 Ide Bisnis UKM Dengan Modal Mulai 100 Ribu
Belajar dari Milyader Muda Pemilik Brand Men’s Republic
Tips Pengusaha UKM Untuk Menembus Pasar Potensial Jepang
 
Cerita selanjutnya bisa ditebak, bisnis tempe yang dibangun Rustono dari waktu ke waktu mengalami perkembangan dan menjadi besar sebagaimana yang ada sekarang.
 
“Pegang teguh impian dan gunakan hati dalam membangun bisnis,” pesan itulah yang disampaikan Rustono dari negeri Jepang kepada mereka yang akan memulai membuka usaha agar bisa meraih sukses sebagaimana dirinya.(*)
 

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!