Sebongkah Rasa Nostalgia di Sumber Hidangan

Sebongkah Rasa Nostalgia di Sumber Hidangan

Sebongkah Rasa Nostalgia di Sumber Hidangan , Jarum jam sudah mengarah ke angka lima, bahkan langit pun mulai berwarna jingga.

Namun, suara batu andesit penutup jalanan Braga terdengar begitu nyaring tertimpa barisan mobil yang mengantri. Bahkan, semakin banyak saja gadis belia yang bergaya di antara bangunan kolonial Bandung ini.

Kilatan cahaya blitz mengiringi langkah mereka, disertai suara club yang mulai bergemuruh.

Riuhnya suasana Braga membuat toko-toko oldschool di sekitarnya nampak sepi. Salah satunya adalah tempat tujuan saya melangkah kali ini.

Goretan namanya hanya terdapat di neon box yang tak terlampau besar, cuma berukuran sekitar 20 x 40 sentimeter saja. Sumber Hidangan, tulisan itu tertera lengkap dengan ilustrasi seorang koki bertubuh tambun di sebelahnya.

 

Sumber Hidangan Toko Roti Legenda Bandung

 

Ya, toko roti dan kue ini telah berdiri di Jalan Braga sejak tahun 1929. Usianya terlihat jelas dari gaya interior yang masih didominasi oleh elemen tempo dulu.

Dindingnya terlihat sangat usang dengan kursi-kursi berongga putih di area café. Plafon tinggi berhiaskan lampu oldschool pun menyala remang-remang.

Suasana jadul ini tambah terasa ketika perhatian saya tertuju pada timbangan serta etalse kuno yang berada di area kue dan telepon tua yang teronggok manis di area kasir.

Saya memilih duduk di area dekat jendela. Tak ayal lagi, saya ingin menikmati keeksotisan suasana sore hari di Jalan Braga.

Selembar menu sederhana menangkap perhatian saya. Roti memang menjadi daya tarik dari toko ini, namun sedikit bagian dalam masa lalu saya tergali dengan sendirinya.

Satu nama yang tertera di sana menjadi pilihan rekan bersantai sore saya kali ini. Snow white ice cream.

Tak berapa lama kemudian, seorang pria setengah baya menghampiri meja saya. Tanpa timbul senyum sedikit pun, pria itu menggiring gelas-gelas es krim yang menjadi hidangan dessert tersebut.

Seonggok gelas berisi dua scope es krim berwarna putih kekuningan mencuri pandangan saya seketika. Kismis-kismis bertebaran di sekelilingnya. Oh, ini lah snow white, cantik, demikian pikir saya.

Tanpa pikir panjang, saya langsung melahap bongkahan lembut ini perlahan. Rasa manisnya sangat pas, berbeda dengan es krim kebanyakan yang terkadang lebih banyak kandungan airnya.

Sebuah sensasi rasa Vanilla yang berbeda dengan biasanya. Ditambah lagi oleh gigitan kismis yang bercampur dengan eskrim dingin ini, yummy!

 

 

Es Krim Rasa Nostalgia Hanya Di Sumber Hidangan

 

Satu judul yang bisa saya berikan pada menu dessert ini : es krim dengan rasa nostalgia.

Selain es krim, tak ada salahnya mencicipi roti serta kue ala Sumber Hidangan yang sangat legendaris dari sejak toko ini berdiri.

Yang menjadi unik dari toko ini, nama-nama menunya kebanyakan masih menggunakan bahasa Belanda. Contohnya saja Bokkepootjes dengan bentuk menyerupai kue lady fingers.

Tekstur kue meringue (kue yang berasal dari putih telur dan gula) yang dicelupkan pada coklat di ujungnya memang membuat kue ini tampak menggiurkan.

 

Roti Krentenbrood khas Sumber Hidangan

 

Selain kue-kue ala Belanda, Sumber Hidangan juga ternama akan roti yang tak kalah lezat. Dengan nama yang asing terdengar di telinga, hidangan roti ini juga mampu mengundang rasa penasaran yang tinggi.

Contoh lah saja Krentenbrood (roti kismis), serta vruchten zandtaart (sejenis pai berisi  buah kering) yang menjadi unggulan dari Sumber Hidangan ini.

Rotinya berwarna kekuningan dengan serat yang cukup besar. Berbeda dengan roti yang beredar di pasaran pada umumnya.

Satu hal menarik tentang toko roti ini, meskipun di masa kolonial Belanda termasuk sebuah café elit, namun harga dari menu-menu yang tertera di dalamnya cukup terjangkau. Baik roti, kue ataupun es krim hanya berkisar antara Rp. 6000,- hingga Rp. 25.000,- saja.

Sebuah pengalaman unik yang tak tergantikan oleh tempat-tempat modern lainnya di seantero kota kembang ini.

Seakan berada di dalam mesin waktu, saya seperti dibawa untuk merasakan nuansa santai sore di masa lalu, ketika Braga masih menjadi pusat pertokoan elit bagi masyarakat Bandung.

Sumber Hidangan tak berubah sama sekali, penuh kisah nostalgia dan tak lekang dimakan waktu

 

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!