Sentra UKM Tenun

undercover.co.id Nusa Tenggara Timur selama ini lebih banyak dikenal orang dengan komodonya atau kuda Sandalwood yang mendunia itu.

Disamping dua hal ikonik tersebut, orang tidak terlalu banyak paham mengenai NTT apalagi potensi kewirausahaan dari sana.

Padahal NTT memiliki banyak produk andalan yang berpotensi untuk diminati oleh para pembelanja dari daerah lain bahkan hingga dunia internasional.

Salah satu produk andalan dari NTT adalah kain tenun asal Flores yang memiliki corak dan proses pembuatan yang eksotis.

Akan tetapi sedikitnya jumlah lembaga perbankan yang bisa diakses oleh para pengusaha membuat bisnis ini baru dikembangkan oleh beberapa orang.

Yus Lusi dan istrinya adalah salah satu dari sekian banyak pengusaha di NTT yang memberanikan diri membuka bisnis kain tenun di tengah kondisi yang sulit.

Mendirikan usaha dengan modal hanya Rp 20.000, Usaha Yus Lusi berhasil berkembang bahkan hingga menjadi koperasi pemodal bagi ratusan kain tenun lainnya.

Perjuangan Berat di Awal

Yus Lusi sebenarnya masih berstatus sebagai aparat sipil negeri ketika mendirikan sentra kain tenun pada tahun 1991 bersama istrinya.

Ia tercatat sebagai  pegawai Dinas Pertanian di pemerintahan provinsi kala itu.

Untuk mengatasi kekurangan orang, Yus turut serta mengajak rekannya hingga ibu dan ibu mertuanya untuk terlibat dalam pengelolaan usaha sentra kain tenun ini.

Sempat optimis usaha sentra kain tenunnya akan langsung menarik perhatian, nyatanya Yus Lusi harus merasakan masa-masa awal yang berat.

Dalam beberapa tahun pertama, sentra kain tenun yang bernama Ina Ndao ini justru hanya mampu menjual dua hingga tiga lembar kain dalam waktu satu bulan.

Yus Lusi Beranikan Diri Membangun Sentra UKM Tenun dan KoperasiĀ  karya Ando di Kupang

Keadaan yang hampir membuat Yus menyerah tersebut akhirnya berubah justru ketika Perekonomian Indonesia jatuh ke dalam jurang krisis moneter.

Pada tahun 1997, Yus Lusi akhirnya mendapat pesanan besar pertamanya dari Dharma Wanita yang cocok dengan kain hasil buatan sentra tenun milik Yus.

Berhasil mengantungi  uang 100 juta rupiah dari hasil penjualan 500 kain tenun , Yus Lusi akhirnya menjadi bersemangat untuk mengembangkan usahanya.

Perlahan-lahan, pemerintah provinsi yang mulai mengetahui potensi bisnis dari sentra kain tenun turun tangan untuk memberikan bantuan modal.

Pada waktu itu Pemerintah Provinsi  berupaya menjembatani PT. Pupuk Sriwijaya untuk mengucurkan bantuan sebesar 2,5 milyar Rupiah kepada Ina Ndao.

Hingga kini Ina Ndao sudah mencapai angka omzet hingga 200 juta rupiah perbulan.

baca juga

Mendorong Pelatihan Tenun

Sadar bahwa usahanya sudah masuk tahap perkembangan, Yus Lusi mencoba mencari cara agar kualitas kain tenun yang dihasilkan oleh Ina Ndao semakin berkualitas.

Oleh karena itu ia mengajak Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Masyarakat Seni Flobamora untuk mengadakan pelatihan menenun baik bagi warga ataupun pekerja tenun.

Dalam satu kesempatan, lembaga seni tersebut bisa melatih hingga 25 orang dan diperkirakan akan terus bertambah.

Tidak hanya di lokasi Ina Ndao saja, lokasi pelatihan juga akan diperluas hingga beberapa tempat lain di kota Kupang hingga ke Kabupaten.

Untuk melaksanakan pelatihan tenun secara serentak di 10 lokasi berbeda, Yus Lusi mendapat bantuan dari perusahaan Astra yang terjun melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.

Upaya Yus Lusi untuk mengadakan pelatihan tidak berakhir sia-sia, hasilnya ada lebih dari 16 penenun yang direkrut untuk menjadi pekerja tetap di Ina Ndao.

Dari tangan mereka , Ina Ndao dapat menghasilkan lebih dari 40 kain tenun setiap bulannya.

Jumlah ini bahkan belum ditambah dengan hasil tenunan para penenun yang bekerja dari sentra kabupaten yang bisa menghasilkan total ratusan lembar.

Berkat para penenun terdidik tersebut, Ina Ndao dapat menjadi rujukan kain tenun dengan kualitas paling mumpuni dari Nusa Tenggara Timur.

baca juga

    Kembali Dirikan Koperasi

    Keuntungan yang didapat dari usaha sentra kain tenun tidak semata-mata ia serap untuk dirinya dan istrinya sendiri.

    Keinginannya untuk membantu membesarkan usaha kain tenun di kota Kupang mendorongnya untuk mendirikan koperasi dengan modal yang dari keuntungan menjual kain tenun.

    Tepat pada tahun 2003, Yus mendirikan sebuah koperasi simpan pinjam dengan nama Karya Ando, yang diperuntukkan bagi para UKM yang dididik oleh Ina Ndao yang sudah berjumlah 160 pemilik.

    Berkat keberhasilannya mendirikan sentra tenun yang sudah diakui dimana-mana, Koperasi Karya Ando mendapat modal tambahan sebesar 150 Juta Rupiah dari Kementerian Koperasi dari modal awal sebesar 20 juta Rupiah.

    Selama beroperasi, Koperasi Karya Ando sudah meminjamkan lebih dari 300 anggota UKM kain tenun dengan kisaran pinjaman sebesar 1 hingga 5 juta pertahunnya.

    baca juga

      Tantangan Pengembangan Sumber Daya Manusia

      Meski telah berinisiatif mendirikan berbagai pelatihan-pelatihan untuk menghasilkan para penenun yang terampil, namun Yus masih harus berurusan dengan masalah pengembangan sumber daya manusia.

      Kendala yang dihadapi misalnya seperti para penenun yang kurang memiliki semangat juang untuk mengembangkan kemampuannya.

      Akibatnya biaya investasi pelatihan yang dikeluarkan oleh Yus terkadang menjadi sia-sia akibat masih banyak yang enggan berinisiatif.

      Berkebalikan dengan kenyataan tersebut, Yus justru mendorong agar jumlah UKM kain tenun di Kupang terus bertambah meski berpotensi menyaingi Ina Ndao.

      Daripada mengkhawatirkan didikannya bisa lebih maju, Yus Lusi justru menginginkan agar para UKM nantinya dapat menjadi mitra strategis untuk mendorong kain tenun NTT naik kelas.

      bac ajuga

      Yus juga tidak selalu meminta imbal balik hasil produksi  ataupun keharusan menjual kembali kepada Ina Ndao.

      Namun Yus berharap bahwa UKM binaanya dapat memprioritaskan Ina Ndao jika berhasil menciptakan kain tenun dengan kualitas tinggi.

      Saat ini mitra UKM didikan Ina Ndao tidak hanya terbatas di Kupang saja namun sudah merambah hingga lintas pulau seperti pulau Rote, Timor Tengah Selatan, Belu, Ende, dan Flores Timur.

      Ad Blocker Detected

      Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

      Refresh
      error: Content is protected !!