Start UP Crowde , Pelopor Startup Agrikultur di Indonesia     

125 Awesome Newsletter Ideas To Spice Up Your Email Marketing

Hanya dalam kurun waktu 3 tahun, sebanyak 14.000 petani telah mendapatkan manfaat bantuan permodalan dari Crowde dengan nilai lebih dari Rp.51 miliar. Mereka berasal dari seluruh penjuru tanah air, kecuali Maluku, Nusa Tenggara dan Papua.
 
 

Crowde Menghimpun 23ribu investor

 
Selain itu, sebanyak 23.000 investor berhasil dihimpun, sehingga Crowde tidak hanya layak disebut sebagai pelopor startup agrikultur di Indonesia tapi juga salah satu startup P2P (peer to peer) yang sukses dalam memanfaatkan layanan fintech (financial technomoly).
 
Layanan investasi dan kredit berbasis app dan website yang ditujukan bagi para petani, peternak, petambak, dan nelayan Indonesia ini digagas oleh anak muda bernama Yohanes Sugihtononugroho.
 
Gagasan untuk mendirikan startup P2P ini berangkat dari rasa keprihatinannya terhadap nasib para petani yang selalu kesulitan dalam permodalan disebabkan karena lemahnya dalam mengakses sumber-sumber modal formal karena prosedur yang tidak mudah.
 
Sementara untuk mendapatkan pinjaman dari bank juga sangat sulit. Pihak bank akan berpikir seribu kali untuk memberikan kredit kepada petani karena skala usahanya yang relatif kecil ditambah sektor usahanya yang berisiko tinggi.
 
Sulitnya petani untuk mendapatkan pinjaman permodalan dapat dilihat dari data OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang mencatat penyaluran pembiayaan atau kredit untuk sektor pertanian hanya sekitar 6,4% atau senilai Rp.257,8 triliun dari total kredit perbankan nasional yang nilainya Rp.4.003,1 triliun.
 
Berangkat dari keprihatinan itulah Yohanes kemudian mendirikan platform Crowde yang menjembatani antara pemodal dengan petani yang membutuhkan permodalan.
 
Platform ini mengusung konsep crowfunding, artinya beberapa orang investor dapat mendanai sebuah proyek pertanian secara bersama-sama serta memperoleh profit bagi hasil dari proyek tersebut.
 
Dengan memanfaatkan teknologi, menjadikan platform ini dapat diakses dengan cepat, mudah digunakan baik untuk yang ingin menanamkan modal maupun yang akan mengajukan kredir, serta transparan.
 
Berbagai kemudahan dan manfaat itulah yang membuat Crowde tumbuh dengan pesat dan memberikan keuntungan kepada semua pihak, baik para petani, investor maupun Crowde sendiri yang membantu menjembatani kedua belah pihak.
 
Tidak hanya itu, berkat startup yang didirikannya, nama Yohanes Sugihtononugroho masuk di jajaran dalam 30 Under 30 Young Leaders & Entrepreneurs in Asia versi Forbes.
 

Berperan Aktif Melakukan Revolusi Sistem Pengelolaan Agrikultur di Indonesia

 
Tidak hanya sekedar menjalankan bisnis sebagai penyedia layanan investasi dan kredit, Yohanes juga memikirkan social impact dari bisnis yang dijalankannya. Bahkan hal tersebut sudah dilakukan sejak awal Crowde berdiri.
 
Keperdulian Yohanes terhadap nasib para petani, dilakukan dengan membentuk kelompok paguyuban yang dibina langsung oleh Crowde. Paguyuban tersebut diberi edukasi pendalaman seputar agrikultur, pemanfaatan teknologi, pengelolaan usaha, pengetahuan pemasaran hasil produksi, sosial bahkan spiritual.
 
Awalnya hanya ada satu paguyuban yang dibina Crowde, yakni paguyuban yang ada di Pengalengan Jawa Barat. Pada akhir tahun 2018 jumlah paguyuban yang dibina bertambah menjadi 17 kelompok dan ditahun 2019 akan ditingkatkan lagi hingga tersebar di berbagai daerah di Pulau Jawa.
 
“Pembentukan kelompok paguyuban ini dimaksudkan untuk mempersiapkan petani sebagai aktor dalam menjalankan proyek permodalan. Karena misi kami adalah melakukan revolusi terhadap sistem pengelolaan agrikultur di Indonesia dengan menjadikan para pelaku sebagai partner,” demikian visi Crowde yang disampaikan oleh Yohanes.
 
baca juga
Cari Barang Apapun Jadi Lebih Muda dengan PriceArea
Start up Click and Grow
900 Pebisnis Start Up Bisnis Digital Di Dalam Dan Luar Negri
 
Alumnus Universitas Prasetya Mulya ini optimis, Crowde akan terus bertahan bahkan berkembang karena luas lahan garapan yang ada saat ini masih sekitar 7,1 juta hektar dan petani yang membutuhkan bantuan permodalan masih sekitar 39,7 juta jiwa di seluruh Indonesia. (*)
 

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!