Strategi Komunitas Affiliate Marketing 

undercover.co.id – Efektivitas strategi affiliate marketing terpotret dari survei yang dilakukan klinik kecantikan ZAP yang bertajuk ZAP Beauty Index 2023. Dari hasil penelitian tersebut kehadiran influencer produk kecantikan turut memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Tercatat, sebanyak 78% responden perempuan lebih tertarik pada influencer lokal, seperti selebgram, YouTuber, TikToker, hingga selebriti Twitter lokal ketimbang artis Korea.

Selain itu, sebanyak 23,7% responden juga perempuan memilih artis lokal seperti pemain film dan musisi sebagai tipe influencer yang memengaruhi mereka dalam membeli produk dan layanan kecantikan. Sementara artis Korea seperti musisi, girlband, dan boyband tidak berpengaruh secara signifikan dalam keputusan konsumen dalam memilih produk dan layanan kecantikan.

Hanya 16,3% responden perempuan yang terpengaruh oleh artis Korea, dan 4,9% lainnya terpengaruh oleh artis Hollywood. Pengaruh dari ahli kecantikan seperti dokter, justru mendapatkan persentase yang rendah yaitu hanya 0,7%.

Survei ini melibatkan sekira 9.010 responden perempuan yang tersebar di seluruh Indonesia dengan kriteria rentang usia responden 12-66 tahun. Koleksi data dilakukan pada periode Oktober hingga November 2022 menggunakan metode survei online.

Meskipun efektif mendorong penjualan, pemasar rupanya harus merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa melakukan affiliate marketing. Sebab, berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Influencer Marketing Hub biaya penggunaan jasa influencer diperkirakan akan meningkat menjadi US$ 16,4 Miliar pada tahun 2022. Nilai ini meningkat 19% dibandingkan pada 2021.

Sejak 2016, biaya yang dikeluarkan untuk jasa influencer bahkan terus meningkat. Saat itu, nominalnya hanya US$ 1,7 miliar. Kemudian terus meningkat hingga US$ 13,8 miliar pada 2021. Adapun layanan atau perusahaan terkait pemasaran influencer tumbuh 26% pada tahun 2021, menjadi 18.900 perusahaan di seluruh dunia. Pertumbuhan tertinggi terjadi di Amerika Serikat (AS), yang mengalami peningkatan 30%.

Menilik sejarahnya, affiliate pertama kali muncul di dunia e-commerce. Pada waktu itu, Amazon memanfaatkan pendekatan affiliate. Jadi, setiap blogger atau content creator biasanya menyematkan link, yang pada akhirnya mendorong pembaca blog atau followers untuk berbelanja di Amazon.

Komunitas Affiliate Marketing
Komunitas Affiliate Marketing

Dari situ, Amazon dapat melihat blog mana yang menghasilkan sales untuk mereka dan menciptakan sistem komisi. Blogger atau content creator akan mendapatkan komisi setiap kali ada penjualan yang bersumber dari affiliate links mereka

Untuk alasan menggunakan affiliate marketingbrand seringkali mencari cara yang instan berjualan. Mereka akan masuk ke komunitas yang sudah terbentuk. Apabila mereka tidak ingin makan waktu, brand tersebut akan membeli akses untuk masuk ke komunitas yang sudah dibentuk oleh para influencer. Memanfaatkan pendekatan tersebut menjadi semacam jembatan penghubung atau trust.

Hal tersebut dapat menghubungkan dua pihak yang sebelumnya tidak saling percaya, karena ada banyak conflict of interest. Secara umum, ada dua model besar yang biasa digunakan ketika bicara mengenai metode tersebut. Pertama, model endorser. Model ini kerap didengar ketika bicara mengenai media digital celebrity. Biasanya bersifat short term, hanya terbatas pada satu hingga lima unggahan saja dan dipilih berdasarkan seberapa besar jangkauan yang digital celebrity tersebut miliki dan seberapa sering engagement yang terjadi dengan followers mereka.

Kedua, model lainnya yaitu ambassador model atau yang dikenal dengan istilah brand ambassador (BA) akan merekomendasikan secara rutin brand tersebut. Sifat model ini lebih long term. Biasanya, mereka dipilih untuk merepresentasikan sebuah brand secara jangka panjang.

Untuk model ini, para brand harus memilih orang yang memiliki personality yang sama atau cocok dengan brand tersebut. Harus ada kecocokan, kontrak mereka jangka panjang. Jadi, biasanya mereka akan mewakili brand tersebut secara keseluruhan.

Di Indonesia sendiri ada banyak brand lokal memanfaatkan strategi affiliate marketing, salah satunya Somethinc. Produk kecantikan ini menggunakan jasa artis Pop Korea Selatan (KPOP) sebagai affiliator-nya. Tujuannya untuk membidik pasar KPOP-ers dari kaum hawa yang terkenal sangat militan di Tanah Air.

Setelah menggandeng artis KPOP sebagai affiliator, Somethinc lantas membentuk komunitas merek yang diberi nama Somethinc Town. Ini merupakan wadah bagi para pecinta Somethinc dan beauty enthusiast untuk berkembang bersama menjadi the best version of themselves. Tujuan akhirnya adalah mereka menjadi konsumen loyal yang memberikan rekomendasi produk kepada orang lain.

Somethinc ingin secara langsung berinteraksi dengan konsumen dan melakukan berbagai aktivitas seru. Ketika sudah terjalin, anggota komunitas Somethinc Town ini sesekali memberikan rekomendasi serta review dari produk Somethinc yang mereka gunakan melalui media sosial mereka.

Agar strategi affiliate marketing berjalan dengan baik dan berdampak pada penjualan, upaya yang dilakukan Somethinc adalah menjaga komunitas yang datang dari affiliator. Mereka kerap menggelar kegiatan-kegiatan interaktif baik secara online maupun offline. Tujuannya untuk menjaga komunikasi dan interaksi antara brand dengan anggota komunitas.

ak hanya itu, kegiatan yang rutin diselenggarakan dalam periode tertentu ini juga dimanfaatkan untuk mengetahui kebutuhan konsumen atau komunitas. Sesekali, Somethinc memberikan berbagai promosi khusus anggota komunitas. Kendati demikian, Somethinc tidak membocorkan bagaimana pengaruh affiliate marketing dengan aktivitas komunitas terhadap peningkatan penjualan.

Affiliator Harus Jualan

Dari sisi affilator, kunci keberhasilan pekerjaannya dilihat dari seberapa banyak produk yang mampu terjual. Dengan ini, mereka mampu mendapatkan pundi-pundi rupiah dan lebih dipercaya oleh merek. Engagement rate dan sentimen positif memang harus didapatkan, namun mesti sebanding pula dengan penjualannya. 

baca juga

    Baby Antonetha, Founder of Warna Emas Indonesia (WEI.ID) yang merupakan manajemen content creator di TikTok menuturkan, affilator harus jualan. WEI.ID menaungi berberapa content creator, influencer, dan key opinion leader (KOL) terkenal di Indonesia. Produk yang dipasarkan adalah produk kecantikan dalam dan luar negeri.

    Baby mengatakan, awal mula terjun di dunia affiliate marketing berawal dari ketidakpercayaannya TikTok bisa menghasilkan uang secara cepat dengan jumlah yang fantastis. Awalnya, konten yang diproduksi hanya meliputi review produk. Namun, seiring berjalannya waktu, permintaan penonton membeli produk yang telah di-review sangat tinggi. Jika beruntung, dia bisa mengantongi penjualan hingga Rp 150 juta dalam sekali siaran.

    Menurutnya, tidak mudah untuk menjadi seorang affilitor atau content creator. Sebab, diperlukan kemampuan pemasaran yang mumpuni dan kreativitas dalam berkomunikasi. Hal ini didasarkan pada perilaku pengguna TikTok atau sosial media lain yang begitu banyak dibanjiri oleh informasi.

    Seorang affilator harus bisa memiliki diferensiasi pada konten yang disajikan sehingga netizen mau menonton. Setelah itu, mereka diarahkan untuk membeli produk yang dijual melalui link yang telah tersedia dalam konten.

    “Kalau di TikTok penonton tertinggi kami pada saat live streaming itu bisa mencapai 6.000 orang yang menonton pada saat bersamaan. Ini tidak gampang karena bagaimana caranya agar mereka tetap stay di konten kami. Tapi, angka penonton saja tidak terlalu penting kalau tidak ada yang mau beli, ya sama saja bohong,” ujarnya.

    Baby menjelaskan, untuk menjadi affiliator yang andal diperlukan konsistensi dalam membuat konten. Sehingga sangat tidak disarankan untuk berganti-ganti produk yang dijual. Selain itu, affiliator juga dituntut untuk paham teknik algoritma yang sesuai dengan target pasar. Dia berpendapat, hingga sekarang produk yang paling banyak digandrungi oleh affilitor adalah fesyen dan kecantikan.

    Agar affiliator bisa melakukan penjualan, setidaknya harus memiliki akun TikTok dengan pengikut paling sedikit sebanyak 3.000 akun. Semakin banyak pengikut, maka potensi penjualan akan semakin besar pula.

    “Saya melihat affiliate marketing akan terus berlanjut di masa depan karena sekarang experience orang belanja tidak seperti dulu. Melalui affiliate marketing konsumen disajikan konten yang sangat otentik dalam ulasan jujur,” ujarnya.

    “Saya melihat affiliate marketing akan terus berlanjut di masa depan karena sekarang experience orang belanja tidak seperti dulu. Melalui affiliate marketing konsumen disajikan konten yang sangat autentik dalam ulasan jujur.”

    Baby Antonetha, Founder of Warna Emas Indonesia

    Leave a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×

     

    Hello!

    SEO Manager Kami Membantu Anda

    × SEO Consultation