Sukanto Tanoto Founder RGE – Royal Golden Eagle

Undercover.co.id – Bicara tentang pengusaha sukses di Indonesia, pengusaha satu ini layak untuk disandingkan dengan pengusaha sukses Eka Tjipta Widjaja. Sama – sama sukses, sama-sama anak pasangan dari negara asia timur dan satu hal lagi, sama-sama memiliki perusahaan kertas.

Walaupun secara umur sangat beda jauh namun semangatnya bisa jadi sama-sama mampu memberikan energi positif untuk kalangan pemula bisnis yang terus mau menimba ilmu untuk sesukses pengusaha ini. Dia adalah Sukanto Tanoto. Agar dapat menimba ilmu sukses dari beliau, silakan baca artikel tentang Sukanto Tanoto berikut ini.

Tentang Sukanto Tanoto

Sukanto Tanoto merupakan anak dari pasangan suami istri perantauan dari Putien, Provinsi Fujian negara Tiongkok. Namun Sukanto Tanoto lahir di Indonesia, tepatnya di Kota Medan, Sumatera Utara. Sukanto Tanoto kecil lahir tepat saat hari Natal, 25 Desember, tahun 1949.

Sukanto Tanoto merupakan anak sulung dan memiliki 6 orang saudara kandung. Sukanto Tanoto dari kecil bersekolah di sekolah berbahasa Mandarin dan sama sekali tak pernah belajar Bahasa Indonesia, walaupun dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas selalu berada di Kota Medan. Namun sekarang Sukanto Tanoto fasih menggunakan bahasa Indonesia.


Berbeda dengan Eka Tjipta Widjaja, Sukanto Tanoto lahir dikalangan keluarga berada. Keluarganya mengelola beberapa perusahaan. Saat umur 17 tahun, keluarganya telah memiliki 3 buah perusahaan.

Salah satunya merupakan penyuplai suku cadang untuk perusahaan minyak dan gas.


Pemilik nama kecil Tan Kang Hoo ini telah menuruni bakat bisnis dari sang ayah. Sukanto Tanoto mulai sekolah saat berumur 11 tahun, yaitu tahun 1960 hingga 1963. Dan sebelum lulus sekolah menengah atas pada tahun 1966 saat ia berumur 17 tahun, Sukanto Tanoto bergabung dengan sang ayah yang telah mengelola tiga perusahaan di Medan.

Setelahnya Sukanto muda mengambil alih bisnisbisnis ayahnya karena ia merupakan anak lelaki sulung. Dan lambat laun, Sukanto mendirikan bisnisnya sendiri juga memperluas jaringan bisnisnya dari hanya sekadar usaha jual-beli hingga ia mampu membangun jaringan pipa gas untuk perusahaan multinasional.


Hingga kini, Sukanto Tanoto merupakan founder sekaligus pemilik RGE –Royal Golden Eagle. RGE merupakan grup global yang memiliki aset lebih dari 15 miliar US Dolar dengan sumber daya kerja lebih dari 50.000 karyawan dengan pabrik yang tersebar di Tiongkok, Indonesia bahkan Brazil, kantor penjualan mereka juga tersebar di seluruh dunia.

Bisnis RGE ini meliputi empat unit operasional yakni pulp dan kertas (APRIL – Asia Pacific Resources International Holding Ltd dan Asia Symbol), kelapa sawit (Asian Agri dan Apical), rayon dan pulp khusus (Sateri International) terakhir energi (Pacific Oil & Gas).

pulp and paper

Bisnis Sukanto Tanoto

Perjalanan karir Sukanto Tanoto memang diawali dari masa mudanya yang merupakan anak sulung yang harus mewarisi usaha atau bisnis keluarga.

Namun Sukanto Tanoto memiliki manajemen yang bagus untuk mengekspansi bidang bisnisnya menjadi lebih luas, bahkan mampu menjadikan Sukanto Tanoto menjadi salah satu orang terkaya di dunia.


Sewaktu masih memulai bisnis dibawah manajemennya sendiri, Sukanto Tanoto melakukan kunjungannya ke Taiwan, dari sana Sukanto Tanoto menyadari bahwa ternyata Indonesia hanya mengekspor kayu log dan di Taiwan diubah menjadi kayu lapis.

Parahnya Indonesia mengimpor produk jadi tersebut dengan harga yang lebih tinggi. Dengan mantab, Sukanto Tanoto yakin dapat memproduksi kayu log secara lokal. Dan pada tahun 1973, Sukanto Tanoto akhirnya membuat RGM (sekarang disebut RGE) dan berjuang untuk meyakinkan pemerintah agar memberi izin dalam pendirian pabrik kayu lapis.

Berhasil, izin didapat dan akhirnya beliau memulai bisnis katu tersebut.
Kesuksesan yang diraihnya dibidang pengolahan kayu membuat Pemerintah Indonesia meminta Sukanto Tanoto untuk bergabung dalam industri kelapa sawit. Karena waktu itu pemerintah memiliki fokus pada pertumbuhan ekonomi pada sektor kelapa sawit.Setelah itu bisnisnya berkembang lagi dan lagi.


Pada Tahun 1988, Sukanto Tanoto mendirikan perkebunan dan juga sebuah pabrik di sekitar Danau Toba yang bergerak di bidang produksi pulp, kertas dan bubur pulp. Selepas itu, selang 6 tahun kemudian Sukanto Tanoto mendirikan APRIL (Asia Pacific Resources International Limited). Yakni bisnis pulp dan kertas di Kerinci, Sumatera.

Setahun kemudian, tahun 1995 produksi komersial kertas di Asia Pacific Resources International Limited dimulai. Lepas 2 tahun kemudian Sukanto Tanoto mulai merealisasikan pembangunan pabrik pulp yang kedua.


Dan pada tahun yang sama, 1997, seperti halnya bisnis lain di Asia, bisnis Sukanto Tanoto terkena dampak krisis keuangan. Krisis ini membuat APRIL milik Sukanto Tanoto tidak berjalan maksimal karena salah satu pinjaman yang meningkat sebesar 50% akibat fluktuasi mata uang yang melonjak mempengaruhi perusahaan tersebut.

Sukanto Tanoto akhirnya menjual beberapa aset serta mengatur kembali pinjaman untuk dapat menjalankan perusahaannya. Dari kejadian tersebut ada satu hal yang dipelajari Sukanto Tanoto dan menurutnya menjadi pelajaran berharga. Yakni penerapan Corporate Social Responsibility (CSR).

pulp and paper

Saat Pemerintah tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, para pengusaha yang harus masuk demi pemenuhan tersebut. Seorang pembisnis harus menjalankan perusahaan dengan prinsip perusahaan akan berguna bagi orang banyak dan juga bagi komunitas bukan hanya berguna bagi perusahaan semata.

Benar, seiring pertumbuhan bisnis Sukanto Tanoto ditahun-tahun sebelumnya, Sukanto Tanoto berserta sang istri mulai fokus untuk kebermanfaatan sosial dari setiap bisnis yang dijalaninya. Seperti pendirian sekolah baik taman kanak-kanak maupun sekolah yang diperuntukkan bagi karyawan. Walau akhirnya dibangun juga sekolah yang diperuntukkan bagi komunitas di sekitar beroperasinya perusahaan.
Setelah krisis usai, Sukanto Tanoto kembali membuat perusahaan baru. Adalah  Pacific Oil & Gas (PO&G), perusahaan yang didirikan ini berkat kepiawaiannya melihat peluang adanya pergerakan pada sektor sumber daya energi. Awalnya operasi perusahaan tersebut mencakup produksi dan eksplorasi minyak di pesisir Sumatra. Namun saat ini, operasinya telah mencakup pengembangan ladang gas alami di Indonesia, termasuk didalamnya terminal LNG dan pembangkit listrik Combined Cycle Gas Turbine skala besar yang berada di Tiongkok.

baca juga


    Tahun 2003, Sukanto Tanoto kembali melakukan akuisisi perusahaan di Brazil, tak tanggung-tanggung Sukanto Tanoto mengakuisisi dua perusahaan sekaligus, yaitu pabrik pengolahan pulp dan perusahaan perkebunan. Operasi perusahaan tersebut diintegrasikan sedemikian rupa. Lepas itu, Sukanto Tanoto kembali membangun pabrik serat pokok viscose pertama yang dimiliki orang asing di Jiujiang, Tiongkok.

    Bahkan dalam waktu bersamaan Sukanto Tanoto juga membuat Sateri Holdings Limited, perusahaan yang bergerak di industri selulosa. Di Tiongkok, perluasan jaringan bisnis dilakukan oleh Sukanto Tanoto. Salah satunya dengan mengakuisisi 90% SSYMB, pabrik pulp dan kertas karton di Rizhao dan menyatukannya dengan APRIL. Dengan penggabungan yang dilakukan tersebut, kapasitas pabrik menjadi semakin meningkat jumlahnya lebih dari 1 juta ton pulp. Nilai itu dihasilkan sendiri dari perkebunan yang didirikannya untuk menyediakan serat.

    Leave a Reply

    3 × one =

    Ad Blocker Detected

    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

    Refresh
    error: Content is protected !!