Sukses Bisnis Dengan Merawat Pelanggan Dan Karyawan Anda

Mengenali tipe-tipe pelanggan merupakan salah satu kunci sukses para pelaku bisnis ritel yang mayoritas adalah pelaku usaha kecil menengah. Karena bisnis ritel alias menjual produk secara eceran mewajibkan penjual bertatap muka langsung dengan konsumen.
 
Terkait dengan upaya menjaring pelanggan, banyak pengusaha yang begitu bersemangat dalam menjaring pelanggan baru, bahkan rela mengeluarkan budget khusus dengan memberikan diskon yang besar atau membagikan produk secara gratis, tapi disisi lain justru mengabaikan pelanggan lama.
 
 

Kenali Tipe-tipe Pelanggan Agar Bisnis Anda Sukses

 
Jika hal itu yang terjadi sama halnya dengan merawat anak burung, memberi makan dan membersihkan kandangnya setiap hari. Tapi begitu anak burung tersebut sudah besar, kandangnya dibiarkan terbuka, sehingga burung tersebut terbang keluar.
 
Mengejar pelanggan baru memang suatu keharusan, tapi yang lebih penting adalah mempertahankan pelanggan yang sudah ada. Itu sebabnya saat melakukan kampanye produk, tekankan bahwa tujuan utamanya agar pelanggan yang sudah ada semakin loyal, baru kemudian menginjak ke tujuan yang kedua, yaitu menjaring pelanggan baru.
 
Tidak hanya pada saat melakukan promo produk, dalam kesempatan apapun pelanggan lama juga harus diperhatikan, terlebih di tengah ketatnya persaingan pasar. Itu sebabnya para pengusaha ritel perlu mengenali tipe-tipe pelanggan sebagaimana tersebut di bawah ini.
 
 
 

Pelanggan Setia

Bisnis ritel akan dapat bertahan bahkan berkembang jika memiliki pelanggan setia minimal 50 persen. Karena itu, tipe pelanggan seperti ini harus benar-benar dipertahankan dengan berbagai macam cara. Setidaknya bangun komunikasi dengan mereka secara intens, baik secara langsung, lewat telepon atau menyapa lewat media sosial.
 
Bila perlu libatkan mereka dalam membuat keputusan terkait bisnis yang Anda jalankan seperti meminta masukan kepada mereka seputar produk atau layanan.
 
Hal tersebut akan membuat mereka merasa dihargai, dan bentuk rasa terima kasih mereka atas penghargaan tersebut adalah semakin loyal sebagai pelanggan serta tidak segan-segan merekomendasikan bisnis Anda kepada orang lain.
 

Pelanggan Pemburu Diskon

Diantara tipe-tipe pelanggan yang ada, jenis pelanggan yang satu ini terbilang unik, karena mereka sesungguhnya memiliki uang yang lebih, namun baru mau berbelanja apabila ada penawaran diskon yang menarik.
 
Pelanggan seperti ini tidak boleh diabaikan karena mereka juga sangat potensial untuk membantu meningkatkan penjualan, meski untuk dapat menaklukkan mereka satu-satunya cara adalah dengan menawarkan diskon.
 

Pelanggan Insidental

Pelanggan insidental alias pelanggan dadakan ini sulit ditebak kemauannya. Mereka biasanya datang dengan tanpa membawa daftar belanjaan, datang atas kemauannya sendiri dan membeli segala sesuatu yang dia anggap menarik pada saat itu juga.
 
Karena tidak jelas kemauannya maka sulit untuk mencaritahu dengan cara apa untuk memberikan kepuasan terhadap tipe pelanggan seperti ini. Satu-satunya cara untuk memanjakannya adalah dengan memberikan pelayanan yang terbaik pada saat itu juga.
 
 
 
 

Pelanggan Berbasis Kebutuhan

Salah satu dari tipe-tipe pelanggan yang ada adalah pelanggan berbasis kebutuhan yang membeli sesuatu karena didorong oleh kebutuhan tertentu. Jenis pelanggan seperti ini saat datang ke toko biasanya langsung mencari atau menanyakan apa yang dibutuhkan. Jika apa yang dicari tidak ada, mereka akan langsung meninggalkan toko.
 
Memuaskan pelanggan seperti ini tidak mudah. Namun mereka bisa jadi pelanggan setia apabila dilayani dengan baik lewat interaksi personal yang positif. Selain itu, mereka juga mewakili kebutuhan customer yang lain dan menjadi sumber pertumbuhan bisnis jangka panjang.
 
Melalui interaksi personal dengan pelanggan tipe ini, Anda dapat menginventarisir barang-barang apa saja yang dibutuhkan oleh banyak konsumen yang tidak tersedia di toko, dan Anda tinggal melengkapinya.
 
 
 

Pelanggan Bebas

Pelanggan jenis yang satu ini juga terbilang unik jika dibandingkan dengan tipe-tipe pelanggan yang lain. Mereka datang ke toko bukan karena ingin berbelanja karena memang tidak memiliki keinginan atau kebutuhan khusus kecuali hanya ingin mencari sensasi atau experience.
 
Mereka cenderung hanya berlalu lalang, keluar – masuk toko, melihat barang-barang yang dijual, tanpa ada maksud untuk membeli. Celakanya, pelanggan seperti ini justru segmen terbesar dari sisi jumlah pengunjung namun memberikan sumbangan terkecil pada sisi penjualan.
 
Meski sumbangsih mereka sangat kecil dari sisi penjualan, namun mereka harus tetap dilayani dengan baik, karena diantara tipe-tipe pelanggan yang lain, tipe pelanggan bebas justru memiliki suara yang paling lantang di luar. Hanya saja, upayakan untuk meminimalisir waktu interaksi Anda dengan mereka daripada membuang-buang waktu dengan percuma.
 
Itulah tipe-tipe pelanggan yang harus dipahami untuk membantu mendongkrak penjualan, utamanya bagi mereka yang bergerak di bisnis ritel dan para pelaku usaha kecil menengah
 
 
 
 
 

Kenapa Karyawan Tidak Produktif?

 
Perkembangan bisnis erat kaitannya dengan produktifitas karyawan. Itu sebabnya, menjadi bencana tersendiri bagi sebuah perusahaan apabila etos kerja dan produktifitas karyawan menurun.
 
Seringkali pimpinan perusahaan menyalahkan karyawan jika produktifitasnya menurun. Karyawan ditegur, dimarahi atau bahkan dipecat karena tidak mampu memenuhi target sebagaimana yang telah ditentukan perusahaan.
 
Padahal, menurunnya produktifitas belum tentu karena kesalahan karyawan semata, tapi ada penyebab lain di dalam perusahaan yang menjadi pemicu menurunnya produktifitas.
 
Jika penyebab tersebut tidak diatasi, percuma saja memecat karyawan yang kurang produktif dan menggantinya dengan karyawan baru, karena ujung-ujungnya karyawan baru itupun produktifitasnya juga tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
 
Untuk meningkatkan atau setidaknya mempertahankan produktifitas karyawan, beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan oleh pimpinan perusahaan.
 

Imbalan yang Sepadan

Siapapun tidak mungkin dapat bekerja dengan maksimal jika hasil dari pekerjaannya masih belum dapat menutupi kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Karena penghasilan yang diperoleh dari tempatnya bekerja belum dapat menutupi kebutuhan hidup, maka hampir bisa dipastikan dia akan mencari pekerjaan sampingan.
 
Hal itulah yang membuat tenaga dan pikirannya terbagi, dan membuatnya tidak bekerja dengan sepenuh hati. Sehingga berdampak pada menurunnya produktifitas kerja.
 
Saat pemerintah menetapkan UMR (Upah Minimum Regional), sebenarnya tidak hanya untuk melindungi tenaga kerja, tapi secara tidak langsung juga memberikan perlindungan terhadap perusahaan tempat karyawan bekerja.
 
Karena seorang karyawan hampir bisa dipastikan akan bekerja dengan maksimal, jika imbalan yang dia peroleh dari tempatnya bekerja bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup diri dan keluarganya, dan standar untuk dapat mencukupi kebutuhan hidup tersebut adalah UMR.
 
Imbalan tidak hanya sekedar gaji, tapi juga bonus kerja, jenjang karir serta perhatian yang lebih. Seorang pimpinan juga wajib memikirkan uang makan, uang transport serta tunjangan yang dapat menutupi kebutuhan hidup karyawan. Jika kebutuhan hidupnya terpenuhi, produktifitas karyawan dijamin akan bertahan atau bahkan mengalami peningkatan.
 
 
 
 
 
baca juga
Mengapa Bisnis Butuh Perencanaan Dan Teknologi ?
5 Cara Usaha Anda Dipromosikan “Dari Mulut ke Mulut”
1000.001 Ide Bisnis UKM Dengan Modal Mulai 100 Ribu
 
 

Suasana Kerja yang Menyenangkan

Lingkungan mempengaruhi kondisi fisik dan kejiwaan seseorang, begitu juga dengan lingkungan kerja. Seorang karyawan akan sulit untuk dapat bekerja dengan maksimal jika lingkungan tempat dia bekerja tidak nyaman.
 
Lingkungan yang dimaksud bisa dalam arti fisik yaitu ruang tempat karyawan bekerja, dapat pula dalam arti non-fisik yaitu aturan-aturan perusahaan yang membelenggu dan tidak berpihak kepada karyawan, pimpinan yang otoriter dan tidak mau menerima masukan, tuntutan kerja yang melebihi kemampuan tanpa ada kebijakan untuk pengembangan diri karyawan, dan sebagainya.
 
Oleh sebab itu, pimpinan wajib mengkondisikan suasana kerja yang nyaman bagi karyawan. Berikan ruang kerja yang nyaman sehingga karyawan enjoy pada saat menjalankan tugas dan kewajibannya, bila perlu ciptakan ruang kerja layaknya suasana rumah.
 
Dengan cara demikian, karyawan akan lebih betah berlama-lama di tempat kerja. Dia tidak akan merasa tertekan saat harus lembur, bahkan menikmatinya, sehingga dengan sendirinya produktifitas karyawan akan meningkat.
 
Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan tidak hanya dengan mengkondisikan ruang kerja yang familier tapi juga menciptakan hubungan yang harmonis antar karyawan dan antara pimpinan dengan karyawan.
 
Jika suasana kekeluargaan sudah terbangun, hubungan antar personal di dalam tubuh perusahaan sudah tidak lagi layaknya hubungan antara pimpinan dengan karyawan, tapi sudah seperti hubungan antar keluarga.
 
Hal tersebut dengan sendirinya akan menghapus sikap otoriter seseorang pimpinan, karena masukan dari karyawan tidak lagi dipandang sebagai suatu tuntutan tetapi lebih sebagai saran atau masukan.
 
Kepedulian pimpinan terhadap karyawanpun akan meningkat, karena kedekatan hubungan membuat pimpinan tidak lagi memandang karyawan sebagai anak buah melainkan seperti anggota keluarga sendiri. Sehingga kesejahteraan dan masa depan dari karyawan akan selalu mendapat perhatian bahkan diprioritaskan.
 
Begitu juga sebaliknya, karyawan tidak lagi bekerja karena tuntutan pimpinan dan aturan perusahaan, melainkan muncul dari kesadaran pribadi karena merasa ikut memiliki perusahaan.
 
Jadi, jika produktifitas karyawan menurun, jangan langsung karyawan yang divonis bersalah, tapi lakukan evaluasi terlebih dahulu apa yang menjadi penyebab menurunnya prioduktifitas tersebut.
 

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!