Temukan Kreasi Tenun Nusantara di Torajamelo

Bagi pecinta kain tenun, nama Torajamelo tentu sudah tidak asing lagi, karena brand fashion yang khusus menggarap kreasi kain Nusantara ini memiliki butik di sejumlah tempat di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, membuka onlineshop serta aktif mengikuti pameran tekstil baik level nasional maupun internasional.
 
Produk-produk yang dihasilkannya juga menjadi rujukan pecinta fashion bernuansa tadisional Nusantara, meski harganya tidak bisa dibilang murah. Untuk kebaya misalnya, dijual dengan kisaran harga Rp.770 ribu, sedang untuk sepatu dan tas bisa mencapai Rp.1,2 juta. Begitu juga dengan produk-produk yang lain seperti dress, paruki, tote bag serta souvenir.
 
Kualitas dari produk Torajamelo yang tidak perlu disangsikan lagi, membuat produk-produknya laris di pasar eksport dengan mengirimkannya ke sejumlah negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, Jerman dan Italy.
 
Sukses yang diraih Torajamelo tersebut tentunya berkat peran dari sang pendiris sekaligus CEO dari Yayasan Toraja Melo dan PT Toraja Melo, Dinny Jusuf, dibantu adiknya, Nina yang menangani bagian produksi, operasional sekaligus desainer.
 
Melalui yayasan itulah Dini bersama adiknya tidak hanya menjadikan tenun sebagai ladang bisnis, tapi juga sebagai sarana untuk memberdayakan para penenun tradisional. Hal tersebut ditunjukkan lewat pembinaan yang diberikan kepada lebih dari 1000 penenun tradisional di empat wilayah, yaitu Toraja, Mamasa, Pulau Lembata dan Pulau Adonara.
 

Berangkat dari Niat Menggerakkan Ekonomi Kreatif Lokal

 
 
Torajamelo yang didirikan Dinny Jusuf pada tahun 2008 awalnya tidak didasari dengan niatan untuk berbisnis, melainkan untuk menggerakkan ekonomi kreatif lokal serta membantu kaum perempuan di pedesaan yang terbelit oleh persoalan ekonomi dan kekerasan.

 
“Fokus saya adalah pengembangan komunitas penenun, utamanya para penenun yang masih menggunakan alat tenun tradisional “gedhok”. Harapannya agar mereka bisa memperoleh tambahan penghasilan sekaligus melestarikan seni budaya tenun yang kini semakin ditinggalkan,” papar Dinny.

 
Kesungguhan dalam memberikan pembinaan terhadap para penenun tradisional yang dilakukan Torajamelo butuh waktu sekitar 10 tahun untuk dapat dikenal masyarakat luar, tidak terkecuali industri fashion internasional melalui berbagai ajang pameran tingkat internasional. Dampaknya sudah barang tentu terhadap peningkatan kesejahteraan para penenun.
 
Dalam memberikan pembinaan tersebut, Dinny tidak segan-segan turun sendiri ke daerah-daerah yang terpencil agar dapat meyakinkan para penenun bahwa kain yang mereka hasilkan bisa memberikan penghasilan yang layak bagi kehidupan mereka dan keluarga.
 
Sudah barang tentu apa yang disampaikan Dinny tersebut tidak hanya sekedar berbicara, melainkan  juga membeli hasil karya para pengrajin tenun dengan harga yang pantas.
 
“Ketika muncul keyakinan bahwa menenun dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan yang layak, maka para orang tua tidak akan ragu-ragu untuk mengajak anak-anaknya menjadi penenun dan generasi muda juga akan semakin antusias untuk belajar menenun,” kata Dinny.
 
Sukses menggandeng dan memberdayakan para penenun di Toraja, pada tahun 2013 Torajamelo mengembangkan sayapnya ke Mamasa yang ada di Sulawesi Barat untuk melakukan hal yang sama.
 
Pengembangan tersebut terus dilakukan pada tahun 2014 lewat kerjasama yang dijalin dengan Asosiasi PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) untuk merangkul para penenun di Pulau Lembata dan Pulau Adora yang ada di Nusa Tenggara Timur.
 
baca juga
Rahasia Mengelola Bisnis Kue Kering Ala Pawon Kue
Rustono, Bawa Tempe Sampai ke Negeri Jepang
1000.001 Ide Bisnis UKM Dengan Modal Mulai 100 Ribu
 
 
Pembinaan yang dilakukan kepada para penenun tidak hanya sebatas menampung hasil karya mereka, tapi juga mengenalkan mereka dengan trend mode, desain pakaian dan banyak hal dalam menghadapi pasar dunia.
 
Mereka juga dibantu akses pembiayaan mikro, diberikan tunjangan sosial, layanan obat dan kesehatan serta beasiswa bagi anak-anak mereka yang masih sekolah.
 
“Kami berupaya terjadi regenerasi yang membuat pengetahuan tentang menenun ini diteruskan oleh generasi muda. Target kami nantinya dapat membina sebanyak 5.000 penenun di seluruh Indonesia,” papar Dinny menyampaikan harapannya.(*)
 

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!