Titik Supartina, Mendirikan Usaha Batik Secara Mandiri

undercover.co.id – Profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil masih dianggap menjanjikan oleh sebagian besar orang Indonesia.

Dengan jaminan penghasilan yang menggiurkan dan jalur karir yang stabil membuat banyak orang rela berjuang untuk bisa masuk ke dalam instansi ini.

Namun tidak semua orang memilih untuk terus menjalani karir yang pasti sebagai pegawai negeri.

Ada yang memilih untuk menjawab tantangan menjadi pengusaha dan membuka lapangan pekerjaan yang sedang digalakkan oleh pemerintah.

Ibu Titik Supartina justru memilih untuk mangkat dari dinas pendidikan kota Grobokan dan beralih menjadi pebisnis batik.

Selama masih menjadi pegawai negeri sipil, Ibu Titik memang telah menunjukkan ketertarikannya dalam dunia membatik.

Pilihan ibu Titik untuk membuka usaha batik sendiri banyak dipengaruhi kegemarannya melakukan hal serupa .

Selain itu Ibu Titik juga menapak tilas sejarah kakeknya yang merupakan seorang seniman batik terkemuka dari Imogiri.

Berawal dari Sering Bolos

Ide untuk berbisnis batik bermula dari kegemaran Ibu Titik dalam membuat batik.

Sembari menjadi pegawai negeri sipil, Ibu Titik juga gemar menghabiskan waktunya untuk mencanting dan menenun batik di kala senggang.

Karena keseriusannya menggeluti membatik, Ibu Titik akhirnya memutuskan untuk menjadikannya sebagai usaha.

Mulanya kegiatan usaha membatik tersebut dijalani sambil meneruskan pekerjaannya sebagai pegawai negeri.

Namun karena tidak dapat membagi waktu antara kegiatan membatik dan bekerja membuatnya sering bolos setiap hari Jumat.

Selama tahun-tahun pertama mendirikan bisnis , Ibu Titik mengaku kesulitan untuk membagi fokus yang membuatnya mengorbankan waktunya sebagai pegawai negeri

Merasa bersalah karena tidak bisa menjalankan pekerjaan dengan amanah, Ibu Titik pun akhirnya merelakan karirnya sebagai pegawai negeri untuk fokus membesarkan usaha membatik.

Terhitung sejak berhenti sebagai pegawai negeri hingga sekarang, Ibu Titik sudah menjalani bisnis batiknya selama empat tahun tanpa halangan berarti.

Setelah fokus dalam membesarkan usaha membatiknya, tak pelak batik buatannya mulai mendapat perhatian dari penyuka batik di Yogyakarta.

baca juga

Bergabung dengan Amartha

Tidak hanya piawai dalam mengurus usaha batiknya, Ibu Titik juga melek terhadap perkembangan teknologi terkini.

Untuk membesarkan usahanya , Ibu Titik memilih untuk memanfaatkan pinjaman dari lembaga teknologi finansial berbasis Peer to Peer.

Perkenalan ibu Titik dengan dunia lembaga P2P membawa beliau bertemu dengan salah satu partner dari Amartha, lembaga pinjaman P2P yang dikhususkan untuk memberdayakan perempuan.

Pada waktu itu Ibu Titik mengenal Amartha ketika sedang berada di Jakarta dalam rangka mengikuti workshop batik.

Dengan tambahan modal dari Amartha, Ibu Titik mulai membesarkan usaha batiknya dengan mendatangkan cap untuk motif-motif terkini.

Selain itu Ibu Titik juga menggunakan modal tersebut untuk membuka sebuah toko kecil di daerah Morita, Yogyakarta.

Beliau mengaku sangat terbantu sekali dengan keberadaan Amartha yang mempelopori sistem pinjaman tanpa bunga yang memberatkan pelaku usaha kecil.

Bersama Amartha, Ibu Titik mempelajari sistem tanggung renteng untuk menutupi kebutuhan pinjaman.

Memulai bisnis dari sebuah kios kecil, Ibu Titik sendiri akhirnya bisa menjajakan batik buatannya di ajan internasional macam Inacraft.

Di ajang Iini, batik buatan Ibu Titik tanpa dinyana bisa mendatangkan minat dan ketertarikan para wisatawan asing yang berkunjung.

Tidak hanya meningkatkan keuntungan, Ibu Titik juga dapat ikut memberdayakan ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumahnya.

Bagi Ibu Titik, ia dapat merasa senang apabila bisa membantu ibu-ibu tersebut meringankan tugas para suaminya mencari nafkah.

Tidak bergerak sendiri, Ibu Titik lagi-lagi bekerja sama dengan Amartha juga turut mengadakan pendidikan literasi keuangan kepada para ibu.

Nantinya para ibu-ibu ini akan didorong untuk membangun koperasi dengan sistem tanggung renteng yang bisa digunakan oleh para anggotanya.

Kegiatan penyuluhan dan operasional koperasi tetap akan mendapat perhatian dari pihak Amartha.

Total Ibu Titik sudah berhasil memberdayakan kurang lebih sebesar 20 orang untuk mencari penghasilan tambahan dari pengerjaan batik.

baca juga

    Pernah dikunjungi oleh Ivan Gunawan

    Meski tergolong bisnis yang baru berkembang, batik buatan ibu Titik sudah berhasil menarik perhatian figur publik khususnya di bidang fashion.

    Salah satu publik figur yang sempat mengunjungi Ibu Titik yaitu desainer dan komedian terkenal, Ivan Gunawan.

    Ivan Gunawan sendiri merupakan salah satu desainer yang banyak mengeluarkan kreasi-kreasi batik dari berbagai daerah

    Pada tahun 2017 silam, Ivan Gunawa pernah mengeluarkan sebuah peragaan busana batik dan workshop teknik membatik hasil kolaborasinya dengan para pembatik tradisional dari Kudus.

    Ivan sendiri sempat mengungkapkan kekagumannya terhadap hasil batik buatan Ibu Supartina yang memiliki motif yang unik.

    Ibu Titik sendiri mengaku sangat bangga bahwa batik buatannya sudah diakui oleh desainer sekelas Ivan Gunawan.

    baca juga

      Membutuhkan Hati yang Gembira

      Meskipun berniat untuk membesarkan usaha miliknya, namun Ibu Titik mengaku tidak selalu memaksakan diri untuk membuat bati setiap hari

      Ibu Titik mengaku hanya ingin menghasilkan batik dengan kualitas terbaik yang tentu saja membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih

      Menurut Ibu Titik, proses mengerjakan batik dapat diibaratkan sebagai sedang mengurus anak dengan kasih sayang, sehingga jika suasana hati sedang tidak memungkinkan, Ibu Titik memilih untuk tidak membuat batik.

      baca juga

      Oleh karena itu, Ibu Titik mengatakan bahwa ia tidak pernah mematok target produksi batik setiap bulannya.

      Meski tidak selalu memproduksi batik, namun Ibu Titik mengaku bahwa pendapatannya dari usaha batik sudah melebihi pendapatannya ketika ia masih menjadi pegawai negeri.

      Rata-rata Ibu Titik bisa mengantongi sekitar 7 juta rupiah dari bisnis ini, sementara ia banyak mengandalkan uang pensiunnya untuk kebutuhan makan sehari-hari.

      Ad Blocker Detected

      Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

      Refresh
      error: Content is protected !!