Toko Online Nia

SEO UNDERCOVER CO ID 83

Undercover.co.id – inspirasi cerpen bisnis

Ardian menyeruput kopinya, sembari menatap dua sepupu di hadapannya. Nia dan Andien.

Sejam terakhir Nia dan Andien bergantian menceritakan kendala toko baju muslim mereka. Sepi pembeli menjadi muara dari semua masalah.

“Kalau pun ada yang datang, Yan, nawar harganya ngawur. Jangan dulu mikirin untung. Bisa balik modal bayar sewa ruko sudah bagus.” Nia berujar.

“Intinya, Yan,” Andien berdehem, “kami melihat tidak ada lagi peluang untuk jualan baju disini. Masalahnya, aku dan Nia berbeda pendapat. Aku mau kita pindah tempat ke ruko tengah kota, sewa lebih mahal tapi banyak orang lalu-lintas. Sedangkan Nia, maunya kita tutup aja..”

Ardian mengamati lagi wajah kedua sepupunya. Dia masih ingat dua tahun lalu membantu menggotong kardus-kardus pakaian muslim dari tempat grosir. Menyetir mobil box rental. Lalu menyusunnya rapi dalam etalase dan lemari.

Toko yang dulu nampak benderang itu kini mulai ditinggalkan pembeli. Pasti ada solusi, pikir Ardian.

Pasti ada.

“Kenapa tidak buka toko online saja?”

Nia dan Andien berpandangan. Toko online. Sebelum mereka membantah, Ardian kembali berbicara.

“Toko online bikin pembeli kalian jadi enjoy belanja. Bisa dimana aja, kapan aja. Gak perlu habis waktu di jalan. Gak perlu pindah ke ruko tengah kota, Dien, kalo mau rame. Ruko-ruko disana aja udah buka cabang di online.”

“Tapi bukannya toko online ini sama aja ya, Yan? Pembelinya ya yang biasa beli di toko fisik? Toko kita aja sekarang senyap gini..” Nia coba berargumen.

“Belum tentu, Nia. Bisa jadi pembeli kalian itu sebenarnya hanya gak ada waktu karena sibuk kerja? Pulang sore, udah capek. Mending rebahan di rumah. Lain halnya online. Mereka bisa buka website di sela istirahat, atau di mobil pas macet. Mereka gak perlu pusing karena toko kalian gak punya jam tutup.”

Nia dan Andien kembali berpandangan. Kenapa solusi toko online ini tidak pernah terpikirkan. Padahal semua sudah serba digital.

“Hmm.. kita mulai dari mana ya?”

Andien bicara sendiri. Di dalam otaknya seperti banyak suara yang meneriakkan beragam ide.

“Orang sukses itu adalah peniru yang ulung bos-bosku hehe. Jadi mari kita mulai dari…. lihat tokonya orang!”

Ardian tertawa terbahak. Diikuti dua sepupunya, kerut di wajah mereka mulai memudar.

“Oke Nia, pantau medsos. Andien, kamu lihat-lihat toko online serba ada kayak Tokopedia dan Shopee. Aku fokus ke toko online pribadi.” Cepat saja Ardian membagi tugas.

Cukup lama mereka memelototi ponsel masing-masing. Hampir tidak ada yang berbicara. Sesekali bahkan Ardian sibuk menulis-nulis di belakang lembar kwitansi.

Setelah setengah jam, Ardian membuka kembali percakapan.

“Kalau kalian mau menyasar kelas menengah ke atas, coba lihat website Berrybenka. Itu bisa jadi awal acuan untuk bikin toko pakaian.”

“Daritadi aku bingung deh, beli baju online gimana ngukur pas badan ya?”

“Solusinya gampang kok. Tinggal kasih panduan ke pembeli, misal cara mengukur lingkar pinggang, atau lebar bahu. Jadi nanti ukuran baju di toko kalian bukan cuma S, M, L, tapi angka-angka rinci di sekujur tubuh.”

Terdengar gumaman panjang dari Nia dan Andien.

“Hal terpenting adalah pasang foto-foto baju cakep, beserta modelnya. Halaman awal itu jadi etalase. Toko online saling rebutan pandangan pertama hehehe.”

“Terus,” Andien melanjutkan, “bagusnya kita bikin kategori di depan. Misal baju berdasarkan warna, atau range harga, atau ukuran baju, supaya pembeli gak bingung gitu ngutak-atik website.”

“Kalo aku lihat toko online di Instagram, komen orang kebanyakan seragam, misal pada nanyain diskon, atau durasi kirim barang. Kita perlu bikin toko di Instagram juga gak ya?”

Ardian nampak berpikir. Lalu menjawab.

“Kurasa perlu, karena kelas menengah sekarang kebanyakan punya akun Instagram. Mereka kan suka pamer hehe. Tapi nanti pembeli harus tetap diarahkan ke website toko online dan transaksi disana.”

Nia dan Andien nampak manggut-manggut. Lalu Andien menimpali.

“Orang sekarang suka sesuatu yang eksklusif. Jadi bagusnya kita bikin sistem membership di website kita. Gimana, Nia?”

“Setuju!!” Tanpa jeda panjang Nia dan Ardian menjawab bersamaan.

“Member harus punya sesuatu yang signifikan, misal promo di awal bulan, atau tambahan diskon di hari ultah. Nah pas daftar, kita dapat identitas diri dan email mereka kan. Tiap minggu kita serbu email itu dengan brosur-brosur cantik biar mereka ingat kita terus hehehe.”

Sejak tadi Ardian terus mencatat poin-poin penting. Dia sampai sudah menghabiskan tiga lembar kertas kwitansi.

baca juga

    “Perlu buka di Tokopedia atau Shopee juga gak?”

    “Jelas dong,” Nia cepat menjawab, “kita pasang di semua platform. Kita fokus online saja mulai sekarang, Din, perlahan-lahan kita tutup ruko ini. Kita sewa gudang aja buat pakaian, jadi biaya operasional bisa ditekan hehe.”

    “Asiiikk, jadi kita bisa kerja dari cafe gitu ya hehehe.”

    Ad Blocker Detected

    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

    Refresh