Toko Plaza Lensa Pak Sandi

Jasa

undercover.co.id – “Seperti jam tangan, Pak, banyak yang bilang kalau kamera akan digantikan ponsel. Tapi menurut saya, dan nyatanya memang seperti itu, dunia fotografi tidak akan pernah mati. Karena mereka punya segmentasinya sendiri.” Nanda membuka presentasi.

Terhitung sudah tiga kali ini dia mengunjungi toko dan bertemu dengan Pak Sandi, pemilik toko kamera di bilangan ibukota. Pak Sandi meminta jasa Nanda untuk mencari solusi toko kameranya yang makin sepi di empat bulan terakhir.

Di dua kunjungan awal, Nanda mengikuti keseharian Pak Sandi dan dua karyawannya sejak membuka toko sampai jam makan siang. Nanda tahu sejak awal apa solusi Toko Plaza Lensa milik Pak Sandi ini, yaitu membuat toko online.

Nanda hanya perlu argumen dan alasan yang tepat.

“Pembeli toko Pak Sandi sebenarnya tidak kemana-mana, mereka masih ada dan masih perlu Bapak. Namun, mereka tidak biasa lagi berkeliaran secara fisik, Pak. Mereka sudah kadung dimanjakan internet. Jadi, Bapak yang harus ikut mereka. Saya menyarankan Toko Plaza Lensa untuk membuat toko online.”

Seperti yang Nanda perkirakan, tidak perlu lama bagi Pak Sandi untuk menyanggah.

“Apa bedanya, Nanda, kita jualan online dan offline kalau barangnya toh sama saja? Saya masih merasa kalau kamera sekarang memang mulai ditinggalkan karena terlampau mahal..”

Di kunjungan kedua, Nanda melihat lemari piala di balik pintu kasir. Dia menebak itu adalah milik Pak Sandi.

Tidak banyak dia temui pemilik usaha yang berangkat dari hobi. Pak Sandi salah satunya. Nanda tidak mau orang seperti ini untuk kalah. Ponsel tidak lebih baik dari kamera. Titik. Plaza Lensa harus tetap hidup.

“Ada dua poin, Pak Sandi. Pertama, kita harus menyadari bahwa pangsa pasar toko Bapak adalah untuk kelas menengah ke atas. Saya kaget lihat harga lensa bisa puluhan juta.”

Kata Nanda sambil menunjuk lemari di sisi kanan. Dia teringat kameramen Piala Dunia sepakbola setiap melihat lensa panjang itu.

“Kamera ponsel, meski harganya belasan juta, pemakainya kebanyakan hanya remaja tanggung, Pak. Mereka memotret untuk update status di media sosial. Mereka memang bukan target market kita.”

Nanda menunggu Pak Sandi berkomentar, namun hening. Lantas dia melanjutkan.

“Kedua, sebenarnya, Pak, daripada membahas soal duel kamera vs ponsel, sebenarnya ada perdebatan lebih seru di kalangan fotografer pemula sendiri, yaitu skill vs equipment. Mana sih yang lebih dibutuhkan seorang fotografer, kemampuan atau perlengkapan kamera yang mumpuni?”

Pak Sandi berdehem. Nanda melihat Pak Sandi mengangguk tipis, dengan tatapan mata yang tetap terpaku padanya. Tidak salah lagi, Nanda mulai mendapat perhatian Pak Sandi. Lantas dia lanjutkan.

“Di website toko online nanti, pembeli harus tahu bahwa kita juga aware akan hal itu. Mereka harus tahu kalau kita mengerti mereka. Kita adalah bagian dari mereka. Jadi, selain halaman lapak kamera, kita juga menyediakan artikel fotografi yang diupdate mingguan. Topiknya beragam, Pak, namun kebanyakan soal tips fotografi.”

“Setelah pasar pembeli ekonomi menengah kita pegang. Perlahan, kita juga menyasar kaum millennial, Pak. Kita sadarkan mereka akan potensi fotografi sebagai hobi yang bisa mendatangkan uang. Kita angkat kisah sukses food blogger, youtuber, dan public influencer lain yang sukses karena kualitas foto dan videonya.”

“Menarik, Nanda. Lanjutkan.” Pak Sandi mengusap janggut tipisnya.

“Toko online punya kelebihan signifikan, Pak, yaitu selalu buka dan bisa diakses dari mana saja. Untuk mempercepat publikasi, kita buat akun media sosialnya juga. Instagram, facebook, twitter. Kita masuk lewat komunitas fotografi di Indonesia, baik online maupun offline. Kalau ada hunting foto bareng, atau kopi darat, Pak Sandi join saja sekalian promosi hehe.”

baca juga

    Pak Sandi terlihat mencatat poin-poin yang Nanda utarakan. Tapi lantas dia bertanya.

    “File presentasimu itu nanti dikasih ke saya kan?”

    “Jelas, Pak. Saya kawal terus Plaza Lensa sampai buka toko online-nya hehe.” Jawab Nanda sambil tersenyum.

    “Apakah pembeli merasa aman jika membeli barang mahal seperti kamera dan lensa secara online? Mereka kan tidak bisa memegang dan melihat fisiknya?”

    “Nah, disitu lah letak keunggulan toko Bapak. Karena Toko Plaza Lensa berangkat dari toko fisik, lalu menjadi online. Pembeli lebih percaya karena mereka merasa punya tempat untuk mengadu jika ditipu. Banyak loh, Pak, toko kamera yang hanya ada di dunia maya.”

    “Solusi lain adalah asuransi, Pak. Banyak jasa pengiriman paket yang menawarkan opsi asuransi, angkanya dihitung sekian persen dari harga barang. Kita berikan pilihan kepada pembeli untuk menggunakannya atau tidak.”

    Pak Sandi mengangguk berkali-kali, dan cukup lama berbicara dengan dirinya sendiri. Dia nampak serius mempertimbangkan saran Nanda untuk membuka toko online.

    baca juga

      “Baiknya kita mulai dari mana ya?”

      “Kita buat database dulu, Pak. Semua kamera dan perlengkapannya seperti lensa, lampu flash, tripod, software editing, mikrofon, dan lain-lain. Kita buka lapak di online shop yang mapan, seperti Tokopedia atau Shopee. Selanjutnya kita harus punya website sendiri, dimana kita bebas posting barang, harga, artikel mingguan, dan membuat membership digital.”

      Cepat saja Pak Sandi menjabat tangan Nanda. Erat.

      Jasa
      error: Content is protected !!