Tren Flexing, Baik atau Buruk untuk Merek?

undercover.co.id – Tren Flexing, Baik atau Buruk untuk Merek? Kebiasaan orang memamerkan sesuatu yang mereka punya sudah terjadi sejak lama. Di era media sosial, pamer diistilahkan dengan flexing. Bagi merek, flexing bisa menjadi penanda, apakah sudah menjadi kebanggaan penggunanya atau belum.

Jam tangan penuh berlan gn harganya cuma Rp 9 millar? Murah banget

Konten-konten semacam itu akhir-akhir semakin menjamur, Beberapa di antaranya semakin kreatif storytelling-nya, “Mas-mas maaf saya kebanjiran Sepatu saya jadi rusak, di sini jual sepatu nggak?” Ungkap seorang pris bartelanjang kaki di sebuah video pada seorang pramuniaga toko. Sang pramuniaga toko menawarkan sepatu dengan harga puluhan juta yang kemudian tanpa pikir panjang disanggup oleh sang pria kebanjiran itu

Perilaku semacam ini makin populer dan diberi nama beken sebagai “flexing” yang artinya adalah pamer. Objek flexing beragam, walaupun yang seolah-olah membludak dan menonjol adalah flexing kelas ekstrem yang memamerkan mobil mewah, barang-barang fesyen bernilai puluhan hingga ratusan juta, namun sebenarnya soft flexing sudah terjadi sejak media sosial menjamur. Lihatlah orang- orang, termasuk kita, yang secara sadar atau tak sadar telah juga mempraktikkan flexing ketika membagikan foto makanan hits di timeline media sosial kita.

Begitu juga ketika kita update story media sosial ketika kita baru mendarat di bandara Haneda Jepang atau Schiphol Amsterdam “Soft flexing” memang membawa kesenangan tersendiri untuk kita. Bahkan kita gatal untuk tidak membagikan kunjungan ke beach club terbesar di Asia tenggara yang baru dibuka di Bali. Begitu pula godaan untuk membagikan potongan momen konser artis Korea Selatan yang kita hadir. Sebagian dari kita sedikit atau banyak bergelut dengan godaan flexing pada levelnya masing-masing. Pertamaan besarnya adalah, apakah ini hal yang baik atau buruk untuk brand owner?

Mengacu pada teori kebutuhan manusia yang dicetuskan oleh Abraham Maslow, salah satu kebutuhan tertinggi manusia adalah self actualization. Manusia memang tidak hanya hidup dari makanan dan hiburan saja, tap Juga kebutuhan untuk bisa mendapat pengakuan dari sekitar. Jika kita mau jujur kebutuhan ini sudah muncul dan difasilitas sejak kita duduk di bangku sekolah. Lihatlah bagaimana masa-masa SMP dan SMA kita dipenuhi oleh dorongan untuk aktif dalam berbagai aktivitas yang dipertontonkan ke depan banyak orang.

Para lelaki ngeband atau unjuk kebolehan bermanuver dengan bola basketnya pada pertandingan antarkelas. Sementara, yang perempuan bersemangat mempertontonkan kemampuan dance-ma Ngeband, main basket dan nge-dance bukan sekadar untuk memuaskan hasrat untuk menikmati seni dan olahraga, namun juga dorongan untuk juga dihat, dinikmati dipul, dan dikagumi oleh teman-teman yang menonton

Sebagian besar dari apa yang kita lakukan di depan banyak orang, sulit untuk dipisahkan apakah ini bentuk ekspres (to express) atau dorongan untuk mengesankan (to impress) orang sekitar? Karena, aka mengacu pada Maslow Hierarchy of Needs, maka kebutuhan aktualisasi diri tidak bisa dilepaskan dari keinginan atau setidaknya kesenangan untuk dipuj. Maka dari itu, dalam level tertentu. flexing sangat wajar dan tidak perlu dekapi negatif Terutama jika kita mashat hakkat media sosial sebagai flexing media.

Fungsi media sosial untuk bisa berbagi potongan hidup kita ka orang-orang dalam jaringan kita juga tidak bisa dilepaskan dari kemungkinan bahwa dorongan untuk berbagi fe moment itu juga tidak bisa lepas dari tujuannya untuk mendapat perhatian. Fakta bagaimana sulitnya untuk menahan diri tidak membagikan De moment kita di media sosial menunjukkan bagaimana kebutuhan untuk bisa mengaktualisasikan diri menjadi tak terbantahkan

Pleasure yang kita dapatkan dari jumlah Aka, dan berbagai komentar positif yang muncul dari setiap unggahan kita memang nyata adanya. Oleh karena itu, kita lebih sering membuka media sosial kita di hari katika kita baru saja membagikan le moment tersebut. Nook yang muncul adalah pleasure yang membuat kita tergerak untuk melihatnya dan juga untuk terus membagikane moment. Kita suka untuk disukai orang lain dan itulah konsep social currency yang membuat kita terus menjaga eksistensi kita.

Nikmatnya pengakuan dari orang sekitar bahkan telah mengakibatkan dopamine rush yang menciptakan ekspektasi untuk dipuj bahkan sebelum pujian itu benar-benar datang. Hal itu yang terus menjaga konsistensi kita untuk terus berbagi

baca juga

    Namun, kamampuan kita untuk beradaptasi terhadap sesuatu yang berulanglah yang membuat mereka yang sudah kaya raya sejak lahir tidak punya dorongan untuk flexing sakuat yang tidak kaya dari lahir. Setelah bertahun- tahun diakui sebagai orang kaya, tentunya pujian yang muncul tidak lagi menghadirkan dopamine rush seperti mereka yang baru. Seorang mantan atasan saya yang merupakan anak kandung salah satu keluarga terkaya di republik ini memilih nama yang begitu bersahaja dan (maaf) lebih akrab sebagai nama di pedesaan sebagai pengenalnya di akun media sosial. Nama Martin diubah menjadi Termin di media sosial Saya menunggu-nunggu kapan pengacara kondang yang gemar pamer cincin milaran di media sosial kehilangan dopamine rush dari kebiasaannya tu

    Kebutuhan untuk aktualisasi dini kita juga sering kali menjebak kita untuk menjadi kompetitif. Maka dari itu, katika kita malhat foto kita bersama banyak orang di satu sesi group photo kita cenderung untuk melihat diri kita di dalam foto tersebut yang kemudian melihat orang-orang yang kita anggap sebaga “pesaing” selain orang-orang lain yang memilki hubungan baik dengan kita

    Flexing memiliki daya magnet yang sebegitu kuatnya karena memiliki multirelevansi. Fakta bahwa kita makhluk sosial yang selalu punya

    ketertarikan pada orang-orang yang kita kenal ditambah fakta bahwa objek flexing pada umumnya adalah hal-hal yang membawa pleasure untuk kita membuat konten-konten flexing banjir exposure. Suka atau tidak terhadap sosok yang melakukan flexing. menyaksikan konten flexing tetap memberikan “pleasure” tersendiri untuk otak kita. Maka dari itu, kita terus mengikutinya, selain juga melakukannya pada level yang kita mampu. Konsep merek yang pada awalnya diciptakan sebagai pembeda produk dan layanan telah berkembang begitu jauhnya. Merek sudah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar

    pengenal produk dan berkembang merack pengenal penggunanys. You are what you use atau dalam konteks flexing. You are what you flex Banyak merek sudah bartransforma fungsinya menjadi identitas melebihi fungst yang bisa diberikan oleh KTP. Kita mengenali dan mengelompokkan orang berdasarkan merek mobilnya, merek tasnya, merek ponselnya, dan bahkan merek restoran tempat la makan. Merck-merek besar yang sudah mencapai level cult membuktikan bagaimana konsumen “pasang badan untuk membela merek yang mereka pakai dari serangan haters juga karena merek yang mereka bala itu adalah Identitas mereka. Sehingga hinaan terhadap merek adalah hinaan terhadap diri mereka sendiri.

    Realitas ini menghadirkan kesempatan bagi para pemilik merek untuk bisa ikut jalur cepat menuju laval cult. Fakta bahwa hal-hal yang menjadi objek flexing adalah merek-merek yang memiliki tempat spesial di benak koreumen kiranya dilihat sebagai salah satu acuan untuk

    mengevaluasi apakah merek kita sudah di jalan yang benar atau belum. Kebiasaan flexing in layaknya travestor di bandara yang membantu pelancong untuk lebih cepat sampai gate tujuannya dengan lebih cepat dan minimum effort.

    Kekuatan media sosial dipadukan dengan kebutuhan konsumen untuk aktualisasi diri ini adalah kesempatan emas. Tapi, jika dipandang dari perspektif lain, kesempatan ini juga bisa berarti ancaman bagi merak yang tidak camik meramu positioning-mya. Mereka yang kurang memiliki taste yang baik dalam mendesain tampilan dan kurang detail mendesain experience akan mendapat hukuman dari konsumen yang memilih untuk memihak pada marak sebelah yang lebih mampu memfit bido flaxing maraka.

    Mengutip pendapat Elon Musk, “brand is all about perception, and perception will match reality. Endorsement gratis dari para pelaku flexing akan berguna sebagai testimoni sosial yang akan membentuk persepsi lebih kuat lagi karena disuarakan oleh orang-orang yang mampu menarik perhatian banyak orang dan konten-konten ya

    Menyadari bahwa flossing adalah tindakan pamer dan orang hanya akan memamerkan sesuatu yang begitu membanggakannya, maka flexing bisa dijadikan indikator apakah sebuah merek sudah membangun rasa bangga bagi para penggunanya. Pada akhirnya, selain membuka banyak pintu kesempatan untuk brand owner, flexing juga menuntut setiap brand owner untuk semakin camik meramu merek, ka tidak ingin terkena dampak dan praktik zero sum game ini.

    Flexing bisa dijadikan indikator apakah sebuah merek sudah membangun rasa bangga bagi para penggunanya atau belum

    Leave a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×

     

    Hello!

    SEO Manager Kami Membantu Anda

    × SEO Consultation