jasa seo dan internet marketing
jasa seo dan internet marketing
Published On: Fri, Apr 7th, 2017

Tumbuhkan 20% Profit Dengan Startegy Bisnis Fashion Dari Coconut Island, Hammer, Dan Nail

Undercover.co.id – Pada hari ini Indonesia sedang didera gelombang e-commerce. Salah satu industri yang paling potensial dalam hal itu adalah bisnis fashion.

Di tengah kepungan Brand luar negeri yang terbukti mampu menghipnotis konsumen untuk membelinya, ternyata Brand lokal negara kita sendiri tidak mau kalah. Adalah PT Warna Mahardika yang merupakan produsen dari merek fashion Coconut Island, Hammer, dan Nail.

Dalam ketatnya persaingan, mereka seolah tidak gentar. Sebagai buktinya, setiap tahun saja omzet mereka selalu naik di angka 20%. Tentu prestasi tersebut semakin menunjukkan bahwasanya memang produk Indonesia sudah harus bisa bersaing di kancah internasional.

Untuk menggali lebih dalam tentang PT WM ini, kami pun akan memaparkan beberapa pernyataan Eddy Hartono, selaku Presdir Warna Mardhika. Kami merangkumnya dalam sebuah dialog berisi pertanyaan dan jawaban. Langsung disimak saja ya!

Bagaimana penerawang tentang Bisnis Fashion di masa depan?

Pada dasarnya manusia itu adalah makhluk fashion. Artinya mereka tidak akan bisa lepas dari yang namanya fashion atau gaya berpakaian. Sebut saja wanita, hampir setiap saat mereka akan melirik tren fashion terbaru, dan tanpa pikir panjang mereka pun pasti akan membeli barang baru.

Berbeda halnya dengan laki-laki, mereka hanya akan membeli barang bila mereka rasa butuh saja. Namun tidak menutup kemungkinan juga bahwasanya laki-laki pun akan selalu mengikuti gaya berpakaian kekinian.

Gaya hidup manusia akan selalu mengalami perkembangan, sama halnya dengan dunia yang kita tempati ini. Selama orang masih butuh pakaian maka di situ kami (PT. WM) akan selalu ada untuk menunjangnya.

Eddy pun melihat bahwa gaya hidup masa kini memiliki kecenderungan untuk lebih ke arah menengah atas.  Dengan demikian, soal harga sendiri, mereka tidak akan pernah ragu untuk membeli barang yang mahal. Asalkan kualitasnya memang sesuai dengan harga, alias bagus.

Dengan argumen yang kami dapat dari Eddy itulah kami dapat menarik kesimpulan bahwa prospek pada bisnis fashion akan tetap hidup, dan dapat dikatakan tidak mati-mati.

Nah, kalau penurunan dolar terhadap nilai tukar rupiah apakah mempengaruhi daya beli konsumen juga?

Bagi Eddy sendiri, sebenarnya Ia merasa tidak terpengaruhi baik soal nilai tukar dan lainnya. Yang selalu Ia fokuskan adalah pada produk yang Ia buat, bukan pada harga produk yang kelak akan Ia pasarkan.

Terlebih memang karena fokusnya hanya di bisnis fashion saja, sehingga yang ada di pikirannya hanyalah inovasi perihal produk dan kualitasnya. Mereka tidak ingin sampai lengah dalam hal itu. Sebab dalam fashion, sekali telat saja mengeluarkan produk bisa jadi akan didahului oleh kompetitor yang lainnya.

Pada tahun 2014 saja, tercatat Banyan mereka yang gulung tikar karena kelengahan mereka. Tentu momen itu menjadi pelajaran tersendiri bagi PT WM.

 Coconut Island, Hammer, Dan Nail

Sebenarnya, apa tanggapan anda soal gempuran Brand fashion dari luar negeri, semisal H&M, Uniqlo dan lainnya?

Untuk kedua merek di atas, sudah tidak dapat dipungkiri bahwa mereka merupakan Brand Fashion yang cukup kuar di dunia. Beberapa orang yang telah keluar negeri pasti pernah mendengar dan melihat dua nama itu.

baca juga Jadi Brand Ambassador Merek Terkenal? Bisa! Lakukan 5 Tips Ini!

Namun kembali lagi, tidak semua orang ke luar negeri,yang berarti juga pengetahuan masyarakat tentang merek itu masih kurang. Alhasil masih banyak masyarakat kita yang tergiur karena nama merek saja, sehingga merupakan kualitas yang sebenarnya dari produk yang dibuat.

Yang namanya merek adalah sebuah simbol yang dapat menyebar dengan cepat, dengan cara apapun. Padahal untuk Brand H&M sendiri mereka memiliki target pasar yang sama, yakni menengah ke atas.

Jadi, kalau ada kelas bawah yang memiliki kedua Brand tersebut patutlah dicurigai keaslian dan kemampuan daya beli mereka.

Selain itu, kehebatan dari merek luar negeri pun berada pada strategi pemasaran yang mereka lakukan. Pasalnya, misal hanya dengan mulut ke mulut saja kedua merek itu langsung menjadi sangat banyak dikenali di mana-mana.

Berdasarkan keterangan Eddy itu pun kami memprediksi bahwa jelas sekali gempuran dari Brand luar sangat berbahaya bagi kelangsungan bisnis para pengusaha fashion lokal.

Adakah pengalaman tersendiri untuk anda dengan Brand fashion asing?

Eddy pun menuturkan bahwa pernah satu ketika Ia berjalan di mal besar yang berada di kota Jakarta. Ia melihat salah satu merek asing yang pernah Ia lihat di Jepang dua tahun sebelumnya. Lebih kaget lagi, bahwa ternyata mereka sedang mengadakan sebuah dumping sale.

Ia pun penasaran dan melihat produk yang mereka diskon dan jual di sana. Betapa kaget, ketika Ia menemukan bahwa yang dijual di sana merupakan barang jelek, tidak dapat dibanggakan, dan bahan yang digunakan pun berasal dari Negeri Cina. Tidak heran bila kemudian mereka menjualnya dengan harga yang sangat murah.

Sayangnya, di sana masih ada orang-orang yang tergiur dengan nama merek, ketimbang kualitas dari produk yang dihasilkan oleh merek itu sendiri.

Lantas, apakah pasar di Indonesia ini memang menjadi santapan bagi merek asing?

Pasar di Indonesia untuk industri fashion sendiri bisa dikatakan besar karena banyaknya penduduk di negara ini. Eddy pun yang merupakan bagian dari Asosiasi Pengusaha Indonesia sedang memperjuangkan supaya merek lokal mampu berjaya di negaranya sendiri.

Tumbuhkan 20% Profit Dengan Startegy Bisnis Fashion Dari Coconut Island, Hammer, Dan Nail  Terlebih Ia masih menemukan sebuah diskriminasi merek di mal. Contohnya, merek luar masih mendapatkan harga sewa yang lebih murah ketika barangnya di pajang di mal. Berbeda dengan merek lokal, yang mendapatkan harga yang cukup mahal tatkala mereknya akan dipasarkan di mal.

Eddy pun masih merasa bingung, kenapa para pengelola mal lebih senang untuk memajang merek asing ketimbang lokal. Jelas prilaku seperti ini merupakan ketidakadilan yang harus diperjuangkan.

Ia juga ingin meniru sebuah kerja sama yang terjadi di Cina. Semisal merek asing ingin menyentuh pasar Indonesia, maka mereka pun harus  memproduksi produknya di sini. Sehingga dampak secara ekonomi pun dapat dirasakan oleh berbagai kalangan.

Eddy Hartono, selaku Presdir Warna Mardhika

Untuk Hammer sendiri, selaku salah satu merek lokal, kenapa mampu bersaing di tengah gempuran merek asing?

Bagi kami (Hammer), fokus pada level pasar yang berada di tengah, alias medium. Jadi kami dengan merek asing pun tidak perlu bersaing secara satu lawan satu. Kami lebih fokus pada penanaman fondasi yang kokoh di beberapa pulau Indonesia.

baca juga JANGAN GEGABAH, KETAHUI DULU 10 KIAT SUKSES MEMULAI BISNIS KULINER INI!

Kami pun melakukan ekspansi ke beberapa kota besar lain di Indonesia, dan menjajaki pulau-pulau semisal Ambon, Sumatera, Kendari, dan lainnya. Tidak lupa, kami pun terus berinovasi dalam konsep busana dan produk fashion kami.

Demikianlah beberapa argumen yang kami dapat kembangkan dari pak Eddy  Hartono selaku Presdir PT. Warna Mahardika. Semoga apa yang beliau sampaikan dan kami kembangkan mampu mengangkat bisnis fashion yang anda kerjakan semakin memiliki kekuatan. Tumbuhkan 20% Profit Dengan Startegy Bisnis Fashion Dari Coconut Island, Hammer, Dan Nail 

Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Jangan lupa di share ya.

jasa seo dan internet marketing

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

jasa seo dan internet marketing
Protected by Copyscape
Pin It