Usaha Keramik Modal 20 Ribu

undercover.co.id – Almarhum Bob Sadino, seorang pengusaha terkenal pernah mengatakan bahwa ia hanya butuh modal dengkul untuk bisa menjalankan usaha.

Banyak orang mengatakan bahwa hal ini tidak relevan karena kebanyakan sebuah bisnis nyatanya memang tetap membutuhkan modal uang bahkan dalam jumlah besar.

Namun berbeda dengan anggapan umum masyarakat tersebut, Muhammad Taufiq yang lebih akrab dipanggil dengan Taufiq justru berhasil menjalankan usaha keramik hanya dengan modal awal 20 ribu rupiah saja.

Dari uang 20 ribu tersebut, Taufiq bisa membesarkan usaha pabrik keramik hingga beromzet hingga 150 juta Rupiah dan memiliki 2 pabrik sendiri.

Meskipun diliputi berbagai hambatan dalam menjalankan usaha, Taufiq pun berhasil mengolah tantangan tersebut menjadi nilai tambah bagi produknya.

Pencetus Keramik Berwarna-warni

Taufiq memulai perjalanannya di industri keramik ketika sedang berjalan-jalan di sebuah pusat penjualan keramik.

Pada waktu itu bentuk dan motif keramik tidak seperti sekarang karena kebanyakan pengraji n keramik belum mengenal teknik pewarnaan.

Melihat keramik yang dianggap memiliki warna yang membosankan, akhirnya secara iseng Taufiq mencoba membeli satu buah kerajinan keramik yang kemudian ia warnai sendiri di rumah.

Pada waktu itu ,Taufiq menghabiskan sekitar 20 Ribu rupiah untuk membeli keramik beserta dengan alat pewarnanya.

Tidak berpikir untuk menjadikan keramik warnanya sebagai barang jualan, Taufiq memutuskan untuk menjual keramik tersebut kepada para tetangga yang tertarik.

Taufiq Mendirikan Usaha Keramik Hanya Dengan Modal 20 Ribu Saja

Karena permintaan semakin banyak, Taufiq bahkan harus rela mengerjakan pesanan keramik hingga tidak tidur alias selama 24 jam dalam satu tahun.

Selang tahun kedua bisnis berjalan, Taufiq meresmikan usaha pembuatan keramiknya menjadi Usaha Dagang dengan merekrut tiga karyawan untuk membantunya bekerja.

Bersama dengan tiga karyawan, Taufik sempat menjual keramik buatannya hingga ke luar daerah seperti kota Palembang dan Pontianak.

Pada tahun ketiga Taufiq memperlebar usahanya dengan menjalin kerjasama dengan lima toko penjual keramik terkemuka yang ada di Purwakarta, kota tempat ia tinggal.

Namun sejak saat itu ia menghentikan penjualan ke luar Purwakarta demi fokus melayani pasar dalam kota.

Di tahun yang sama, Taufiq berhasil meraup omzet sebesar 150 juta Rupiah  perbulan dengan keuntungan bersih sebesar 45 juta Rupiah.

Bahkan pada tahun 2015, ia sudah berhasil mendirikan pabrik pembuatan keramik yang ditenagai oleh 25 orang karyawan.

baca juga

Tantangan Berbisnis

Hambatan dalam bisnis adalah hal yang biasa bagi setiap pengusaha, tak terkecuali bagi Taufiq

Sebagai produsen keramik terbesar di Purwakarta, beliau sudah berhasil mengembangkan sayap hingga ke Kalimantan dan Sumatera.

Total ia sudah berhasil mendirikan empat buah pabrik yang tersebar di ketiga daerah usahanya tersebut.

Namun mengoperasikan pabrik dalam jumlah besar, Taufiq sempat menderita kesulitan keuangan lantaran biaya operasional yang membengkak.

Karena biaya operasional yang tidak dapat ditanggung oleh usahanya, Taufiq harus merelakan dua buah pabriknya untuk dijual demi bisa menyehatkan kembali bisnis keramiknya.

Selain itu dua pabrik Taufiq yang lain juga sempat terkena masalah perizinan lantaran sering dianggap sebagai biang keladi masalah lingkungan oleh warga setempat.

Meski didera berbagai masalah di bisnisnya, Taufiq justru memilih untuk maju terus dan tidak ambil pusing.

Ia memilih untuk mengikuti kemauan para penolak pabriknya untuk memperbaiki standar pengolahan limbah yang lebih baik dan memperjuangkan izin pabriknya yang cukup menyulitkan.

Setelah berhasil keluar dari masalah yang mendera pabrik, Taufiq tidak mau merehatkan bisnisnya yang mulai mendapatkan banyak pesaing.

Taufiq tetap berpegang teguh pada kreativitas yang dimiliki olehnya untuk terus mengembangkan motif-motif keramik terbaru.

baca juga

    Tidak Mau Didikte Pembeli

    Ada satu prinsip yang dipertahankan Taufiq dalam menjalankan bisnis penjualan keramik tersebut.

    Alih-alih menyenangkan pembeli, Taufiq justru menerapkan prinsip bahwa produk yang ia kerjakan tidak boleh didikte oleh pembeli.

    Prinsip tersebut ia jalani usai memiliki masalah dengan salah satu pembeli dari luar Purwakarta yang terlalu banyak mengatur detil dan corak keramik yang dikerjakan oleh Taufiq.

    Karena tidak dapat leluasa mengaplikasikan corak keramik yang ia kehendaki, akhirnya ia memutuskan untuk menolak pembelian dalam bentuk borongan.

    Taufiq sendiri bukannya tanpa alasan menolak permintaan pembeli untuk membuat corak yang berbeda.

    Ia mengaku ingin melestarikan corak keramik yang otentik asli dari Purwakarta.

    Bahkan ia juga ingin mematenkan keramik Plered yang khas dengan cat yang biasa digunakan untuk kendaraan.

    Cat kendaraan-lah yang pertama kali membuat keramik buatan Taufiq dapat laku di kalangan konsumen.

    Ia hanya menerima pembelian melalui toko-toko yang menyediakan produknya yang tersebar di jalan raya Plered.

    baca juga

      Tetap Memikirkan Pengusaha Kecil

      Sebagai orang Plered yang dikenal dengan nilai kekerabatan yang kental, Taufiq tetap memikirkan kesejahteraan para pengrajin keramik lain yang tidak seberuntung dirinya.

      Di tengah-tengan kesuksesannya mendirikan usaha keramik, ia justru harus melihat kenyataan pahit ada 2.000 pengrajin lain yang harus gulung tikar lantaran tidak memiliki nilai jual.

      Akhirnya ia memutuskan untuk berbuat sesuatu bagi para pengrajin keramik ini agar mereka juga bisa meningkatkan taraf hidup.

      baca juga

      Pada awalnya, Taufik mencoba menampung sendiri keramik buatan para pengrajin tersebut layaknya pembeli.

      Untuk keramik-keramik dari para pengrajin kecil ini, ia rela mengeluarkan kocek mulai dari 5.000 hingga ratusan ribu rupiah tergantung dengan keramik yang dihasilkan.

      Tidak hanya menampung, Taufiq yang dikenal memiliki jiwa sosial tinggi bahkan membangun toko sendiri untuk mendistribusikan dan menjual keramik-keramik tersebut.

      Sempat mendapat cibiran dari toko keramik yang menjual keramik buatannya, Taufiq tidak bergeming.

      Baginya yang penting ia bisa berbuat sesuatu untuk membantu para pengrajin-pengrajin keramik tersebut.

      Ad Blocker Detected

      Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

      Refresh
      error: Content is protected !!