Published On: Sat, Aug 13th, 2016

Wanita Ini Memilih Bisnis Songket Jambi Sebagai Jalan HIdupnya

Undercover.co.id –   “Kalau kita menginginkan dapat menolong perekonomian keluarga, apa yang dapat kita kerjakan ya kita lakukan. Bukan sekedar untuk menenun namun juga pekerjaaan yang lain. Pada saat itu positif ya mengapa tak kita kerjakan, ” catat Cik Mia, (entrepreneur kain songket Jambi populer).

Entrepreneur dituntut mempunyai jiwa ulet serta sabar dalam bangun usaha. Apabila tak jadi usaha yang sudah dirintis mungkin saja tutup dengan kata lain gulung tikar.

Sulitnya bangun usaha sampai meraih berhasil dirasa oleh Mania (39). Wanita yang akrab disapa Cik Mia itu bercerita bagaimana sulitnya ia bangun usaha. Sekarang ini Cik Mia di kenal sebagai satu diantara entrepreneur kain songket populer di Jambi.

“Bisnis ini namanya Cik Mia Songket dari Jambi, ” ungkap Cik Mia

Cik Mia bercerita, mengetahui kain songket dari bibinya yang memanglah seseorang penenun di kota Palembang, Sumatera Selatan. Waktu SD, Cik Mia kerap mencuri-curi saat memerhatikan bibinya menenun. Dari sana, Cik Mia belajar serta pada akhirnya betul-betul dilatih belajar menenun.

Baca juga : hasil-karya-kerajinan-tangan-kain-tenun-lampung-alternatif-bisnis-home-decor/

Pada akhirnya dengan pengetahuan itu, wanita kelahiran Palembang, 16 Agustus 1977 ini lantas buka usaha tenun songket Palembang di Jambi. Ia mengawali usaha menenun sekitaran th. 1999 dalam taraf tidak besar.

“Tahun 1999 (mulai bangun usaha). Saya masihlah tenun sendiri sesudah beres ngurus rumah tangga. Saya kan pendatang dari Palembang. Awalannya saya menenun kain khas Palembang lantaran saat itu belum tahu bila Jambi miliki kain khas tenun, ” katanya.

Maksud Cik Mia buka usaha tenun songket awalannya cuma menyalurkan hobynya yakni menenun. Duit hasil penjualan yang didapat beberapa dipakai untuk penuhi keperluan hidup keseharian serta beberapa yang lain ditabung sebagai modal cadangan.

“Selain itu juga mengapa lakukan nenun? lantaran menginginkan menolong beban suami. Jadi kita menginginkan duit penambahan tanpa ada mesti memohon lebih pada suami, ” ucapnya.

Bisnis Yang Bermodal Rp 3 Juta Dari Hasil Pinjaman

Untuk mengawali usahanya, Cik Mia ikhlas keluarkan duit sebesar Rp 3 juta sebagai modal awal. Duit itu didapat dari utang keluarganya serta kepintaran Cik Mia menghimpun duit yang didapat dari pendapatan suaminya.

“Untuk modal awal saya hasil dari ngumpulin bekas duit berbelanja keperluan rumah tangga sebesar Rp 3 juta, ” imbuhnya.

Modal itu dipakai Cik Mia untuk dibelikan alat tenun serta bahan kain. Cik Mia mulai rasakan sulitnya buka usaha dengan alat seadanya.

Baca juga : sejam-bersama-anne-avantie-sang-jenius-trend-setter-fashion-kebaya-di-indonesia/

“Akhirnya dari modal yang saya kumpulkan itu saya beli alat tenun serta beberapa bahan buat menenun. Saya kerjakan semuanya tenun songket sendirian. Saya menawarkan hasil tenunan songket pada tetangga sampai ke galeri-galeri serta beberapa tempat tinggal orang, ” tuturnya.

Wanita Ini Memilih Bisnis Songket Jambi Sebagai Jalan HIdupnya Ia tawarkan kain songket Palembang dengan motif yang beragam serta warna khas. Walau di buat di Jambi, hasil tenun kain songket yang di produksi Cik Mia malah di jual di Palembang.

“Hasil tenunnya masihlah saya jual ke Palembang, ” katanya.

Pernah Kesusahan Buka Pasar Bisnis Baru

Cik Mia mulai terasa keuntungan dari penjualan kain songket bikinannya di Palembang. Walau nilai keuntungan yang didapat waktu itu masihlah tidak besar, Cik Mia berkemauan memperlebar sayap penjualannya ke Jambi.

“Setelah sekian kali jual ke Palembang, saya fikir mengapa tak menjualnya di Jambi, tentu banyak customer di Jambi, ” tuturnya dengan suara optimis.

Pada akhirnya, Cik Mia betul-betul jual kain songketnya di Jambi. Dengan sarana yang cukup terbatas, Cik Mia dibantu suaminya berkeliling kota Jambi cuma untuk tawarkan kain songket bikinannya.

“Saya lalu keliling Jambi. Dibantu oleh suami saat itu saya keliling Jambi dengan memakai sepeda motor hasil sewaan. Lantaran saat itu kami belum miliki kendaraan, tempat tinggal juga masihlah ngontrak, ” papar Cik Mia.

Cik Mia mulai mengeluh lantaran susahnya berjualan kain songket bikinannya di kota Jambi. Sesudah berkeliling tawarkan kain songket bikinannya dari satu toko ke toko lain, tak ada satupun yang tertarik. Bahkan juga ia mengakui pernah diusir sampai tidak diterima masuk di sebagian toko serta gallery fashion di kota Jambi.

Baca juga : pebisnis-wanita-super-ini-sukses-dengan-pameran-usaha/

“Perjuangan mencari customer juga tak dan merta mulus, sangat banyak cobaannya. Kita kerap diusir, tidak diterima, bahkan juga kain kita dicibir mutunya. Kita juga cobalah masuk ke gallery, namun kerap tidak diterima, ” tuturnya.

Pada akhirnya, Cik Mia pilih langkah lain dengan jual kain songketnya yakni dari tempat tinggal ke tempat tinggal (door to door). Ia mengakui memercayakan tekad yang keras dalam menjaga bisnisnya.

“Tapi saya tak putus harapan, saya selalu saja jual mendatangi tempat tinggal ke tempat tinggal, ” ucapnya.

Akhirnya kain songket buatan Cik Mia mulai dilirik beberapa konsumen. Pesanan mulai berdatangan dengan jumlah yang cukup lumayan.

“Setelah sebagian bln. pada akhirnya ada yang beli kain songket saya, hingga memborong 4 potong, ” katanya.

Terasa Mujur Bisnis Kain Songket Jambi Dibina Oleh Pemerintah

Sesudah sukses memikat orang-orang Jambi, kain songket buatan Cik Mia dilirik Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Propinsi Jambi di th. 2003. Dikira mempunyai kekhasan khas yg tidak didapat dari kain songket yang lain, Dekranasda mengajak Cik Mia untuk bekerja bersama.

“Nah dari perjuangan mencari customer itu pada akhirnya saya berjumpa dengan Dekranasda Propinsi Jambi pada Th. 2003, ” katanya.

Berbarengan Dekranasda Propinsi Jambi, Cik Mia dididik serta dibina supaya dapat mengelola bisnisnya lebih profesional. Lalu bukan sekedar bikin kain songket khas Palembang, Dekranasda coba memohon Cik Mia bisa bikin kain songket khas Jambi. Argumennya kesempatan penjualan kain songket Jambi lebih tidak kecil.

“Terus saya dibina oleh pihak mereka. Dari situ lah saya mulai tahu motif tenun Jambi. Nyatanya sangat banyak serta saya mulai bereksplorasi. Pada akhirnya tenun saya juga berpindah dari tenun Palembang ke tenun Jambi, ” imbuhnya.

Baca juga : startegy-bisnis-batik-adifta-bersaudara-mampu-tembus-omzet-ratusan-juta/

Tak gampang untuk Cik Mia bikin kain songket Jambi. Ia bahkan juga mencari motif khas kain songket Jambi hingga ke museum. Ia juga menjumpai sebagian orang pakar histori untuk pelajari kain songket Jambi sampai mencari rujukan dari banyak buku.

“Kemudian saya juga ajukan pertanyaan rekan-rekan, ” ucapnya.

Dengan langkah tersebut, Cik Mia mulai coba-coba bikin kain songket khas Jambi. Hasil bikinannya lalu di jual lewat Dekranasda. Cik Mia mengakui diuntungkan waktu hasil penjualannya di jual lewat Dekranasda. Diluar itu, Dekranasda juga tawarkan beragam keuntungan yang lain seperti ikuti pameran gratis dari satu ke kota yang lain.

“Dari situlah saya mulai ikuti pameran baik koparasi ataupun pemerintah. Itu th. 2009 saya mulai turut pameran, ” sebutnya.

Menawarkan Kain Songket  Jambi Mahal serta Berkualitas Tinggi

Bekerja bersama dengan Dekranasda tak terus-terusan bikin Cik Mia terlena. Dengan beragam sarana yang di tawarkan Dekranasda, Cik Mia malah terpacu untuk bikin kain songket Jambi lebih berkwalitas.

“Kalau saya lebih ke motif, (struktur) kehalusan bahkan juga saat ini saya telah meningkatkan ke warna alam, ” ucapnya.

Beragam motif songket Jambi telah sukses ia hasilkan. Sampai sekarang ini ada 30 motif songket Jambi yang sukses ia buat seperti angso duo, durian pecah, bungo tanjung serta bungo nago sari.

“Itu diliat dari design, kekhasan, serta kehalusan, ” imbuhnya.

Baca juga : sharing-pengusaha-umkm-sukses-go-international-ke-jepang-eropa-dan-rusia/

Lantaran di buat dengan tangan serta mesin tenun tradisional, harga kain songket yang di produksi Cik Mia di bandrol cukup mahal. Harga nya sekitar pada Rp 1 juta sampai Rp 15 juta/potong. Cik Mia mengungkap, mahal tidaknya kain songket diliat dari type bahan baku pembuatan, lamanya sistem pembuatan sampai tingkat kesusahan motif yang di buat.

“Yang bikin mahal serta murah itu kan tingkat kesusahan, bahan serta motif. Yang harga mahal itu saksikan dari tngkat kesusahan motif serta bahan baku. Lantaran ada kain songket yang memakai bahan dari benang emas, ” katanya.

Walau mempunyai harga yang cukup mahal, pesanan kain songket Cik Mia selalu jadi tambah. Cik Mia pada akhirnya pilih untuk bekerja bersama dengan 20 pengrajin kain songket yang menyebar di semua Kabupaten serta Kota Jambi. Hal semacam itu dikerjakan di th. 2006.

“Karena saat ini kan mereka telah miliki alat sendiri jadi mereka hanya minta berbahan saja. Kita kirim bahan ke mereka. Terkadang kita juga teliti segera ke mereka. Ya dasarnya komunikasi tetaplah serta mesti dijaga. Itu sih langkah mengontrol beberapa pengrajin yang bekerja buat saya, ” tukasnya.

Di pasarkan Dari Singapura Sampai Australia

Motif kain songket Jambi yang di buat Cik Mia berkesan unik serta menarik. Tak heran apabila buyer (konsumen) yang beli product kain songket Cik Mia tak saja dari kelompok atas didalam negeri, namun juga dari luar negeri.

“Costumer itu ya datang dari mana-mana saja ya, dari semua Indonesia. Ada pula konsumen dari luar negeri, ada dari Australia, Malaysia, Singapura. Bila untuk kelasnya saya sih menginginkan meliputi semuanya kelas tak membeda-bedakan. Ya pada saat dapat mengapa tak, ” tegasnya.

Dalam pasarkan produknya sampai keluar negeri, Cik Mia memanglah bekerja begitu keras. Beragam tehnik pemasaran/penjualan ia kerjakan seperti jual lewat on-line shop, gallery/workshop sampai ikuti pameran sampai keluar negeri.

“Sejauh ini sih saya telah ikuti pameran seperti ke Belanda serta Vietnam. Turut pameran ke luar negeri kan tak asal-asalan kita mesti penuhi prasyarat serta diseleksi, ” tekannya.

Wanita Ini Memilih Bisnis Songket Jambi Sebagai Jalan HIdupnya 2

Wanita Ini Memilih Bisnis Songket Jambi Sebagai Jalan HIdupnya 2

Cik Mia juga mengakui tak cemas dengan pesaing yang mulai nampak akhir-akhir ini. Untuk Cik Mia, product kain songket buatan kepunyaannya mempunyai ciri khas yg tidak dipunyai product kain songket yang di buat pengrajin lain. Tentang omzet yang didapat, Cik Mia tak berani mengatakan besaran angka namun ditafsir cukup tidak kecil.

“Saya tak dapat mengatakan angkanya berapakah. Namun ya lumayanlah (tidak kecil) untuk sharing dengan 20 karyawan saya yang juga pelaku UKM. Ya intiya dapat mensejahterakan UKM lain serta memenuhi keperluan keluarga, ” tuturnya.

Baca juga : bisnis-lampu-roda-dua-dan-empat-yang-bersinar-terang/

Cik Mia saat ini jadi entrepreneur kain songket yang paling di kenal di kota Jambi bahkan juga kota Palembang. Walau berhasil, Cik Mia tak tidak kecil kepala serta membagikan rahasia keberhasilan pada entrepreneur yang lain.

“Kalau kita menginginkan dapat menolong perekonomian keluarga, apa yang dapat kita kerjakan ya kita lakukan. Bukan sekedar untuk menenun namun juga pekerjaaan yang lain. Pada saat itu positif ya mengapa tak kita kerjakan, ” tutupnya. Wanita Ini Memilih Bisnis Songket Jambi Sebagai Jalan HIdupnya

jasa seo dan internet marketing