Warteg Naik Kelas , Warjak

Undercover.co .id Medium Quality 86 scaled

Perusahaan rintisan tidak hanya terkenal sebagai pelopor distrupsi pola bisnis konvensional.

Lebih daripada itu perusahaan rintisan juga memiliki ciri khas yaitu mampu memberikan dampak sosial.

Martin dan Hendra Hudiono mencoba menangkap esensi dari perusahaan rintisan ala UKM dengan mendirikan Warung Jakart alias Warjak

Warung Jakarta atau Warjak merupakan solusi yang coba ditawarkan oleh Martin dan Hendra untuk meningkatkan kualitias hidup para pengusaha warung nasi.

Melalui Warjak, Martin dan Hendra mencoba mengurai permasalahan para pengusaha nasi seperti ketika membeli bahan baku dan mengolah masakan.

Nantinya para pelanggan hanya perlu menyediakan tempat dan menjajakan beberapa makanan yang sudah disiapkan oleh Warjak.

Membuka Warteg karena Hobi Nge-warteg

Kemunculan ide untuk membuka Warjak ini sendiri didorong oleh keinginan dari Martin yang bermimipi memiliki bisnis kulliner.

Martin sempat mewujudkan impiannya membuka sebuah usaha kuliner berupa sebuah kafe, kegagalan meraiih target pasar membuat kafenya gagal.

Setelah gagal melanjutkan usaha kafenya , Martin justru belom kapok untuk berbisnis makanan

Martin justru ingin mencoba mendirikan sebuah warung tegal atau warteg yang banyak menyajikan masakan rumahan sehari-hari.

Sebagai langkah awal, ia mencoba mengajak warteg langganannya untuk membuka cabang.

Martin dan Hendra Hudiono Menaikkan Kelas Warteg Melalui Warjak

Meski begitu ia selalu mendapatkan penolakan setiap kali ia mengutarakan idenya hingga sang pemilik warung berhenti karena terkena Diabetes pada 2017.

Memilih untuk vakum sebentar dari bisnis kuliner, Martin justru diminta Hendra untuk bersama-sama membuka warung tradisional kekinian.

Konsep warung kekinian yang mereka temukan kala itu berupa warung dengan dapur terpusat yang akhirnya diberi nama Warjak.

bac ajuga

Sistem Warjak

Sistem bisnis yang dibangun oleh warjak memang dimaksudkan untuk mempermudah mitra yang bergabung.

Langkah awal, para mitra hanya cukup memesan menu makanan hingga pukul 2 sore dan mengambil makanan yang dipesan antara pukul 4 hingga 7 pagi di dapur pusat.

Dapur pusat sendiri mampu menyiapkan hingga lebih dari 38 menu makanan yang bisa dipilih oleh para mitra.

Demi membantu mitra menjalankan bisnis secara efisien, Martin dan Hendra juga mencoba memperpendek rantai distribusi bahan baku.

Upaya tersebut direalisasikan dengan banyak menjalin kerjasama langsung dengan para petani maupun peternak sebagai penyedia bahan baku.

Untuk bisa menikmati kemudahan membuka warung ini sang calon mitra harus merogoh kocek sebesar 10,5 juta rupiah

Nantinya dari biaya kemitraan tersebut, calon mitra akan mendapatkan fasilitas warung seperti etalase, meja dan bangku, peralatan makanan, hingga gratis 10 menu pertama.

Selain itu warjak juga membangun tim survey yang solid untuk memetakan mitra yang dianggap potensial.

baca juga

    Perjuangan membangun Warjak

    Butuh waktu selama 8 bulan bagi mereka berdua hingga akhirnya dapat membuka Warung Jakarta secara resmi.

    Selama 8 bulan tersebut, berbagai kegiatan seperti berbelanja bumbu, memasak, hingga packaging untuk kemasan makanan.

    Tidak selesai dari urusan dapur saja, Martin dan Hendra juga sempat menguji daya tahan masakan mereka selama 3 jam di bawah matahari.

    Martin dan Hendra mendapati bahwa masakan mereka mudah rusak apabila terkena panas matahari secara terus-menerus.

    Melewati perjalanan panjang untuk mendapatkan resep yang layak, Martin dan Hendra akhirnya dapat meresmikan Warjak untuk beroperasi penuh.

    Bagi Hendra dan Martin, hal terberat yang mereka alami selama memperisapkan usaha ini adalah banyaknya trial and error yang dilewati.

    Persoalan juga muncul dari bagaimana membangun kultur bisnis  para mitranya.

    Pertama kali membuka warjak, masih banyak mitranya yang hanya berniat coba-coba yang mengakibatkan tidak serius dalam bermitra.

    Martin dan Hendra pun memutuskan untuk menaikkan biaya kemitraan dari 5,5 juta rupiah menjadi 10,5 rupiah agar calon mitra bersungguh-sungguh menjalankan bisnis.

    Martin dan Hendra juga sampai harus memberikan pendampingan menyeluruh kepada para mitranya untuk mencegah mereka mendapat kegagalan.

    Tak Jarang tim manajemen turun langsung ke lapangan untuk membantu menyelesaikan problem seperti kondisi warung yang sepi hingga konflik dengan mitra lainnya.

    bac ajuga

      Menjamurnya Bisnis Warung Tegal

      Bisnis waralaba warung tegal diyakini tidak akan mengalami penurunan setidaknya hingga beberapa tahun ke depan.

      Sampai saat ini bisnis dengan hal serupa masih terus menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.

      Salah satu faktor suksesnya adalah karena masakan ala warteg masih banyak digemari oleh lidah Indonesia.

      Selain itu, masakan ala warung tegal ini juga disenangi orang dari semua kelompok usia.

      Para pengusaha waralaba warung tegal sudah banyak menyesuaikan diri dengan kebutuhan para pelanggannya.

      Misalnya selain masakan yang enak, pelanggan juga mulai memperhatikan tingkat kebersihan dari warung tegal tersebut.

      Hal inilah yang menjadi resep sukses para pemilik bisnis waralaba warteg yang sudah cukup sukses.

      Selain Warjak bentukan Martin dan Hendra Hudiono, banyak pula yang sukses membangun bisnis warung tegal dengan sistem waralaba.

      Seperti Sayudi yang berhasil membangun bisnis waralaba warteg dengan nama Kharisma Bahari yang cukup terkenal di Ibukota.

      Sejak memulai usaha warteg pada tahun 1995 hingga sekarang ia sudah membuka sekitar 197 cabang warteg miliknya dengan rincian sekitar 186 merupakan milik mitra.

      bac ajuga

      Sayudi juga mengeluarkan terobosan yang berbeda dengan warteg yang lain yaitu sebagai warteg yang mempelopori pembayaran menggunakan teknologi digital.

      Pemerintah juga merasa bahwa usaha warung tegal sudah saatnya go International.

      Pada tahun 2017 Menteri UKM dan Koperasi kala itu, Anak Agung Gede Puspayoga menginisiasi “invasi” pertama warung tegal di Malaysia.

      Selain dalam hal pendanaan, Kementerian UKM juga siap menjadi mediator untuk potensi masalah hukum berupa perizinan untuk membuka warung tegal pertama d Negeri Jiran.

      Ad Blocker Detected

      Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

      Refresh
      error: Content is protected !!