Bisnis Alang Alang Zero Waste

undercover.co.id Bisnis ramah lingkungan mulai mendapat tempat di kaum milenial Indonesia.

Hal ini juga didorong oleh pesatnya arus informasi mengenai isu-isu lingkungan di sosial media.

Kesadaran untuk menyelamatkan lingkungan menjadi pendorong orang banyak untuk beralih mengonsumsi produk yang ramah lingkungan.

Peluang tersebut coba diolah oleh dua orang gadis bernama Eva Bachtiar dan Lydia Imelda Sitorus dengan membuka bisnis produk Zero Waste.

Dengan nama usaha Alang-Alang Zero Waste, Eva dan Lydia mencoba merealisasikan visi mereka memperkenalkan produk ramah lingkungan kepada masyarakat.

Dari Karyawan Perusahaan Tambang menjadi Social Entrepreneur

Eva Bachtiar salah satu pendiri Alang-Alang Zero Waste sebetulnya sudah memiliki hidup yang mapan sebelum terjun ke dalam bisnis berbasis sosial.

Ia pernah mengecap pengalaman menjadi pegawai dari perusahaan Freeport karena latar belakang pendidikannya dari teknik industri.

Setelah lama memiliki karir yang stabil, Eva merasa bahwa ia perlu berbuat lebih untuk masyarakat

Ia pun sempat memutuskan untuk menjadi salah satu tenaga pengajar dalam program Indonesia Mengajar.

Setelah banyak berkecimpung menjadi sukarelawan dalam berbagai kesempatan, Eva mulai memberanikan diri terjun ke dalam bisnis yang berbasis sosial.

Perjalanannya terjun sebagai Social Entrepreneur dimulai ketika ia mendirikan Starside Education, sebuah lembaga pendidikan yang berfokus pada keterampilan menghadapi bencana.

Setelah mendapat sambutan yang positif, ia pun memutuskan mendirikan organisasi yang bernama garda pangan dengan fokus pada penanganan sampah makanan.

Berbekal pengalaman dari mengorganisasi kedua lembaga tersebut, Eva memutuskan untuk memperluas bisnis Social Entreprise-nya dengan mendirikan Alang-Alang Zero Waste.

baca artikel category

Membawa Visi Melawan Sampah Plastik

Salah satu masalah lingkungan yang menginspirasi mereka berdua adalah masifnya penggunaan plastik sekali pakai di Indonesia.

Indonesia sendiri faktanya merupakan negara penghasil sampah plastik di lautan nomor dua di dunia.

Faktanya masalah sampah plastik juga berkorelasi langsung dengan ekonomi.

Menurut Roger Spranz dari LSM MOPF, masalah sampah plastik di Indonesia dapat merugikan perekonomian Indonesia hingga 39 Triliun

Kerugian ekonomi tersebut banyak bersumber dari rusaknya potensi perikanan dan pariwisata.

Penyebab utamanya adalah mayoritas industri makanan dan minuman masih menggunakan plastik sekali pakai untuk bahan kemasan

Hal ini juga dipengaruhi oleh sedikitnya industri yang berorientasi ramah lingkungan.

Peluang tersebut yang coba ditangkap oleh Eva dan Lydia dengan membuka bisnis Zero Waste pertama di kota Surabaya.

Dengan membuka bisnis  berorientasi ramah lingkungan, Eva dan Lydia menargetkan untuk menciptakan pasar sekaligus kesadaran orang untuk ramah lingkungan.

Salah satu ciri khas yang membedakan usaha  Zero Waste mereka dengan usaha konvensional yaitu tidak disediakannya kantong plastik sebagai wadah jinjing,

Sedari awal Alang-Alang Zero Waste memang mengusung konsep Bulk Store alias curah

Toko ini mensyaratkan para pengunjung yang ingin berbelanja untuk membawa wadah secara swadaya.

Beberapa produk yang dijual sendiri merupakan modifikasi bentuk dari barang-barang sekali pakai

Sebagai contoh Alang-alang Zero Waste menjajakan produk seperti pembalut kain dan popok kain untuk mengurangi pemakaian pembalut sekali pakai.

Selain itu tersedia pula produk makanan organik seperti sayur dan buah hidroponik, jamu, hingga kombucha.

Keberadaan toko Zero Waste ini sudah mendapatkan banyak tanggapan positif dari para konsumen.

Salah satu alasan yang dikemukakan oleh konsumen adalah keprihatinan mereka melihat kondisi lingkungan alam yang semakin tak menentu.

baca juga

    Memberdayakan Perekonomian Petani Lokal

    Tidak hanya berorientasi profit semata, Lydia dan Eva juga fokus untuk mendukung ekosistem ekonomi dari industri ini.

    Salah satu langkah yang mereka tempuh adalah dengan memberdayakan lini produksi dari petani lokal.

    Lydia dan Eva sendiri mengungkapkan bahwa 80% dari produk mereka dipasok dari petani lokal, sementara 20% sisanya baru mengandalkan pasokan dari luar.

    Seperti misalnya produk madu yang mereka milliki dipasok peternakan madu rakyat yang berada di Nusa Tenggara Timur.

    Pada setiap kesempatan keduanya selalu berupaya mempromosikan kearifan lokal yang mereka pelajari dari pertanian tradisional.

    Seperti bagaimana industri madu rakyat berusaha untuk mengembalikan apa yang mereka ambil dari alam.  

    Tonggak dari Circular Economy

    Bisnis Zero Waste sendiri merupakan tonggak dari suatu konsep ekonomi yang bernama Circular Economy.

    Circular Economy sendiri menitikberatkan bahwa suatu produk akan terus dilibatkan dalam siklus ekonomi baik dalam wujud baru ataupun bekas.

    Fokus utama dari Cirular Economy ini adalah memberdayakan sebanyak-banyaknya pelaku ekonomi untuk terlibat dari setiap daur produk.

    Sebagai salah satu UKM dengan tujuan sosial, Alang-Alang Zero Waste memahami bahwa banyak pihak yang dilibatkan untuk menciptakan ekosistem bisnis tanpa sampah.

    Seperti misalnya produk tas rajut mereka sepenuhnya berasal dari material daur ulang.

    Sebagai tindak lanjut, Alang-Alang Zero Waste mengampanyekan kepada pembeli untuk menaruh barang-barang bekas mulai dari minyak jelantah hingga TV bekas untuk direproduksi

    Konsep ini sebetulnya sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia melalui program Bank Sampah

    Circular Economy sendiri sudah menjadi agenda dari pemerintah sebagai bagian dari transformasi menuju revolusi industri  4.0

    Pemerintah sendiri melalui Kementerian Perindustrian telah menegaskan pedoman konsep Circular Economy yang terdiri dari 5 R (Rethink, Reduce, Reuse, Repair, dan Recovery).

    baca juga

    Salah satu manfaat langsung dari Circular Economy yang bisa dirasakan langsung oleh pemerintah adalah pengurangan impor bahan baku plastik.

    Kemenperin mengakui bahwa berkembangnya industri daur ulang plastik di Indonesia bisa mereduksi impor plastik  di Indonesia secara signifikan.

    Untuk ekonomi riil, nilai ekspor yang dihasilkan dari industri berbasis Circular Economy berpotensi mencapai USD 441,3 Juta dengan potensi penyerapan tenaga kerja hingga 20.000 orang

    Ad Blocker Detected

    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

    Refresh
    error: Content is protected !!