Filosofi dan Pernik Imlek Di Kota Bandung

Filosofi dan Pernik Imlek Di Kota Bandung

Filosofi dan Pernik Imlek Di Kota Bandung | Pertunjukan barongsai, lampion dan pernak-pernik yang lain dengan sebagian besar berwarna merah sama dengan perayaan th. baru Imlek.

Orang-orang Tiongkok memanglah suka pada warna merah, lantaran mereka menganggapnya sebagai simbol kebahagiaan, antusiasmen, semangat, serta keberuntungan.

Kamu tahu  pernak-pernik apa sajakah yang umum dipakai waktu Th. Baru Imlek? Simak uraiannya di bawah ini.

1. Angpao

Satu diantara hal yang paling sama dengan Imlek yaitu amplop berwarna merah yang kita kenal dengan arti angpau. Amplop yang memanglah umum dipakai warga Tiongkok itu dipakai oleh terutama orang dewasa untuk memberi duit pada anak tidak besar atau orangtua mereka.

Pemberian angpao itu adalah bentuk kasih sayang serta rejeki pada orang paling dekat. Makin banyak angpao yang disiapkan, jadi makin meriah situasi Imlek.

2. Pohon Mei Hwa

Anda kerap lihat pohon serupa dengan bunga sakura jadi hiasan pusat perbelanjaan waktu Imlek tiba? Ya, pohon angpao itu memanglah memiliki bentuk sangatlah serupa bunga sakura berwarna pink atau merah. Orang-orang Tionghoa sendiri menyebutnya pohon bunga Mei Hwa. Pohon itu umum dipakai untuk membuat cantik ruang serta di beri angpao atau gantungan imlek yang lain.

3. Gantungan atau Pajangan

Satu lagi yang tentu anda saksikan waktu perayaan Imlek, yaitu banyak gantungan atau pajangan yang menghiasi tempat tinggal. Gantungan atau pajangan itu umumnya berupa shio dalam zodiak cina atau lambang keberuntungan yang lain.
Gantungan atau pajangan itu umumnya berwarna emas atau merah yang sangatlah mencolok.

 

4. Parsel

Seperti hari tidak kecil lain, th. baru Imlek juga kerap disemarakkan dengan hadirnya parsel. Bingkisan itu dipakai orang-orang Tionghoa sebagai bentuk perkataan selamat.
Beberapa pilihan yang dipakai untuk isian parsel itu, dari mulai buah-buahan, bermacam kue, minuman sampai peralatan dapur yang cantik.

5. Lampion

Lampion adalah lambang kebahagiaan serta pengharapan, jadi tidak heran tiap-tiap perubahan th. orang-orang Tionghoa bakal ganti lampionnya dengan yang baru. Akhir-akhir ini bahkan juga ramai di gelar festival lampion untuk menyemerakkan th. baru Imlek.

Kebiasaan memajang lampion juga umum berlangsung di bebrapa tempat tinggal, tempat umum atau taman sebagai lambang kebahagiaan.

Filosofi dan Pernik Imlek Di Kota Bandung Apa sih yang tampak demikian khas waktu perayaan Imlek? Terkecuali serba-serbi warna merah serta pertunjukan barongsai, ada satu makanan khas yang ‘wajib ada’ serta senantiasa jadi incaran warga Tionghoa.

Kue Keranjang. Yup, kue yang mempunyai paket bulat silinder itu telah menghiasi supermarket, pasar, serta mall waktu Tahun Baru Cina mendekati. Untuk mereka yg tidak merayakannya, tentu penasaran, apa sih yang istimewa dari kue keranjang. Nah agar lebih info, yuk ikuti paparan dari undercover.co.id mengenai filosofi kue keranjang.

 

 

Kue keranjang atau dodol Cina atau kue tahunan yaitu kue yang cuma di buat 1 th. sekali mendekati perayaan Imlek. Kekhasan yang dipunyai kue itu bukan sekedar dari memiliki bentuk saja namun memanglah harus ada sebagai sajian dalam peribadatan, diberikan pada saudara, atau bahkan juga pada tetangga.

 

dari nama, kue keranjang mempunyai nama asli Nian Gao, di mana nian bermakna th. serta gao bermakna kue.

Dalam dialek Hokkian, Ti Kwe yang bermakna ‘kue manis’, pelafalannya terdengar seperti kata ‘tinggi’ hingga kue itu juga disusun tinggi atau bertingkat-tingkat. Pengaturan ke atas semakin mengecil serta itu memilik arti penambahan rezeki atau kemakmuran.

 

Di Tiongkok sendiri ada sejenis rutinitas untuk menyantap kue keranjang lebih dahulu waktu th. baru untuk memperoleh keberuntungan dalam pekerjaan. Kemudian baru menyantap nasi. Jadi, janganlah terbalik ya.

 

Filosofi IMLEK dan Kue Keranjang

Lantas apa nilai filosifi lain mengenai kue keranjang? Yang pertama yaitu bahan pembuat kue. Kue keranjang di buat dari tepung ketan yang mempunyai karakter lengket. Itu mempunyai arti persaudaraan yang demikian erat serta senantiasa menyatu.

Rasa-rasanya yang manis dari gula serta merasa legit juga melukiskan rasa suka ria, nikmati keberkatan, keceriaan, serta senantiasa berupaya memberi yang paling baik dalam kehidupan.

Bentuk bulat dari kue keranjang tanpa ada pojok di semuanya segi juga mempunyai arti mempesona lantaran melambangkan pesan kekeluargaan tanpa ada lihat ada yang lebih utama dibanding yang lain serta bakal senantiasa berbarengan tanpa ada batas akhir.

Diinginkan keluarga dapat juga berkumpul minimum 1 th. sekali hingga bakal terwujud kerukunan dalam kehidupan serta siap untuk hadapi hari-hari kedepan. Jadi, pesan kekeluargaan demikian terang tampak di sini, bukan sekedar dengan keluarga saja, namun dengan juga komune, tetangga, client, serta pelanggan usaha.

Struktur serta ketahanan kue keranjang yang disantap waktu Imlek juga mempunyai makna filosofi. Kekenyalan yang merasa adalah lambang dari suatu kegigihan, keuletan, daya juang, serta perasaan tidak mudah menyerah untuk mencapai maksud hidup.

Oleh karena itu pesan untuk berjuang sampai akhir jadi satu hal yang demikian terekam untuk orang-orang Tionghoa waktu menyantap kue keranjang.

Sedang daya tahannya yang demikian lama mempunya makna jalinan yang kekal meskipun zaman sudah beralih. Kesetiaan serta sikap sama-sama membantu juga sangatlah utama untuk wujudkan pesan itu hingga diinginkan saat saat selalu jalan, rasa kekeluargaan bakal senantiasa tersambung dengan baik.

Sistem pembuatan kue keranjang juga mempunyai arti. Lantaran saat pelaksanaan yang demikian lama yakni seputar 11 – 12 jam menuntut kesabaran, keteguhan hati, dan harapan untuk memperoleh hasil optimal.

Usaha yang demikian keras untuk membuatnya juga mesti dikerjakan dengan fikiran bersih serta jernih, penuh kesopanan dan konsentrasi tinggi sembari membebaskan hati dari prasangka jelek hingga kue keranjang yang di buat mempunyai bentuk, rasa, serta struktur prima.

Bila semuanya etika dilanggar, mungkin saja kue yang dihasilkan bakal tampak lembek serta pucat. So, butuh kehati-hatian waktu bikin kue keranjang hingga tak kebanyakan orang dapat mengerjakannya.

Well, meskipun memiliki bentuk cukup simpel, nyatanya mempunyai arti filosofi yang mempesona ya? Saat ini, apa anda mau selekasnya berburu kue keranjang serta mencicipinya? Filosofi dan Pernik Imlek Di Kota Bandung

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!