Menaklukkan Curug Malela

Menaklukkan Curug Malela

Ada satu tempat wisata yang wajib coba bagi kamu-kamu yang berbadan fit dan suka petualangan. Destinasi ini mulai banyak dilirik oleh para wisatawan mancanegara karena untuk meraihnya dibutuhkan kerja keras dan tekad bulat. Tapi yakinlah, begitu sampai di sana nanti, semuanya akan sepadan.

 

Ya, Curug Malela adalah bahasan kita kali ini. Dulunya, Curug Malela masih merupakan tempat yang terisolir dan diketahui sebagian orang tertentu saja; utamanya warga Desa Cidadas ataiu Kampung Manglid. Tetapi kemudian dari mulut ke mulut—ditambah kepopuleran foto-fotonya di media sosial yang memang terbukti cakep—banyak para traveller yang tahu dan jadi tertantang untuk pergi dan menyaksikan sendiri.

 

 

Bukan Tempat Wisata Biasa

Foto-foto yang beredar mungkin hanya menampakkan Curug Malela dari satu spektrum—“curug” alias air terjun tipe lebar yang mengingatkan kita pada Niagara di luar negeri sana—tapi tidak banyak orang yang membahas betapa susahnya pergi ke sana.

Dulu ketika Curug Malela masih menyerupai rahasia, sobat travel kudu menghabiskan waktu seharian untuk mencapainya. Harus rajin tanya warga sekitar, rugi di ojek, atau lebih parah: merusakkan kendaraan pribadi karena  jalannya yang terjal berkelak-kelok, naik dan turun, kadang-kadang ada batu tajam.

 

Sekarang, sudah banyak jalan pintas untuk menuju ke sana. Dari Cimahi misalnya, Anda bisa terus langsung melalui Jalan Tol Baros, terus ke Batu Jajar, lalu Cihampelas. Dari situ, Anda harus meneruskan perjalanan ke Cililin. Di sinilah lalu kita akan diarahkan ke Gunung Halu, tempat Kampung Manglid, Desa Buni Jaya, berada.

Mulai dari sini segalanya akan agak mudah karena lisplang penanda arah (“CURUG MALELA KE ARAH SINI”) mulai tampak. Namun demikian, banyak testimoni lebih menyarankan bagi para pengunjung untuk menggunakan jasa ojek saja.

Sebab, jalanan di sekitar sana relatif rawan bagi sobat travel yang kurang tahu medan. Apalagi kalau tipe kendaraan sobat sekalian adalah, misalnya, motor matic yang ringkih. Sebaiknya jangan! Daripada rusak atau kenapa-kenapa nantinya, lebih baik sewa ojek yang memang banyak mangkal di area sana. Cukup bilang mau ke Curug Malela, dan mereka akan langsung mengerti.

Dengan kisaran harga 20-30ribu rupiah, ojek akan bersedia mengantarkan Anda ke sebuah pos tempat seorang warga berjaga. Dari sana, Anda harus membayar sebesar Rp 10.000,00. Usut punya usut, harga itu adalah untuk pemeliharaan dan kebersihan destinasi wisata kita kali itu.

Oh iya, dari pos ini sebenarnya kita sudah diberi pilhan; mau lanjut ojek atau jalan sendiri saja? Pilihan kedua sebenarnya lebih disarankan karena setelah ini, jalan ke air terjunnya sudah cukup kelihatan karena jalan setapaknya relatif stabil. Lagi pula, siapa tahu bisa menemukan pemandangan menarik untuk difoto.

 

Jalan setapak ini dibingkai pepohonan berdahan rendah. Semak rumput tinggi pun turut semarak menyemangati. Di kanan-kiri, karang batu khas lereng Gunung Halu mulai tampak. Nah, karang-karang batu ini kadang menampakkan semacam ‘relief’ alis motif yang menggemaskan kalau mau difoto, sesuatu yang bisa saja kita lewatkan kalau memakai kendaraan.

Capek, memang, tapi yakinlah ketika sampai di sana nanti, capek kita akan terbayar. Oh iya, di sini juga terkadang ada penjual makanan atau minuman ringan bagi sobat yang sudah merasa sangat kelaparan.

Setelah berjalan agak lama, suaranya yang lah pertama kali mengingatkan kita kalau kita sudah dekat. Suara air yang berebutan jatuh ke sungai dengan desibel cepat dan konstan, juga sangat keras. Saking kerasnya, kita mungkin jadi harus agak berteriak ketika hendak bicara dengan kawan seperjalanan. Udara menjadi sejuk dan bau tanah basah bercampur rumput pun tercium di mana-mana—seolah pernapasan kita tercuci hanya dengan menghirupnya saja

 

 

Tak salah jika Curug Malela sering dibilang miniatur Niagara. Tipe tebungnya lebar, dengan empat air terjun di situ. Airnya jernih sehingga kita bisa melihat ikan-ikan di sungainya. Konon, air yang mengalir ke curug ini berasal dari lereng Gunung Kendeng dan berasal dari satu aliran yang sama dengan Curug Malela.

 

Melihatnya, rasa lelah yang terbawa ketika berusaha menemukannya tadi seolah terhapus begitu saja. Setelahnya, terserah mau berfoto atau berdiam mengagumi keindahannya. Tapi ingat, kalau mau berenang, jangan terlalu dekat air terjunnya. Jangan juga bertindak sembrono atau mengatakan hal-hal yang kurang pantas. Bukan mau percaya takhayul, tapi tak ada salahnya berjaga-jaga karena tempat ini terhitung area perawan yang belum banyak dijamah manusia.

Secara umum, Curug Malela adalah objek wisata yang kudu dicoba banget untuk teman-teman yang berani, suka tantangan, dan berbadan sehat. Mau?

CURUG MALELA

  • Alamat: Kampung Manglid, Desa Cidadas, Kec. Rongga – Gunung Halu Kabupaten Bandung Barat
  • Harga Tiket Masuk: Rp 10.000, 00
  • Jam buka: 06.00 – 18.00
  • Instagram: @curugmalela.id

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!