6 Startup Anti-Mainstream

undercovercoid 63

Salah satu faktor penentu yang membuat suatu perusahaan startup memiliki daya tarik dan peluang menjanjikan adalah ide yang diterapkan. Jangan salah, hal itu tidak kalah penting dengan urusan pendanaan, pasalnya, ide bisnis merupakan ujung tombak yang akan menentukan nasib suatu perusahaan startup di masa depan.
Kalau kita perhatikan praktek di lapangan, salah satu penyebab yang paling sering membuat sebagian besar perusahaan-perusahaan startup gagal di tengah jalan adalah konsep atau ide yang mereka terapkan. Maka dari itu, sebelum kita mendirikan startup, sebaiknya pikirkan dulu matang-matang terkait ide bisnis yang nantinya akan dijalankan.
Seperti 5 startup berikut ini contohnya, mereka mengadopsi ide bisnis yang terbilang unik dan anti-mainstream, inovasi yang mereka kembangkan telah berhasil mencuri perhatian banyak orang, mari kita simak penjelasannya

Zipline

Startup asal Rwanda ini menawarkan solusi yang sangat bermanfaat bagi dunia medis. Dengan mengandalkan teknologi drone, para tenaga medis yang bekerja di daerah-daerah yang sulit dijangkau bisa dengan mudah mendapatkan suplai peralatan medis, obat-obatan, dan kebutuhan medis lainnya tanpa perlu susah payah melewati medan terjal dan menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan.
Para tenaga medis hanya perlu mengirim pesan singat ke penyedia jasa terdekat untuk mendapatkan suplai yang dibutuhkan. Nantinya, pesanan yang mereka butuhkan akan dikirim menggunakan drone melalui jalur udara. Jarak yang bisa ditempuh berkisar hingga radius 75 km dari kantor zipline terdekat.

Scoutible

Untuk perusahaan-perusahaan yang masih kesulitan untuk menyaring SDM yang sesuai kriteria, startup ini bisa menjadi solusi jitu untuk menyelesaikan masalah tersebut. Scoutible memanfaatkan teknologi pengukuran Artificial Intelligent (AI) dan interaksi video game yang dinilai cukup akurat untuk menyaring para kandidat pelamar kerja.
Dengan aplikasi ini, para kandidat hanya perlu bermain game selama beberapa menit sebagai test perekrutan calon karyawan, setelah itu pengguna akan memperoleh laporan penilaian dari berbagai kriteria seperti skill komunikasi, kerja sama, empati, dll.
 

70 Million Jobs

Ide yang diusung oleh startup asal Amerika ini bisa menjadi referensi untuk para pelaku bisnis yang ingin mendirikan startup. 70 Million Jobs merupakan sebuah platform untuk mencari lowongan pekerjaan bagi para mantan narapidana, Richard Bronson selaku pendiri 70 Million Jobs mengatakan bahwa orang-orang yang pernah dipenjara akan lebih bertanggung jawab ketika bekerja, karena mereka merasa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua.
Startup dengan konsep seperti ini akan sangat berguna di Indonesia, mengingat jumlah narapidana di Indonesia mengalami peningkatan signifikan sejak 2 tahun terakhir.

JKMorning

Negara Jepang memang sudah terkenal dengan hal-hal unik dan tak lazim yang dilakukan oleh masyarakatnya, tak terkecuali dengan startup asal Jepang yang satu ini, yaitu JKMorning, sebuah startup penyedia jasa membangunkan seseorang dari tidurnya.
Dengan memanfaatkan para gadis remaja sebagai ‘alarm hidup’, mereka akan menelfon para pria di pagi hari. Ya, JKMorning memang lebih menargetkan kaum pria sebagai konsumennya. Tetapi sebenarnya siapapun sah-sah saja jika ingin menggunakan layanan ini.

Bistip

Yang terakhir datang dari dalam negeri, yaitu Bistip. Startup ini menawarkan kemudahan berbelanja dari luar negeri melalui jasa titip, dimana kita bisa membeli barang dengan memanfaatkan para pelancong yang berada di luar negeri.
Aktivitas berbelanja seperti ini sebenarnya bukan hal yang baru, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa permintaan belanja dari luar negeri memang cukup banyak. Dengan menggunakan aplikasi Bistip, kita bisa dengan mudah menemukan para pelancong di luar negeri yang menerima jasa penitipan barang. Menarik bukan?
 
 
baca juga
900 Pebisnis Start Up Bisnis Digital Di Dalam Dan Luar Negri
5 Startup Decacorn Dunia
 
 

Ide Unik Mycotech Memanfaatkan Limbah Agrikultur Menjadi Material Bahan Bangunan

 
Apapun yang ada di sekitar kita bisa menjadi inspirasi untuk berkarya, hal ini dibuktikan oleh startup asal Bandung bernama Mycotech yang berhasil memanfaatkan limbah agrikultur menjadi bahan bangunan berkualitas dan ramah lingkungan. Menarik bukan? Material yang dihasilkan pun diklaim memiliki daya tahan yang lebih kuat dibanding batu bata pada umumnya.
Salah satu peneliti Mycotech Erlambang Ajidarma mengatakan bahwa inspirasi untuk menciptakan material bahan bangunan dari pemanfaatan limbah tersebut datang dari proses pembuatan tempe.
“Kita melihat tempe itu kan awalnya dia cuma kedelai biasa lalu bisa (merekat). Kalau kacang kedelai saja bisa merekat seperti itu, mungkin ada material atau limbah pertanian lain yang bisa jadi material baru,” jelasnya, seperti dilansir melalui kumparanSAINS.
Dengan memanfaatkan limbah pertanian, akhirnya mereka berhasil membuat material baru yang bisa digunakan sebagai bahan bangunan dan bahan baku pembuatan produk fashion atau furnitur. Tahun lalu, Mycotech telah berkolaborasi dengan 15 brand untuk membuat 30 sampai 40 produk fashion berbahan dasar limbah agrikultur dan jamur mycelium. Beberapa produk yang dihasilkan yaitu jam tangan, sepatu, tas, dompet, dan lain sebagainya.
Proses pembuatannya sendiri kurang lebih sama seperti metode fermentasi kedelai menjadi tempe, yaitu dengan cara mengolah limbah pertanian seperti serabut kelapa, tebu, gabah, serbuk kayu, atau sekam padi, supaya bisa ditumbuhi jamur. Setelah jamur tumbuh, tim Mycotech akan mengolah jamur tersebut menjadi bahan perekat untuk limbah yang sudah diolah tadi.
Tapi sebenarnya bahan material seperti ini tidak hanya bisa digunakan sebagai bahan bangunan, furnitur, atau produk fashion saja, lebih jauh Erlambang menjelaskan bahwa material ini bisa dijadikan semacam charger untuk ponsel, asalkan perangkat tersebut memiliki fitur wireless charger.
“Ini masih prototype, tapi sejauh ini sudah bisa bisa dipakai buat nge-charge,” ungkap Erlambang.
Sampai saat ini, Mycotech mengandalkan model bisnis B2B (Business to Business) untuk memasarkan produknya. Mycotech juga telah berhasil meraih pendapatan mencapai 9 miliar rupiah dari hasil kolaborasinya dengan sejumlah brand pada tahun 2018 kemarin.
Tidak sampai disitu, mereka juga telah bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama dunia seperti ETH Zürich di Swiss dan National University of Singapore (NUS) untuk melakukan riset demi mengembangkan inovasi yang mereka perjuangkan.
Ini adalah bukti lain bahwa ide sederhana bisa memberikan impact yang besar bagi peradaban. Siapa sangka kalau limbah-limbah yang seringkali dianggap tidak berguna ternyata bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang sangat berguna? Alih-alih membuangnya secara percuma, Mycotech berhasil mendaur ulang limbah tersebut menjadi produk yang bernilai tinggi.
 

Langkah-Langkah Awal yang Perlu Diketahui Untuk Mendirikan Startup

 
Salah satu penyebab yang paling sering membuat bisnis startup gagal adalah kurangnya persiapan ketika membangun usaha, belum lagi faktor persaingan yang semakin ketat dinilai cukup rawan menyebabkan suatu perusahaan startup tumbang.
Untuk membangun sebuah startup diperlukan langkah-langkah awal yang matang agar bisnis yang kita jalankan tidak berhenti di tengah jalan dan bisa berkembang dengan optimal, oleh karena itu mari kita pahami beberapa langkah awal untuk membangun bisnis startup berikut ini

Merampungkan Ide dan Rencana Bisnis

Ide dan rencana bisnis merupakan faktor krusial bagi para pelaku bisnis startup. Tanpa ide yang menarik dan inovatif, jarang ada startup yang bisa bertahan cukup lama. Begitu pula dengan rencana bisnis, apapun jenis usaha yang kita jalankan, perkembangannya akan sangat bergantung pada rencana bisnis yang kita terapkan. Dua hal ini harus divalidasi sedini mungkin, pastikan rencana dan ide yang akan kita tawarkan nanti bisa menjadi daya tarik bagi para calon investor dan konsumen.

Menerapkan MVP

MVP atau Minimum Viable Product merupakan upaya pengembangan secara teknis dengan cara membuat prototype awal untuk kemudian ditawarkan kepada early adopter atau target pengguna tertentu, metode ini bertujuan untuk menemukan value dari produk atau layanan yang akan ditawarkan. Dengan menerapkan MVP sejak awal, startup bisa meningkatkan kualitas produk dan pelayanan bagi konsumen ketika sudah dipublikasi, cara ini dapat membantu startup menangkap minat konsumen melalui feedback dari pengguna.

Koreksi Produk dan Membuat Versi Beta

Setelah mendapat respon dari pengguna, kita akan mengetahui apa saja yang perlu dikoreksi atau lebih dikembangkan lagi untuk kedepannya. Disini kita bisa mulai melakukan perbaikan dari produk atau layanan yang sudah dipersiapkan. Setelah itu, buat lah versi beta terbatas untuk melakukan uji coba langsung pada target pasar.

Pemetaan Target Konsumen

Melalui versi beta yang telah diluncurkan, otomatis startup akan menemukan siapa saja pengguna yang tertarik dengan produk dan layanan yang ditawarkan. Dari sini, mulai lah untuk lebih mematangkan konsep bisnis dengan memetakan target konsumen yang potensial. Jangan terlalu fokus pada pengembangan teknologi atau menambahkan fitur-fitur terbaru sementara kebutuhan konsumen terabaikan, karena pada akhirnya yang dicari konsumen adalah kemudahan dan efisiensi.

Pendanaan Awal

Langkah ini akan menjadi tahap awal untuk naik ke level selanjutnya, maka siapkan lah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk meyakinkan para calon investor, seperti data perkembangan, target dan strategi bisnis, testimonial dari konsumen, rencana pengembangan, dll.
 
 

Gara-Gara Hal Ini, Banyak Perusahaan Startup Berakhir Gulung Tikar

 
Walaupun trend ini sedang marak-maraknya dilakoni para pelaku usaha, pada prakteknya menjalankan bisnis startup memang cukup menantang dan penuh resiko. Ada banyak sekali startup-startup yang tidak sanggup bertahan lama dan berakhir bangkrut atau terpaksa menjual perusahaannya kepada pihak lain. Lalu apa saja penyebabnya?
Biasanya, startup yang gagal di tengah jalan memiliki lebih dari satu faktor penyebab, salah satu yang paling sering ditemukan adalah tidak memiliki apa yang dibutuhkan pasar. Tidak peduli secanggih apapun teknologi atau fitur layanan yang dikembangkan, jika model bisnis dan produk yang ditawarkan bukan sesuatu yang dibutuhkan pasar, semuanya akan berakhir sia-sia. Itu lah alasannya mengapa kita harus menyaring ide sebelum benar-benar diterapkan.
Tapi bukan hanya itu yang menjadi penyebab dibalik kegagalan startup. Menurut beberapa sumber yang cukup aktif memantau perkembangan startup, ada sejumlah alasan yang sering ditemukan dalam startup-startup yang gagal, berikut ulasannya:

Kehabisan Modal

Beberapa waktu lalu, CB Insight telah melakukan serangkaian survey untuk mengidentifikasi alasan-alasan dibalik kegagalan yang dialami perusahaan rintisan berbasis digital, mereka menemukan bahwa 26% startup yang terlibat dalam surveynya mengalami kegagalan karena keterbatasan dana. Hal ini menjadi peringatan bagi siapapun yang hendak menjalankan startup agar melakukan perencanaan dana secara benar-benar matang.

Tidak Berpartisipasi Dalam Kompetisi

Berfokus pada pengembangan bisnis memang penting untuk dilakukan, tapi jika kita hanya berkutat dalam satu hal yang sama, sedangkan persaingan di lapangan terabaikan, ini bisa berakibat fatal. CB Insight menemukan 19 persen responden yang menyatakan bahwa mereka gagal mengantisipasi pergerakan pesaing.

Visi dan Misi yang Tidak Jelas

Dalam gelaran acara Masa Depan Industri 4.0 di Skyloft Restaurant & Lounge, All Seasons Jakarta Thamrin pada awal bulan Maret 2019 lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara sempat menyampaikan 3 faktor penyebab startup gagal, dan salah satu yang paling krusial adalah terkait visi dan misi perusahaan yang tidak jelas dan terkesan asal-asalan.

Ingin Cepat Mendapat Keuntungan

Sebagian orang mungkin setuju, bisnis apapun yang dijalankan tidak akan sanggup bertahan lama jika terburu-buru mencari keuntungan. Hal ini juga turut disampaikan Menteri Rudiantara dalam kesempatan yang sama,
“Pengen cepat kaya, tidak bisa begitu. Founder yang betul adalah dia tidak keluar (dari perusahaan),” kata pria yang akrab disapa Chief RA itu, seperti dilansir melalui Kumparan.

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!